Pencarian Maura

Pencarian Maura
Rival Baru


__ADS_3

"Brengs*k! Siapa kau? Berani-beraninya mendekati Maura."


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Emran menghajar membabi buta seorang pria. Pekikan para pengunjung lain tak menyurutkan sedikit pun aksi nekadnya. Keributan yang ia ciptakan berhasil menjadi pusat perhatian di restoran siang itu


Beberapa hari ini, emosi Emran memang tidak stabil. Tuntutan sang ibu mengenai masalah perjodohan membuatnya frustasi. Dan itu berimbas pada pekerjaannya, dia sempat salah mendiagnosa pasien sehingga keluarga pasien mengajukan protes dan mengatakan jika pelayanan di rumah sakitnya kurang memuaskan. Puncak amarahnya siang ini ketika dia melihat Maura tengah makan berdua bersama pria asing, kedekatan mereka terlihat sangat intim saat pria itu mendekat ke arah Maura.


"Apa yang kau lakukan, Emran?" Maura berusaha menyingkirkan tubuh pria yang masih menghajar bawahannya.


"Stop, Emran! Dia bawahanku," teriak Maura dengan mendorong tubuh kekar itu.


"Kenapa kau tiba-tiba memukulnya. Dia salah apa?" tanya Maura berdiri tepat di depan tubuh Andrian yang sudah babak belur. Dia seolah menjadi tameng bagi pria malang itu.


"Minggir! Aku belum puas memberinya pelajaran," geram Emran dengan menyorot tajam ke arah Andrian.


"Apa salahnya sampai kau menghajarnya seperti itu?" Maura mengulang pertanyaannya dengan nada tinggi.


"Dia berani menciummu di depan umum, Maura!" Emran berteriak marah dengan tatapan nyalang.


Plak!


Jeritan tertahan pengunjung lain mengiringi suara tepukan keras tangan Maura. Sorot matanya menampakkan kekecewaan yang nyata.


"Apa aku se-murahan itu di matamu?" tanya Maura dengan mata berkaca-kaca.


Emran hanya memegangi pipinya yang terasa panas tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu.


"Aku kecewa sama kamu, Em." Setelah mengatakan itu, Maura berlalu begitu saja dengan menarik tangan pria yang bersamanya.


''Maura, jangan pergi! Aku minta maaf," teriak Emran memanggil gadis itu.


Namun, Maura menulikan pendengarannya. Dia terus melangkah tanpa memedulikan tatapan para pengunjung yang menyorot ke arahnya.


"Maura, aku minta maaf!"

__ADS_1


"Aaakkhh...." Dia meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya.


...----------------...


''Andrian, aku minta maaf. Gara-gara aku, kau babak belur seperti ini," kata Maura sambil mengobati luka lebam pada sudut bibir pria itu.


''Tidak apa-apa. Dia hanya salah paham. Aku mengerti." Terdengar desisan dari bibir Andrian saat merasakan perih pada lukanya.


Maura masih fokus mengobati luka lebam yang ada di wajah pria itu, sesekali memberinya tiupan kecil dengan harapan bisa mengurangi rasa perihnya. Selama itu pula, Andrian tak melewatkan sedetik pun untuk tidak menatap wajah manis di hadapannya.


Mata bulat dengan bulu mata lentik, berhasil menghipnotis dirinya saat pertama bertemu. Maura memang memang mempunyai pesonanya sendiri. Tanpa melakukan sesuatu yang berarti, banyak pria yang terpikat dengannya.


Tadi, mereka memang sudah janjian makan siang diluar. Dan pilihan mereka jatuh pada restoran outdoor yang ada di tepi pantai. Pada saat mereka menunggu pesanan datang, tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke mata Maura. Gadis itu mengeluh perih dan ada rasa mengganjal di matanya. Andrian berusaha membantu dengan meniup pelan mata gadis itu. Entah dari mana datangnya, seorang pria tiba-tiba datang, lalu menghajarnya membabi buta di depan umum. Tanpa ia tahu apa kesalahannya.


''Dia siapamu, Ra?" tanya Andrian mencoba mengorek informasi.


Andrian memanggil Maura hanya nama tanpa embel-embel apapun atas permintaan gadis itu sendiri. Alasannya, dia lebih nyaman hanya dipanggil nama oleh rekan kerjanya.


''Bukan siapa-siapa hanya sebatas teman," jawab Maura apa adanya.


''Tapi, dia terlihat sangat...."


''Posesif," sela Maura cepat.


"Dia menyukaiku, bahkan berniat menjalin hubungan serius padaku tapi ada penghalang besar bagi kami." Maura menjeda sejenak ucapannya, "ibunya tidak menyukaiku."


Andrian manggut-manggut mendengar cerita wanita itu.


''Itu artinya aku masih ada kesempatan," batinnya.


''Kau sendiri bagaimana?"


Maura menatap dalam pria di sampingnya. Andrian mendapat tatapan seperti itu merasa kikuk sendiri hingga dia merasa tidak enak hati atas pertanyaan yang ia ucapkan tadi.


"Tidak usah dijawab jika itu membuatmu tidak nyaman. Maaf, aku terlalu lancang."


Wanita itu tampak menghela nafas pelan.


''Selama ini, aku tak pernah menjalin hubungan apapun dengan lawan jenis hanya sekedar sahabat, tidak lebih."

__ADS_1


''Banyak pria yang menawarkan cinta, tapi aku tolak dengan halus. Karena saat itu, memang aku fokus pada urusanku. Aku sibuk mengurus ibuku yang sakit-sakitan. Setelah ibuku tiada, aku sibuk memenuhi wasiat terakhirnya, mencari ayahku. Bagiku, urusan asmara nomor sekian dalam hidupku karena tujuanku yang utama," tutur Maura panjang lebar menceritakan kisah hidupnya.


"Sekarang, kau sudah dipertemukan dengan yang kau cari. Apa kau masih tak berminat menjalin hubungan? Apalagi diusiamu yang sekarang ini." Andrian masih melanjutkan aksi mengorek informasi dari wanita itu.


"Aku tidak tahu, Drian. Aku tak pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta. Aku dihadapkan kisah rumit, anak dan ibu harus bertengkar karena aku."


"Aku tidak ingin memisahkan ibu dari anaknya. Aku tidak ingin menjadi penyebab pertikaian mereka. Biarlah, aku mengalah. Aku rela melepasnya dengan wanita pilihan ibunya." Tanpa sadar, air mata lolos begitu saja ke pipi mulus gadis itu kala mengingat kisah percintaannya.


''Eh, kok nangis." Maura segera menyeka air matanya, malu rasanya kesedihannya diketahui orang lain.


''Tidak apa-apa, menangislah jika ingin menangis. Jangan ditahan, kadang dengan menangis bisa meringankan beban kita," ujar Andrian.


''Aku akan menemanimu, Maura," lanjutnya.


''Iih, apa sih. Udah, jadi curcol begini," ucap Maura dengan nada sengau.


Tangannya meraih tisu untuk mengeluarkan ingusnya.


''Yuk, balik ke rumah sakit. Maaf gak jadi makan siang gara-gara insiden tadi."


Andrian mulai menyalakan mesin mobilnya. Perlahan-lahan, kereta besi itu meninggalkan pelataran rumah makan itu.


''Mau sampai kapan kamu akan meminta maaf, Ra?"


''Aku merasa tidak enak padamu," kata Maura dengan lirih tapi masih bisa didengar Andrian.


''Santai saja kalau sama aku. Aku siap kapan pun kau membutuhkan bantuanku. Jangan sungkan!"


''Asal jangan minta bantu bayar hutang. Yo ndak mampu aku," kelakar pria itu.


Maura tergelak mendengar candaan yang keluar dari mulut Andrian. Ia kira, Andrian adalah sosok pria seperti Emran. Ternyata, dia pria yang humoris dan asik diajak ngobrol. Sebab itulah, dia merasa nyaman saat bersama pria ini.


''Sebagai ganti makan siang yang tertunda. Aku traktir kamu makan junkfood, bagaimana?" Maura memberi sebuah penawaran.


Andrian tampak berfikir sejenak, kemudian mengangguk menyetujui.


''Oke, sekali-kali makan seperti itu. Asal tidak setiap hari."


Maura bertepuk tangan kecil menyalurkan brasa bahagianya. Dia segera meminta Andrian menghentikan mobilnya di restoran cepat saji langganannya.

__ADS_1


Andrian tersenyum kecil melihat keceriaan wanita itu.


"Aku ingin membahagiakanmu, Ra. Jika kau bersamaku, aku janji akan s'lalu membuat bibir indahmu tersenyum."


__ADS_2