Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Panik


__ADS_3

"Pe...pelan-pelan" ucap Dina saat Danial mulai bergerak cepat.


"Maaf sayang" ucap Danial kemudian mengurangi kecepatannya.


"Uuuhhh" lenguh Dina saat Danial tiba-tiba menyentak kuat.


"Ini luar biasa ahhh" ucap Danial.


Sudah lama Danial menantikan hal ini, biasanya dia hanya akan bermain solo di kamar mandi sambil membayangkan dirinya tengah bermain bersama Dina.


Itu pun hanya sekali dua kali setiap hasratnya tiba-tiba memuncak karena mengingat percintaan panasnya dengan Dina.


"Oucchhh aku sudah tidak tahan" ucap Danial.


Dia sudah hampir sampai sedangkan Dina sudah sampai berkali-kali.


"Jangan di dalam" ucap Dina sambil menahan desahannya.


"Baiklah" ucap Danial.


Danial mendekap tubuh Dina dengan erat.


Dan...


Byuuurrrr


"Arghhhhh!!" teriak keduanya.


Nafas keduanya terengah-engah. Di saat Danial menikmati pelepasannya Dina yang sadar akan sesuatu pun langsung memukul punggung Danial dengan kuat.


"Awww, kenapa kamu memukul ku sayang?" tanya Danial sambil menatap wajah Dina yang ada di bawahnya.


"Kenapa mengeluarkannya di dalam?!" bentak Dina.


Danial terkekeh.


"Sengaja" jawab Danial kemudian merebahkan tubuhnya di samping Dina tanpa melepaskan miliknya.


"Anda sudah bilang akan mengeluarkannya di luar! anda tidak pakai pengaman!" omel Dina.


"Aku ingin kamu hamil anak ku lagi Dina" ucap Danial dalam hati.


"Tenanglah baru satu kali tidak akan membuat mu langsung hamil" ucap Danial lalu menarik tubuh Dina ke dalam pelukannya.


"Bagaimana kalau ternyata saya hamil?!" tanya Dina ngegas.


"Tinggal lahirkan saja, aku akan menjaga kalian" sahut Danial sambil menatap lekat wajah Dina.


"Anda benar-benar menyebalkan!" ucap Dina sambil memberontak di dalam pelukan Danial.


"Sayang diamlah jangan bergerak" ucap Danial menahan lengan Dina yang memukulinya.


"Anda benar-benar pria licik!" ucap Dina sambil memukuli Danial.


"Sayang dia besar lagi" ucap Danial sambil melotot ke arah Dina.


Dina seketika membeku, dia lupa bahwa Danial belum mencabut kobranya dan masih berada di dalam sangkarnya.


Dina menatap tajam ke arah Danial.


"Keluarkan sekarang juga!" teriak Dina.


"Oke" ucap Danial lalu dia naik kembali ke atas tubuh Dina.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Dina.

__ADS_1


"Tentu saja mengeluarkan benih-benih ku" jawab Danial dengan wajah tengilnya.


Dina membulatkan matanya.


"Maksud saya tarik keluar milik anda!" teriak Dina.


"Ohhh tidak bisa, ucapan pertama adalah yang benar" ucap Danial lalu dia mengecup bibir Dina dan kembali bergerak.


"Ahhhh"


Mereka berdua pun mengulanginya berkali-kali. Dan Danial terus-menerus menyemburkan benih-benihnya di dalam sana.


Dina tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkannya karena percuma menyuruh Danial mengeluarkannya di luar.


Karena Danial akan terus mengeluarkannya di dalam.


Beberapa jam berlalu, malam yang dingin mereka lewati dengan permainan panas.


Tepat pukul 10 pagi Dani datang untuk menyelamatkan mereka bersama bersama anak buahnya dan TIM SAR di sana.


Dani melangkah ke arah sebuah gubuk bersama pasukannya, dia sangat yakin Danial dan Dina ada di dalam sana.


Karena sejak tadi mereka mencari Danial di seluruh tempat tapi mereka berdua tidak ada. Hanya tempat itulah yang belum mereka periksa.


"Danial" panggil Dani yang langsung membuka pintu gubuk itu.


Seketika Dani langsung menutup kembali pintu gubuk itu saat melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat.


"Astaga apa yang mereka lakukan?" tanya Dani dalam hati, dia baru saja melihat keduanya tidur lelap di bawah selimut.


Bisa Dani tebak bahwa mereka sedang tidak menggunakan pakaian satupun.


"Mereka di dalam?" tanya petugas yang ikut bersama Dani.


"Yes, but..."


"Sebentar biar saya duluan yang masuk" ucap Dani.


"Oke"


Dani kembali membuka pintu tapi dengan mata tertutup. Dani langsung menutup pintu setelah masuk ke dalam.


Dengan perlahan Dani melangkah ke arah Danial, sesekali dia akan membuka matanya sedikit untuk melihat jalan. Takutnya tak sengaja menginjak mereka.


"Danial" panggil Dani.


"Danial bangun" ucap Dani sambil menyentuh lengan Danial yang ada di luar selimut.


"Hmmm" jawab Danial yang masih memejamkan mata.


"Danial cepatlah bangun" ucap Dani semakin keras mengguncang lengan Danial.


Perlahan Danial membuka kelopak matanya, dia nampak terkejut saat melihat Dani di dekatnya.


"Dani!"


"Cepat pakai pakaian kalian, di luar banyak orang" ucap Dani sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.


"Emmm" jawab Danial menganggukkan kepalanya.


"Aku akan tunggu di luar" ucap Dani. Lalu dia langsung keluar dari gubuk itu.


Danial menoleh ke sekeliling, ternyata sudah pagi. Cahaya Matahari perlahan masuk ke dalam gubuk itu.


Perlahan Danial mendudukkan tubuhnya, dia menoleh ke arah Dina yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya.

__ADS_1


Danial tersenyum melihat pemandangan di hadapannya, sepertinya perempuan itu tak sadar bahwa sudah memeluk Danial.


Karena semalam perempuan tak mau di sentuh oleh Danial, dia marah pada Danial.


"Dina" panggil Danial dengan sangat lembut.


"Sayang bangunlah sudah pagi" ucap Danial.


"Dina" panggil Danial untuk ke sekian kalinya.


Namun Dina tak kunjung bangun, Danial menyentuh pundak Dina untuk membangunkannya.


"Astagfirullah, dia panas" ucap Danial saat menyentuh tubuh Dina.


Danial menyingkirkan tangan Dina yang melingkar di tubuhnya dan segera bangun lalu langsung menyambar pakaiannya.


Setelah memakai pakaiannya, Danial mengambil pakaian milik Dina dan memakaikannya pada tubuh Dina.


Beberapa saat kemudian Danial keluar dari dalam gubuk dengan tergesa-gesa, dan Dina di dalam gendongannya.


"Ada apa Danial?" tanya Dani langsung menghampiri Danial.


"Dia pingsan" jawab Danial sangat panik.


"Di depan ada ambulans" ucap Dani.


Danial segera melangkah ke arah mobil ambulans yang berada tak jauh dari sana di ikuti Dani.


Sesampainya di mobil ambulans, Tim medis yang ikut pun langsung mengecek kondisi Dina dan mobil ambulans pun mulai melaju menuju rumah sakit.


Beberapa jam kemudian.


Danial tengah duduk di samping brankar Dina.


Dina harus di rawat di rumah sakit karena tubuhnya panas tinggi, beruntung mereka tiba di rumah sakit tepat waktu karena jika tidak akan sangat berbahaya bagi Dina.


"Danial" panggil seseorang.


Danial menoleh ke arah Dara yang datang.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Dara khawatir.


"Aku baik-baik saja, tapi Dina..." ucap Danial yang menoleh ke arah Dina.


"Dina kenapa? dia baik-baik saja kan?" tanya Dara khawatir.


"Dia panas tinggi, tapi syukurlah sekarang dia sudah baik-baik saja" ucap Danial.


Dara bernafas lega.


"Dimana Dani? kamu sendirian ke sini?" tanya Danial.


"Dia sedang mengurus staff yang akan kembali ke Indonesia, barusan dia mengantar ku dan kembali lagi ke penginapan" ucap Dara.


Danial menganggukkan kepalanya.


"Dimana kamu menemukan Dina?" tanya Dara.


"Cukup jauh dari penginapan" ucap Danial sambil menatap wajah Dina.


"Perempuan itu benar-benar gila Danial" ucap Dara mengadukan tingkah Della.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2