
Beberapa hari kemudian.
"Kak kita akan ke mana?" tanya Dina.
"Makan malam, sudah lama aku tidak melihat mu" ucap kakak sepupunya sambil sesekali menatap wajah Dina.
"Tidak juga sampai sebulan, bagaimana jika aku pergi selama bertahun-tahun?" tanya Dina sambil terkekeh.
"Aku pasti akan gila" jawab kakak sepupunya.
"Ha ha ha kakak bisa saja" ucap Dina sambil tertawa.
"Kakak serius Reeha" jawab Dzafir sambil menatap wajah Dina.
"Ya karena aku adik perempuan kakak satu-satunya, jadi kakak pasti akan sedih bukan?"
"Emmm kamu adik perempuan kakak satu-satunya" jawab Dzafir.
"Dan satu-satunya cinta ku" ucap Dzafir dalam hati.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di sebuah restoran.
"Ini tempatnya kak?" tanya Dina.
"Iya, ayo" jawab Dzafir.
"Iya kak" jawab Dina.
Mereka keluar dari dalam mobil lalu melangkah masuk.
Suasana restoran itu cukup ramai, seorang pelayan mengantar mereka ke tempat yang sudah di pesan Dzafir.
"Duduklah" ucap Dzafir sambil menarik kursi untuk Dina.
"Terima kasih" ucap Dina.
"Sama-sama" jawab Dzafir.
"Pesanlah yang kamu mau" ucap Dzafir sambil menyodorkan buku menu.
"Kak bagaimana caranya aku makan?" tanya Dina pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ah benar maaf kakak lupa, kalau begitu pesanlah dulu setelah itu kita akan pindah ke ruang privat" ucap Dzafir pelan.
Dina mengangguk.
"Saya pesan..." ucapan Dina terhenti saat seseorang tiba-tiba mengambil buku menu dari tangannya.
Mereka berdua seketika menoleh ke arah orang itu, termasuk pelayan yang berdiri di dekat meja mereka.
"Apa-apaan ini?" tegur Dzafir sambil berdiri dari kursinya.
"Kenapa anda di sini?" tanya Dina saat melihat orang itu.
"Kamu kenal dia?" tanya Dzafir pada Dina.
"Dia atasan..."
"Aku Danial, suaminya" jawab Danial memotong ucapan Dina dengan santainya.
Dina melototkan matanya ke arah Danial.
"Apa?" ucap Dzafir terkejut.
"Ohh jadi kau pria brengsek itu" ucap Dzafir dengan wajah yang sudah sangat marah.
Dina berdiri dari tempatnya saat melihat kakaknya marah.
__ADS_1
"Kak jangan dengarkan dia, dia..." ucap Dina menjelaskan pada kakak sepupunya tapi lagi-lagi Danial memotong ucapannya.
"Dina apa kamu tidak mau memperkenalkan ku pada pacar baru mu?" potong Danial.
"Apa-apaan pacar baru, dia kakak sepupu saya!" ucap Dina kesal.
"Ah kakak sepupu, maaf aku salah paham" ucap Danial sambil tersenyum lalu dia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Dzafir menepis tangan Danial.
"Ayo Reeha sebaiknya kita pergi" ucap Dzafir sambil menarik ujung lengan pakaian Dina.
Dina mengikuti langkah Dzafir tanpa protes, dia meninggalkan Danial sendirian di sana.
Sedangkan pelayan yang berada di dekat mereka hanya diam mematung melihat keributan itu.
Danial sengaja tidak mengejar mereka, karena dia hanya ingin tahu siapa pria agamis yang sering terlihat bersama Dina.
Dan rasa penasarannya selama ini akhirnya terjawab, dia sedikit lebih lega mengetahui pria itu adalah sepupu Dina.
Tapi sebenarnya Danial agak khawatir saat dia tahu arti tatapan pria itu pada Dina.
Ya tatapan cinta.
Danial melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan privat yang ada di restoran itu.
Danial sedang bertemu rekan kerjanya di restoran itu, dan dia baru saja dari toilet. Tapi saat hendak kembali ke ruangannya netranya tak sengaja melihat Dina ada di sana.
Jadi Danial langsung menghampirinya.
Di dalam mobil.
Dina sesekali melirik ke sampingnya. Dia nampak tak enak saat melihat wajah kakak sepupunya yang nampak menahan amarah.
"Kak" panggil Dina.
"Hhhmm?" jawab Dzafir.
Dzafir menghentikan mobilnya saat lampu merah. Dzafir menoleh ke arah Dina.
"Kenapa minta maaf?" tanya Dzafir.
"Maaf kita tidak jadi makan malam karena dia" ucap Dina.
"Tidak apa-apa, itu bukan salah mu. Bagaimana kalau kita makan malam di restoran lain?"
"Boleh" jawab Dina sambil tersenyum.
"Oke" ucap Dzafir lalu dia melajukan mobilnya setelah lampu berubah menjadi hijau.
Dua jam kemudian.
Mobil Dzafir sudah terparkir di depan gerbang rumah Dina.
"Reeha, bolehkah kakak bertanya sesuatu?" tanya Dzafir.
"Tanya apa?" tanya Dina yang mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil Dzafir.
"Bukankah kamu bilang sudah bercerai dengan pria itu? lalu kenapa tadi dia bilang dia suami mu?"
"Sebenarnya dia belum menceraikan ku, kak. Saat itu aku hanya minta cerai lewat pesan yang aku tinggalkan. Aku pikir dia akan menceraikan ku, tapi setelah bertemu dengannya lagi ternyata dia menolak menceraikan ku saat aku memintanya" ucap Dina sambil menunduk.
"Lalu bagaimana? apa kamu akan kembali padanya?" tanya Dzafir.
Dina menggelengkan kepalanya.
"Aku akan pergi ke pengadilan dan meminta Isbat nikah agar setelah itu aku bisa menceraikannya" ucap Dina
__ADS_1
Dzafir mengangguk pelan.
"Baiklah, jika kamu butuh bantuan kakak katakan saja" ucap Dzafir.
"Iya kak, terima kasih" ucap Dina.
"Sama-sama" jawab Dzafir sambil tersenyum.
"Aku masuk dulu kak"
"Iya"
"Terima kasih untuk makan malamnya" ucap Dina sambil melepas sabuk pengaman.
"Iya" jawab Dzafir sambil tersenyum.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Dina keluar dari mobil Dzafir kemudian menutup kembali pintu mobil Dzafir. Lalu dia membuka pintu gerbang rumahnya.
Dzafir membuka kaca sebelah untuk melihat Dina.
"Sampai jumpa kak, hati-hati di jalan" ucap Dina sambil melambaikan tangannya.
Dzafir tersenyum dan melambaikan tangannya juga pada Dina.
"Masuklah" ucap Dzafir sambil tersenyum.
Dina menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam lalu menutup kembali pagar rumahnya.
Sedangkan Dzafir langsung melajukan mobilnya setelah melihat Dina masuk.
Di dalam kamarnya, Dina menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia menatap langit-langit kamarnya.
"Aku harus segera mengurus perceraian ini, kandungan mbak Dara semakin besar" gumam Dina.
"Hahhh... dasar buaya, enak saja meminta ku kembali tapi dia malah menghamili wanita lain" gerutu Dina kesal, namun tanpa dia sadari air matanya sudah mengalir dari kedua kelopak matanya.
Keesokan harinya.
Saat ini adalah jadwal Dina bekerja di studionya, beberapa bulan terakhir ini dia sangat sibuk dengan jadwal-jadwalnya di kantor Danial karena itulah rencananya seharian ini dia akan berada di studionya.
Hari ini Dina bisa bernafas dengan leluasa karena dia ada di kawasannya.
Karena selama bekerja di perusahaan Danial, Dina selalu seperti di awasi oleh seseorang siapa lagi kalau bukan Danial.
Tapi tiba-tiba ketenangan Dina terganggu. Dina menoleh ke arah pintu saat mendengar keributan di sana.
"Astaga kenapa dia kesini lagi?" ucap Dina kesal.
"Itu bos kalian, saya ada perlu dengannya" ucapnya menerobos masuk.
Dengan malas Dina melangkah keluar dari ruangannya dan melangkah menuju ruang meeting. Dina akan bicara di sana karena di sana kedap suara.
Orang itu pun menyusul di belakang Dina.
Sesampainya di ruang meeting.
"Ada apa lagi?" tanya Dina sambil melipat kedua lengannya.
Danial menutup pintu ruang meeting itu.
"Aku ingin menawarkan kerjasama lagi" ucap Danial.
.
__ADS_1
.
.