
Danial melihat ke sekeliling lalu netranya melihat sesuatu di kejauhan.
.
.
.
"Sepertinya di depan ada gubuk, kita berteduh di sana"
"Saya sudah tidak sanggup lagi berjalan" ucap Dina lemas.
Danial langsung menggendong Dina, dia berjalan di atas salju tebal sambil menggendong Dina.
"Turunkan saya"
"Diamlah jangan membantah"
15 menit kemudian mereka pun tiba di gubuk itu.
"Lihat apa kata ku, kita akan baik-baik saja" ucap Danial.
Dina hanya bisa mengangguk.
Danial membawa masuk Dina ke dalam sana.
Danial mengamati gubuk itu, barang barang di dalam sana nampak cukup lengkap sepertinya sebelumnya ada seseorang yang tinggal di sana.
Danial menurunkan Dina di atas jerami. Lalu Danial beranjak. Dina menarik pakaian Danial.
"Anda mau kemana?" tanya Dina dengan bibir gemetar karena kedinginan.
"Aku hanya ingin menyalakan api, di sana ada kayu bakar dan korek api. Tenanglah aku tidak akan lama"
Perlahan Dina melepas pakaian Danial dari genggamannya.
Danial pergi beberapa langkah ke tungku api, lalu dia memasukkan kayu bakar yang ada di dekat tungku kemudian mencoba menyalakan api.
Beberapa kali percobaan akhirnya api menyala.
Danial mengambil tumpukan jerami kemudian menumpuknya hingga cukup tebal lalu Danial mengambil sebuah selimut yang terbuat dari kain rami kemudian menggelarnya di atas jerami.
Setelah itu dia mengambil satu lagi kain kemudian melangkah ke arah Dina yang duduk gemetar.
"Ayo lepaskan pakaian mu" ucap Danial.
Dina menggeleng.
"Pakaian mu basah Dina, kamu akan semakin kedinginan jika masih memakainya" ucap Danial.
"Tidak" tolak Dina.
"Jangan keras kepala Dina, kamu akan terkena hipotermia jika memakai pakaian basah" ucap Danial.
"Tapi..."
"Ayo buka, aku tidak akan melihatnya" ucap Danil sambil melebarkan kain yang dia pegang dan menoleh ke arah lain.
Melihat itu Dina terdiam kemudian perlahan dia melepas jaket dan pakaiannya yang basah.
Beberapa saat kemudian Dina sudah melepas semua yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Su...sudah" ucap Dina sambil memeluk tubuhnya sendiri, dia merasa sangat malu.
Tanpa melihat Danial pun langsung menyelimuti Dina dengan kain di tangannya.
"Tahanlah walaupun ini akan membuat kulit mu gatal" ucap Danial, karena tekstur kain itu cukup kasar.
Danial pikir kulit Dina akan sedikit gatal bila menggunakan kain itu.
Dina mengangguk. Kemudian Danial mengangkat tubuh Dina ke tempat yang sudah dia sediakan tadi.
"Duduklah di sini" ucap Danial sambil menurunkan dengan perlahan tubuh Dina.
"Anda mau kemana?" tanya Dina.
"Aku akan menjemur pakaian mu di kayu itu, agar besok bisa kering" ucap Danial.
Lalu Danial melangkah ke tumpukan pakaian Dina, Danial menggantung semua pakaian Dina di atas kayu yang seperti tempat jemuran.
Dia juga menggantung jaket miliknya setelah itu dia kembali ke depan tungku dan duduk di samping Dina.
Dina menoleh ke arah Danial yang sedang merentangkan telapak tangannya di dekat api guna menghangatkan tubuhnya.
"Kenapa? masih dingin" tanya Danial sambil menoleh ke arah Dina yang terbungkus kain.
Dina mengangguk.
Danial nampak khawatir, dia tahu Dina tak kuat dengan cuaca dingin. Bahkan dulu dia harus menurunkan suhu AC di kamarnya demi Dina.
Danial menggosok telapak tangannya hingga hangat lalu dia menempelkannya di pipi Dina dan dia mengulangi hal itu terus menerus.
Badai salju semakin lebat dari sebelumnya dan sekarang persediaan kayu bakar mulai sedikit, api pun perlahan semakin mengecil.
Dina semakin kedinginan begitu juga dengan Danial. Di tambah pakaian Danial yang sebenarnya basah. Tapi dia masih memakinya.
Danial melakukan segala cara untuk tetap membuat Dina hangat. Dina hendak memeluk Danial tapi Danial melarangnya..
"Jangan pakaian ku basah"
"Basah?" tanya Dina sambil menatap wajah Danial dengan mata sayunya.
Danial mengangguk.
"Lalu kenapa tidak di lepas?" tanya Dina.
Danial terdiam.
"Cepat lepas" ucap Dina, dia juga tidak mau terjadi sesuatu pada Danial.
"Aku akan semakin kedinginan jika melepasnya" ucap Danial.
"Kita bisa berbagi selimut" ucap Dina menggigil.
Danial tersenyum lalu dia melepas pakaiannya kemudian menggantungnya di dekat pakaian Dina.
Dina menoleh ke arah lain saat melihat Danial polos di hadapannya.
Lalu Danial masuk ke dalam kain yang menutupi tubuh Dina. Kain itu cukup lebar jadi muat untuk dua orang.
Danial menggosok-gosok kembali telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi dan leher Dina, dia mengulanginya berulang kali.
Tinggal beberapa jam lagi matahari akan terbit, dan mereka harus bertahan. Badai pun tak kunjung reda. Dan tiba-tiba api di depan mereka padam.
__ADS_1
"Bagaimana ini" ucap Dina yang semakin kedinginan.
Danial mencoba menghangatkan tubuh Dina dengan cara memeluknya. Namun tak banyak membantu Dina masih saja kedinginan.
"Dingin" ucap Dina menggigil.
"Bertahanlah sayang" ucap Danial sambil mendekat Dina dengan erat.
"Dingin..."
Danial sangat panik melihat bibir Dina semakin pucat.
"Hanya ada satu cara" ucap Danial.
Dina menatap Danial.
"Kita harus melakukannya, agar tubuh kita tetap hangat"
Dina yang paham pun langsung menolak keras.
"Ti...tidak"
"Tapi aku tida bisa melihat mu seperti ini, kita lakukan Dina. Aku masih suami mu" bujuk Danial, dia tidak bisa memikirkan cara lain selain ini.
"Tidak jangan"
"Maaf tanpa persetujuan mu pun aku akan melakukannya."
Danial mendorong pelan tubuh Dina agar terlentang, dia sudah berada di atas tubuh Dina.
"Maaf sayang tapi ini satu-satunya cara agar kita selamat" ucap Danial lalu dia mengecup kening Dina.
"Tolong jangan lakukan itu" ucap Dina sambil menangis.
"Apa kamu lebih memilih mati dari pada aku menyentuh mu? segitu bencinya kah diri mu pada ku?" tanya Danial sambil menatap bola mata indah Dina.
"Bukan begitu aku..."
"Kalau begitu biarkan aku menyelamatkan kita berdua" ucap Danial dan langsung menyerang Dina.
Beberapa menit berlalu kini tubuh mereka sudah mulai menghangat.
Dina mencengkram kuat lengan Danial saat tubuhnya mendapatkan serangan bertubi-tubi yang di lakukan bibir Danial.
"Ahhh" lenguh Dina saat tangan Danial mulai bergerak di bawah sana.
"Aku akan mulai" bisik Danial setelah tubuh Dina siap.
Dina menggelengkan kepalanya meminta Danial untuk tidak melakukannya. Danial mengabaikan permintaan Dina dan perlahan dia mulai mendorong masuk miliknya.
"Argghhh!" teriak Dina.
Danial menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak. Danial mengecup seluruh wajah Dina.
"Aku seperti memperawani mu untuk kedua kalinya, kamu sempit sekali" bisik Danial di telinga Dina.
Sudah lima tahun Dina tidak pernah melakukannya lagi, di tambah dulu saat dia melahirkan si kembar dia mendapat beberapa jahitan di sana. Tentu saja miliknya sedikit lebih sempit.
Dina mencengkram lengan Danial saat Danial perlahan bergerak. Sudah lima tahun, lima tahun dia tidak pernah melakukannya dan ini adalah pertama kalinya dia melakukannya dan dengan pria yang sama.
.
__ADS_1
.
.