Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Dari Awal Image Anda Sudah Buruk Mr. Danial


__ADS_3

"Sial, mereka pandai sekali menghubungkan beberapa kasus menjadi satu, kenapa mereka tidak masuk saja ke kepolisian" gerutu Danial yang sejak tadi mendengarkan gosip karyawan Dina.


.


.


.


Ternyata Danial belum pergi dari studio Dina, dia masih berkeliling untuk melihat-lihat isi studio Dina tanpa sepengetahuan pemilik studio itu.


"Kenapa anda masih di sini?" tanya Dina yang melihat Danial masih ada di studionya.


"Sebaiknya kamu atur para karyawan mu itu" ucap Danial yang mengabaikan pertanyaan Dina.


"Kenapa? apa mereka menyinggung anda?" tanya Dina.


"Mereka bergosip tentang kita, ya walaupun gosip itu ada yang benar sih" ucap Danial.


"Hah?" tanya Dina.


"Mereka menggabungkan beberapa hal yang mereka dengar dari saudara dan teman mereka"


"Lalu?" tanya Dina.


"Dan hasilnya mereka bilang kita suami istri dan si kembar anak kita" jawab Danial dengan santainya.


Dina terkejut.


"Bagaimana bisa mereka tahu?" tanya Dina.


"Bukankah aku sudah bilang, mereka tahu dari teman dan saudara mereka" ucap Danial.


"Itu dia, teman dan saudaranya itu tahu dari mana?" tanya Dina sambil menoleh ke arah Danial.


"Itu..."


"Pasti mereka karyawan anda" tebak Dina sambil menatap kesal ke arah Danial.


"Sebaiknya anda urus karyawan anda Mr. Danial, dan saya akan mengurus karyawan saya. Sekarang pergilah" ucap Dina mengusir Danial.


"Kok malah kamu yang marah? seharusnya aku dong, karyawan mu itu bilang aku suka gonta-ganti wanita. Itu akan membuat image ku buruk di mata mereka"


"Bukankah anda memang suka gonta-ganti wanita" ucap Dina dengan santainya.


"Ah benar aku lupa" jawab Danial yang baru sadar.


"Tapi itu kan dulu sebelum kita menikah" ucap Danial pelan.


Dina mengangkat kedua pundaknya.


"Dari awal image anda sudah buruk Mr. Danial" ejek Dina.


"Dina..." ucap Danial gemas, ingin sekali dia mencubit kedua pipi Dina saat ini juga.


"Sana pergilah" ucap Dina kembali mengusir Danial.


"Oke oke aku pergi, besok jangan lupa datanglah ke kantor" ucap Danial.


"Ya" jawab Dina malas.


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Loh Miss Reeha? katanya anda tidak akan masuk selama beberapa hari?" tanya Miss Dylan yang baru saja masuk ke ruangan yang di tempati untuk membuat rancangan baju.


"Iya, ini karena bos anda" jawab Dina dengan malas. Dia sudah datang sejak tadi.


"Bukankah dia suami anda" bisik Miss Dylan.


Dina tak menjawab, dia sibuk membuat pola di atas manekin. Miss Dylan pun tak ambil pusing dan meletakkan tasnya di meja kerjanya dan mulai membantu Dina.


Beberapa jam kemudian.


Miss Dylan menoleh ke arah pintu saat melihat seseorang tengah berdiri di sana.


"Miss Reeha" panggil Miss Dylan sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Dina yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Tuh, suami anda datang" ucap Miss Dylan.


Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua, karena staff lain bekerja di ruangan lain.


Dan tempat itu adalah ruangan khusus untuk mereka berdua agar tidak terjadi kebocoran informasi. Karena desain kali ini adalah edisi spesial jadi hanya mereka berdua yang mengerjakan.


Dina menoleh ke arah pintu, nampak Danial tengah berdiri menyandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.


Dia berada di sana sejak 15 menit yang lalu, dan terus memperhatikan Dina yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Dia bukan suami saya, kita sudah bercerai" sahut Dina nampak tak peduli.


"Tck" Danial berdecak kesal saat mendengar jawaban Dina.


Danial melangkah mendekati Dina.


"Silahkan" jawab Miss Dylan sambil tersenyum.


"Terima kasih" ucap Danial dan langsung menarik lengan Dina keluar dari sana.


"Eh apa-apaan ini, saya sibuk" ucap Dina yang di bawa pergi Danial.


Miss Dylan terkekeh pelan melihat pasangan yang sangat serasi itu. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.


Di ruangan Danial.


"Kamu bilang apa barusan? aku bukan suami mu? kita sudah bercerai? kapan? kok aku tidak ingat?" tanya Danial sambil melangkah ke depan Dina.


Glek


Dina menelan salivanya dengan susah payah dan dia mundur perlahan.


"Kapan sayang? kita belum bercerai" ucap Danial sambil terus melangkah ke depan.


"Itu... sebentar lagi"


"Aku kan sudah bilang, aku tidak akan pernah menceraikan mu. Apalagi kemungkinan kamu hamil nanti" ucap Danial.


"Saya tidak hamil!"


"Kata siapa?" tantang Danial.


"Kata saya" jawab Dina.


"Tapi malam itu aku tidak pakai pengaman, kita melakukannya berkali-kali dan kamu tidak minum pil KB, karena kamu terbaring lemah di rumah sakit selama seminggu" ucap Danial dengan nada mengejek.

__ADS_1


Dina menatap tajam ke arah Danial, Danial terkekeh dan hendak mengusap kepala Dina.


Tapi dengan cepat Dina menarik tangan Danial ke belakang punggungnya.


"Aw aw sakit sayang" keluh Danial saat Dina berhasil membekuknya.


Dina mengambil meteran yang menggantung di lehernya kemudian mengikat lengan Danial dengan meteran itu.


"Ke ke ke" Danial terkekeh.


"Ternyata sekarang kamu bisa bela diri ya" ucap Danial.


"Kamu banyak berubah" lanjut Danial.


"Mr. Danial saya bukan wanita lemah, saya akan pergi ke pengadilan dan menceraikan anda" ucap Dina yang masih ada di balik punggung Danial dan menahan lengan Danial agar tidak bisa lepas.


"Kita menikah siri Sayang" ucap Danial mengingatkan.


"Sepertinya anda tidak tahu ya, walaupun menikah siri pihak perempuan bisa meminta perceraian ke pengadilan jika suami mereka tak mau menceraikannya"


"Benarkah?" tanya Danial.


"Ya" jawab Dina.


"Oh, tapi aku tidak akan membiarkan mu melakukan itu" ucap Danial.


Dengan gerakan cepat Danial mengubah keadaan, Danial mengalungkan kedua tangannya yang terikat di pinggang Dina.


Hal itu membuat Dina terjebak di antara tangan Danial yang terikat dan tubuh Danial.


"Kamu pikir hanya diri mu yang bisa bela diri? suami mu ini juga bisa bela diri sayang. Bahkan lebih hebat dari mu" ucap Danial mengejek Dina.


Dina menatap kesal pada Danial.


"Lepas!" ucap Dina sambil mendorong dada Danial.


Danial tak melepaskan Dina, dia malah menekan pinggang Dina agar semakin mendekat ke tubuhnya.


"Mr. Danial lepas!" teriak Dina.


"Tangan ku terikat sayang" ucap Danial sambil menggerakkan jari tangannya yang terikat.


Dina mendorong tubuh Danial dengan kuat, tapi bukannya terlepas mereka justru terjatuh ke sofa. Dengan posisi Dina berada di atas Danial.


Bibir mereka tak sengaja bersentuhan, Dina membulatkan kedua matanya dan segera memundurkan kepalanya.


Danial terkekeh.


"Kamu tidak sabaran sekali sayang, lepas dulu cadar mu jika mau mencium ku" ejek Danial.


"Hei lepaskan!" teriak Dina saat Danial malah semakin menekan pinggangnya.


"Apa kamu tidak merindukan percintaan panas kita hmmm?" goda Danial.


"Tidak!" ketus Dina.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2