Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Jerawat


__ADS_3

"Hubby!!" teriak Dina kesal


"Ha ha ha"


.


.


.


Beberapa saat kemudian


"Anda tidak ke kantor?"


"Tidak" jawab Danial


"Kenapa?" Tanya Dina


"Kamu tidak suka aku di sini?" Tanya Danial


"Tidak bukan begitu maksud saya"


"Makanlah, jangan bicara terus" Ucap Danial


Dina menganggukkan kepalanya dan lanjut makan


Beberapa saat kemudian


Dina sedang mencuci piring bekas makan mereka berdua sedangkan Danial sibuk dengan telponnya di ruang keluarga


"Ya aku serahkan pada mu Dani, bereskan saja"


"..."


"Emmm"


Tuttt tutt


"Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Dina yang sudah selesai mencuci piring


"Tidak, semuanya baik-baik saja" Ucap Danial


"Tu..."


Danial melotot pada Dina


"Bisakah saya memanggil anda seperti biasanya saja?" ucap Dina agak merengek pada Danial


"No!" Ucap Danial tegas


Dina cemberut, dia tidak terbiasa dengan panggilan barunya pada Danial


"Ada yang mau kamu katakan?" Tanya Danial


"Saya hanya mau tanya kondisi ayah"


"Ayah baik-baik saja, kamu mau menemuinya?"


Dina menggelengkan kepalanya


"Kenapa?" tanya Danial heran


"Saya tidak berani bertemu ayah" Ucap Dina dengan wajah sedihnya


"Ayolah Dina, aku sudah mengurus semuanya. Ayah mu tidak akan marah"


"Tidak, saya aka menemui ayah lain kali saja"


"Baiklah, terserah kamu saja" ucap Danial lembut


"Kemari duduklah di sini" ucap Danial meminta Dina duduk di sampingnya


"Saya masih banyak pekerjaan" Ucap Dina hendak kabur


"Tck" Danial berdecak dan langsung menarik tangan Dina, membuat Dina seketika duduk di samping Danial


"Sekali-kali kamu harus menurut pada ku Dina, jangan membantah terus"


"Ba...baik"


"Bagus" ucap Danial sambil tersenyum sambil menatap wajah Dina


Danial mengambil remot TV di meja, dia menekan tombol on di remot lalu dia merebahkan tubuhnya dengan paha Dina sebagai bantalnya.


"Temani aku nonton TV"


"Bagaimana dengan pekerjaan saya? cucian banyak dan hari ini jadwalnya membersihkan apartemen"


"ART akan datang nanti" ucap Danial


"ART? kenapa harus pakai ART? biasanya kan saya yang melakukan semuanya"


"Aku tidak mau kamu kecapean, bukankah kamu mau cepat hamil" ucap Danial sambil mencari saluran TV yang dia inginkan


"Bagaimana saya bisa cepat hamil kalau anda tidak menyentuh saya?"


"Santai saja Dina"


"Hahhh... "


Danial menatap ke arah Dina saat mendengarnya menghela nafas


"Kamu kesal?" Tanya Danial


"Tidak" jawab Dina sambil tersenyum pada Danial


"Pembohong" ucap Danial dan mengalihkan pandangannya ke layar TV


"Saya tidak bohong"


"Ya ya ya" jawab Danial masih fokus ke TV

__ADS_1


Dina tak lagi meladeni Danial, dia fokus pada berita di TV. Danial meraih telapak tangan Dina dan meletakkannya di kepalanya.


Dina yang paham keinginan Danial langsung membelai kepala Danial, sesekali dia melirik ke bawah tepat ke wajah tampan Suaminya.


"Kalau kamu mau mencium pipi ku lakukan saja Dina" ucap Danial yang masih melihat ke arah TV


Dina yang mendengar ucapan Danial seketika tercengang


"Siapa yang mau mencium anda?" ucap Dina tak terima


"Aku tahu sejak tadi kamu terus melihat ku"


"Heh.. Kepercayaan diri ada sangat tinggi" ejek Dina


"Tentu saja" jawab Danial bangga


Dina benar-benar tak habis pikir dengan pria yang sedang tidur di pangkuannya itu.


"Apa anda tahu kenapa saya terus menatap anda?" Tanya Dina


"Karena aku tampan" tebak Danial


"Bukan"


"Lalu apa?" tanya Danial sambil menatap wajah Dina dari bawah


"Karena di pipi anda ada jerawatnya"


"Apa?!" Ucap Danial terkejut dia bahkan langsung duduk di sofa karena saking terkejutnya


"Di sebelah mana?" tanya Danial


"Di sini" ucap Dina sambil menunjuk jerawat kecil di pipi Danial


Danial mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera


"Bagaimana bisa ada jerawat di wajah tampan ku?"


Dina terkekeh melihat kehebohan Danial


"Bagaimana ini Dina?"


"Bukankah itu cuma jerawat?" jawab Dina enteng


"Cuma? Kamu bilang cuma?"tanya Danial heboh


"Kenapa?" tanya Dina sambil terkekeh


"Dina... Seumur hidup ku tidak pernah ada jerawat di wajah ku, bagaimana ini?"


"Biarkan saja, beberapa hari lagi juga hilang kok"


"Benarkah?" Tanya Danial


"Iya" jawab Dina sambil mengangguk


"Tapi bagaimana kalau membekas?"


"Bukankah anda kaya, tinggal perawatan saja" Ucap Dina dengan santainya


"Ke ke ke" Dina terkekeh


"Kamu berani tertawa" ucap Danial dengan mata melototnya


"Ha ha ha" bukannya berhenti Dina malah tertawa semakin keras


"Dina...."


"Maaf maaf, saya tidak bisa menahan tawa saya, karena saya belum pernah melihat seseorang yang sangat heboh hanya karena jerawat kecil" ucap Dina sambil menahan tawanya


"Nakal"


"Maaf"


"Humppp kau menyebalkan" ucap Danial dan kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Dina


"Katanya menyebalkan, kok tidur lagi?" tanya Dina sambil terkekeh


"Aku suka paha mu, empuk"


"Apaan sih, dasar mesum" ucap Dina malu


Danial tiduran sambil menghadap ke perut Dina, dia melingkarkan tangannya ke pinggang Dina dengan mata yang terpejam


"Belai lagi kepala ku Dina, sampai aku tidur ya"


Dina tersenyum dan mulai membelai kepala Danial. Setengah jam kemudian Danial terbangun.


Dia menatap ke arah Dina dan ternyata gadis itu sedang tidur dengan kepala menyandar di sofa.


"Dia tidur juga"


Ting tong


Danial bangun saat mendengar suara bel, dia segera melangkah lalu membuka pintu


Ceklek


"Selamat pagi tuan"


"Pagi" sapa Danial


"Saya ART yang di pekerjakan tuan Dani"


"Ohh masuklah bik" Ucap Danial mempersilahkan masuk


"Baik, permisi tuan"


"Iya silahkan"


ART itu masuk ke dalam apartemen, sesampainya di ruang keluarga dia agak terkejut.

__ADS_1


"Astaga, apa saya membangunkan anda tuan?" Tanya ART itu saat melihat Dina yang tidur di sofa


"Tidak bik, aku sudah bangun dari tadi"


"Begitu, maaf apa beliau istri tuan?" Tanya ART itu


"Ee... Iya bik, dia istri ku. Aku akan pindahkan istri ku dulu setelah itu aku akan mengajak bibik berkeliling, bibik duduk saja dulu" Ucap Danial


"Baik tuan"


Danial melangkah ke sofa dan mengangkat tubuh Dina kemudian membawanya ke kamar mereka.


Beberapa saat kemudian Danial kembali turun dan menghampiri ART itu


"Mari bik"


"Baik tuan"


Danial mengajak ART itu berkeliling dan memberitahu tugas-tugasnya


15 menit kemudian


"Ada yang mau di tanyakan lagi bik?" Tanya Danial


"Tidak ada tuan, saya sudah paham" ucap Bibik sambil tersenyum


"Baiklah"


"Anda bisa istirahat bersama nyonya, untuk urusan bersih-bersih serahkan Pada saya saja" ucap bibik sambil tersenyum


"Terima kasih bik"


"Sudah tugas Saya tuan" jawab bibik sambil tersenyum


Danial naik ke lantai atas menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping Dina.


Pukul 12 siang


Dina mulai membuka matanya perlahan, dia menoleh ke sebelah kanannya


"Kok aku ada di kamar?" gumam Dina


"Aku yang memindahkan mu" ucap Danial yang masih memejamkan matanya


"Ohh"


Kruukkk


Suara perut Dina terdengar


"Kamu lapar?" Tanya Danial sambil menatap Dina yang masih merebahkan tubuhnya di samping Danial


Dina menganggukkan kepalanya


Danial bangun dan duduk menyandar, Dina juga bangun dan turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Dina keluar dari kamar mandi dan turun ke lantai bawah, menyusul Danial yang sudah ada di lantai bawah.


Sesampainya di meja makan


"Wah.. Banyak sekali..." Ucap Dina yang melihat meja makan penuh dengan makanan


"Hubby, siapa yang masak?" tanya Dina


"Saya nya" ucap bibik yang muncul dengan semangkuk sop ayam


Dina menatap bingung ke arah bibik lalu dia menoleh ke arah Danial


"Ini bik Darmi, mulai sekarang bik Darmi akan bekerja untuk kita. Setiap seminggu dua kali bik Darmi akan datang dan membantu bersih-bersih" ucap Danial


"Ohhh" ucap Dina sambil mengangguk-anggukkan kepalanya


Dina menoleh ke arah bik Darmi


"Saya Dina bik, senang bertemu anda"


"Salam kenal nyonya, terima kasih sudah menerima saya"


Dina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Kemari duduklah" ucap Danial pada Dina


Dina duduk di samping Danial


"Ayo bik makan bareng" ajak Dina


"Terima kasih nyonya, tapi saya harus segera pulang" ucap Bik Darmi sambil tersenyum


Dina menatap ke arah Danial


"Bik Darmi hanya bekerja sampai siang" ucap Danial


"Ohhh begitu, aku kira sampai sore" ucap Dina


"Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya"


Danial menganggukkan kepalanya


"Terima kasih bik" ucap Dina


"Sama-sama nyonya"


Bik Darmi mengambil dompetnya dan pergi dari sana


"Makanlah" ucap Danial pada Dina


"Iya"


Mereka berdua mulai menyantap makan siang mereka


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2