
Andrian tampak merenung sendiri di balkon kamarnya. Berulang kali, helaan nafas berat keluar dari bibir pemuda itu.. Dia merenung memikirkan ucapan atasan yang tidak sengaja ia dengar.
Dia memang menyukai Maura. Tetapi jika diminta menikah, dia belum siap. Banyak hal yang mengganggu pikirannya.
''Kau memikirkan apa, Yan?" tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiri dirinya.
''Tidak ada," jawabnya singkat dengan pikiran menerawang jauh ke depan.
''Meskipun, kau bukan adik kandungku. Tapi aku sangat hafal gelagatmu ketika ada masalah." Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara bebas.
Andrian hanya terkekeh kecil.
''Apa kakak tidak ada pikiran untuk menikah? Diusia kakak yang sudah empat puluh tahun."
''Apa kau ingin menikah?" Si pria balik bertanya.
Andrian hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon 'tidak tahu'.
''Lantas, kenapa kau menanyakan hal seperti itu kepadaku?"
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Andrian, hingga terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka. Pria itupun juga tidak berniat untuk membuka suara.
''Aku tidak sengaja mendengar kalau pemilik rumah sakit tempatku bekerja, berniat menjodohkan aku dengan putrinya."
''Lalu, bagaimana tanggapanmu?"
''Tidak ada, aku langsung pergi begitu saja tanpa sepengetahuannya."
''Kenapa?"
Andrian menatap lama pria itu. ''Aku yakin kau pasti tahu betul apa alasanku, Kak."
...----------------...
Tanpa terasa beberapa hari berlalu setelah peristiwa penghinaan malam itu. Semenjak saat itu, Maura tampak murung. Wanita itu selalu mengurung diri di dalam kamar.
Maura diminta untuk tinggal bersama Bram di kediaman utama. Dengan jalur paksaan tentunya. Maura yang kala itu masih takut dengan emosi sang ayah hanya menurut saja tanpa berani membantah.
''Makan malam Anda, Nona." Seorang pelayan mengantarkan makanan untuk gadis itu.
Wanita baya itu menghembuskan nafas kasar. untuk kesekian kali, piring makan tadi siang masih utuh, sendok dan garpu masih tertata rapi pada tempatnya.
''Anda harus makan, Nona. Nanti, Anda sakit," ujarnya untuk menasehati putri tuannya.
Maura hanya bungkam tak berniat untuk menanggapi, kodisinya terlihat sangat memprihatinkan, bibir pucat dengan mata cekung. Lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.
Karena merasa tidak mendapat tanggapan, dia memilih pergi membawa serta makanan yang masih utuh tadi.
''Bagaimana, Bi?" tanya Bram yang memang sengaja menunggu di depan pintu.
''Utuh, Tuan. Sama seperti kemarin," jawabnya dengan menunduk hormat.
Bram menghembuskan nafas kuat.
"Ya sudah, kau boleh kembali."
__ADS_1
''Baik, Tuan. Permisi...."
Bram hanya memperhatikan kemurungan putrinya di ambang pintu. Sebenarnya, dia juga tidak tega melakukan hal ini pada putrinya. Tetapi, semua hinaan itu masih terngiang jelas di telinganya. Orang tua mana yang rela darah dagingnya disamakan dengan wanita tuna susila.
''Ada apa, Om?" Suara Rayyan berhasil mengejutkan pria baya itu.
Dia mengikuti arah pandang omnya ke dalam kamar sepupunya.
"Dia masih seperti kemarin."
''Ya, begitulah, Ray. Om bingung bagaimana lagi harus membujuknya," ujar Bram tanpa mengalihkan pandangannya.
''Biar aku saja."
Rayyan bergegas masuk tanpa menunggu persetujuan omnya, kemudian mendaratkan bobot tubuhnya tepat di sisi Maura.
Tak ada tanggapan apapun dari wanita itu. Tatapannya masih kosong ke depan.
''Kau tidak makan, Ra?" tanya Rayyan mencoba membuka suara.
"Makan ya, aku suapi," bujuknya
Pria itu meraih piring, lalu menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya tepat dihadapan mulut Maura.
Namun, wanita itu langsung menghindar memilih memalingkan muka.
"Apa maumu, Ra?"
Maura langsung mengalihkan pandangan ke arah Rayyan, kemudian menatap dalam iris berwarna coklat itu.
''Maksudnya?"
''Aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu sewaktu bersama ibu." Maura kembali menatap kosong ke depan. "Waktu itu, aku masih fokus merawat ibuku, menyembuhkannya dari sakit, hingga aku tidak sempat memikirkan masalah percintaan."
''Aku menyesal pernah merasakan cinta jika pada akhirnya akan sesakit ini. Aku tidak tahan dengan rasa sakitnya, hiks-hiks...." Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis.
Isakannya sangat dalam hingga terdengar begitu pilu. Dia menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.
''Jika kau mau merelakan, kau pasti akan merasa lebih baik," ujar Rayyan dengan menyentuh lembut bahu yang bergetar itu.
''Itu yang sulit aku lakukan, Ray," balasnya dengan suara parau.
Dia menyeka air mata yang terus mengalir ke pipinya.
''Cobalah! Kau pasti bisa. Ingat! Sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi milikmu, suatu saat pasti akan kembali pada pemiliknya. Jika memang tidak, berarti kau harus bisa mengikhlaskan. Pasti, akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya."
"Percayalah," Rayyan mengakhirinya ucapannya diiringi senyum termanisnya.
''Sekarang, kamu makan. Aku suapi. Aku gak mau kamu sampai sakit."
Maura mengangguk sembari menerima suapan dari pria di sampingnya.
Bram bernafas lega karena keponakannya berhasil membujuk putrinya.
...----------------...
__ADS_1
Bram memandangi wajah lelap putrinya, wajah terlihat sangat tenang. Sangat berbeda ketika, gadis itu membuka mata. Raut kesedihan akan tergambar jelas dari sorot matanya.
''Maafkan ayah...."
''Ayah tidak bermaksud tega padamu, Sayang. Ayah hanya ingin menjalankan tugas ayah yang tak pernah ayah jalankan selama ini."
''Ayah hanya ingin melindungimu dari orang-orang yang menyakitimu, Maura," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Dia segera menghapus setitik air mata menetes di pelupuk matanya. Karena tak ingin mengganggu tidur putrinya, Bram berniat beranjak dari tempat itu. Agar putrinya bisa istirahat dengan nyaman.
''Ibu...."
Suara lemah Maura berhasil menghentikan langkah pria itu. Dia membalikkan tubuh, bermaksud kembali menghampiri putrinya.
''Ibu, hiks-hiks...," gumamnya dengan mata terpejam, isakan kecil juga terdengar dari bibirnya.
''Maura, ini ayah...."
Bram mendekati putri semata wayangnya. Dilihatnya, tubuh ringkih itu tampak menggigil.
''Ibu...." Hanya itu yang selalu terucap dari bibir Maura. Namun, dia juga enggan membuka mata.
''Maura, ayah disini."
''Astaga, Maura. Panas sekali tubuhmu, Sayang," ucapnya penuh kepanikan saat menyentuh lembut tangan putrinya, kemudian beralih pada bagian dahi dan lehernya.
Tubuh Maura semakin menggigil kedinginan, dengan mulut yang terus memanggil ibunya.
Bram segera memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan air hangat yang akan ia gunakan untuk mengompres Maura. Tak lupa, dia juga memanggil Rayyan untuk memeriksa keadaan putrinya.
''Demamnya sangat tinggi, Om. 40° Celcius, tensi darahnya rendah. Untuk sementara, dia harus diinfus untuk tambahan tenaga," kata Rayyan setelah memeriksa kondisi Maura.
Dia memang dokter kandungan. Tetapi, terkadang dia juga bisa memeriksa seseorang yang hanya demam biasa seperti ini.
''Lakukan saja yang terbaik. Asal, Maura bisa segera pulih," perintah Bram.
Dia menatap sendu wajah pucat putri semata wayangnya.
"Baik, Om."
''Om, boleh aku bicara sesuatu, hanya berdua," ucap Rayyan dengan hati-hati setelah menyelesaikan tugasnya.
Bram mengangguk, lalu mengajak pria itu keluar menuju balkon yang masih terletak di kamar Maura.
''Kau mau bicara apa?"
''Apa tidak sebaiknya ... Om merestui hubungan Maura dengan Emran. Kasihan Maura sampai drop begitu kondisinya."
''Maura sakit bukan karena laki-laki itu, tetapi dia merindukan ibunya," balas Bram dengan wajah datarnya.
Meskipun dalam hati juga mengatakan hal yang sama, tapi Bram tetap memyangkal keras dugaan itu.
''Izinkan Maura bertemu dengan Emran, Om. Kasihan dia," bujuk Rayyan.
''Emran juga selalu bertanya tentang Maura padaku."
__ADS_1