
Di dalam kamar yang di tempati Danial.
Danial tak bisa tidur lantaran kobranya belum juga lemas, padahal barusan dia sudah berolahraga di kamar mandi.
"Ayolah kenapa kau tidak lemas juga" ucap Danial frustasi.
Dia bangkit dari tidurnya lalu duduk menyandar.
"Masa iya aku harus minta tolong Dina? tapi apa salahnya dia istri ku. Tapi bagaimana kalau dia tidak mau dan malah ngamuk?"
Danial terdiam beberapa saat.
"Haisss bodo amatlah" ucap Danial, lalu dia beranjak turun dan melangkah ke arah kamar Dina dengan tongkatnya.
Tok tok
"Dina" panggil Danial.
Tok tok
"Apa sudah tidur ya?"
Danial meraih gagang pintu kamar Dina.
"Eh gak di kunci"
Danial membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk perlahan kemudian menutupnya lagi dengan perlahan, bahkan dia menguncinya.
Danial mengendap-endap seperti maling, dia mendekat ke ranjang Dina.
"Ternyata sudah tidur" ucap Danial pelan.
Danial duduk di samping Dina, di usapnya lembut pucuk kepala istrinya. Dina bergerak membuat Danial terkejut karena takut ketahuan, buru-buru tangannya menjauh dari kepala Dina.
Tapi Dina tidak bangun dia hanya merubah posisi tidurnya dan menghadap ke arah Danial, tanpa sadar Danial tersenyum melihat wajah damai Dina saat tidur.
Danial mengecup kening Dina, dan turun ke perutnya. Dia mengecup perut Dina yang masih datar.
"Sehat-sehat ya sayang, jangan menyusahkan mama" bisik Danial pada calon anaknya yang ada di rahim Dina.
Danial hendak pergi dari sana tapi tangan Dina menghentikannya, tanpa sadar Dina menggenggam telapak tangan Danial.
Danial berusaha melepas tangannya dari genggaman Dina, tapi tidak bisa.
Danial naik ke atas ranjang Dina, dan tidur di sampingnya dengan tangan saling menggenggam.
Keesokan harinya
Dina terbangun karena mual, tanpa memperhatikan sekitar Dina segera turun dari ranjang menuju kamar mandinya.
"Huekkk hueekk hueekk"
Danial yang mendengar suara seseorang yang tengah muntah-muntah pun langsung terbangun.
Dengan cepat dia melangkah ke arah suara itu.
Danial segera menghampiri Dina yang tengah muntah-muntah di wastafel.
"Hueekk"
Danial membantu menyingkirkan rambut panjang Dina, di peganginya rambut Dina agar tak terkena muntahan.
"Hueekk"
Beberapa menit kemudian.
"Sudah?" tanya Danial.
Dina menganggukkan kepalanya setelah membilas wajahnya dengan air.
Danial membantu Dina yang lemas melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mendudukkan Dina di ranjang.
Danial bergerak mengambil air di atas nakas, lalu menuangnya ke gelas kemudian memberikannya pada Dina
__ADS_1
Dina meminum air itu, dia masih tidak sadar bahwa Danial berjalan tanpa tongkatnya.
Danial mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya kembali ke nakas.
"Sudah lebih baik?" tanya Danial sangat lembut.
Dina hanya sanggup menganggukkan kepalanya.
"Biasanya kamu mual begini di pagi hari?" tanya Danial
Dina menggelengkan kepalanya "Tidak, kemarin-kemarin tidak pernah seperti ini, ini pertama kalinya" ucap Dina lemas.
"Begitu rupanya, beberapa hari yang lalu setiap pagi aku mual dan ternyata kamu hamil" ucap Danial.
Dina menatap Danial yang duduk di sampingnya. Dia menatap wajah Danial dengan bingung.
Danial tersenyum.
"Sepertinya dedek bayinya ingin perhatian papanya, jadi dia memberitahu ku kalau kamu sedang hamil" ucap Danial sambil tersenyum.
"Heh mana ada yang seperti itu" ucap Dina dengan nada mengejek.
"Ada, ini buktinya. Dan juga dulu saat kamu hamil aku juga mual-mual kan" ucap Danial pada Dina.
"Benarkan baby? kamu butuh perhatian papa" ucap Danial pada bayinya, sambil mengusap perut Dina.
"Tidak, untuk apa perhatian dari anda" ucap Dina acuh, dia bergeser sedikit agar Danial tak menyentuh perutnya.
"Tentu saja butuh, baby butuh papanya yang tampan ini" jawab Danial dengan percaya dirinya.
"Cih tampan dari mananya?" cibir Dina.
"Hei jangan begitu" ucap Danial sambil tersenyum.
"Hueekk...mmppttt"
Dina berlari lagi ke arah kamar mandi di ikuti Danial dari belakang.
"Hueekk hueekkk"
"Pergilah saya tidak butuh bantuan pria narsis seperti anda" ucap Dina sambil menahan rasa mualnya.
"Ayolah Dina di saat seperti ini saja kamu masih mencibir ku" keluh Danial.
"Karena itu kenyataannya, anda pria narsis, dan mesum" ucap Dina di tengah-tengah rasa mualnya.
"Hueekk"
"Pergi aku tidak butuh pria narsis..."
"Huekk"
"Sial, kenapa setiap kali aku mengejeknya aku malah mual?" tanya Dina dalam hati.
"Benar-benar pria menyebalkan" ucap Dina dalam hati.
"Hueekk"
15 menit kemudian Dina berhenti muntah, itu karena dia berhenti mengejek Danial di dalam hatinya.
"Apakah hal itu bisa terjadi?" tanya Dina dalam hati.
"Haruskah aku coba mengejeknya lagi? tapi aku sudah capek" keluh Dina dalam hati, dia sangat penasaran.
"Ayo aku akan membantu mu" ucap Danial sambil menyentuh lengan Dina.
Dina menghempaskan tangan Danial darinya.
"Kenapa?" tanya Danial terkejut.
"Saya tidak butuh bantuan pria menyebalkan narsis sok ganteng dan mesum seperti anda!" sembur Dina pada Danial.
"Apa?" ucap Danial terkejut.
__ADS_1
"Huekkk huekkk"
Dina kembali muntah-muntah dan bahkan lebih parah dari tadi. Alhasil dia pun pingsan.
Beruntung Danial berhasil menangkap tubuhnya, Danial segera membopong tubuh Dina lalu menidurkannya di kasurnya.
Danial segera mengambil ponselnya di kamarnya dan kembali ke kamar Dina.
"Halo" sahut seseorang di balik sana.
"Cepat kemari" ucap Danial.
Tuttt
Di balik sana.
"Tck kebiasaan deh, aku kan gak tahu dia di mana, apa masih di rumah istrinya atau sudah pulang" gerutu seseorang yang di telpon Danial.
Drttt drttt
"Halo"
"Cepat kemari, istri ku pingsan!" ucap Danial panik.
"Di tempat kemarin?" tanya orang itu dengan cepat karena takut Danial lebih dulu mematikan sambungannya.
"Iyalah memangnya dimana lagi!" ucap danial ngegas.
Tutt tutt
Beberapa jam kemudian.
Dina terbaring lemah di ranjangnya, Danial setia duduk di sampingnya.
Tok tok
"Masuk" ucap Danial.
"Den ini sarapannya" ucap Bik Dila sambil melangkah masuk ke dalam kamar Dina dengan nampan berisi makanan.
"Terima kasih bik" ucap Danial setelah Bik Dila meletakkan nampannya di nakas.
"Sama-sama Den, saya permisi"
"Iya bik" ucap Danial.
"Makan ya" ucap Danial.
Dina menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Kamu akan tambah lemas jika tidak makan" ucap Danial.
Saat ini Dina sangat kesal pada pria di depannya itu, entah karena apa tapi yang jelas dia harus menahan rasa kesalnya itu karena dia tidak mau janinnya terus marah padanya dan membuat dia mual-mual terus seharian.
"Makan ya, baby pasti sudah lapar. Ayo aku suapi" ucap Danial kembali membujuk Dina.
Dina perlahan bangun dan duduk menyandar di bantu Danial.
"Saya bisa sendiri" ucap Dina.
Danial memberikan mangkuk buburnya pada Dina. Dina mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya.
Saat akan kembali memasukkan bubur ke dalam mulutnya Dina menoleh ke arah Danial.
"Aku akan makan nanti" ucap Danial.
"Saya tidak akan bilang itu" ucap Dina sambil menatap Danial.
"Lalu apa?" tanya Danial sambil menatap Dina.
"Setelah di ingat-ingat, kenapa anda tidak pakai tongkat?" tanya Dina menatap curiga ke arah Danial.
.
__ADS_1
.
.