
Maura termenung sendiri di dalam kamarnya. Matanya menatap lekat potret kebersamaan bersama sang pria pujaan, di sana keduanya sama-sama mengenakan jas putih dengan senyum merekah di bibir masing-masing. Tidak ada kesedihan justru kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka.
''Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" Maura mengusap lembut foto itu dengan mata berkaca-kaca.
''Apa yang kau lakukan padaku? Sampai aku tidak bisa untuk menghilangkan semua tentangmu, baik di hati maupun pikiranku."
''Aku benci perasaan ini, Em. Semua sungguh menyiksaku."
Luruh sudah air mata yang sejak tadi berusaha ditahan. Ada setitik penyesalan karena telah ikut menduduh pria itu hanya karena emosi sesaat. Semua ucapan Mira beberapa hari yang lalu terus terngiang dalam benaknya.
''Apa aku hubungi saja ya ... Tapi, bagaimana kalau dia terlanjur sakit hati karena tuduhanku waktu itu?" Tangannya sudah bersiap untuk mendial ikon telepon, tetapi di urungkan kembali.
Maura masih menimbang-nimbang, apa yang akan dia perbuat.
''Tapi kalau aku hubungi duluan, itu sama aja kayak gak punya malu. Mukaku mau taruh mana coba."
''Aish, Maura ... nyesel 'kan sekarang? Kenapa sih penyesalan selalu datang di akhir begini, sekali-kali di awal kek," gerutunya kesal.
Karena sibuk dengan pikirannya, tanpa sadar salah satu jarinya memencet ikon telepon tersebut hingga panggilan pun terhubung ke nomor tujuan.
''Hallo."
Maura terkesiap ketika mendengar suara berat yang sangat dikenalnya. Dia segera melihat layar ponsel ternyata sebuah panggilan telah terhubung.
''Mati aku," batinnya.
Dia menepuk keningnya sendiri atas kecerobohannya. "Mestinya keluar dulu dari buku kontak, Maura. Kalau begini gimana coba."
Maura masih sibuk merutuki diri sendiri, masih bimbang antara dijawab atau dimatikan.
''Ada apa kau menghubungiku, Maura." Suara bariton itu membuat Maura semakin gelisah.
Dia berusaha mengatur nafas, kemudian mengarahkan ponsel ke telinga.
''Ma-maaf tadi kepencet, aku matikan jika mengganggu," jawabnya sambil memejamkan mata.
Terdengar kekehan kecil dari arah seberang yang membuat Maura mengerutkan kening.
''Kenapa kau tertawa?" tanyanya dengan nada sinis.
''Kepencet atau disengaja, katakan saja kau merindukanku."
Maura menganga tidak percaya mendengarnya. Dia kembali menatap layar ponsel untuk memastikan jika dia tidak salah sambung.
''Diam berarti iya."
__ADS_1
"Ti-tidak. Mana mungkin a-aku me-merindukanmu. Ngaco kamu."
Akibat jantung yang berdebar hebat ikut berimbas pada nada bicaranya. Maura menepuk pelan mulutnya sendiri yang menjawab gugup.
''Jika tidak, kenapa kau nada bicaramu seperti itu?"
"Sudahlah, aku matikan saja, bye!" Dia memutuskan mengakhiri panggilan tak sengaja itu demi kesehatan jantungnya.
"I miss you, Maura...."
Maura menegang mendengar kalimat terakhir pria itu sebelum panggilannya benar-benar berakhir.
"Miss you too...."
Sayang seribu sayang, Emran tak bisa mendengar ungkapan rindu Maura karena panggilan mereka sudah berakhir.
...----------------...
''Bu, saya boleh minta tolong?" tanya Divia ketika salah seorang petugas melintas di depan selnya.
''Iya, Bu Divia, ada apa?"
''Tolong hubungi keluarga saya, entah itu anak atau suami saya untuk kemari. Saya beri nomor telepon rumah saya," pintanya penuh permohonan.
Petugas itu berlalu ke tempat jaga, tak berapa lama kembali dengan membawa secarik kertas beserta bolpoinnya.
''Silahkan tulis nomor yang bisa dihubungi."
Divia segera menulis sederet nomor rumahnya juga nomor telepon anak-anaknya.
''Ini, Bu ... Suruh mereka kemari secepatnya."
Divia masih belum tenang meskipun sudah meminta salah satu petugas menghubungi keluarganya. Matanya melirik koran kusut yang beberapa hari lalu dibawa oleh Angelo.
''Gara-gara mama bisnis papa hancur. Maafkan aku, Pap...." Dia menatap nanar kertas itu, tanpa terasa setetes air mata luruh begitu saja ke pipinya.
''Aku harap papa yang datang kemari."
...----------------...
Seorang pelayan yang tengah bertugas berlari tergopoh-gopoh ketika mendengar suara telepon rumah menggema di ruang utama. Tanpa menunggu lama, dia segera mengangkatnya.
''Hallo, kediaman Tuan Raichand Khan...."
''Selamat pagi, saya petugas kepolisian ingin berbicara pada keluarga Bu Divia."
__ADS_1
''Se-sebentar, Bu. Saya panggilkan tuan dulu."
Si pelayan menaruh gagang telpon tersebut tak jauh dari tempatnya, kemudian berlari mencari majikannya.
''Ada apa, Bi?" sapa Emru yang baru turun dari lantai atas.
''I-itu, Tu-tuan, ada telepon dari polisi ingin bicara."
''Polisi?" Pria itu mengerutkan kening, dalam hati menerka-nerka masalah apalagi yang ditimbulkan ibunya sampai polisi menghubungi rumahnya.
''Biar saya saja. Bibi bisa lanjut bekerja."
''Baik, Tuan. Permisi....''
Selepas kepergian pelayan, Emru segera menghampiri telpon tersebut.
''Hallo...."
''Keluarga Ibu Divia...."
''Saya putranya, ada apa dengan mama saya?"
''Beliau meminta bertemu, diharapkan salah seorang dari anggota keluarga secepatnya kemari."
''Baik, saya akan segera kesana."
Panggilan pun berakhir.
Tepat ketika dia membalikkan badan, sang ayah sudah berdiri di hadapannya dengan wajah dinginnya.
"Pergilah ke kantor! Papa yang akan menemui mamamu."
Emru pun menurut tanpa menaruh curiga sedikitpun jika sang ayah menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
...----------------...
Hayo lhoo, apa yang dibawa Pak Raichand? Jawabannya ada di part selanjutnya....
Babay....
Oh iya, aku mau promo lagi karya temanku, jangan lupa mampir sambil nungguin up dari ku, sekalian ke karya baruku di aplikasi ini juga.
__ADS_1