Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Vila


__ADS_3

Dina turun dari mobil lalu mereka melangkah ke dalam Vila bersama Danial yang memegang payung. Pak Deden mengikuti mereka dari belakang.


.


.


.


Di depan teras sudah ada bik Dewi istri pak Deden, yang sudah siap dengan dua handuk tebal dan lebar di tangannya.


Bik Dewi langsung memberikan handuk itu ke Danial, lalu bik Dewi segera menyelimuti tubuh menggigil Dina dengan handuk.


Mereka melangkah masuk ke dalam.


"Bibik sudah siapkan air hangat, sebaiknya den Danial dan nona Dina segera mandi biar tidak sakit" ucap Bik Dewi


"Terima kasih bik" ucap Danial


"Terima kasih" ucap Dina dengan bibir gemetar karena kedinginan.


"Sama-sama Den, non"


"Kami ke atas dulu bik" ucap Danial


"Iya den"


Danial membawa Dina ke lantai atas. Sesampainya di kamar.


"Mandilah duluan" ucap Danial pada Dina


Dina menggelengkan kepalanya.


"Bareng saja mas" ucap Dina tidak enak kalau harus dirinya duluan yang mandi.


"Tidak apa-apa, tubuh mu menggigil" ucap Danial


"Tidak. Ayo bareng saja, mas Danial juga kedinginan" ucap Dina sambil menarik lengan Danial menuju kamar mandi.


"Ya sudah" ucap Danial yang pasrah saat dirinya di tarik Dina ke dalam kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Dina tak bisa bergerak sedikit pun tubuhnya sudah terlalu kedinginan.


Danial membuka handuk yang menyelimuti tubuhnya dan pakaiannya lalu dia hendak membantu Dina.


Tapi Dina menggelengkan kepalanya.


"Dingin mas jangan di buka" ucap Dina menggigil.


Danial langsung mengangkat tubuh menggigil Dina lalu mereka masuk ke dalam bathtub yang berisi air hangat.


Perlahan Dina mulai hangat, tubuhnya sudah tidak gemetar. Danial membuka handuk dan pakaian Dina satu persatu dan tanpa penolakan dari sang pemilik tubuh.


Danial melempar ke lantai handuk dan pakaian Dina. Danial mendekap tubuh Dina dari belakang, tubuh mereka saling bersentuhan.


"Masih dingin?" Bisik Danial


Dina menggelengkan kepalanya.


"Kita berendam sebentar ya" ucap Danial


Dina menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian.


"Mau bilas sekarang?" tanya Danial


"Mas duluan aja" ucap Dina


"Oke" Danial keluar dari bathtub lalu dia melangkah menuju shower. Dia mandi dan beberapa menit kemudian Danial membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Sedangkan Dina masih berendam di bathtub sambil menyandar dan memejamkan matanya, menunggu Danial keluar dari kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Danial mengambil handuk yang sudah di sediakan Bik Dewi di kamar mandi.


"Aku sudah selesai, jangan terlalu lama berendam" ucap Danial pada Dina


"Iya" jawab Dina masih memejamkan mata


"Jangan tidur di sini Dina" ucap Danial saat melihat Dina masih tak bergerak sedikit pun dari dalam bathtub.


"Iya" jawab Dina


"Aku keluar dulu, ingat jangan tidur bisa-bisa kamu tenggelam nanti"


"Iya iya, cerewet banget sih" ucap Dina dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


Danial terkekeh pelan lalu dia keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di tubuhnya.


20 kemudian.


Tok tok


Ceklek


"Dina aku turun duluan ya" ucap Danial yang menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar mandi.


"Iya" jawab Dina


Dina sudah mandi besar, saat ini dia sudah memakai handuknya. Dia tengah memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai lalu meletakkannya di keranjang cucian.


Danial menutup kembali pintu kamar mandi dan keluar dari kamar. Tak lama kemudian Dina keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya.


Tok tok


Dina melangkah ke arah pintu lalu membukanya sedikit.


"Iya bik?"


"Non, den Danial bilang non bisa pakai baju den Danial di lemari" ucap bik Dewi


"Iya bik" jawab Dina sambil tersenyum.


"Non butuh sesuatu?" tanya Bik Dewi


"Ada mukena tidak bik, punya nenek mungkin?" tanya Dina


"Mukena? ada non, saya ambilkan dulu ya non"


"Iya bik terima kasih" ucap Dina sambil tersenyum.


"Sama-sama non"


Dina menutup kembali pintu kamarnya, lalu dia melangkah ke arah lemari yang ada di sana.


"Banyak juga pakaiannya, apa dulu mas Danial sering ke sini ya?"


Dina mengambil salah satu kaos dan celana pendek milik Danial kemudian memakainya.


30 menit kemudian


"Dina" panggil Danial yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Kok gak turun?" tanya Danial sambil melangkah ke arah Dina yang sedang duduk di ranjang dengan ponsel di tangannya.


"Pakaiannya seperti ini" ucap Dina menunjuk pakaian yang dia pakai.


Kaos kedodoran milik Danial begitu pula dengan celana pendeknya. Untung saja celana pendek Danial menggunakan tali di bagian pinggangnya, jadi Dina bisa menarik tali itu agar pas dengan pinggangnya.


"Kenapa? bagus kok" ucap Danial sambil terkekeh.


"Saya gak pakai pakaian dalam" ucap Dina sambil menggeleng.


"Ya sudah, kamu mau makan?" tanya Danial


Dina menganggukkan kepalanya malu-malu.


"Aku ambilkan dulu ya"


"Iya, maaf merepotkan" ucap Dina tak enak.


"Tidak merepotkan sama sekali kok" ucap Danial sambil mengusap lembut kepala Dina.


Danial keluar dari kamar, beberapa menit kemudian dia sudah kembali dengan dua piring di tangannya di ikuti bik Dewi dari belakang dengan nampan berisi teh dan camilan.


Dina segera turun dari ranjang dan mengambil piring yang ada di tangan Danial. Mereka melangkah ke arah meja dan sofa yang ada di kamar itu.


Dina meletakkan piring di meja begitu pula dengan Danial dan bik Dewi.


"Saya permisi" ucap bik Dewi


"Iya bik" jawab Danial


"Terima kasih bik" ucap Dina


"Sama-sama non" ucap bik Dewi sambil tersenyum.


Setelah bik Dewi keluar, Dina menatap wajah Danial.


"Natapnya kok gitu? kamu mau sesuatu?" tanya Danial


"Tidak" jawab Dina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Danial


"Tidak bukan apa-apa kok, ayo kita makan mas" ucap Dina lalu dia duduk di atas karpet di ikuti Danial.


Keesokan harinya


Dina yang sudah bangun sejak tadi saat ini tengah menikmati udara pagi di balkon. Dina menghirup udara segar di pagi hari.


Setelah semalaman turun hujan pagi ini nampak sangat cerah. Danial yang sudah bangun 30 menit yang lalu masih betah menatap punggung Dina yang menikmati udara pagi.


Tak lama kemudian Danial menyingkap selimutnya lalu turun dari ranjang dan melangkah ke arah Dina.


Danial memeluk tubuh Dina dari belakang.


"Good Morning Darling" sapa Danial sambil mengecup pipi Dina.


"Morning Mas" jawab Dina


"Good Morning baby" ucap Danial sambil mengusap lembut perut Dina dari belakang.


"Morning papa" sahut Dina menirukan suara anak kecil.


Danial terkekeh begitu juga dengan Dina.


"Aku tidak sabar menunggunya lahir" ucap Danial yang masih mengusap lembut perut Dina.


Dina hanya tersenyum sambil menunduk menatap perutnya sambil mengelus perutnya.


"Oh iya kapan pemeriksaan selanjutnya?" tanya Danial


"Sekitar satu minggu lagi, mas mau ikut?" tanya Dina


"Tentu saja" jawab Danial antusias


"Nenek bilang juga ingin ikut" ucap Dina


"Iya nanti kita pergi bersama" jawab Danial


"Apa ayah tahu kamu hamil?" tanya Danial


Dina menggelengkan kepalanya.


"Tidak mas, tolong jangan beritahu pada ayah kalau aku hamil" ucap Dina dengan sendu


"Iya" jawab Danial, dia sedikit menyesal karena sudah mengungkit tentang keluarga Dina


"Apa ayah sering menelpon mu, mas?" tanya Dina


"Iya kadang-kadang"


"Ohh" jawab Dina


"Ayah tidak pernah menelpon mu?" tanya Danial


"Telpon kok barusan ayah juga telpon" jawab Dina


"Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Danial


"Kalau ibu mah tidak perlu di tanya mas, setiap hari ibu telpon aku kok" jawab Dina sambil tersenyum.


"Syukurlah, mereka sehat kan?" tanya Danial


"Alhamdulillah sehat"


Danial menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Mau sarapan?" tanya Danial yang masih betah memeluk tubuh Dina dari belakang.


"Sekarang pukul berapa?" tanya Dina


Danial menoleh ke dalam kamar dan melihat jam di dinding.


"Sudah pukul 6 lewat, mau sarapan sekarang?" tanya Danial


Dina menganggukkan kepalanya, Danial melepas pelukannya.


"Kamu turunlah lebih dulu, aku mau mandi dulu"


"Iya" jawab Dina


Mereka melangkah masuk kembali ke kamar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2