Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Buta


__ADS_3

Keesokan harinya


"ARRGGHHH!"


PRANGGGG!


Suara teriakan dan barang pecah terdengar di salah satu ruang inap VVIP. Tepatnya di ruang inap Danial.


Nenek Dharma dan Dani yang ada di luar kamar inap pun hanya bisa melihat pria yang ada di dalam sana tengah mengamuk.


Danial yang mengetahui bahwa sekarang dirinya buta hanya bisa mengamuk, dia tidak terima dengan apa yang terjadi.


Pranggg!


Di saat Danial tengah mengamuk Dina baru saja sampai di rumah sakit dengan kotak makan di tangannya.


Beberapa menit kemudian.


Ting


Pintu Lift terbuka, Dina melangkah perlahan keluar dari lift menuju ruang inap Danial. Dari kejauhan Dina melihat nenek Dharma dan Dani yang menatap ke arah pintu ruang inap Danial.


"Kenapa nenek dan kak Dani di luar?" gumam Dina


Dina mempercepat langkahnya menghampiri mereka berdua.


"Nenek" panggil Dina


Nenek Dharma terkejut, nenek Dharma melangkah mencoba menghentikan langkah Dina.


"Kamu sudah di sini nak" ucap nenek Dharma


"Iya nek"


"Bawa apa?" tanya Nenek Dharma


"Dina bawa sarapan, nek" ucap Dina sambil mengangkat kotak makan besar yang dia bawa


"Nek, kenapa nenek dan asisten Dani ada di luar?" tanya Dina sambil mencoba melihat ke dalam.


"Tidak apa-apa nak" ucap nenek sambil mencoba menghalangi Dina.


Prangg!


"Suara apa itu nek?" tanya Dina, dia melangkah ke depan pintu kamar.


Deg


Dina terkejut saat melihat Danial mengamuk di dalam sana, Dina hendak masuk ke dalam tapi nenek Dharma menahan lengan Dina.


"Nek kenapa dengan mas Danial?" tanya Dina cemas.


Nenek Dharma menunduk dan mulai kembali terisak.


"Nek, kenapa nenek menangis? apa yang terjadi?" tanya Dina


"Asisten Dani apa yang terjadi?" tanya Dina pada Dani karena nenek tidak menjawab.


Dani memejamkan matanya lalu menggeleng pelan.


Dina nampak sangat syok.


"Nek, tadi malam nenek bilang mas Danial baik-baik saja, tolong beritahu Dina nek apa yang terjadi?"


"Dina..." nenek Dharma menatap wajah Dina.


Dina menatap wajah nenek Dharma dengan detak jantung yang berdetak kencang.


"Danial tidak akan bisa melihat wajah mu lagi Dina... Hiks hiks"


Deg


"Dia buta" lanjut nenek Dina


Cetarrr


Suara kilat terdengar di telinga Dina. Tubuhnya seketika lemas, jika saja Dani tidak menahan tubuhnya mungkin Dina sudah mendarat di lantai.


Dina menatap ke arah kaca yang ada di pintu kamar inap Danial. Nampak di sana Danial masih meratapi nasibnya.


Dina mencoba untuk tenang, jika dia tidak bisa mengendalikan diri itu akan semakin memperparah keadaan.

__ADS_1


Dina mencoba kembali berdiri tegak, Dani melepas tangannya dari lengan Dina.


"Nenek, bolehkah Dina masuk ke dalam?"


"Jangan"


"Dina mau mencoba menenangkannya mas Danial, nek"


"Tapi..."


"Dina mohon nek"


"Baiklah, mungkin Danial bisa tenang"


Dina menganggukkan kepalanya. Dina memberikan kotak makan yang dia bawa pada Dani lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar.


Perlahan Dina melangkah mendekati Danial, Danial yang mendengar langkah kaki seseorang pun langsung berteriak.


"Keluar! tinggalkan aku sendirian!" teriak Danial


"Mas" panggil Dina dengan lembut, matanya sudah berkaca-caka melihat keadaan Danial.


Danial terkejut mendengar suara Dina, dia langsung berbalik membelakangi Dina.


"Keluar" ucap Danial dengan nada suara dingin.


"Tidak mau" tolak Dina dengan nada suara menahan tangisnya.


"Pergilah Dina"


"Kenapa? apa mas membenci ku?" tanya Dina yang sudah ada di samping brankar Danial.


Danial diam tak menjawab.


"Mas Danial pasti sangat membenci ku, gara-gara aku mas jadi begini" ucap Dina dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Maaf mas, ini salah ku kalau saja aku tidak meminta mas membelikan ku sesuatu hal ini tidak akan terjadi. Maaf mas hiks hiks"


"Pergilah Dina, jangan lihat keadaan ku yang seperti ini. Pergilah" ucap Danial sambil memejamkan matanya, dia masih duduk memunggungi Dina.


"Maaf"


Dina yang melihat Danial berbalik dan mencarinya pun langsung duduk di brankar Danial dan meraih telapak tangannya.


Dina benar-benar tak sanggup melihat keadaan Danial, perban itu menutupi kedua mata indah Danial.


"Aku buta Dina, aku buta. Aku tidak akan bisa melihat mu lagi, aku juga tidak akan bisa melihat bayi ku hiks hiks"


"Mas..."


"Apa yang akan aku lakukan Dina? sekarang aku buta!" teriak Danial


"Tenanglah mas" ucap Dina sambil memeluk tubuh Danial.


"Aku buta Dina! Bagaimana caranya aku hidup setelah ini!"


"Mas tolong jangan katakan itu"


"Seharusnya aku mati saja"


"Istighfar mas, jangan bicara seperti itu. Jika mas mati bagaimana dengan bayi yang ada di perut ku?"


Deg


Danial nampak terkejut, dia tidak berfikir jika dia mati bagaimana nasib anaknya kelak.


Danial memeluk Dina semakin erat.


"Maafkan papa baby" ucap Danial pada anaknya.


"Mas tolong jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa konsultasi pada dokter, pasti ada jalannya"


Danial menganggukkan kepalanya di pelukan Dina.


Keadaan menjadi hening, beberapa menit kemudian Dina bersuara.


"Maaf mas"


Danial menggelengkan kepalanya di pelukan Dina.


"Ini bukan salah mu Dina, jangan terus menerus menyalahkan diri mu" ucap Danial

__ADS_1


"Tidak mas, andai saja saat itu aku..."


"Hentikan Dina, ini bukan salah mu semuanya sudah takdir. Dan seperti kata mu barusan semua pasti ada jalannya jadi tolong jangan menyalahkan diri mu"


"Hiks hiks"


Danial mengusap lembut punggung Dina.


Mereka berdua benar-benar lucu, tadi Dina yang mencoba menenangkan Danial dan sekarang bergantian Danial lah yang mencoba menenangkan Dina yang terus-menerus menyalahkan dirinya.


Nenek Dharma dan Dani bernafas lega saat melihat Danial sudah tenang mereka pun duduk di kursi panjang yang ada di depan kamar inap Danial.


Di dalam kamar inap.


Beberapa menit kemudian.


Dina masih menggenggam telapak tangan Danial.


"Mas infusnya di pasang lagi ya"


Danial menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku panggil dokter dulu ya" ucap Dina


Danial menganggukkan kepalanya lagi.


Beberapa saat kemudian


Kamar inap Danial sudah rapi seperti semula, tangan Danial juga sudah di pasang infus lagi.


Di kamar itu saat ini hanya ada Danial dan Dina saja, karena nenek pulang ke mansion di antar Dani.


"Mas, mas lapar tidak?" tanya Dina


Danial menganggukkan kepalanya.


"Aku bawa banyak makanan kesukaan mu mas, mas mau makan sekarang?" tanya Dina


"Iya" jawab Danial


Dina bergerak mengambilkan Danial makanan.


"Ayo biar aku suapi, aku masak sendiri loh"


"Kamu masak sendiri? memangnya gak mual?" tanya Danial


"Tidak sama sekali, baby lagi anteng tadi" ucap Dina sambil tersenyum


"Begitu" ucap Danial sambil tersenyum


"Ayo mas, aaaa" ucap Dina sambil mendekatkan sendok berisi nasi dan lauk ke arah mulut Danial.


Danial membuka mulutnya lalu memakan makanan yang di suapi Dina.


"Enak?" tanya Dina


"Enak" jawab Danial sambil mengunyah makanannya.


1 minggu kemudian.


Saat ini dokter tengah melepas perban di mata Danial karena hari ini Danial sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.


Perlahan Danial membuka kelopak matanya.


"Hah..." helaan nafas terdengar dari mulut Danial.


"Mas"


Danial menggelengkan kepalanya lemah.


"Gelap" lirih Danial


"Kami usahakan akan segera menemukan pendonor untuk anda, tuan" ucap Dokter yang menangani Danial.


Danial menganggukkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2