
4 bulan berlalu.
"Miss Reeha"
"Hmm?"
"Anda sudah berkemas?" tanya Miss Dylan.
"Berkemas? untuk apa?" tanya Dina.
"Andakan akan pergi besok" ucap Miss Dylan.
"Apa? kemana?" tanya Dina terkejut.
"Loh? apa asisten Mr. Danial tidak memberitahu anda?"
Dina menggelengkan kepalanya.
"Besok anda kan akan pergi ke Swiss"
"Swiss?! untuk apa?!" tanya Dina terkejut.
"Loh, kita akan pemotretan di sana"
"Apa?! katanya di Bali kenapa sekarang malah di Swiss?"
"Tidak tahu, Mr. Danial yang mengubahnya. Besok anda akan berangkat lebih dulu bersama Mr. Danial dan asistennya"
"Lalu kalian pergi kapan?"
"Kami akan pergi lusa" jawab Miss Dylan
"Kenapa begitu? kenapa saya tidak berangkat dengan yang lain saja?" tanya Dina.
"Tidak tahu, anda bisa bertanya langsung pada Mr. Danial" ucap Miss Dylan.
Dina kesal, lalu dia pergi dari sana menuju ruangan Danial setelah pamit pada Miss Dylan.
Tok tok
"Masuk"
Dina masuk ke dalam ruangan Danial.
Dani yang sedang berbicara dengan Danial pun menyingkir ke dan berdiri di samping meja Danial.
"Ohhh istri ku sayang ada apa?" tanya Danial yang senang melihat kedatangan Dina.
Danial tahu tujuan Dina datang ke ruangannya dengan wajah sebalnya yang sangat nampak terlihat dari kedua mata indahnya.
"Kenapa lokasinya di ubah ke Swiss?" tanya Dina to the point.
"Karena tempat itu cocok untuk pemotretan kali ini" jawab Danial dengan santainya.
"Di sana sedang musim dingin" ucap Dina.
"Bukankah itu pas? tema pakaian kali ini kan memang Winter" jawab
"Ah benar juga" gumam Dina yang baru ingat.
"Tapi kenapa saya harus berangkat besok, sedangkan yang lain berangkat lusa?" tanya Dina lagi.
"Karena kita harus melihat lebih dulu lokasinya cocok atau tidak" ucap Danial beralasan.
"Saya menolak" ucap Dina dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa menolak" jawab Danial.
"Saya bisa karena saya tidak di beritahu sebelumnya" tolak Dina.
"Lagi pula untuk pengecekan lokasi seharusnya bukan saya saja tapi Mr. Dylan juga harus ikut" ucap Dina.
"Dia tidak bisa berangkat besok. Posisi mu sama dengan Dylan jadi kamu harus mewakilinya sebagai bagian dari proyek ini" ucap Danial.
"Bahkan posisi ini bukan keinginan saya, jika anda tidak menjebak saya, saya tidak akan ada di posisi menyebalkan ini" ucap Dina kesal.
"Ayolah Dina, itu bukan salah ku tapi salah mu yang mau terjebak" ucap Danial sambil terkekeh.
"Dak-cho! (tutup mulut mu!)" ucap Dina kesal.
"Apa? kamu bicara apa?" tanya Danial tak paham apa yang di katakan Dina.
"Tidak bukan apa-apa" jawab Dina.
"Kita akan ke Gunung Matterhorn, pemandangan di sana sangat indah" ucap Danial.
"Kalau sudah di tentukan kenapa saya harus berangkat duluan?" tanya Dina.
"Ayolah Dina seperti yang aku katakan tadi, kita cek lokasinya dulu. Anggap saja kita sedang Honeymoon" ucap Danial sambil tersenyum manis.
Dina menatap tajam Danial.
"Oke oke, aku bercanda tentang honeymoon. Tapi kamu harus tetap berangkat besok" ucap Danial.
"Hah... saya belum mengurus paspor saya" ucap Dina mencari alasan.
"Sudah aku siapkan, semuanya sudah di siapkan jadi besok kamu tinggal bawa koper dan diri mu ke bandara. Oke?" tanya Danial penuh harap.
"Hahhh...." Dina menghela nafas panjang.
"Baiklah saya akan pergi besok. Kalau begitu saya permisi" ucap Dina
Setelah Dina keluar Danial dan Dani melakukan tos, rencana mereka berhasil. Sejak tadi Dani hanya berdiri di sana dan melihat perdebatan Danial dan Dina.
Keesokan harinya pukul 8 pagi.
Danial dan Dani sudah ada di bandara. Mereka sedang menunggu Dina yang tak kunjung datang.
"Kemana dia? apa dia tidak datang?" tanya Danial.
"Tunggu sebentar lagi bos, saya yakin dia pasti akan datang" jawab Dani.
Beberapa menit kemudian Dina nampak sudah tiba di bandara, Danial yang melihat Dina nampak terpesona.
Dina begitu cantik dan anggung, dia membawa kopernya sambil menoleh mencari keberadaan Danial dan Dani.
...(Ilustrasi Style Dina)...
"Nona Dina sangat cantik bos" ucap Dani.
"Ya kamu benar" jawab Danial yang terpana dengan kecantikan Dina walaupun hampir seluruh tubuhnya di tertutup oleh pakaiannya.
"Dani tutup mata mu!" ucap Danial sambil menutup mata Dani dengan telapak tangannya.
"Eh kenapa?" tanya Dani terkejut.
"Hanya aku yang boleh melihat Dina" ucap Danial.
"Lalu bagaiman dengan orang lain? lihat semua mata para laki-laki di sini menatap pada nona Dina bahkan para perempuan juga menatapnya"
__ADS_1
Danial nambak cemburu, dia segera melangkah menghampiri Dina.
"Darling" panggil Danial dari kejauhan, dan hal itu sontak membuat semua pria yang awalnya menatap Dina berhenti menatap Dina karena mereka pikir ternyata perempuan cantik bercadar itu sudah punya suami.
Sedangkan Dina yang mendengar panggilan Danial seketika membulatkan matanya dengan kesal ke arah Danial.
Dia segera melangkah menghampiri Danial untuk menghentikan pria itu.
"Darling cepatlah kita akan ketinggalan pesawat" teriak Danial.
Sesampainya Dina di hadapan Danial, dia langsung memarahi Danial.
"Tutup mulut anda Mr. Danial, jika tidak saya akan membatalkan perjalanan ini dan berangkat dengan yang lain besok" ancam Dina.
"Oke oke maaf, ayo kita pergi" ucap Danial sambil membawa pergi koper Dina.
"Kembalikan koper saya" ucap Dina mengejar langkah kaki Danial.
"Ayo Dani" ucap Danial
"Koper anda bos"
"Bawakan" ucap Danial.
"Tidak, kita harus membawa koper kita masing-masing" ucap Dani.
"Aku sedang membawa koper Dina"
"Kembalikan koper saya, saya tidak menyuruh anda membawanya" ucap Dina sambil merebut kembali kopernya.
"Menyebalkan" ucap Danial yang melotot ke arah Dani sambil menendang koper miliknya.
Bukk
Dina dan Dani membulatkan matanya terkejut, mereka pun segera pergi bersembunyi.
"Hei kalian mau kemana? tunggu aku" ucap Danial yang tak sadar kopernya telah menubruk kepala seseorang yang sedang duduk menunduk di kursi tunggu.
"Hei anak muda" panggil orang yang di tabrak koper Danial.
Danial menoleh ke belakang.
"Kamu tidak mau koper mu? kemari dan ambillah"
Dengan malas Danial melangkah ke orang itu, sesampainya di sana Danial hendak mengambil kopernya tapi orang itu tak membiarkan Danial mengambil kopernya begitu saja.
"Dimana sopan santun mu, koper mu mengenai kepala ku"
Danial berbalik, dia menatap kesal pada kedua orang yang pergi bersembunyi alih-alih membantunya.
Sedangkan kedua orang yang bersembunyi itu menatap Danial sambil tertawa.
"Hei kau tak dengar aku" ucap seseorang yang berpakaian preman.
Danial merogoh saku jasnya dan mengeluarkan dompetnya.
"Anak muda aku tidak mau uang mu"
Danial tak mendengarkan ucapan pria itu dia tetap mengambil beberapa lembar uang di dompetnya.
Kemudian dia meraih telapak tangan pria itu dan memberikan uangnya.
.
.
__ADS_1
.