Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Tinggal Di Rumah Dina


__ADS_3

"Dina, aku terluka karena menyelamatkan mu" ucap Danial menekan setiap perkataannya.


.


.


.


"Anda kan punya banyak pelayan di rumah anda" ucap Dina.


"Tidak bisa, aku bahkan tidak pulang ke rumah karena takut si kembar khawatir saat melihat ku" ucap Danial.


"Lalu semalam anda tinggal di mana?" tanya Dina.


"Di apartemen ku" jawab Danial.


"Ya sudah tinggal saja di apartemen anda, bukankah semalam anda bisa tinggal di sana" ucap Dina acuh.


"Tadi malam ada Dani yang menjaga ku" ucap Danial.


"Ya sudah tinggal minta asisten anda saja" jawab Dina tak mah kalah.


"Tidak bisa Dani sibuk, jadi kamu harus menjaga ku" ucap Danial.


"Tidak bisa, saya juga sibuk" tolak Dina sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Yah walaupun kemarin dia sampai menangis karena merasa bersalah pada Danial tapi rasa bersalahnya seketika lenyap saat melihat Danial bermesraan dengan Dara barusan.


Padahal semalam dia berpikir akan membatalkan perceraiannya karena bujukan kakaknya.


Tapi karena melihat Dara dia malah semakin menguatkan niatnya untuk bercerai dengan Danial.


"Please Dina... aku tidak berani pulang ke rumah karena takut si kembar menangis saat melihat ku" ucap Danial.


"Lalu jika anda di sini si kembar dengan siapa?" tanya Dina.


"Ada nenek, aku bilang pada nenek aku sedang di luar kota" ucap Danial.


Dina nampak memijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Kamar di rumah ini ada di lantai atas, memangnya anda bisa naik turun tangga?" tanya Dina.


"Kan ada kamu" jawab Danial.


"Hahhh.... oke" jawab Dina terpaksa.


"Yes" ucap Danial dalam hati.


"Tapi hanya beberapa hari, sampai kondisi anda sedikit lebih baik" ucap Dina.


"Bagaimana bisa begitu, kamu harus merawat ku sampai sembuh total" protes Danial.


"Saya tidak bisa merawat anda sampai sembuh total Mr. Danial karena..." Dina menghentikan ucapannya.


"Karena apa?" tanya Danial curiga.


"Apa pacar baru mu akan datang?" tuduh Danial.


"Bukan itu! lagi pula saya tidak punya pacar! anda selalu menuduh saya punya pacar! bukankah anda yang punya pacar!" sindir Dina di akhir kalimatnya.


"Lalu kenapa?" selidik Danial, mengabaikan sindiran Dina.


"Karena saya harus keluar kota minggu depan" ucap Dina.


"Karena pengadilan sudah mulai memproses perceraian kita" ucap Dina dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah, itu bisa kita bicarakan nanti" ucap Danial.


Malam harinya


"Ada apa?" tanya Dina yang datang ke kamar Danial karena di panggil oleh pria itu.


"Kamu tidak lihat?" tanya Danial.


"Apa?" tanya Dina ketus.


"Aku mau mandi" ucap Danial.


"Lalu?" tanya Dina.


"Bukakan pakai ku, tangan ku patah juga karena menyelamatkan mu, kan?" lagi-lagi Danial mengungkit hal itu.


"Tadi nyelipin rambut cewek aja bisa" gerutu Dina.


"Kamu bilang apa?" tanya Danial sambil menoleh ke arah Dina, sepertinya dia mendengar Dina mengatakan sesuatu.


"Tidak, cepat berdiri" ucap Dina.


Danial pun bangun dari tempat duduknya dengan bantuan tongkat. Dina melangkah mendekati Danial.


"Hahh..." Dina menghela nafas panjang sebelum membuka pakaian Danial.


"Kenapa? apa kamu sudah lupa cara membuka pakaian ku?" tanya Danial sambil menatap wajah Dina.


Dina menatap nyalang Danial.


"Ayo cepetan Darling, gerah nih" ucap Danial.


"Jangan memanggil saya dengan sebutan itu" ucap Dina sambil mulai melepaskan satu persatu kancing baju Danial.


"Kenapa? apa kamu salting" goda Danial.


"Saya jijik mendengarnya" ucap Dina penuh tekanan tepat di depan wajah Danial.


Danial menyunggingkan senyumannya.


"Jangan terlalu membenci ku, ingat kamu sedang hamil anak ku. Bagaimana jika anak kita malah sangat mirip dengan ku? kamu akan kesulitan saat mengurusnya karena wajahnya terlalu mirip dengan ku" ucap Danial dengan percaya dirinya.


Dina menghempaskan krah baju Danial yang tadi dia cengkram.


"Tidak mungkin, hal seperti itu tidak ada" ucap Dina.


"Siapa bilang? kita tidak akan tahu bagaimana nantinya" jawab Danial dengan santainya.


Dengan kesal Dina lanjut melepaskan pakaian Danial.


"Pelan-pelan tangan ku sakit, Dina" keluh Danial.


"Ini sudah pelan" jawab Dina dengan dinginnya.


"Tck pelan apanya" keluh Danial.


"Kalau begitu sisanya buka saja sendiri, anda bilang saya kasar kan" ucap Dina sambil mundur beberapa langkah.


"Kalau aku bisa akan aku lakukan sendiri, dan sekalian membopong mu ke ranjang" ucap Danial.


Dina menatap tajam Danial.


"Kenapa? apa kamu tertarik? jika kamu mau aku akan segera melakukannya tidak peduli tangan ku sakit atau tidak" goda Danial.


"MR. DANIAL!!!" teriak Dina yang sudah sangat kesal.

__ADS_1


Kalau saja Danial tak menolongnya saat itu dia tidak akan pernah melakukan hal ini dan membiarkan pria itu tinggal di rumahnya, itu tidak akan mungkin.


"Oke oke aku hanya bercanda" ucap Danial sambil terkekeh.


Dina pergi begitu saja dari kamar itu.


"Sayang kamu belum membuka celana ku" teriak Danial.


"Buka saja sendiri!" jawab Dina ketus.


Brakkk Dina menutup pintu dengan sangat kencang.


"HEI TUTUPLAH PELAN-PELAN!" teriak Danial.


"Dasar pemarah, untung sayang" ucap Danial sambil terkekeh.


Tiba-tiba otak cerdas Danial memiliki ide yang sangat bagus. Danial kembali duduk di sofa dan mengambil ponselnya.


Tuttt tuttt


Suara sambungan telpon terdengar.


"Apa lagi?!" teriak seseorang dari balik sana.


"Celananya belum di buka, ba...."


Tuttt tutt


"Hais aku kan belum selesai bicara" ucap Danial sambil menatap ponselnya.


Ceklek brakk


Dina muncul dari balik pintu itu dengan langkah cepatnya.


"Berdiri" perintah Dina.


"Tidak bisa, tiba-tiba pergelangan kaki ku terasa sakit" ucap Danial sambil menatap kakinya yang di gips.


Tangannya patah, kakinya retak dan ada beberapa luka di lengannya. Itulah yang Dani katakan kemarin.


"Haahhhh... kenapa anda malah datang kesini dan bukannya pergi di rumah sakit saja" keluh Dina.


"Aku tidak suka bau rumah sakit" jawab Danial.


"Kalau begitu kenapa tidak pulang saja?"


"Bukankah sudah aku katakan, jika nenek dan anak-anak melihat keadaan ku seperti ini mereka akan sedih"


Saat mendengar kata anak-anak seketika mood Dina berubah, hampir saja dia menangis di hadapan Danial kalau saja dia tidak segera mengontrol emosinya.


Dina mengedip-ngedipkan kelopak matanya sambil menoleh ke arah lain, dan Danial memperhatikan itu.


Beberapa detik kemudian Dina melangkah dan berjongkok di depan Danial. Dia membuka ikat pinggang Danial dan melepaskan dengan perlahan celana bahan yang di pakai Danial dan hanya menyisakan celana pendek di tubuh Danial.


"Jangan khawatir, anak-anak baik-baik saja" ucap Danial sambil meraih dagu Dina dengan jari telunjuknya.


Dina menatap Danial lalu beberapa detik kemudian dia menyingkirkan jari Danial dari dagunya.


"Saya tidak peduli" ucap Dina mencoba acuh.


"Lalu bagaimana dengan bayi ku yang ada di perut mu sekarang?" tanya Danial sambil menatap kedua netra Dina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2