Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Papa Jadi Jelek


__ADS_3

"Bagaimana ini" ucap Dina saat melihat wajah Danial yang babak belur.


.


.


.


"Aku tidak apa-apa jangan khawatir" jawab Danial sambil menahan sakit, karena menahan perih di bibirnya.


"Panggil dokter mbak" ucap bibik mengingatkan.


"Oh iya benar" ucap Dina, dia segera menghubungi dokter.


Setelah menghubungi dokter, Dina membawa Danial ke kamar tamu yang ada di lantai atas di bantu Bibik.


Karena semua kamar ada di lantai atas, dan di lantai bawah tidak ada kamar. Mereka berdua memapah tubuh besar Danial ke lantai atas dengan susah payah.


Beberapa menit kemudian dokter tiba dan langsung mengobati luka Danial.


30 menit kemudian dokter sudah selesai mengobati Danial dan dia pamit undur diri.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, Dina masuk ke dalam. Dan melangkah ke arah Danial.


Danial mendongak menatap Dina yang berdiri di depannya.


"Kenapa?" tanya Danial.


"Maaf"


Danial mengangkat salah satu alisnya.


"Maaf kakak saya memukuli anda, biasanya dia bukan orang yang seperti itu"


"Oh, tidak apa-apa" ucap Danial.


"Kenapa anda tidak menghindar? bukankah anda bisa bela diri?"


"Jika aku melawannya kakak mu akan habis" sahut Danial.


"Saya bilang menghindar bukan melawan" ucap Dina.


"Tidak apa-apa, aku memang membiarkannya memukuli ku" jawab Danial.


"Kenapa?" tanya Dina heran.


"Karena aku sudah merebut cintanya"


"Hah?"


"Jangan bilang kamu tidak sadar bahwa kakak mu itu jatuh cinta pada mu" ucap Danial sambil menatap Dina.


"Itu..."


"Yah sebenarnya aku tidak harus membiarkan dia memukuli ku, karena aku tak merebut mu dari siapapun. Kamu milik ku" ucap Danial.


"Saya bukan milik siapapun, saya bukan barang" ucap Dina dengan wajah datarnya.


"Siapa yang bilang kamu barang, kamu istri ku"


Dina tak menjawab.


"Sebaiknya anda pulang"


"Kamu mengusir ku?" tanya Danial.


"Ya, pulanglah"


"Lalu bagaimana jika si kembar bertanya saat melihat wajah ku?" ucap Danial beralasan, dia ingin tinggal di rumah Dina.


"Itu urusan anda, sekarang pulanglah. Saya sudah menghubungi asisten anda"


"Hah... baiklah" ucap Danial menghela nafas.

__ADS_1


Padahal dia pikir Dina akan membiarkannya menginap di sana. Tapi ternyata tidak.


Tok tok


Dina dan Danial menoleh ke arah pintu.


"Oh anda sudah datang" ucap Dina.


"Ada apa dengan mu?" tanya Dani yang langsung menghampiri Danial.


"Di pukuli kakaknya" ucap Danial sambil menunjuk Dina dengan dagunya.


"Apa?" tanya Dani terkejut.


"Dina bantu papah aku" ucap Danial.


"Minta asisten anda saja, oh ya jangan lupa bawa obatnya" ucap Dina lalu dia keluar dari kamar itu.


"Dasar kulkas" gerutu Danial menatap punggung Dina yang pergi.


"Ayo" ucap Dani hendak membantu Danial.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Danial bangun dari ranjang.


Dani geleng-geleng kepala melihat kelakuan pria berumur 38 tahun itu. Danial keluar dari kamar tamu di ikuti Dani yang membawa plastik berisi obat Danial.


Danial melangkah turun, tangan kanannya membawa jasnya.


"Aku pulang" ucap Danial sambil melangkah keluar dari rumah Dina tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dina.


"Ya" jawab Dina yang duduk di sofanya dengan kedua tangannya yang di lipat di depan dadanya, sambil melihat Danial pergi.


"Permisi" ucap Dani berpamitan pada Dina.


"Silahkan" ucap Dina.


Sesampainya di rumahnya.


"Assalamualaikum, papa pulang" ucap Danial sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Papa" teriak kedua bocah yang berlari ke arah papanya.


Si kembar berhenti di depan Danial, mereka tidak jadi memeluk Danial seperti biasanya.


"Loh wajah papa kenapa?" tanya putranya.


"Tidak apa-apa sayang" jawab Danial sambil tersenyum.


"Papa jadi jelek" ucap putrinya.


Danial terkekeh begitu pula dengan Dani.


"Loh kenapa dengan wajah mu Danial?" tanya nenek Dharma yang menghampiri mereka.


"Tidak apa-apa nek" jawab Danial sambil menatap neneknya.


"Om Dani, papa kenapa?" tanya putri Danial.


"Oh itu papa kalian nyungsep ke lantai" ucap Dani sambil terkekeh.


Danial langsung melotot ke arah Dani.


Dani tahu apa yang terjadi pada Danial. Karena tadi di mobil Danial menceritakan apa yang terjadi padanya dan memintanya merahasiakan itu dari keluarganya.


"Nyungsep? om gak bohong kan?" selidik putra Danial.


"Tidak untuk apa om bohong" ucap Dani.


Kedua bocah itu percaya ucapan Dani sedangkan nenek Dharma tak percaya. Dia tahu luka yang di dapat cucunya itu bukanlah luka karena jatuh melainkan luka karena berkelahi.


"Ayo kalian tidak mau memeluk papa?" tanya Danial sambil merentangkan kedua tangannya.


Kedua bocah itu masuk ke pelukan Danial.


"Papa apa ini sakit?" tanya putrinya sambil menekan lebam di wajah Danial.

__ADS_1


"Awww sakit sayang" keluh Danial sambil menatap putrinya.


Putri Danial tertawa.


"Usil banget sih" ucap Danial sambil menarik hidung putrinya dengan pelan"


"Aww sakit" keluh putrinya.


Mereka tertawa melihat kelakuan Danial dan putrinya.


"Papa sudah ke dokter?" tanya putranya.


"Sudah boy" ucap Danial sambil menatap putranya yang sangat perhatian.


Beberapa hari kemudian.


Kontrak kerja Dina dan Danial kurang satu minggu lagi. Saat ini Dina tengah sibuk mengerjakan satu dress lagi yang di inginkan Danial.


Tapi tiba-tiba perut Dina terasa bergejolak.


"Huekk... mmmppprttt" Dina menutup mulutnya.


"Miss Reeha ada apa?" tanya Miss Dylan yang melihat Dina menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Dina menggelengkan kepalanya.


"Huee...mmmpptt"


Dina segera keluar dari ruangannya, dia berlari menuju kamar mandi.


Miss Dylan berlari ke arah pintu dan melihat Dina yang tengah berlari menuju kamar mandi yang ada di lantai itu.


"Kenapa dia?" tanya Miss Dylan.


"Ada apa?" tanya Danial yang kebetulan lewat di depan ruangan itu.


"Mr. Danial, Miss Reeha" ucap Miss Dylan.


"Ada apa dengan Reeha?" tanya Danial khawatir.


"Tidak tahu dia tiba-tiba lari ke kamar mandi" ucap Miss Dylan.


Mendengar hal itu Danial menyerahkan berkas yang dia pegang pada Miss Dylan lalu langsung berlari menyusul Dina dan meninggalkan Miss Dylan yang kebingungan karena tiba-tiba di beri berkas.


Tak lama kemudian Dani muncul di sana.


"Dimana bos?" tanya Dani.


"Menyusul istrinya" jawab Miss Dylan sambil menyerahkan berkas milik Danial pada Dani.


Dani menerima berkas itu dengan tatapan bingung.


"Saya mau kembali bekerja" ucap Miss Dylan


"Iya silahkan" jawab Dani.


Danial berhenti berlari saat berpapasan dengan dua karyawan di dekat kamar mandi.


"Selamat siang Mr. Danial" sapa kedua karyawannya.


"Heemm" sahut Danial.


Kedua karyawan perempuan itu pergi setelah menyapa Danial.


"Eh kenapa Miss Reeha muntah-muntah begitu ya?" tanya karyawan tadi pada temannya.


"Entahlah mungkin hamil" jawab temannya.


"Dia belum menikah" sahut perempuan yang bertanya.


"Oh iya, mungkin sakit. Aku lihat dia terus bekerja" jawab temannya


"Mungkin saja" jawab perempuan yang bertanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2