
5 tahun kemudian.
Sudah 5 tahun berlalu dan Danial masih belum bisa menemukan istrinya.
Hari-hari Danial lewati dengan senyum di wajahnya saat bersama kedua buah hatinya.
Tapi di saat dia tidak bersama kedua buah hatinya dia akan berubah menjadi sangat dingin dan tak tersentuh. Kecuali saat dia bersama orang-orang terdekatnya.
Dan jika di dalam gelapnya malam dia akan merenung di kamarnya, dengan air mata yang perlahan menetes.
Malam harinya.
Danial yang pulang larut malam langsung masuk ke kamarnya setelah menemui putra dan putrinya yang sudah tidur lelap di kamar mereka.
Danial melempar tas kerjanya di ranjangnya lalu membuka jas yang dia kenakan. Sebuah ingatan terlintas di kepalanya.
Dimana saat pertama kali dirinya bertemu dengan Dina, di saat pertama kali Dina membukakan jas dan kemejanya, di saat pertengkaran-pertengkaran kecil mereka dan di saat mereka tengah bergumul di bawah selimut bersama.
Danial memejamkan matanya sekejap lalu dia melangkah ke kamar mandi sambil membuka kemejanya.
Danial mengguyur tubuhnya di bawah air shower, mencoba mendinginkan kepalanya yang saat ini tengah panas memikirkan semua hal.
Sampai saat ini dia tidak pernah menemukan satu pun petunjuk tentang keberadaan Dina, bahkan dia pernah nekat ke rumah Dina bersama kedua bayinya yang saat itu sudah berumur 6 bulan.
Dan Danial harus menelan pil pahit saat sudah sampai di sana, karena keluarga Dina tidak tahu keberadaan putri mereka.
Dina hanya pamit pada mereka untuk menenangkan diri di suatu tempat tanpa gangguan siapapun.
Danial cukup beruntung karena keluarga Dina mau menerima kedua bayinya walaupun di saat pertama kali datang keluarga Dina menolak keras mereka.
Tapi di saat mereka menatap mata binar kedua bayi itu mereka akhirnya luluh karena tak tega melihat kedua bayi malang itu.
5 tahun berlalu keluarga Dina masih tidak memberitahu keberadaan Dina pada Danial, mereka tidak bisa memberikan sedikitpun informasi Dina karena Dina mengancam akan pergi semakin jauh dan tidak akan pernah menghubungi mereka lagi jika memberitahu keberadaannya pada Danial.
Karena itulah keluarga Dina tidak ada yang pernah buka mulut.
Sesekali keluarga Dina akan menelpon Danial dan menanyakan kabar dirinya dan si kembar.
Untuk mobil yang di curigai Dani, ternyata Dina tidak ikut dengan pengemudi mobil itu. Mobil itu hanya sebuah pancingan yang di lakukan Dina agar bisa pergi diam-diam tanpa sepengetahuan anak buah Dani.
Dina mengetahui bahwa ada anak buah Dani yang mengawasinya. Jadi Dina menyusun rencana agar anak buah Dani teralihkan.
Dan rencananya berhasil, setelah itu Dina bisa pergi tanpa di ketahui Danial.
Danial benar-benar tak habis pikir saat dirinya mengetahui rencana Dina, Danial pikir Dina benar-benar penuh dengan siasat.
Flashback
"Danial Danial" panggil Dani dengan nafas terengah-engah karena berlarian.
"Ada apa dengan mu?" tanya Danial yang heran melihat Dani.
__ADS_1
"Ki...kita tertipu hah hah hah" ucap Dani dengan nafas terengah-engah.
"Tertipu apa?" tanya Danial.
"Mo...mobil itu"
"Astaga! atur dulu nafas mu!" ucap Danial kesal.
Setelah beberapa detik Dani mengatur nafasnya dia mulai kembali bicara.
"Mobil yang aku bicarakan beberapa hari yang lalu itu"
"Ya kenapa dengan mobil itu? kamu sudah menemukan Dina?" tanya Danial tak sabaran.
"Tidak, mobil itu hanya pancingan. Istri mu menjebak kita"
"Hah?" tanya Danial.
"Dia tahu ada mata-mata di sekitar kediaman orang tuanya. Jadi dia menyewa sebuah mobil ke kediaman orang tuanya untuk memancing anak buah ku pergi mengikuti mobil itu. Lalu setelah anak buah ku pergi dan mengikuti mobil itu, istri mu itu keluar dari kediamannya menuju suatu tempat"
Danial mengerutkan keningnya.
"Aku menyuruh seorang hacker untuk menghack CCTV masjid yang ada di samping kediaman orang tuanya, dari situ aku tahu hal ini. Tapi hanya sampai di situ karena hanya di masjid itu yang ada CCTV-nya"
"Hah... aku bahkan tidak tahu jika dia selicik itu" ucap Danial dengan suara lesunya.
"Sejak kapan dia penuh dengan siasat seperti itu?"
"Bersabarlah, aku akan menambah personil untuk mencari istri mu"
"Hhhmmm" jawab Danial sambil mengangguk.
Flashback End.
30 menit kemudian Danial keluar dari kamar mandi dengan handuk di bawah pinggangnya.
Danial mengambil pakaiannya kemudian memakainya. Setelah itu dia duduk di pinggir ranjangnya dan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sudah ada informasi?" tanya Danial.
"Maaf bos"
"Hah... terus selidiki" perintah Danial.
"Baik"
Tutt...
Danial melempar ponselnya ke ranjang.
Selain Dani, Danial juga mengerahkan anak buahnya untuk mencari Dina. Dia juga menyewa beberapa detektif untuk mencaritahu keberadaan Dina.
__ADS_1
Tapi semuanya tidak membuahkan hasil, entah berapa banyak yang sudah dia keluarkan untuk mencari keberadaan istrinya itu.
"Sebenarnya ada di mana kamu Dina?" lirih Danial.
Pertanyaan itulah yang sering kali Danial ucapkan.
Tok tok
Danial mendongak menatap ke arah pintu, lalu dia melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
Ceklek
"Ada apa sayang?" tanya Danial
"Papa boleh tidak malam ini kami tidur di sini? adek bangun dan mau tidur dengan papa" ucap seseorang bocah laki-laki dan di balik punggungnya terdapat seorang bocah perempuan.
Danial berjongkok di hadapan kedua bocah itu yang tak lain adalah anak-anaknya.
"Tentu saja sayang, kemarilah" ucap Danial sambil tersenyum, lalu dia merenggangkan kedua tangannya dan kedua bocah itu berhamburan masuk ke dalam pelukan Danial.
Sepertinya malam ini Danial tidak akan larut memikirkan Dina karena si kembar akan tidur di kamarnya.
Danial menggendong kedua anaknya yang selama 5 tahun ini dia rawat sepenuh hati. Tentu saja dia juga di bantu nenek Dharma, Dani dan beberapa ART di rumahnya.
Setelah si kembar berumur 3 tahun Danial memilih kembali ke kediamannya. Dia tidak lagi tinggal di mansion nenek Dharma.
Dan nenek Dharma membiarkan Danial kembali ke rumahnya. Setiap hari nenek Dharma selalu mengunjungi rumah cucunya untuk bermain bersama kedua cicitnya.
Danial menutup pintu kamarnya lalu melangkah ke ranjang dengan kedua bocah di gendongannya.
Perlahan Danial menurunkan kedua anaknya di ranjang lalu dia ikut naik ke ranjang. Danial terlentang di tengah dan anak-anaknya ada di kedua sisinya.
Kedua bocah berusia 5 tahun itu tidur di samping papanya sambil memeluk papanya dengan erat.
"Adek kenapa bangun?" tanya Danial sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"Adek mimpi ma... "
"Suttt" sela kakaknya menghentikan ucapan adiknya.
Danial menatap sedih ke arah kedua anaknya.
"Adek rindu mama ya?" tanya Danial sambil tersenyum lembut.
Sang putri pun mengangguk sambil menatap wajah papanya dengan pandangan sedih.
"Adek" tegur kakaknya.
.
.
__ADS_1
.