Pencarian Maura

Pencarian Maura
Rencana di Hari Pernikahan


__ADS_3

Suasana kediaman megah Bramasta Haydar tampak lebih ramai dari biasanya. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, para petugas Wedding Organizer tampak serius mendekorasi tempat sesuai keinginan pelanggan mereka. Para pelayan berlalu lalang ke sana kemari untuk menyiapkan semua hidangan yang akan di suguhkan pada para tamu.


Para tamu undangan juga mulai berdatangan menghadiri acara penting putri tunggal raja bisnis di negeri ini. Sebagian dari mereka tampak antusias sekaligus penasaran seperti apa rupa gadis itu, sosok yang nyaris tidak pernah ditunjukkan oleh Bram di depan publik.


Di ruang rias pengantin wanita....


"Tinggalkan aku sendiri! Nanti, jika sudah waktunya kalian bisa memanggilku," titah Maura pada orang-orang yang merias dirinya.


Wanita itu menatap nanar pantulan dirinya yang berbalut gaun pengantin mewah berwarna putih. Tidak ada kegugupan maupun ketegangan yang biasa dirasakan oleh pengantin pada umumnya.


Meskipun berulang kali mulut berkata 'aku pasti bisa'. Namun, pada kenyataannya dia tetap tidak bisa menghapus nama pria itu, baik dalam hati maupun pikirannya. Justru, rasa itu semakin menggebu hingga dia berpikir ingin lari dari pernikahan ini.


Setiap kali pikiran buruk itu muncul, sisi baik dalam dirinya selalu mengingatkan akan akibat-akibat yang akan dia tanggung nanti, jika dia tetap nekad melakukannya.


''Aku harus bagaimana, Emran? Hari ini, aku akan resmi menjadi milik pria lain tapi kenapa hatiku selalu terpaut padamu."


''Cinta atau sekedar obsesi 'kah ini? Kenapa aku tidak bisa membedakannya? Yang jelas perasaan ini semakin menggebu setiap harinya."


Maura berucap pada dirinya sendiri di depan cermin. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.


...----------------...


Meninggalkan kesedihan pengantin wanita di tempatnya. Suasana di ruangan utama tampak meriah ketika melihat kedatangan sang pengantin pria. Seorang pria tampak gagah dengan setelan baju pengantin berwarna senada dengan yang dikenakan calon istrinya.


Andrian memasuki tempat acara dengan diapit oleh ayah dan adik perempuan dari ayahnya. Ketegangan tergambar jelas di wajahnya. Namun, dia berusaha untuk bersikap tenang. Dia menghembuskan nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan untuk mengurangi rasa gugup.


Pria itu di arahkan pada tempat duduk yang sudah disediakan. Yang mana, di sana sudah ada Bram menyambut dengan senyum ramahnya. Para saksi juga sudah menempati tempat masing-masing, hanya tinggal menunggu kedatangan pengantin wanita.


''Tolong, panggilkan pengantin wanitanya," ucap seorang penghulu.


Seseorang yang ditunjuk pun segera ke lantai atas untuk melaksanakan tugasnya.


...----------------...


Maura menajamkan pendengaran ketika mendengar bunyi kasak kusuk dari arah balkon. Awalnya, dia mengabaikan namun semakin diabaikan bunyi itu semakin dekat, hingga membuatnya penasaran. Dengan langkah pelan tapi pasti dia mendekati asal suara. Dia takut jika ada orang yang berniat jahat menyabotase acaranya.

__ADS_1


"Siapa itu?" tanya Maura dengan nada sedikit keras.


Semakin mendekati asal suara, perasaannya semakin was-was. Namun rasa penasaran yang mendominasi membuatnya tak ingin mengurungkan niat.


''Siapa di sana? Jika kamu berniat jahat, aku akan teriak," kecamnya penuh peringatan.


Ketika sampai di ambang pintu, dia melihat bayangan seorang pria. Karena merasa takut, Maura segera mengurungkan niatnya memilih berbalik untuk meminta bantuan. Akan tetapi baru beberapa langkah, ada sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya.


Wanita itu mematung di tempat. Dia tidak berani membalikkan badan takut jika orang itu adalah orang jahat.


''S-si-siapa kamu?"


"Arrggh!" teriaknya ketika pria itu menarik tubuhnya, lalu mendekapnya erat. Pria itu menghirup dalam-dalam aroma yang sangat dia rindukan.


''Aku merindukanmu ... Maafkan aku."


Air mata mengalir deras saat Maura mendengar suara berat yang sangat dia rindukan. Dia membalas dekapan itu tak kalah erat. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


Wanita terisak dalam, hingga terdengar sesegukan. Maura tidak bisa berkata-kata lagi, semua ucapannya seakan lenyap seiring dengan tangis yang semakin menjadi.


Kristal bening di pipi Maura semakin deras hingga membuat pandangannya mengabur.


''Emran, aku tidak siap. Aku sudah berusaha untuk menerimanya tapi tetap hati ini tak bisa. Aku ... Aku ingin kabur."


''Tenanglah! Aku akan mencari cara untuk menggagalkan pernikahan ini. Tapi, aku minta kamu ulur waktunya. Kamu mau, 'kan?"


Maura mengangguk pasti. "Aku akan melakukannya. Kamu jangan khawatir, itu akan menjadi tugasku."


''Tapi, bagaimana dengan ibumu?''


Di saat seperti ini, wanita itu masih memikirkan sebuah restu.


''Aku akan meninggalkan keluargaku demi kamu, apa kamu juga mau melakukan hal yang sama untukku?" tanya Emran dengan sorot penuh harap.


Maura terdiam sejenak, tentulah ini menjadi pilihan tersulit baginya. Dia harus meninggalkan ayahnya atau mengikuti rencana pria ini.

__ADS_1


''Jawab, Ra. Waktu kita tidak banyak," ucapnya setengah mendesak karena tak kunjung mendapat jawaban dari wanita itu.


''Aku bingung," lirihnya.


''Oke, aku tau apa yang ada di dalam kepalamu tanpa kau menjawab pun aku paham keputusanmu."


Emran sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Maura. Tetapi, dia juga berusaha untuk mengerti akan posisi wanita itu. Dia berbalik arah untuk berniat kembali ke tempatnya.


''Emran, tunggu!"


Pria itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Maura. Tanpa aba-aba, tubuhnya di dekap erat oleh seseorang dari arah belakang.


''Aku bersedia...."


Emran tak dapat memudarkan senyumnya. Dia segera berbalik menatap lekat mata itu untuk memastikan tidak ada kebohongan di sana.


''Apa kau serius?''


Maura mengangguk mantap. "Sangat."


''Baiklah, kita atur rencana...."


Emran mulai menyusun rencana pelariannya bersama sang pujaan hati. Maura tampak mengangguk menanggapi sebagai tanda ia telah memahami semuanya.


''Gadis cerdas, sekarang cepat ganti bajumu!"


''Hah!"


"Cepat, Maura...," geram Emran menahan gemas.


''Ah, iya-iya ... Tapi kau menyingkir dulu jangan ngintip."


''Tidak untuk sekarang tapi iya untuk nanti."


Pipi Maura bersemu merah ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Namun, kebahagiaan mereka terhenti ketika seseorang mengetuk pintu, lalu disusul dengan gerakan membuka.

__ADS_1


''Nona Maura, apa yang Anda lakukan?''


__ADS_2