
"Aku ingin menawarkan kerjasama lagi" ucap Danial.
.
.
.
"Kerjasama apa lagi? satu saja sudah membuat saya muak" ucap Dina kesal.
"Ayolah jangan marah gitu" bujuk Danial.
Dina memutar bola matanya malas.
"Dina... please" ucap Danial memohon.
Dina mengerutkan keningnya tak paham dengan maksud Danial.
Danial melangkah ke depan, Dina yang melihat Danial bergerak ke depan pun langsung mundur dan berakhir menabrak tembok.
Danial menyeringai.
Danial mengukung Dina di antara tubuhnya dan tembok, Danial meletakkan tangan kanannya di samping kepala Dina.
"Anda mau apa?!" ketus Dina sambil menatap tajam Danial.
"Kalau aku mau kamu apa boleh?" tanya Danial sambil menyeringai.
Dina menyeringai, lalu dengan cepat dia menendang bagian tubuh Danial yang ada di antara kedua pahanya.
Tapi tak berhasil karena Danial sudah lebih dulu menahan kaki Dina. Danial tersenyum mengejek ke arah Dina yang menatap tajam dirinya.
"Jangan kasar begitu, jika tidak kamu tidak akan bisa merasakannya lagi seperti malam itu" goda Danial sambil menatap lekat wajah Dina.
Dina mengeraskan rahangnya sedangkan Danial tersenyum puas.
"Bagaimana kalau kita mengulangi malam itu di sini? aku rasa akan seru" Bisik Danial.
"JANGAN HARAP!" tekan Dina.
Danial terkekeh.
"Apa kamu tidak rindu padanya? sudah sangat lama kamu tidak bertemu dengannya, dan baru sekali di malam itu. Malam itu kamu terlihat sangat menikmatinya"
"Itu karena anda yang memaksa saya!"
"Ya aku yang memaksa mu, karena jika tidak esok harinya kamu akan tinggal nama. Jika kamu meninggal aku akan menjadi duda yang malang" ucap Danial dengan wajah di buat sedih.
"Cih"
Danial terkekeh melihat istrinya yang membuang muka.
"Dina sayang pulang ke rumah ya, bagaimana kalau benih malam itu tumbuh di perut mu?"
Dina langsung menoleh ke arah Danial dengan mata melotot.
"Itu tidak akan terjadi" tekan Dina.
"Kenapa tidak akan terjadi? kamu bahkan tidak meminum pil KB karena kamu terbaring lemah di ranjang rumah sakit selama seminggu" ucap Danial tak melepaskan tatapannya dari Dina.
Dina semakin melototkan matanya.
Danial terkekeh, lalu dengan seenaknya dia melepas cadar Dina. Dina langsung menahan tangan Danial yang hendak melepaskan cadarnya.
__ADS_1
"Jangan tutupi wajah mu di depan ku sayang, aku masih berhak atas mu. Aku masih suami mu"
"Karena aku masih suami mu maka kamu adalah istri durhaka karena pergi tanpa pamit pada suami mu ini" ucap Danial, dia berhasil melepas cadar Dina.
"Apa-apaan saya kan sudah meminta cerai pada anda!" sungut Dina.
"Tapi aku belum menceraikan mu, sampai kapan pun tidak akan. Bukankah kita sudah membahas hal ini"
"Curang anda sangat curang!"
"Semuanya adil dalam cinta dan perang" jawab Danial.
"Persetan dengan cin...hhhmmmppp"
Dina melotot saat Danial tiba-tiba mencium dirinya. Dina memberontak tapi tenaganya kalah dengan tenaga Danial.
Beberapa saat kemudian Danial melepaskan ciumannya. Dina menatap tajam ke arah Danial dengan nafas terengah-engah.
Danial tersenyum sambil mengusap lembut bibir Dina.
Dina menghempaskan tangan Danial yang mengusap bibirnya.
"Besok datanglah ke kantor, dan buatkan beberapa pakaian lagi" ucap Danial. mengubah rencananya.
Awalnya dia ingin menawarkan sebuah kerjasama pada Dina, tapi melihat reaksi Dina. Danial langsung mengubah rencananya.
Dina mengerutkan keningnya.
"Untuk apa? bukankah semuanya sudah selesai" tanya Dina.
"Untuk edisi spesial, bukankah kontrak kita masih ada sebulan lagi" ucap Danial.
"Ya, sekarang keluarlah" jawab Dina, dia tidak mau berlama-lama dengan Danial.
Cup
Danial langsung keluar dari ruang Meeting sebelum Dina kembali mengamuk.
"Astaga, aku harus segera mengurus perceraian ini" gerutu Dina.
Dina keluar dari ruang meeting dengan wajah kesalnya.
"Pak Danial dan mbak Reeha keluar dari ruang Meeting, apa yang sedang mereka lakukan Ya?" tanya seorang karyawan.
"Apa lagi, tentu saja membahas pekerjaan" jawab temannya.
"Tapi lihat wajah keduanya satunya tampak cerah sumringah dan satunya tampak kesal. Apa pak Danial memaksa mbak Reeha...?"
"Memaksa apa?"
"Memaksa bekerja sama, dan pemenangnya pak Danial"
"Mungkin saja"
"Tapi apa kalian dengar rumornya?" sahut seseorang.
"Rumor apa?"
"Aku dengar sebenarnya mereka suami istri"
"Benarkah?" tanya kedua orang itu.
"Iya, katanya dulu ada salah satu karyawan pak Danial yang melihat mereka berdua jalan bersama dan perut perempuan itu katanya besar"
__ADS_1
"Jangan bercanda, pak Danial tidak pernah menikah. Mbak Reeha juga belum menikah, bukankah dia baru pulang ke tanah air"
"Lalu bagaimana pak Danial bisa punya anak kembar kalau dia tidak menikah?" tanya orang itu.
"Benar juga sih"
"Tapi bisa jadi kan anak itu anak di luar nikahnya. Aku juga dengar dari adik ku, pak Danial suka sekali gonta ganti perempuan"
"Itu kan dulu, sekarang pak Danial tidak pernah membawa wanitanya"
"Tahu dari siapa kamu?"
"Saudara ku bekerja di perusahaan pak Danial"
"Bisa saja kan dia bawa ke rumahnya selain ke kantor"
"Benar juga"
"Saudara ku bilang pak Danial berhenti membawa wanitanya ke kantor, aku rasa itu cuma rumor"
"Benar, dan kenapa juga mbak Reeha malah pergi meninggalkan anak kembarnya jika mereka benar benar suami istri?"
"Teman ku bilang saat itu pak Danial masih dalam keadaan buta dan dia harus mengasuh ke dua bayi kembar itu sendirian. Dan juga saat pak Danial baru sembuh dan bisa melihat lagi, teman ku pernah bilang pak Danial membawa kedua bayi itu ke kantor. Katanya dia terlihat sangat kerepotan menjaga mereka"
"Teman ku juga bilang anak-anak pak Danial pernah bertanya dimana mamanya, dan teman ku itu mendengar pak Danial mengatakan 'kita akan segera menemukan mama sayang'. Begitu katanya pada si kembar"
"Dan kata teman ku itu wajah si kembar ada kemiripan dengan mbak Reeha. Aku rasa mbak Reeha memang istri pak Danial" ucap orang itu panjang lebar.
"Bukankah mbak Reeha pakai cadar? bagaimana bisa teman mu itu tahu wajah mbak Reeha? jangan bikin rumor deh"
"Benar jangan bikin rumor, kalau sampai mbak Reeha tahu awas di pecat loh"
"Mbak Reeha itu bukan orang kota ini, dan yang aku dengar mbak Reeha itu baru saja kembali dari luar negeri setelah 5 tahun lamanya"
"5 tahun?" tanya orang itu.
"Benar"
"Itu tepat sekali dengan umur si kembar, umur mereka sekarang 5 tahun"
"Benarkah?"
"Iya, berarti sudah pasti mbak Reeha memang istri sekaligus ibu anak-anak pak Danial. Aku rasa mereka bercerai setelah mbak Reeha melahirkan si kembar"
"Mungkin saja sih"
"Sudah-sudah jangan bikin rumor aneh"
"Ini bukan rumor tapi..."
"Apa kalian tidak ada kerjaan? apa kalian mau di pecat hah.!" tegur seseorang.
"Maaf pak" ucap ketiga karyawan yang sibuk bergosip.
"Bubar sekarang juga!"
"Baik" ucap mereka dan kabur dari sana.
"Sial, mereka pandai sekali menghubungkan beberapa kasus menjadi satu, kenapa mereka tidak masuk saja ke kepolisian" gerutu Danial yang sejak tadi mendengarkan gosip karyawan Dina.
.
.
__ADS_1
.