Pencarian Maura

Pencarian Maura
Emran Merajuk


__ADS_3

Emran kalang kabut sendiri menyiapkan segala macam perintilan pesta resepsi. Ada setitik penyesalan karena tidak memberitahukan rencana dadakannya terlebih dulu pada keluarganya. Namun, semua semua itu segera ia tepis karena rasa bahagia lebih mendominasi.


Pria berjambang tipis berkaca mata itu sibuk mondar-mandir kesana-kemari dengan ponsel setia bertengger di telinga, hingga dia mengabaikan keberadaan sang istri yang sedari tadi memperhatikannya.


''Makanlah dulu, Em. Sejak pagi perutmu belum terisi apapun," kata Maura dengan meletakkan nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya, segelas air putih dan secangkir kopi pun turut tersedia.


''Nanti dulu, aku masih sibuk," jawab Emran tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel, tangannya sibuk menari pada papan ketik karena membalas berbagai pesan yang masuk.


Maura yang merasa kesal, segera merebut benda itu, lalu menyimpannya pada saku celana.


''Kembalikan, Ra. Aku belum selesai.''


''Tidak akan sebelum kau mengisi perutmu," kata Maura dengan tegas, lalu menyodorkan sesendok nasi ke mulut pria itu.


''Ra, please ... Semua demi kesuksesan acara nanti," pinta Emran dengan wajah memelas.


''Tidak! Dari pagi kau mengabaikanku. Kau seperti asik bertelepon dan berbalas pesan dengan selingkuhanmu," sungut Maura dengan memotong kasar lauk yang ada di piring.


''Tapi aku tidak seperti itu." Emran membela diri.


''Makan atau aku pulang ke rumahku," ancam wanita itu.


Tanpa banyak protes lagi, Emran segera merebut piring yang ada di tangan sang istri, kemudian memakan makanannya dengan lahap.


''Kamu tenang saja, aku sudah meminta bantuan Sonia dan Pak Anton untuk mengurus semuanya. Jadi, kamu tidak perlu sok sibuk dengan urusan ini."

__ADS_1


Seketika Emran menghentikan kunyahannya, beralih menatap lekat sang istri.


''Aku juga sudah menyebarkan semua undangan ke seluruh kolega bisnis kita, Kak," sela Emru yang tiba-tiba ikut pembicaraan mereka.


''Aku pun juga sudah menyuruh orang untuk menjemput keluarga dan sahabat Maura yang ada di kampung. Semua urusan catering dan petugas WO juga sudah aku handle. Kakak tinggal duduk santai mempersiapkan diri jadi raja sehari," lanjutnya lagi dengan senyum penuh kepuasan.


''Tapi aku sudah pesan pada mereka, tidak mungkin aku membatalkan begitu saja. Emru ... Emru kalau niat membantu kenapa tidak dari kemarin? Sekarang persiapan hampir seratus persen, kau tiba-tiba datang bak pahlawan kesiangan. Kau pikir aku akan terkesima dengan bantuanmu. Kau pikir aku akan berterima kasih. Yang ada kau malah memperkeruh suasana, Emru," seru Emran berapi-api.


Pria itu tak bisa lagi menahan kekesalan dalam hatinya. Benar kata orang, jika pikiran dan tubuh lelah akan membuat seseorang mudah tersulut emosi tanpa memandang siapa yang menjadi sasarannya.


''Kau juga begitu, Ra. Kemarin sok tidak peduli. Nyatanya, sekarang kau ikut-ikutan berulah. Kalau sudah begini bukannya membantu malah membuat kepalaku semakin pening." Emran meletakkan kasar piring yang sedari tadi berada di tangannya.


''Bukan begitu, Em...."


''Sudahlah, Ra. Lebih baik kau diam jika penjelasanmu hanya membuat kepalaku sakit," selanya dengan cepat.


''Tuh, anak papa lagi PMS," sahut Emru dengan santai seolah tak terpengaruh sedikitpun dengan kemarahan kakaknya.


Raichand mengalihkan pandangan ke arah putra sulungnya, tampak sang menantu berusaha menjelaskan sesuatu pada putranya.


''Emran, semua akan beres tidak akan ada masalah nantinya, karena--"


''Beres bagaimana? Jelas-jelas mereka selalu mengirim pesan menanyakan mengenai semua yang berhubungan dengan resepsi."


Maura menghembuskan nafas kasar karena lagi dan lagi ucapannya dipotong suaminya. Sejak kapan pria ini bersikap kekanakan begini, kemana sosok Emran yang selalu tenang menghadapi setiap masalah, berwibawa dan bijak. Pria yang ada dihadapannya bukan seperti sosok Emran yang dia kenal.

__ADS_1


''Kamu kenapa sih, Em? Semakin ke sini sifatmu ini mirip anak kecil," protes Maura penuh kekesalan. Pada akhirnya kesabaran wanita itu runtuh juga.


Emran hanya membisu dengan wajah keruhnya tanpa berniat menanggapi kemarahan sang istri.


''Dengerin dulu penjelasan orang, gak usah asal potong biar gak salah paham," lanjut Maura lagi.


''Salah paham bagaimana? Jelas-jelas kalian mengacaukan semuanya," hardik pria dingin itu.


Baru kali ini, Maura frustasi menghadapi seseorang, lebih parahnya lagi orang itu adalah suaminya sendiri. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya.


''Papa yang meminta mereka melakukannya." Suara berat Raichand menyela pembicaraan suami-istri tersebut.


Dia segera mengangkat tangannya ketika melihat gelagat putra sulungnya yang hendak protes.


''Papa meminta Emru untuk mencuri nomor-nomor penyedia jasa yang kau pesan. Pap juga yang meminta Emru untuk mencatat semua nama tamu undangan."


"Semua urusan tempat baik gedung dan sebagainya sudah ditangani oleh Sonia dan Anton. Kau tinggal duduk tenang, tidak perlu uring-uringan lagi, paham!"


Emran hanya bisa mematung mendengar penjelasan panjang lebar sang ayah.


''Tapi kenapa mereka terus menerorku dengan segala macam pesan dan telpon," protes Emran yang masih belum bisa mencerna semuanya.


''Itu karena aku yang meminta. Sekali-kali kukerjai gak apa 'kan, Kak?" Emru berucap dengan tampang tanpa dosa.


Emran hanya mengeram kesal, bagaimana bisa dia tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2