Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Bohong


__ADS_3

"Kamu harus membayar kembali semuanya Dina" tekan Danial.


.


.


.


Danial membuka paksa cadar yang menutupi wajah cantik Dina. Dina menatap wajah Danial dengan amarah, air matanya juga sudah mengalir deras.


Danial menatap wajah Dina.


"Anda pasti berbohong" ucap Dina dengan suara lemah sambil menatap wajah Danial.


Danial terdiam cukup lama sambil memandangi wajah Dina yang menangis.


"Ya aku memang berbohong" jawab Danial dengan santainya.


"Bagaimana apa kamu ketakutan?" tanya Danial dengan seringai di wajahnya.


Plakkk


Dina menampar wajah Danial saat dirinya sudah berhasil melepas ikatan tali di tangannya.


Wajah Dina nampak sangat marah nafasnya terengah-engah.


"Tega sekali anda, tega sekali mengatakan hal seperti itu! mereka anak-anak anda!" amuk Dina.


Dina benar-benar ketakutan saat Danial mengatakan kedua anaknya kehilangan nyawanya.


Tapi ternyata Danial hanya membohongi dirinya, sudah pasti Dina akan sangat marah.


"Kenapa? lebih tega mana aku atau diri mu yang meninggalkan bayi-bayi malang itu di saat mereka baru lahir!" bentak Danial.


"Kau yang tega Dina bukan aku" ucap Danial sambil menggeleng pelan.


"Kamu yang tega meninggalkan bayi-bayi mungil itu sendirian tanpa kasih sayang dari ibunya. Kamu yang tega membiarkan anak-anak ku mendapat ejekan teman-temannya karena tidak memiliki ibu" ucap Danial penuh penekanan.


"Kau juga tega meninggalkan ku" ucap Danial dalam hati.


Pernah sekali putri Danial mengadu pada papanya. Gadis kecil itu bilang bahwa teman-temannya di TK mengejek mereka karena tidak punya ibu.


Saat mendengar itu hati Danial menjadi sangat hancur. Danial mengatakan pada kedua anak-anaknya untuk bersabar.


Danial mengatakan pada mereka bahwa ibu mereka akan segera kembali, dan ternyata beberapa bulan setelah kejadian itu Danial bertemu Dina untuk pertama kali setelah lima tahun.


Karena itulah Danial bertekad akan melakukan apapun untuk membawa Dina pulang.


***


Dina masih menatap tajam ke arah Danial, wajahnya merah padam menahan amarah.


"Dimana hati nurani mu sebagai ibu? dimana kasih sayang mu sebagai ibu, Dina?"


"Bukankah anda yang menginginkan saya pergi? bukankah anda sudah muak dengan hubungan ini? Ini bukan salah saya, jangan salahkan saya karena pergi. Perjanjian ini sudah lama berakhir, segera ceraikan saya" Ucap Dina lalu dia bergerak hendak turun dari ranjang tapi Danial menahan lengannya.


"Kenapa kamu menyalahkan ku? aku bahkan tidak pernah meminta mu pergi tapi kamu yang pergi dan meninggalkan kami. Kenapa sekarang kamu menuduh aku yang meminta mu pergi" ucap Danial penuh penekanan.


Danial menarik Dina dan membuatnya terlentang di kasur, Danial naik ke atas tubuh Dina dan mengunci tubuh Dina. Dina memberontak.


"Kamu pikir kamu bisa pergi? tidak Dina aku harus menghukum mu agar kamu patuh" ucap Danial sambil menatap tajam kedua mata Dina.


Danial mencium bibir Dina dengan rakus. Dina memberontak tapi tenaganya tak bisa melawan tenaga Danial.


Dan juga karena tubuhnya saat ini sangat lemas, dari pagi dia belum makan apapun dan niatnya tadi dia akan pergi makan siang di restoran bersama Kakak sepupunya tapi Danial malah menculiknya.


Entah bagaimana paniknya kakak sepupunya itu di saat dia tidak kunjung datang.

__ADS_1


Dina menggigit bibir Danial, Danial pun melepaskan ciumannya.


"Hisss" ringis Danial sambil menyentuh bibirnya.


"Lepas...!" teriak Dina.


"Kamu semakin agresif sayang" ucap Danial sambil menyeringai.


Dina kembali mencoba mendorong tubuh Danial tapi lagi-lagi dia kalah dengan kekuatan Danial.


Danial membuka kerudung yang menutupi kepalanya kemudian dia menyerang leher Dina.


Sekuat tenaga Dina menahan suaranya agar tidak lolos.


"Lepaskan saja sayang jangan di tahan" bisik Danial di telinga Dina.


"Ja...jangan harap" ucap Dina.


Danial menyeringai.


"Baiklah terserah diri mu saja" ucap Danial dan langsung melanjutkan perbuatannya.


Cumbuan Danial benar-benar meluluh lantakkan pertahanan Dina. Sebuah ******* lolos dari bibir indahnya.


"Argh..."


Mendengar ******* Dina, Danial semakin bersemangat. Dia melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Dina. Dan bersiap memasukinya.


Dina menggeleng pelan


"Ja... jangan..." ucap Dina sebelum kesadarannya hilang.


Dina pun jatuh pingsan, Danial yang melihat itu nampak sangat panik.


"Dina Dina" panggil Danial sambil menepuk pelan pipi Dina. Danial memperbaiki posisi Dina kemudian menyelimuti tubuh polos Dina lalu dia segera memakai kembali pakaiannya, setelah itu keluar dari kamar.


"Ya ada apa?"


"Panggil dokter" ucap Danial panik.


"Dokter?"


"Jangan banyak tanya, panggil istri mu cepat"


"Iya"


Setelah memerintahkan Dani menelpon istrinya, sedangkan Danial kembali ke kamar.


Lalu dia memasang kembali pakaian Dina.


Karena dia tidak mau tubuh Dina di lihat siapapun kecuali dirinya walaupun dokter itu perempuan.


Dengan perlahan Danial menidurkan kepala Dina di atas bantal. Lalu dia mencari kotak obat untuk mengambil minyak angin.


Danial membalurkan minyak angin ke perut Dina dan telapak kakinya, lalu di ujung hidung sedikit.


"Dani kenapa lama sekali?!" teriak Danial dari dalam kamar.


"5 menit lagi" ucap Dani yang berdiri di ambang pintu yang terbuka.


"Ada apa dengan istri mu?" tanya Dani.


"Tidak tahu dia tiba-tiba pingsan" ucap Danial.


"Apa kamu memaksanya?" tanya Dani.


"Tidak" ucap Danial berbohong.

__ADS_1


Ding dong


Mendengar suara bel, Dani langsung melangkah ke depan dan membuka pintu apartemen mewah milik Danial.


Danial membawa Dina ke apartemen mewahnya, tidak ada yang tahu tempat itu kecuali dirinya dan Dani.


Tak lama seorang dokter masuk ke dalam kamar Danial.


Dokter itu nampak terkejut saat melihat perempuan di ranjang Danial.


"Dia Dina kan?" tanya dokter itu yang tak lain adalah Dara.


"Jangan banyak tanya cepat periksa dia" ucap Danial.


"Iya iya"


Dokter itu adalah Dara. Selain dokter kandungan Dara juga adalah dokter umum.


Sekarang dia adalah dokter keluarga Danial.


Beberapa menit kemudian.


"Danial kamu memaksanya ya?" tanya Dara.


"Tidak" jawab Danial.


"Jangan bohong, lihat lehernya sudah seperti macan tutul saja" ucap Dara sambil menunjuk leher Dina.


Danial diam tak menjawab.


"Hah... aku tahu kamu merindukannya tapi jangan seperti itu. Dia pasti kaget tiba-tiba bertemu dengan mu setelah sekian lama"


"Kami sudah bertemu sebelumnya, ini kedua kalinya" jawab Danial.


"Benarkah?" tanya Dara.


"Hmmm"


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Danial.


"Dia kelaparan" jawab Dara.


"Kelaparan?" tanya Danial.


"Ya perutnya kosong sepertinya dia belum makan sejak pagi" jawab Dara.


"Apa itu yang menyebabkan dia pingsan?"


"Ya tentu saja, di tambah ulah mu" jawab Dara.


"Hah...." Danial menghela nafas lega karena setidaknya kondisi Dina tidak parah.


"Aku pulang dulu, biarkan dia tidur dulu. Infusnya jangan di buka sebelum habis."


"Emmm terima kasih"


"Sama-sama"


"Biar suami mu yang mengantar mu ke depan" ucap Danial.


"Iya iya" jawab Dara.


Dara keluar dari kamar Danial.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2