Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Sidak


__ADS_3

"Nah sudah bereskan" ucap Danial pada Dina


"Saya mau ke kamar saja" ucap Dina hendak kabur.


"Temani aku menyelesaikan semua ini" ucap Danial sambil menunjuk tumpukan berkas yang ada di mejanya.


"Bagaimana caranya anda bekerja kalau anda memangku saya?" tanya Dina sambil menoleh ke arah berkas Danial.


"Seperti ini" ucap Danial sambil mengubah posisi duduk Dina.


Dina duduk dengan kaki mengangkang menghadap ke arah tubuh Danial. Danial memajukan kursi kerjanya membuat tubuh Dina terjepit di antara meja kerja Danial dan tubuh Danial.


"Hubby terlalu dekat" ucap Dina pelan


"Diamlah darling, aku sedang bekerja" ucap Danial sambil fokus mengerjakan pekerjaannya.


"Dasar tuan muda mesum" bisik Dina dengan raut wajah cemberutnya.


Danial terkekeh


Beberapa menit berlalu


"Hubby" panggil Dina


"Hhmmm?" jawab Danial, mata dan tangannya masih sibuk dengan kertas-kertas itu.


"Udah ya saya mau ke kamar saja" ucap Dina mulai tak nyaman.


"Kenapa?" tanya Danial


"Saya gak nyaman"


"Gak nyaman kenapa?" tanya Danial sambil menatap Dina.


"Masih pake tanya lagi, itu ular kobra anda dari tadi bergerak-gerak" ucap Dina kesal


"Mana lagi saya gak pakai ****** *****" gerutu Dina


Danial terkekeh "Ya sudah nikmati aja"


"Udah ah saya turun saja" ucap Dina hendak beranjak dari sana.


Danial meletakkan berkas-berkasnya di meja lalu menahan pinggang Dina.


"Kenapa basah lagi ya?" bisik Danial


Dina mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah cemberut.


"Duh gemasnya" ucap Danial sambil menggigit pipi Dina.


"Arghh sakit!" teriak Dina


"Ha ha ha" Danial tertawa terbahak-bahak


Tangan Danial bergerak diam-diam, dia menurunkan resleting celana bahannya tanpa sepengetahuan Dina.


Danial mengangkat tubuh Dina sebentar untuk mempermudah mengeluarkan isi celananya.


Kemudian menurunkan kembali tubuh Dina seperti semula. Dan seketika Dina membulatkan matanya saat merasakan sesuatu di bawahnya.


"TUAN DANIAL!!" teriak Dina


Danial tertawa terbahak-bahak dan dia mulai mencumbu tubuh Dina. Sedangkan Dina memberontak meminta Danial berhenti.


"Hentikan sekarang juga!" ucap Dina kesal


"Nanggung darling" ucap Danial dengan suara seraknya.


"Tidak hentikan!" pekik Dina


Danial mengabaikan Dina, dia mengecupi leher jenjang Dina.

__ADS_1


Brakkk


Pintu ruangan Danial di buka dengan kencang.


"Bos bos! Gawat!" Dani masuk ke dalam ruangan Danial tanpa permisi.


"Aduh maaf maaf, saya tidak lihat apa-apa" ucap Dani segera berbalik dan menutup matanya dengan tangannya.


"KAMU MAU DI PECAT DANI !!!" amuk Danial, dia segera menyembunyikan tubuh Dina di dalam pelukannya.


Saat ini Dina sungguh sangat malu.


"Maaf maaf saya gak lihat apa-apa bos" ucap Dani masih memunggungi keduanya.


"Tapi ini gawat bos" ucap Dani sambil berbalik ke arah Danial.


"BERBALIK!" perintah Danial


Dani segera memunggungi mereka lagi.


"Bos nenek... Nenek anda" ucap Dani


"Ada apa dengan nenek?" tanya Danial


"Nenek anda ada di lobi bos, sebentar lagi nyonya besar akan segera tiba"


"APA! kenapa kamu tidak bilang dari tadi Dani!" teriak Danial panik


Sedangkan Dina menutup kedua telinganya saat Danial berteriak.


"Cepat hentikan nenek selama mungkin" ucap Danial


"Baik bos" ucap Dani lalu lari terbirit-birit.


"TUTUP PINTUNYA DANI!" teriak Danial pada Dani.


Dani yang masih belum pergi jauh pun kembali dan menutup pintu ruangan Danial sambil menutupi matanya dengan tangannya agar tak melihat hal yang tidak boleh dia lihat.


Dina segera turun dari pangkuan Danial, Danial pun segera bangun dari kursinya. Mereka nampak panik.


"Bagaimana ini?" tanya Dina panik


"Kamu harus bersembunyi dulu" ucap Danial tak kalah panik.


"Dimana?" tanya Dina


"Di kamar" ucap Danial


Dina segera berlari menuju kamar.


"Ah tidak-tidak Dina, nenek akan menemukan mu kalau kamu sembunyi di sana" ucap Danial menghentikan Dina.


"Lalu dimana?" tanya Dina


"Kamar mandi, ah tidak tidak nenek akan memeriksa di sana juga"


"Lalu saya harus dimana!?" tanya Dina agak ngegas karena panik.


"Ke sini saja, kemari cepat" ucap Danial


Dina berlari ke arah Danial, Danial meminta Dina bersembunyi di bawah meja kerjanya. Itulah tempat satu-satunya yang tidak pernah di periksa neneknya.


"Sembunyilah di sini dan jangan mengeluarkan suara" ucap Danial sambil menunduk menatap Dina.


Dina menganggukkan kepalanya.


Danial kembali menegakkan tubuhnya.


"Hubby" panggil Dina sambil menarik celana Danial.


"Apa?" Tanya Danial sambil menunduk menatap Dina

__ADS_1


"Di kamar, pakaian, sepatu dan tas saya ada di kamar" ucap Dina panik


"Astaga, aku lupa" Danial segera menuju kamar.


Sesampainya di kamar Danial mencari pakaian, sepatu dan tas Dina, tak lama Danial menemukan tas dan pakaian compang camping Dina di meja rias.


Sedangkan sepatunya berada tak jauh dari sana.


Danial membawa barang-barang Dina keluar dari kamar dan mencari tempat untuk menyembunyikan barang-barang Dina.


Di luar ruangan terdengar suara keributan, Dani berusaha sekuat tenaga menahan nenek Danial agar tidak masuk ke dalam ruangan Danial.


Dengan buru-buru Danial membuka laci meja kerjanya lalu menyembunyikan pakaian Dina di dalam sana sedangkan tas dan sepatunya dia berikan pada Dina.


Setelah itu Danial kembali duduk di kursinya, dia menetralkan nafasnya dan mengambil berkas-berkasnya seolah-olah sejak tadi dia sibuk bekerja.


"Minggir Dani aku mau menemui cucu ku" ucap Nenek Dharma


"Tapi nyonya, bos sedang sangat sibuk" ucap Dani mencoba menghentikan Nenek Dharma.


"Sibuk sibuk dia pasti sedang sibuk dengan para wanita-wanitanya itu" tuduh Nenek Dharma.


"Tidak nyonya, bos memang sedang sibuk. Beberapa hari ini kami pulang agak telat karena banyak pekerjaan" ucap Dani sambil berdiri di depan nenek Dharma.


"Aku tidak percaya, cepat menyingkir" ucap Nenek Dharma sambil menyingkirkan tubuh Dani.


"Tapi nyonya" Dani mengikuti langkah kaki nenek Dharma


Brakkkk


Nenek Dharma membuka pintu ruangan Danial dengan kasar. Danial mendongak menatap ke arah neneknya.


"Nenek" panggil Danial seolah-olah terkejut.


Nenek Danial tak percaya semudah itu dengan apa yang dia lihat, nenek Dharma melangkah masuk dia mengamati sekitar. Dani pun mengikuti dari belakang.


Dan di mana Dennis? tentu saja dia sudah pergi bersembunyi karena takut terkena amukan nenek Dharma.


Nenek Dharma melangkah ke arah kamar, beliau pergi mengecek kamar cucunya yang ada di dalam ruang kerjanya itu.


Nenek juga memeriksa kamar mandi. beruntung tadi sebelum keluar dari kamar, Dina sudah membersihkan kamar yang mereka gunakan tadi.


Jadi nenek tidak akan tahu kalau kamar itu baru saja mereka gunakan untuk bertempur.


"Kenapa nenek sudah pulang? bukankah nenek sedang berlibur dengan teman-teman nenek? nenek bilang akan pulang bulan depan?" Tanya Danial setelah neneknya puas mengecek kamar Danial.


"Kenapa? Kamu tidak suka nenek pulang?" Tanya nenek Dharma sewot.


"Nenek kok gitu sih, kapan Danial bilang gak suka nenek pulang?" ucap Danial dengan wajah sok sedihnya.


Nenek Dharma melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu beneran sibuk Danial?" Tanya nenek tidak percaya


"Iya nek, lihat saja tumpukan berkas ini" ucap Danial sambil menunjukkan tumpukan berkas di mejanya.


Nenek menoleh ke arah sofa tepatnya ke kotak makan yang ada di meja


"Lalu sejak kapan kamu bawa bekal?" tanya nenek Dharma


"Bekal?" Tanya Danial


.


.


.


Setelah baca, like dan komen ya teman-teman 😊.


Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... 😊❤.

__ADS_1


Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You 😊💕


__ADS_2