
1 jam kemudian mereka sampai di kediaman Danial.
Danial turun dari mobil.
"Danial" panggil Dani.
Danial berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dani, dia sangat khawatir pada temannya itu.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir" jawab Danial.
"Siapa juga yang khawatir, aku hanya takut kamu sakit dan malah merepotkan ku nanti" elak Dani.
"Astaga" ucap Danial tak percaya dengan apa yang di katakan temannya itu.
Dani mengangkat kedua bahunya acuh.
"Sana pulang saja, istri mu pasti sudah menunggu" ucap Danial mengusir temannya.
"Bolehkah aku menginap di sini malam ini?" tanya Dani yang masih duduk di balik kemudinya dengan wajah memohon.
"Tidak bisa, Dara pasti akan mengoceh pada ku jika kamu menginap di sini. Aku sudah bosan menjadi sasaran kekesalan istri mu itu" jawab Danial.
"Hahhhh..." Dani menghela nafas panjang.
"Kenapa? kamu menyesal menikah dengannya?" tanya Danial sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Ya" jawab Dani.
"Salah mu sendiri tidak berhati-hati" ucap Danial sambil tertawa mengejek temannya.
"Ah sudahlah, aku akan pulang" ucap Dani.
"Hmmm"
Mobil yang di kendarai Dani melesat pergi dari sana.
5 bulan lalu Dani menikah dengan Dara, bukan karena mereka saling mencintai tapi karena sebuah kecelakaan dan mereka berakhir di pelaminan.
Flashback
Lima bulan lalu.
Dani yang baru saja keluar dari hotel milik Danial tak sengaja melihat Dara yang di rangkul seorang pria tua berjas masuk ke dalam hotel itu.
Awalnya Dani membiarkan saja, tapi dia merasa sangat penasaran. Saat mendengar kalimat yang di ucapkan pria tua itu.
"Malam ini aku akan mendapatkan daun muda ha ha ha" ucap pria tua itu.
"Tidak sia-sia aku menjebaknya" gumam pria itu.
Setelah mendengar itu Dani berbalik dan mengikuti mereka, Dani mengawasinya dari kejauhan.
Tak lama kemudian pria itu sampai di lantai 11.
Lalu pria tua itu hendak membawa masuk Dara ke dalam kamar hotel yang sudah di pesankan asistennya.
Dara yang mulai sadar kembali pun segera memberontak.
Dara berteriak kencang.
"Tolonggg!"
"Siapapun tolong aku!"
Pria tua itu menyeret paksa Dara ke dalam kamar hotel lalu menutup pintu kamar hotel, tapi belum juga pintu kamar itu tertutup Dani menahan pintu itu dengan ujung sepatunya.
Lalu Dani membuka pintu kamar itu dengan kencang. Pria tua itu terkejut dan langsung menoleh ke belakangnya.
"Lepaskan dia" ucap Dani.
__ADS_1
"Siapa kau! jangan ikut campur urusan ku!" teriak pria tua itu marah.
"Dani..." lirih Dara sambil menatap ke arah Dani.
Dani melirik ke arah Dara yang nampak kacau.
Dengan emosi yang memuncak Dani melangkah dan langsung menghajar pria itu.
"Argghh!" teriak pria tua itu.
Dara yang terlepas dari pria tua itu segera berlari ke belakang punggung Dani.
"Kurang ajar!" teriak pria tua itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dani sambil menoleh ke belakang.
Dara menganggukkan kepalanya.
"Hei anak muda! berani-beraninya kamu merebut mainan ku!"
"Dia bukan mainan, dia manusia" ucap Dani dengan santainya namun terdengar sangat menyeramkan.
"Ha ha ha, kalau kamu ingin bergabung katakan saja langsung, aku tidak keberatan" ucap pria tua itu tanpa rasa malu.
Dani mengeraskan rahangnya, dia langsung menghajar pria tua itu seperti orang kesetanan.
Bukkk bukkk bukkk
Sedangkan Dara ketakutan melihat Dani menghajar pria tua itu tanpa ampun.
Dara melangkah mencoba menghentikan Dani.
"Da...Dani hentikan, di...dia bisa mati"
Bukkk bukkk
Dani tak berhenti menghajar pria tua itu, pria tua itu bahkan sudah tak bisa melawan.
"Dani kita akan dalam masalah jika dia mati" ucap Dara mencoba menyadarkan Dani.
"Dani hentikan!" teriak Dara sambil memeluk Dani dari belakang.
Seketika Dani menghentikan gerakan tangannya. Dani menurunkan tangan kanannya yang mengepal di udara.
"Hentikan aku mohon hiks" ucap Dara dengan tubuh gemetarnya.
Nafas Dani naik turun dengan cepat, tatapan tajamnya mengarah pada pria yang terbaring tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya.
Dani berbalik dan langsung melepaskan jasnya lalu menyelimuti Dara dengan jasnya, setelah itu dia langsung menggendong tubuh Dara dan membawanya keluar dari sana.
Dara hanya bisa mengalungkan kedua lengannya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Dani.
Sesampainya di lobi semua orang menatap ke arah mereka berdua. Bahkan para karyawan bertanya-tanya siapa perempuan yang ada di dalam gendongan tangan kanan bos mereka.
Dani melangkah keluar tanpa menghiraukan tatapan heran orang-orang itu.
Sesampainya di luar, seorang pria bertubuh tinggi besar membukakan pintu mobil untuk Dani.
"Urus pria di kamar 789" ucap Dani
"Baik" jawabnya.
Dani masuk ke dalam mobil dengan Dara di gendongannya. Pria bertubuh tinggi besar itu menutup pintu mobil Dani.
"Pergi ke Apartemen xxx" ucap Dani pada supirnya.
"Baik"
Mobil pun melesat pergi, dan pria tadi langsung masuk ke dalam hotel bersama beberapa temannya untuk melaksanakan tugas dari Dani.
1 jam kemudian.
__ADS_1
Mobil Dani tiba di sebuah parkiran bawah tanah yang ada di apartemen mewah tempat tinggal Dara.
Bagaimana dia bisa tahu alamat Dara? tentu saja Dani mengetahui semuanya.
Dani turun dari mobil dengan Dara yang tidur di gendongannya, lalu dia melangkah ke lift.
Beberapa menit kemudian dia sampai di depan pintu apartemen Dara.
"Dara" panggil Dani.
"Dara, bangunlah"
Perlahan Dara membuka kelopak matanya.
"Apa?" tanya Dara.
"Masukkan kata sandi Apartemen mu"
Dara menganggukkan kepalanya.
"Turunkan aku" ucap Dara.
Dani menurunkan tubuh Dara, namun karena efek alkohol yang masih ada di tubuhnya Dara hampir saja terjatuh.
"Astaga, berapa banyak yang kamu minum" ucap Dani.
Dara tak mendengarkan ucapan Dani, dia menekan tombol yang ada di pintu apartemennya.
Clik
Pintu terbuka.
"Terima kasih sudah menyelamatkan ku" ucap Dara lalu dia masuk ke dalam apartemennya.
Namun baru beberapa langkah Dara terjatuh ke lantai.
"Aww" ringis Dara.
Dani yang masih ada di luar menggeleng pelan menatap Dara.
Dani melangkah masuk sambil menutup pintu apartemen Dara. Dani langsung menggendong tubuh Dara dan membawanya ke kamar.
"Hei turunkan aku" ucap Dara bergerak gelisah di gendongan Dani, tubuhnya terasa aneh.
Dani diam tak menjawab.
"Dani..."
Ceklek.
Dani membuka salah satu pintu kamar, dan ternyata tebakannya benar. Kamar itu yang di tempati Dara.
Dani menurunkan tubuh Dara di atas kasur.
"Terima kasih, kamu bisa pulang" ucap Dara.
Bukannya pulang Dani malah tetap di sana.
"Dimana kotak obat mu?" tanya Dani
"Untuk apa?" tanya Dara sambil mendongak menatap wajah Dani yang berdiri di depannya.
"Bibir mu luka" ucap Dani sambil menunjuk sudut bibirnya.
"Ahh"
Tadi saat Dara memberontak dia di tampar pria tua itu, alhasil sudut bibirnya terluka.
"Aku akan mengobatinya sendiri, kamu bisa pulang" ucap Dara.
.
__ADS_1
.
.