
Danial menoleh ke arah bik Dahlia.
.
.
.
"Bibik bisa menganggap ku putra bibik" ucap Danial sambil tersenyum ke arah bik Dahlia.
"Bibik juga bisa menganggap anak-anak ku cucu bibik, anak-anak akan sangat beruntung mempunyai banyak nenek" ucap Danial sambil tersenyum.
"Terima kasih den, anda sangat baik. Nyonya Dharma sangat beruntung memiliki cucu sebaik anda"
Danial tersenyum kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Bik Dahlia sudah pernah menikah, tapi dia di ceraikan suaminya karena tak bisa memberi keturunan pada suaminya.
Dan setelah di ceraikan suaminya bik Dahlia pergi merantau ke kota dan bekerja di mansion nenek Dharma.
Setelah bertahun-tahun bekerja di mansion nenek Dharma, bik Dahlia di percaya mengurus rumah cucu nenek Dharma yaitu Danial.
"Mr. Danial" panggil pekerja di restoran itu dari arah meja kasir.
"Aku ke sana dulu bik"
"Iya den"
Danial melangkah ke meja kasir.
"Ini pesanan anda tuan, 4 fried chicken, 2 es krim dan dua lemon tea"
"Terima kasih"
"Sama-sama, selamat menikmati"
Danial membawa pesanan mereka ke meja, lalu dia melangkah ke tempat bermain di mana anak-anaknya sedang bermain sambil di awasi bibik Dahlia.
"Anak-anak ayo makan dulu" ucap Danial memanggil anak-anaknya.
"Oke pa" jawab mereka berdua lalu keluar dari arena bermain.
Beberapa menit kemudian mereka mulai menyantap makan siang mereka.
"Papa tahu tidak" ucap putri Danial.
"Apa sayang?" tanya Danial sambil menatap putrinya.
"Tadi waktu adek jatuh"
"Iya?"
"Adek kan nabrak tante cantik..."
"Jangan mulai lagi sayang" ucap Danial menghentikan ucapan putrinya.
"Papa dengelin dulu"
"Kalau adek minta papa cari tante itu papa tidak akan melakukannya"
"Ihhh papa!" teriak putrinya.
"Adek" tegur Danial karena putrinya berteriak.
"Papa sih ngeselin, dengelin adek dulu"
"Oke maafkan papa, sekarang katakan"
"Tante cantik itu belsama dengan temannya."
"Hmm lalu?" tanya Danial masih menatap wajah putrinya.
"Temannya itu wajahnya di tutup pakai kain" ucap putrinya sambil menggerakkan tangannya di wajahnya.
"Lalu kenapa?"
"Yang jatuh kan adek tapi tante yang wajahnya di tutup itu yang nangis"
"Nangis?" tanya Danial heran.
Bik Dahlia nampak sedang mengingat kejadian tadi.
"Iya" jawab putri Danial sambil mengangguk.
"Kenapa tante itu nangis ya pa?" tanya putri Danial penasaran.
"Mana papa tahu sayang" ucap Danial sambil melanjutkan makannya.
"Adek cepat habiskan" ucap kakaknya
__ADS_1
"Iya" jawab putri Danial.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah cafe.
"Ada apa dengannya?" Tanya seorang perempuan yang baru saja datang.
"Tidak tahu sejak keluar dari KF* dia seperti ini"
"Hiks hiks"
"Reeha kamu kenapa?"
Perempuan yang di panggil Reeha itu hanya menggeleng sambil menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya temannya tanpa suara.
"Aku tidak tahu" jawab perempuan yang datang bersama Dina ke cafe itu, dia juga menjawab tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya saja.
Kedua perempuan itu mencoba menenangkan Dina.
Beberapa menit kemudian.
"Sudah lebih baik?"
Dina menganggukkan kepalanya.
Beberapa jam kemudian pukul 4 sore.
"Assalamualaikum Dina" panggil Danial yang baru saja datang ke rumah Dina.
"Waalaikumsalam den" jawab bik Dila.
"Istri ku mana bik?" tanya Danial.
"Ada di kamar, Den"
"Ada apa bik?" tanya Danial saat melihat raut wajah bik Dila yang nampak sedih.
Bik Dila menggeleng.
"Sejak pulang mbak Reeha tidak mau keluar kamar, tadi bibik lihat saat pulang mata mbak Reeha bengkak seperti habis menangis"
"Menangis?" tanya Danial terkejut.
"Iya den"
"Aku samperin istri ku dulu bik"
"Iya den"
Ceklek
"Dina" panggil Danial panik.
Dina mendongak menatap Danial yang ada di ambang pintu. Danial langsung berlari ke arah Dina yang menangis di ranjangnya.
"Mas hiks hiks"
"Sayang kamu kenapa?" tanya Danial sambil memeluk Dina.
"Hiks hiks hiks"
Dina memeluk erat pinggang Danial yang berdiri di depannya. Dina menyembunyikan wajahnya di perut kotak-kotak Danial.
Danial mengusap lembut punggung dan kepala Dina.
"Tenanglah sayang, tenanglah"
"Hiks hiks hiks"
30 menit kemudian.
"Sudah lebih baik" tanya Danial sambil menunduk menatap wajah Dina.
Dina menganggukkan kepalanya.
Danial duduk di samping istrinya.
"Sekarang katakan ada apa?" tanya Danial sambil menggenggam telapak tangan Dina dan mengusap air mata di pipi istrinya itu.
"A...aku..."
"Iya kenapa?" tanya Danial dengan lembut.
"Aku merindukan mereka" ucap Dina.
"Mereka? siapa?" tanya Danial.
"Aku bertemu putri kita"
__ADS_1
"Benarkah? kapan?" tanya Danial terkejut.
"Tadi"
"Dimana?" tanya Danial.
"KF*"
"Tunggu tunggu, apa kamu perempuan yang di tabrak putri kita?" tanya Danial.
Dina menggelengkan kepalanya, bukan itu teman ku.
"Jadi kamu teman perempuan yang di tabrak putri kita?"
Dina menganggukkan kepalanya.
"Ternyata itu kamu" ucap Danial sambil tersenyum.
Dina menganggukkan kepalanya.
"Kamu tahu tidak" ucap Danial sambil mengusap sisa air mata yang tertinggal di wajah istrinya.
"Apa?" tanya Dina.
"Tadi putri kita bilang pada ku bahwa teman tante yang di tabraknya menangis. Dan ternyata itu kamu"
"Sepanjang perjalan pulang Putri kita terus bertanya-tanya 'papa kenapa teman tante itu menangis padahal aku yang jatuh bukan dia' " ucap Danial sambil meniru perkataan putrinya.
Dina terkekeh begitu juga Danial.
"Besok ikut mas pulang ya... si kembar sangat merindukan mu" ucap Danial.
"Aku belum siap, mas" ucap Dina sambil menunduk.
"Apa kamu tidak merindukan mereka hmm?"
"Rindu" ucap Dina sambil menatap wajah Danial.
"Kalau begitu pulang ya, kembalilah ke rumah. Kita mulai semuanya dari awal" ucap Danial sambil mengecupi punggung tangan Dina.
"Tapi..."
"Tapi kenapa Sayang?"
"Aku takut, aku takut mereka membenci ku" lirih Dina.
"Tidak akan, mereka tidak akan membenci mu. Anak-anak merindukan mu sayang"
Dina terdiam.
"Mau ya" bujuk Danial.
Perlahan Dina menganggukkan kepalanya.
Danial tersenyum bahagia melihat anggukan Dina. Danial memeluk Dina dengan sangat erat.
"Mas sesak" ucap Dina sambil menepuk lengan Danial.
"Oh maaf sayang" ucap Danial mengurai pelukannya.
Mereka saling bertatapan, perlahan Danial wajah Danial mendekat ke arah Dina. Dina yang melihat pergerakan Danial menyentuh dada bidang suaminya untuk menghentikan gerakan suaminya.
"Sayang..." lirih Danial saat Dina mengehentikan dirinya.
"Mas a...aku..." ucap Dina sambil menunduk.
"Saranghae" ucap Danial sambil menatap wajah istrinya.
Dina seketika mendongak menatap Danial.
"Dari mana mas tahu kata itu?" tanya Dina sambil terkekeh pelan.
"Kamu suka Drama Korea, bukan?" ucap Danial sambil tersenyum menatap Dina.
Dina terkekeh.
"Aku mencintai mu Dina sayang" ucap Danial dengan suara yang sangat lembut.
Dina terus menatap Danial.
"Kenapa? apa kamu tidak mencintai mas?" tanya Danial.
Dina menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mencintai mas?" tanya Danial terkejut.
.
.
__ADS_1
.