
3 Hari kemudian
Tring tring...
"Halo"
"Halo Dina"
"Ya ada apa?"
"Bisa antarkan makan siang ku tidak? di kantor lagi banyak kerjaan aku tidak sempat pulang"
"Oh baik, setelah ini saya akan berangkat"
"Tidak usah buru-buru aku akan tunggu, berhati-hatilah" ucap Danial
"Baik"
"Ya sudah aku tutup dulu"
"Iya"
"Sampai jumpa di kantor Darling, muahh..." ucap Danial lebay
"Iya sampai jumpa di kantor" jawab Dina sambil tersenyum
Beberapa saat kemudian
Dina sudah sampai di kantor Danial
Tok tok
"Masuk" ucap Danial
Dina membuka pintu ruangan Danial lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Danial.
Dina yang tidak tahu bahwa Danial sudah bersembunyi di balik pintu melangkah dengan santainya ke dalam ruangan Danial.
Lalu tiba-tiba Danial menarik Dina dan memeluknya dari belakang. Kelakuan Danial membuat Dina sangat terkejut.
"Arghhhh!"
"Suttt ini aku" bisik Danial karena Dina memberontak.
"Anda membuat saya terkejut!" ucap Dina sambil memukul lengan Danial yang melingkar di tubuhnya
Danial terkekeh "Maaf" ucap Danial
"Seperti anak kecil saja" Omel Dina
"Bagaimana perjalanan mu? melelahkan?" tanya Danial
"Tidak, tidak melelahkan sama sekali"
"Bagus" ucap Danial sambil menyeringai
"Bagus? apanya yang bagus?" tanya Dina sambil menoleh kebelakang.
"Darling... aku ingin melakukan itu" ucap Danial dengan manja.
"Melakukan apa?" tanya Dina tidak paham
"Itu, aku mau itu" ucap Danial
"Itu apa? katakan lebih jelas anda mau apa?" ucap Dina yang tak mengerti maksud Danial.
"Aku mau buat anak dengan mu" bisik Danial di telinga Dina.
Glek
Dina menelan salivanya dengan kasar.
"Aku ingin melakukannya izinkan aku ya..." rayu Danial
"Di... di sini? inikan kantor" ucap Dina gugup
"Tidak apa-apa, inikan ruangan ku" ucap Danial sambil menggigit kecil telinga Dina.
"Bagaimana kalau ada yang masuk?" tanya Dina sambil mencoba menghentikan perbuatan Danial pada telinganya.
"Tidak akan ada yang berani masuk, mau ya..."
"Tapi anda harus makan Siang dulu....Arghh"
Danial mengusap paha Dina.
"Sudah lama aku tidak melakukannya aku ingin melakukannya" bisik Danial
"Astaga sudah lama apanya? anda baru kemarin saja yang tidak melakukannya" omel Dina sambil menahan suaranya.
"Arrrrhh"
__ADS_1
Tangan Danial bergerak masuk dan menyentuh bagian itu.
"Kamu juga..." Danial tak melanjutkan ucapannya, dia tersenyum smrik ke arah Dina.
"Aku senang kamu sudah siap" ucap Danial sambil tersenyum smirk. Lalu dia memasukkan salah satu jarinya ke dalam sana.
"Itu gara-gara mimpi tadi arghh aku malu sekali" ucap Dina dalam hati.
Saat menuju kantor, Dina tertidur di dalam taxi. Dia bermimpi Danial menggempurnya. Beruntung dia tidak mengeluarkan suara-suara aneh saat di dalam taxi.
Bahkan supir taxi pun tak tahu kalau sebenarnya Dina tidur.
"Uhh hubby itu... Arghh"
Tangan Danial terus bergerak cepat dan dalam.
"Mari kita langsung saja" bisik Danial
Tangan Danial langsung bergerak cepat menurunkan kain segitiga yang menutupi Dina kemudian dia menyingkap ke atas dress yang di kenakan Dina.
"Arghh" suara Dina melengking karena Danial memasukkannya tanpa aba-aba dari arah belakang.
"Hubby...." lenguh Dina
Mereka berpindah tempat tanpa melepaskan tautan mereka. Danial membawa tubuh Dina ke meja kerjanya, dia melepas tas selempang yang di pakai Dina.
Danial juga meletakkan kotak makan siang yang masih ada di tangan Dina.
Danial juga menyingkirkan beberapa barang-barangnya lalu Danial membuat Dina tengkurap di atas meja.
Danial yang masih berada di belakang tubuh Dina mendorong miliknya semakin masuk ke dalam dari arah belakang.
"Maaf sekali ini saja..." bisik Danial dengan suara paraunya.
"Ya?" tanya Dina tak paham.
"Arghhh!"
Dina berteriak karena Danial mendorong pinggangnya dengan cepat.
"Eugh"
"Maaf, setelah ini aku akan melakukannya di tempat tidur" bisik Danial
"Se...telah ini? lagi?" Ucap Dina dalam hati.
2 jam kemudian
Setelah pertempuran panas mereka, Danial sudah mandi dan berpakaian rapi sedangkan Dina tergeletak lemas di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Anda tidak makan siang dulu?" tanya Dina dengan nada suara lesu.
"Iya aku akan makan dulu sebelum bekerja, kamu istirahatlah nanti kita pulang bersama"
Dina menganggukkan kepalanya.
"Kamu lapar?" tanya Danial
Dina menggelengkan kepalanya "Nanti saja"
"Baiklah, aku keluar dulu ya"
"Emm" jawab Dina sambil mengangguk.
Danial keluar dari kamar, dia melangkah ke meja kerjanya untuk mengambil kotak makan siangnya lalu dia melangkah ke sofa dan menyantap makan siangnya.
Tok tok
"Masuk"
"Sudah selesai bos?" tanya Dani
"Emmm" jawab Danial sambil mengunyah makanannya.
"Dimana nona Dina?" tanya Dani sambil celingak-celinguk mencari Dina.
"Untuk apa kamu bertanya?" tanya Danial dengan wajah juteknya.
"Cuma tanya saja bos, tidak perlu cemburu" jawab Dani sambil terkekeh.
"Siapa juga yang cemburu" jawab Danial
Dani tersenyum mengejek.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Danial
"Oh iya hampir saja lupa" Dani melangkah mendekat lalu memberikan sebuah map pada Danial.
"Berkas ini butuh tanda tangan anda" ucap Dani sambil menyodorkan sebuah pena.
Seperti biasa Danial langsung membubuhkan tanda tangannya tentu saja setelah mengecek kembali berkasnya.
__ADS_1
"Ini" ucap Danial mengembalikannya pada Dani.
"Kalau begitu saya permisi" pamit Dani
"Kamu sudah makan siang?" tanya Danial
"Sudah bos"
"Ya sudah kamu bisa kembali"
Dani menunduk sedikit lalu keluar dari ruangan Danial. Beberapa saat kemudian Danial sudah selesai makan lalu dia kembali ke mejanya.
Danial membereskan meja kerjanya yang agak berantakan karena ulahnya sendiri. Danial senyum-senyum saat mengingat percintaannya tadi di meja kerjanya.
"Hubby" panggil Dina dari balik pintu kamar, dia hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Hmmm?" jawab Danial sambil menoleh ke arah Dina.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Danial
Dina memperlihatkan pakaiannya yang sudah compang camping karena ulah Danial.
"Saya pakai baju apa?" tanya Dina dengan wajah cemberutnya.
Danial terkekeh, lalu dia mengambil tas Dina yang ada di mejanya dan melangkah menghampiri Dina.
"Maaf darling, kamu pakai kemeja ku dulu ya. Nanti aku akan meminta seseorang membelikan baju untuk mu" ucap Danial
"Pakaian dalamnya bagaimana? anda merobek semuanya" rengek Dina
"Iya sekalian nanti" ucap Danial sambil menahan senyumannya.
"Masa saya gak pakai pakaian dalam?" rengek Dina
"Tidak apa-apa, toh cuma ada kita di sini" jawab Danial dengan santainya.
Tangan kanannya dia masukkan ke dalam saku celananya sedangkan tangan kirinya masih menegang tas Dina.
"Baiklah, di mana kemejanya?" tanya Dina dengan wajah cemberutnya.
Danial terkekeh melihat wajah cemberut Dina.
"Di lemari sebelah sana, pakailah yang kamu suka dan ini tas mu" ucap Danial sambil memberikan tas Dina
"Emmmm" jawab Dina sambil mengambil tasnya dari tangan Danial lalu Dina menutup kembali pintunya.
Danial pun kembali ke tempatnya dan mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Beberapa menit kemudian Dina kembali menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar, Danial menoleh ke arah Dina.
"Cari apa?" tanya Danial
"Tidak ada orang kan?" tanya Dina
"Tidak ada" jawab Danial sambil menggeleng.
"Kemarilah" panggil Danial
Dina menggelengkan kepalanya dan masih menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.
"Tidak apa-apa kemarilah" ucap Danial sambil menggerakkan telapak tangannya meminta Dina menghampirinya.
Dengan ragu Dina melangkah mendekati Danial.
"Wow... so seksi" goda Danial sambil memasang wajah mesumnya.
"Ada apa?" tanya Dina, mengabaikan ucapan Danial.
Danial menarik lengan Dina dan membuatnya Dina duduk di pangkuannya.
"Apa yang anda lakukan? bagaimana kalau ada yang masuk" pekik Dina
Danial menekan tombol di intercom.
"Ya bos?" ucap Dani dari ruangannya.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ku" ucap Danial
"Baik" jawab Dani lalu dia langsung melangkah keluar dari ruangannya untuk memberitahu sekretaris Danial yang ada di depan ruangan Danial.
"Si bos mah kebiasaan, tinggal langsung telpon sekretarisnya kan bisa" gerutu Dani
"Dennis" panggil Dani
"Ya asisten Dani" jawab Dennis sambil berdiri.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan bos" ucap Dani
"Baik"
.
__ADS_1
.
.