Pencarian Maura

Pencarian Maura
Siasat


__ADS_3

''Bagaimana ini, Pa? Banyak investor yang menarik saham mereka dari perusahaan kita. Saham menurun drastis dalam satu hari." Emru mengeluh meminta solusi pada sang ayah.


''Jika dibiarkan seperti ini terus. Bisa dipastikan dalam satu bulan perusahaan kita akan gulung tikar." Wajah pria tampan itu terlihat sangat frustasi, sedangkan Raichand sedari hanya diam.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sangat jelas, jika dia tengah berfikir keras.


Sepasang ayah dan anak itu terus berunding mengenai masalah perusahaan di ruang kerja Raichand. Di sana juga ada Emran, tapi pria itu terlihat acuh tak acuh. Selain karena bukan ranahnya. Dia juga tidak berminat membahas masalah perusahaan. Dia berada di tempat itu juga atas desakan sang ayah.


''Apa kau punya solusi, Emran?" Raichand bertanya pada putra sulungnya.


''Punya tapi aku tidak yakin, kalian akan menerima saran dariku," jawabnya dengan datar.


''Apa Emran? Katakanlah! Barangkali, papa bisa mempertimbangkan."


''Meminta maaf pada Tuan Bram."


Raichand dan Emru saling memandang satu sama lain. Sang ayah tampak meminta persetujuan melalui isyarat mata pada putra bungsunya. Emru membalas dengan anggukan pelan meski sedikit ragu.


"Aku ragu, Kak. Membujuk Tuan Bram bukan perkara mudah, terlebih pihak kita sudah mengecewakannya."


''Tidak perlu!" sahut Divia yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.


''Jika kehadiranmu hanya untuk membuat masalah. Sebaiknya, kau keluar, Divia," sarkas Raichand.


Divia berdecak pelan. ''Bisa tidak? Papa tidak melulu berfikiran buruk tentang mama," sungutnya kesal.


''Karena kau penyebab masalah ini, Divia!" teriak Raichand yang mulai tersulut emosi.


"Pap, Mam, jika kalian ingin bertengkar. Silahkan, keluar! Jangan membuat kepalaku semakin ingin pecah mendengar pertengkaran kalian." Emru bersuara dengan menahan kekesalan.


Pria yang biasanya terlihat tenang dan murah senyum itu terlihat sangat frustasi dengan masalah yang dia hadapi, saat ini.


"Sekarang, mama mau apa ikut campur masalah ini? Mau membuat semuanya semakin runyam," cecar Emru.


''Kalian salah besar. Justru, mama kemari membawa solusi untuk kalian," ujar wanita itu dengan pongah.


''Ada seseorang yang bersedia berinvestasi di perusahaan kita sebagai Investor terbesar menggantikan Tuan Bram."


''Siapa?" tanya Emru penasaran.


"Sebentar, mama panggil dulu orangnya. Kebetulan, dia juga mengunjungi rumah kita." Divia berlalu keluar begitu saja untuk memanggil tamunya.


Bertepatan dengan itu terdengar deringan ponsel dari saku celana Emran tanda ada panggilan masuk.

__ADS_1


''Aku angkat telpon dulu," pamitnya.


Tak berselang lama, dia kembali dengan terburu-buru hendak pergi karena ada urusan mendadak.


''Aku harus pergi karena ada urusan mendesak."


Tanpa menunggu persetujuan ayah dan adiknya, Emran melenggang pergi begitu saja. Ketika membuka pintu, tanpa sengaja dia berpapasan dengan ibunya. Pria itu hanya menunjukkan wajah dinginnya, tanpa senyum apalagi sapaan.


Netranya menangkap sosok pria yang berada di belakang sang ibu. Emran hanya menatap dengan tatapan datar tanpa beramah tamah. Dia memilih berlalu begitu saja dari hadapan mereka tanpa menyapa.


Baru beberapa langkah, Emang berbalik kembali. Dia hanya melihat punggung berjas hitam itu, ''kenapa aku merasa seperti tidak asing dengan gestur tubuhnya, seperti pernah melihat tapi di mana?" tanyanya dalam hati.


''Siapa dia?''


...----------------...


''Rayyan bantu aku. Aku pengen ketemu Emran," rengek Maura pada sepupunya.


Rayyan yang saat itu tengah memeriksa suhu tubuh Maura hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


''Kamu sedang sakit, Ra. Jangan keluar rumah terlebih dulu."


Dia berusaha sabar menghadapi wanita ini. Maura berubah menjadi sangat manja ketika sakit.


''Aku gak perlu keluar rumah, cukup dia yang datang kemari," sahut wanita itu dengan entengnya.


Rayyan terbelalak mendengar ungkapan itu. "Kau jangan gila, Ra. Aku bisa direbus habis-habisan sama Om Bram."


''Aku gila karena cinta."


''Ya mau ya ... Bantu aku, please." Maura mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memelas.


Dia berganti menggoyang lengan pria itu ketika tak mendapat jawaban.


Rayyan benar-benar dibuat pusing dengan permintaan wanita ini. Maura terus mendesak dirinya agar mau menuruti keinginannya, hingga pada akhirnya Rayyan mengangguk menyetujui.


''Baiklah. Nanti aku akan menghubunginya tapi aku juga butuh kerja sama darimu." Pria itu menatap serius sepupunya.


''Aku akan meminta Emran datang kemari setelah Om Bram berangkat ke kantor. Dan kau bersikap sebiasa mungkin di hadapan Om Bram agar dia tidak curiga."


Maura mengangguk dengan antusias.


''Kau bisa percayakan itu padaku," serunya riang.

__ADS_1


Dia seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


''Akhirnya, aku bisa bertemu Emran."


...----------------...


''Bagus, Nyonya Divia. Langkah awal kita sudah berjalan."


''Panggil tante saja. Aku bukan majikanmu."


''Iya, aku juga tidak menyangka akan semudah ini membuat mereka percaya. Sebentar lagi, aku akan mendapat kepercayaan mereka kembali," sambung Divia diiringi senyum manisnya.


''Aku pamit dulu. Nanti, aku kabari mengenai rencana kedua."


"Baiklah, aku tunggu kabar darimu."


Divia melambaikan tangan seiring dengan kepergian pria itu.


Suara deheman keras di ambang pintu mengalihkan perhatian wanita itu. Dia sempat menegang di tempat takut jika ada yang mendengar pembicaraan tadi. Namun, divia segera mengubah raut mukanya seperti semula agar tidak menimbulkan kecurigaan, kemudian berbalik melenggang masuk begitu saja tanpa menyapa sang suami.


''Ada yang ingin papa tanyakan pada mama."


Suara berat suaminya menghentikan langkah Divia.


"Dari mana mama mengenai pria itu?"


''Kenapa papa bertanya seperti itu? Apa papa mencurigai mama?" Divia balik mencecar suaminya.


"Bukan begitu, papa hanya ingin tahu. Papa tidak ingin ada masalah di kemudian hari. Karena kita bekerja sama dengan seseorang yang tidak terlalu kita kenal."


''Kenapa papa terlalu ribet sih, jadi orang? Mama sudah mempertanggung jawabkan kesalahan mama lho, ini. Masih saja salah di mata kalian," kesal Divia berlalu menaiki tangga.


Dia segera beranjak dari hadapan Raichand sebelum suaminya mengetahui rencananya bersama pria itu.


''Bukan begitu, Mama. Papa hanya ingin tahu."


Divia menghentikan langkahnya di tengah tangga, lalu menatap sinis suaminya.


"Mama dapat rekomendasi dari teman arisan mama. Karena dia juga berinvestasi di perusahaannya. Setelah mama menghubunginya, dia bersedia membantu kita."


''Papa puas sekarang?"


Raichand berusaha mempercayai penjelasan istrinya, meski dalam hati timbul banyak keraguan. Dia berniat akan terus memantau bisnisnya secara langsung, karena mustahil bisa mendapatkan investor seperti itu hanya dalam waktu dekat.

__ADS_1


__ADS_2