
"Aku tak menemukan sedikitpun jejaknya, dia seperti hilang bagai di telan bumi"
.
.
.
"Jangan bicara seperti itu Dani" peringat Danial.
"Maaf aku salah bicara" ucap Dani.
"Sepertinya ada seseorang yang membantunya bersembunyi" ucap Dani
Danial mendongak menatap Dani.
"Apa maksud mu?" tanya Danial.
"Tidak ada jejak sedikit pun, jika tidak ada yang membantu menyembunyikannya maka kita akan dengan mudah menemukannya" jawab Dani.
"Bagaimana di kediaman keluarganya?" tanya Danial.
"Istri mu memang pergi ke sana. Tapi beberapa jam setelah itu dia tidak terlihat lagi" jawab Dani.
"Bagaimana bisa? mungkin dia masih ada di dalam rumahnya dan tidak mau keluar" ucap Danial.
"Tidak ada, aku sudah mengirim seseorang untuk memantau rumah orang tuanya"
"Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Danial.
"Kamu ingat aku pernah bilang pada mu, ada sebuah mobil yang datang ke kediaman mereka?" tanya Dani.
"Emmm ingat" jawab Danial.
"Aku rasa istri mu ikut pemilik mobil itu" ucap Dani.
"Lalu kenapa tidak kamu selidiki pemilik mobil itu?" tanya Danial.
"Anak buah ku sudah mengikuti mobil itu, tapi mereka kehilangan mobil itu. Aku juga sudah menyelidiki pemilik mobil itu tapi ternyata mobil itu hanya mobil sewaan"
"Dan karena tidak ada CCTV di pedesaan, kami kehilangan jejek mereka"
"Lanjutkan pencariannya, terutama pengemudi mobil itu. Aku rasa memang orang itu yang menyembunyikan Dina"
"Baik, oh ya nanti sore dokter akan datang kesini untuk memeriksa keadaan mu"
"Tidak perlu Dani aku baik-baik saja" tolak Danial sambil menatap wajah putranya yang mulai terlelap.
"Kamu baru saja di operasi Danial, kamu tidak mau kan terjadi sesuatu pada mu. Jika terjadi sesuatu pada mu bagaimana dengan si kembar?"
"Dokter tetap akan datang untuk melihat keadaan mu, karena kamu tidak mau pergi ke rumah sakit jadi dokter yang akan kesini"
"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Dani setelah melihat anggukan kepala Danial.
"Emm"
Dani keluar dari sana.
Setelah perban di mata Danial di buka dokter dan perawat yang di pekerjakan nenek Dharma tidak tinggal di mansion lagi.
Dokter meminta Danial rutin ke rumah sakit untuk di periksa selama beberapa saat setelah operasi.
Tapi Danial tak sempat mengecekkan kondisi matanya karena sibuk mengurus si kembar. Alhasil Dani memanggil dokter untuk memeriksa Danial di mansion.
Dan untuk urusan kantor Danial serahkan pada Dani sampai si kembar mulai tidak rewel. Sesekali Danial akan ke kantor.
__ADS_1
Selama di bawah pengawasan Dani tidak pernah ada masalah di kantor. Perusahaan Danial masih tetap berjalan seperti biasa.
Tok tok
"Boleh nenek masuk"
"Masuklah nek" ucap Danial sambil menidurkan putranya di sebelah putrinya.
"Bagaimana dengan si kembar?" tanya Nenek Dharma
"Baik nek tapi masih rewel"
"Kenapa tidak memanggil nenek saja? kamu pasti kerepotan"
"Tidak apa-apa nek, aku masih bisa menanganinya. Nenek bisa beristirahat lebih banyak. Nenek kan sudah tua harus banyak istirahat" ucap Danial sambil terkekeh.
"Kamu ini, tua-tua begini nenek masih bisa membantu mu menyeduhkan susu si kembar"
Danial hanya tersenyum.
Nenek mengusap lembut kepala cicit-cicitnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Dina pergi? setahu nenek saat itu Dina tidak menunjukkan keanehan apapun"
"Danial juga tidak tahu nek" ucap Danial sambil menggelengkan kepalanya.
Nenek memeluk cucunya.
"Menangislah Danial, jika kamu ingin menangis lakukanlah" ucap nenek sambil mengusap lembut punggung cucunya yang masih duduk di ranjang di dekat anak-anaknya.
Danial mengeratkan pelukannya pada neneknya dan mulai menangis. Dadanya sungguh sesak kala dirinya mengingat Dina.
"Nenek kenapa Dina meninggalkan ku nek? kenapa dia tega sekali meninggalkan kami hiks hiks hiks"
Nenek mengusap lembut punggung cucunya.
"Hiks hiks hiks"
"Pasti ada kesalahpahaman di antara kalian, jika kamu menemukan Dina segera luruskan kesalahpahaman ini" ucap nenek Dharma.
"Apa segitu muaknya dia bersama ku nek? kenapa dia pergi hiks hiks"
"Bersabarlah Danial" ucap nenek mengusap lembut punggung cucunya. Nenek menyeka air matanya yang ikut menetes.
...****************...
Flashback
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, loh nak kamu di sini?"
"Iya yah"
"Dimana ibu?" tanya Dina.
" Ibu dan adik mu sedang ke pasar"
"Oh, Dina masuk dulu ya yah"
Di melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti ayahnya.
"Nak, ayah dengar dari suami mu kamu baru melahirkan? kenapa kamu keluyuran gak istirahat"
"Dia memberitahu ayah?" tanya Dina dengan wajah tak sukanya.
"Dia? Dia suami mu kenapa kamu panggil dia? kamu sedang bertengkar dengan suami mu ya?" tanya ayah Dina khawatir.
__ADS_1
"Ayah tahu aku hamil?" tanya Dina.
"Iya suami mu yang bilang, suami mu juga mengirimkan foto si kembar pada ayah" ucap ayah Dina sambil tersenyum bahagia.
"Bagiamana kalau kita beritahu ibu mu juga, ibu pasti sangat senang. Ayah tidak mengerti kenapa kalian menyembunyikan pernikahan kalian dari semua orang termasuk keluarga mu sendiri"
"Walaupun suami mu sudah menjelaskannya pada ayah tapi ayah pikir ini tidak benar, nak"
"Coba kamu tanyakan pada suami mu bagiamana kalau..."
"Suami suami suami! berhenti menyebut kata itu ayah, pria itu bukan suami Dina!" teriak Dina.
"Apa maksud mu nak? ayah melihat dengan mata kepala ayah sendiri saat dia menikahi mu"
"Ya dan itu hanya pernikahan kontrak!"
"A....apa?" ayah Dina sungguh terkejut.
"Bu...bukankah suami mu bilang kalian saling mencintai?" tanya ayah Dina, beliau sungguh sangat syok.
"Pria itu butuh pewaris dan aku butuh uang untuk melunasi semua hutang-hutang ayah!"
"A...apa?"
"Ini semua terjadi karena wanita itu! andai saja ayah tidak bermain-main dengan wanita ****** itu ini semua tidak akan terjadi pada putri ayah!"
"Lihatlah yah! lihat apa yang terjadi pada putri ayah, lihatlah!"
Ayah Dina nampak sangat terkejut, dia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Brakk
Ayah dan anak yang tengah berdebat itu menoleh ke arah suara benda jatuh.
Nampak di ambang pintu ibu Dina nampak terkejut mendengar pengakuan putrinya, sang adik yang ada di belakang ibunya pun nampak terkejut.
Dina melengos pergi dari sana tanpa bicara apapun. Ibu Dina melangkah dengan cepat ke arah suaminya di ikuti adik Dina.
"Apa maksudnya ini mas?" tanya ibu Dina.
"Jawab mas!" teriak ibu Dina.
"Ini salah ayah bu" ucap ayah Dina sambil menunduk, air matanya pun sudah mengalir. Dia benar-benar tidak tahu putrinya menikah hanya demi uang untuk melunasi hutang-hutangnya.
Ayah Dina benar-benar sangat menyesal.
"Astagfirullah mas! Sejak kapan? sejak kapan mas?!" teriak ibu Dina sambil menarik kemeja yang di kenakan suaminya.
Ayah Dina menceritakan semua yang dia ketahui, ibu Dina hampir saja pingsan mendengar semuanya.
Di kamarnya Dina menangis di sudut kamarnya, dia menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.
Sedangkan di mansion nenek Dharma
Danial tak kalah hancurnya seperti Dina, kamarnya berantakan semua barang-barangnya berhamburan dan pecah.
Danial duduk dengan keadaan yang sangat berantakan. Dia duduk di lantai tepat di samping ranjangnya dengan sebotol alkohol di tangannya dan beberapa botol kosong di dekatnya.
Sudah lama Danial tak menyentuh minuman haram itu.
Sedangkan si kembar di bawa nenek Dharma ke kamarnya, nenek Dharma memberikan waktu pada Danial untuk menenangkan dirinya.
Danial menenggak minumannya, dia seorang diri di dalam kamar gelap gulita itu.
"Kenapa kamu pergi Dina? kenapa? kenapa kamu meninggalkan ku Dina!!" teriak Danial kemudian dia melemparkan botol minuman yang dia pegang.
Prangg
__ADS_1
Flashback End.