Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Jebakan Batman


__ADS_3

Tujuannya sekarang adalah mendekati Dina secara perlahan dan membawanya kembali.


.


.


.


Danial menekan kembali tombol di lift menuju lantai 3. Dina yang melihat itu pun langsung menekan tombol ke lantai dasar.


"Saya tidak bisa kembali ke sana, anda cari saja mitra lain" ucap Dina dengan cueknya.


"Keras kepala sekali kamu" ucap Danial.


"Terserah saya" jawab Dina.


Danial hendak menekan kembali tombol lift, tapi dengan cepat Dina berdiri di depan tombol-tombol itu untuk menghalangi Danial dan dia memberikan tatapan tajam pada Danial.


"Hahhhh... baiklah terserah kamu!" ketus Danial.


Dina tersenyum menang di balik cadarnya.


Tak lama kemudian lift pun tiba di lantai dasar, Dina segera berlari keluar dari lift dan keluar dari gedung itu.


Sedangkan Danial menggeleng pelan melihat kelakuan Dina. Setelah tak melihat Dina, Danial menekan tombol menuju lantai 3.


Beberapa menit kemudian Danial sampai di lantai 3. Dia keluar dari lift menuju ruang meeting.


"Mr Danial, bagaimana kelanjutannya?" tanya bu Diah menghampiri Danial.


"Cari saja mitra lain" jawab Danial enteng.


"Tapi Mr ini sangat mendadak, semuanya sudah di atur menggunakan..."


"Orangnya kabur" ucap Danial sambil menolehkan kepalanya keluar seolah-olah menunjuk Dina yang pergi.


"Mr..." ucap bu Diah mengiba pada Danial.


"Kalau bisa anda rayu saja dia agar mau bekerja sama, tapi saya yakin dia tidak akan mau. Dia sangat keras kepala" ucap Danial.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, produk ini harus launching tepat waktu. Entah kalian mencari mitra baru atau bisa merayu dia agar mau bekerja sama" ucap Danial.


"Baik Mr" jawab bu Diah pasrah.


Setelah itu Danial keluar dari sana, semua karyawan menundukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian.


Di dalam mobil, Danial termenung cukup lama, di kepalanya saat ini dia tengah menyusun sebuah rencana untuk menjebak Dina.


Entah jebakan batman apa yang Danial rencanakan.


"Dani" panggil Danial setelah hampir setengah jam menyusun rencana.


"Ya bos?" jawab Dani sambil melirik ke belakang dari kaca spion tengah.


"Suruh Miss jadi-jadian itu mengontak Dina" ucap Danial.


"Miss jadi-jadian?" tanya Dani bingung.


"Maksud anda desainer utama perusahaan kita?" tanya Dani.


"Ya" jawab Danial.


"Astaga bos dia punya nama" ucap Dani terkekeh di balik kemudinya.


"Sama saja. Kamu suruh dia menghubungi Dina dan tawarkan sebuah proyek padanya" ucap Danial.

__ADS_1


"Proyek apa?" tanya Dani.


"Apapun itu, entah itu kolaborasi atau apapun. Pastikan Dina menandatangani kontrak dengan perusahaan ku" ucap Danial.


"Baik" jawab Dani.


"Dan katakan padanya jangan sampai menyebut sedikitpun tentang ku apalagi nama ku pada Dina. Pastikan itu, jika sampai saja dia salah sebut sedikit saja..." Danial membuat gerakan seakan memotong lehernya.


"Tck, habis dia" lanjut Danial.


"Baik" jawab Dani sambil melihat ke arah Danial melalui spion tengah.


Keesokan harinya di rumah Dina.


Pagi ini Dina sangat bersemangat, dia sudah rapi. Dina melangkah turun dari lantai dua.


"Wah wah wah lihat siapa ini, mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tanya seorang pria yang sudah duduk dengan secangkir teh di tangannya.


"Kakak, kapan kakak sampai?" tanya Dina


"Baru saja" ucap Dzafir lalu menyeruput tehnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Dzafir.


"Aku ada pertemuan penting" ucap Dina bersemangat.


"Pertemuan apa?" tanyanya.


"Kakak tahu perusahaan Twins Fashion?" tanya Dina


"Tahu" jawab Dzafir sambil mengangguk.


"Mereka menawarkan kolaborasi dengan butik ku, kak" ucap Dina bersemangat.


"Benarkah?" tanya Dzafir terkejut.


"Waahhh selamat adikku" ucap Dzafir sambil bertepuk tangan.


"Paman dan bibi sudah tahu?" tanya Dzafir.


"Belum, nanti setelah tanda tangan kontrak baru aku akan memberitahu ayah dan ibu"


"Baiklah, sesekali kunjungilah mereka. Kamu selalu saja sibuk"


"Iya kak"


"Mau berangkat sekarang?" tanya Dzafir.


"Iya"


"Kamu sudah sarapan?" tanya Dzafir


"Sudah"


"Ya sudah, ayo kakak antar"


Dina menganggukkan kepalanya.


Mereka melangkah keluar dan naik ke dalam mobil.


30 menit kemudian.


Mobil sudah sampai di perusahaan Twins Fashion.


"Terima kasih tumpangannya kak" ucap Dina.


"Sama-sama, yakin tidak perlu kakak tunggu?" tanya Dzafir.

__ADS_1


"Tidak perlu kak, terima kasih"


"Baiklah, kakak pergi dulu"


"Iya, hati-hati di jalan"


"Emmm"


Mobil pun pergi setelah itu Dina masuk ke dalam perusahaan itu.


Dua hari kemudian.


Dina tengah menelpon seseorang, saat ini dia sedang berada di jalan menuju kantor barunya yang akan dia gunakan selama 6 bulan ke depan.


Dina berjalan kaki menuju kantor barunya. Karena tempat dia turun tadi tak jauh dari kantor Danial, tempatnya bekerja jadi dia memilih berjalan kaki.


"Iya iya aku akan segera sampai" ucap Dina.


"..."


"Tidak apa-apa jangan khawatir, kak" ucap Dina.


Tadi kakak sepupunya itu mau mengantarnya ke kantor, tapi tiba-tiba kakak sepupunya itu mendapat telpon penting dan harus kembali ke rumahnya saat itu juga.


Dina yang tak enak pun memaksa turun di tengah jalan dan mengatakan akan jalan kaki saja, karena kantornya sudah dekat.


Dzafir yang kepikiran pun menelpon Dina dan berniat putar balik tapi Dina melarangnya.


Di saat Dina tengah sibuk menelpon sebuah mobil sport lewat di sampingnya, tak lama kemudian mobil itu berhenti tak jauh dari tempat Dina berhenti.


Pemilik mobil itu memundurkan kembali mobilnya dan berhenti tepat di samping Dina.


Tinn...


Dina yang berdiri membelakangi jalan raya pun terkejut saat mendengar suara klakson mobil.


Dina berbalik dan melihat siapa gerangan orang yang mengklakson mobilnya.


Pemilik mobil itu pun membuka kaca mobilnya.


"Dia lagi" ucap Dina dalam hati, dia sangat sebal.


"Butuh tumpangan?" tanya pemilik mobil itu sambil tersenyum.


Dina memutar bola matanya malas, lalu dia melangkah pergi dengan ponsel masih di telinganya dan tersambung dengan kakak sepupunya.


Pria di dalam mobil itu terkekeh, lalu dia melajukan kembali mobil dengan perlahan mengikuti langkah kaki Dina.


"Kamu yakin tidak butuh tumpangan?" tanya pria itu lagi.


"Tidak terima kasih" ucap Dina yang sudah selesai menelpon.


Dina melangkah di trotoar bak sedang melakukan Fashion show, sangat elegan dan menawan dengan abaya outhernya yang berwarna burgundy lengkap dengan kerudung dan cadarnya.


Beberapa menit kemudian Dina sudah tiba di depan gedung perusahaan Danial. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sana dengan terpaksa.


Ya terpaksa, kenapa begitu? karena kemari Danial mengancamnya dan meminta ganti rugi 3 kali lipat sesuai perjanjian.


Saat itu Dina benar-benar tidak tahu bahwa perusahaan yang berkolaborasi dengan butiknya adalah perusahaan Danial.


Jika saja dia tahu maka dari awal Dina tidak akan pernah menandatangani surat kontrak itu.


Sudah dua kali dia berurusan dengan perusahaan Danial, pertama perusahaan kecantikannya dan sekarang perusahaan Fashionnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2