Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Sakit


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


.


.


.


Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, begitu pula dengan Danial dan Dina.


Dina naik ke atas ranjang setelah membantu Danial membersihkan dirinya dan juga dirinya sendiri.


"Dina" panggil Danial, saat Dina sudah bersiap menarik selimut.


"Iya mas?" tanya Dina sambil menoleh ke arah Danial.


"Bagaimana kalau besok kita berkunjung ke rumah orang tua mu? bukankah kamu sudah lama tidak pulang"


"Aaa.. itu..." Dina tak tahu harus menjawab apa.


"Kamu tidak mau?" tanya Danial


"Bukannya tidak mau mas, tapi..."


"Tapi apa?"


"Apa yang harus aku katakan pada keluarga ku jika mereka bertanya kenapa mas ikut?"


"Kalau itu gampang, biar mas yang cari alasan nanti"


"Baiklah, aku mau mas" ucap Dina senang, karena memang sudah lama dia tidak pulang.


"Oke besok kita berangkat"


"Iya mas"


"Oh iya apa keluarga mu tahu kalau mas buta?" tanya Danial pada Dina.


"Aku tidak memberitahu mereka mas, terutama pada ayah"


"Ya sudah tidak apa-apa, biar mas yang kasih tahu ke ayah" ucap Danial sambil tersenyum.


"Iya mas"


"Sayang mendekat lah" ucap Danial


Dina bergeser ke dekat Danial.


"Kenapa mas?" tanya Dina


"Boleh tidak mas minta itu?" tanya Danial


"Itu apa?" tanya Dina tak paham.


"Mas merindukan mu" bisik Danial


Wajah Dina langsung memanas.


"Boleh tidak sayang?" tanya Danial pelan


"Bo...boleh mas" jawab Dina gugup.


Danial tersenyum, dia langsung menarik lengan Dina dan langsung menyerang bibir Dina.


Ya walaupun tidak bisa melihat tapi Danial bisa merasakan, malah semenjak buta setiap kali dia berhubungan dengan Dina rasanya terasa berbeda.


Rasanya semakin menakjubkan karena indra perasanya lebih tajam dari biasanya.


"Errghhh ma...mas..." lenguh Dina


"Kamu yang memimpin ya" ucap Danial dengan suara seraknya.


Dina menganggukkan kepalanya dan dia mulai mengambil alih permainan. Sekarang Dina sudah profesional dalam bermain tentu saja berkat Danial.


***


Dua bulan berlalu.


"Huekkk hueekkk hueekkk"


Di dalam kamar mandi nampak seseorang yang tengah muntah-muntah di wastafel.

__ADS_1


"Hueeekkk hueekkkk"


"Kamu ini sebenarnya kenapa sih?" tanya nenek Dharma


"Huekkk"


"Hah...." nenek Dharma menghela nafas panjang, beliau nampak sangat khawatir.


"Hueekkkk"


Nenek Dharma mengusap-ngusap punggung Danial yang saat ini tengah muntah-muntah.


Setelah beberapa saat Danial dan nenek Dharma keluar dari kamar mandi dan melangkah duduk di sofa kamar Danial dan Dina.


"Ini air hangatnya" ucap Dina yang baru saja kembali setelah membawa air hangat untuk Danial.


Nenek Dharma mengambil air dari tangan Dina lalu meminumkannya pada Cucunya.


"Sudah?" tanya Nenek Dharma


Danial menganggukkan kepalanya pelan.


"Mas baik-baik saja?" tanya Dina khawatir


Danial menganggukkan kepalanya.


"Sudah hubungi dokter?" tanya Nenek Dharma pada Dina.


"Sudah nek, bik Dahayu sudah menelpon dokter" jawab Dina


Nenek Dharma menganggukkan kepalanya.


Tok tok


"Permisi nyonya, dokternya sudah datang" ucap Bik Dahayu


"Suruh masuk saja bik" ucap nenek Dharma


"Baik"


Beberapa detik kemudian, seorang dokter pria berusia sekitar 50-an masuk ke dalam kamar Danial.


20 menit kemudian dokter selesai memeriksa kondisi Danial.


"Bagaimana dok?" tanya Nenek Dharma


"Kondisi tuan Danial baik-baik saja nyonya" ucap dokter itu.


"Baik-baik saja? bagaimana mungkin baik-baik saja, cucu saya muntah-muntah terus selama beberapa hari ini, dan yang parah pagi ini" ucap nenek Dharma, karena sudah 2 orang dokter yang mengatakan bahwa Danial baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan tubuhnya.


"Saya juga bingung akan hal itu nyonya, karena setelah saya mengecek kondisi tuan Danial tidak ada penyakit apapun" ucap dokter itu nampak heran.


"Mungkin asam lambung" ucap nenek Dharma


"Bukan nyonya, saya sudah periksa perut tuan Danial. Dan tidak ada ciri-ciri asam lambung. Tuan Danial juga bilang tidak merasakan perih di lambungnya"


"Lalu bagaimana mungkin?" tanya nenek Dharma.


"Saran saya, sebaiknya tuan di bawa ke rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut. Di rumah sakit kami bisa melakukan Rontgen ataupun pengecekan lainnya untuk memastikan"


"Bagaimana Danial? kita ke rumah sakit saja ya" ucap nenek Dharma sambil menatap wajah pucat cucunya.


Danial menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, kita bersiap ke rumah sakit" ucap nenek Dharma.


Danial pun di bawa ke rumah sakit.


2 jam kemudian.


Saat ini Danial tengah terlelap di brankar rumah sakit. Dina duduk di sampingnya sedangkan nenek Dharma keluar untuk membeli makan siang untuk mereka.


"Hhmmm"


"Mas" panggil Dina saat mendengar suara Danial.


Perlahan Danial membuka kelopak matanya.


"Bagaimana keadaan mu, mas?" tanya Dina sambil berdiri di samping brankar Danial.


"Mas haus sayang" ucap Danial dengan nada manja.

__ADS_1


"Oh, sebentar" ucap Dina lalu dia segera menuang air ke dalam gelas.


Danial bangun perlahan.


"Ini mas" ucap Dina sambil memberi Danial minum.


Danial segera menenggak air minumnya.


"Sudah?" tanya Dina sambil menjauhkan gelas dari mulut Danial.


Danial menganggukkan kepalanya. Lalu Dina meletakkan kembali gelas yang dia pegang ke nakas yang ada di samping brankar Danial.


"Masih mual?" tanya Dina


Danial menggelengkan kepalanya.


"Dimana nenek?" tanya Danial karena tak mendengar suara neneknya.


"Nenek sedang membeli makan siang dengan kak Dani, Mas mau sesuatu?" tanya Dina


Danial menggelengkan kepalanya.


"Sayang..." panggil Danial dengan sangat manja.


"Iya?"


"Temani mas tidur ya..."


"Apa?" tanya Dina tak paham.


"Tidurlah di samping, mas" ucap Danial


"Tapi..."


Wajah Danial nampak cemberut.


"Mas kenapa sih? tumben manja gini?" tanya Dina heran.


"Mas kan sedang sakit, jadi wajar kan kalau mas manja" ucap Danial


"Biasanya gak manja gini deh" jawab Dina


"Kamu keberatan kalau mas manja pada mu? kalau gitu gak usah" ucap Danial ngambek.


"Loh kok malah marah?" tanya Dina semakin heran dengan kelakuan Danial.


Danial diam tak menjawab.


"Mas..."


Danial membuang muka ke arah lain.


"Mas... Mas Danial..." panggil Dina dengan sangat lembut, tapi Danial tetap tak menyahut.


"Mas jangan ngambek dong, nanti gantengnya hilang" rayu Dina sambil terkekeh pelan.


"Kenapa? kalau gantengnya hilang kamu mau cari yang lain?!" tanya Danial ketus


Dina terkekeh.


"Tentu saja, untuk apa aku tinggal dengan orang jelek ngambekan" ledek Dina


"Kamu benar-benar jahat sayang, suami sakit bukannya di rawat malah di ledekin" ucap Danial merajuk.


"Ke ke ke, siapa suruh ngambek" jawab Dina sambil terkekeh pelan.


"Tahu kamu ngeselin" ketus Danial


"Maaf, jangan ngambek lagi dong. Nanti gantengnya hilang beneran, kalau sampai hilang aku bakalan cari yang lain loh" rayu Dina.


"Cari aja sana, kamu gak bakalan dapat yang seperti mas" ucap Danial ketus


Dina semakin terkekeh.


"Siapa bilang tidak ada?" tantang Dina


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2