Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Hadiah Dani


__ADS_3

Mereka bertiga keluar dari ruangan Danial, sekretaris Danial menundukkan kepalanya saat melihat mereka bertiga keluar dari ruangan Danial.


Sesampainya di lift


"Sudah antar sampai di sini saja" ucap nenek lalu nenek Dharma masuk ke dalam lift.


"Baik nek sampai jumpa, hati-hati di jalan" ucap Danial melambaikan tangannya


"Sampai jumpa nyonya" ucap Dani sambil sedikit membungkuk


"Iya, oh ya nanti malam kalian datanglah ke mansion kita makan malam bersama" ucap nenek pada Danial dan Dani.


"Baik nek" jawab Danial


Pintu lift tertutup membawa nenek Dharma turun ke lantai dasar.


Danial dan Dani menghela nafas lega.


"Hah.... akhirnya nenek pulang juga" ucap Danial, kemudian dia teringat pada Dina yang masih bersembunyi di bawah mejanya.


Danial segera berlari kembali ke ruangannya di ikuti Dani. Dennis sekretaris perempuan Danial pun nampak heran melihat bosnya berlarian.


Di ruangan Danial


Danial segera menuju mejanya, kemudian dia berjongkok. Sedangkan Dani nampak terkejut saat melihat Dina ada di bawah meja.


"Dina" panggil Danial khawatir


"Nenek sudah pergi?" Tanya Dina


Danial menganggukkan kepalanya lalu dia membantu Dina keluar dari bawah sana. Dani segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat Dina hanya memakai kemeja Danial. Beruntung dia tidak melihat apapun.


"Bisa jalan?" tanya Danial


"Iya, cuma kesemutan dikit" ucap Dina meringis.


Danial segera membopong tubuh Dina saat melihat Dina sedikit meringis karena kakinya kesemutan.


"Turunkan saya, ada asisten anda" bisik Dina


"Dani" panggil Danial


"Iya bos?"


"Pesankan pakaian untuk Dina ukuran M, pakaian dalamnya juga ukuran yang sama" ucap Danial


"Baik" jawab Dani lalu Dani keluar dari ruangan Danial.


Dina membulatkan matanya "Kok anda menyuruh asisten anda membeli pakaian saya?" ucap Dina terkejut


Danial membawa Dina ke dalam kamar.


"Kenapa?" tanya Danial


"Malu, kalau pakaian biasa tidak masalah tapi pakaian dalam?" Protes Dina


"Bukan Dani kok yang siapkan" ucap Danial lalu menurunkan tubuh Dina perlahan ke ranjang.


"Lalu?" Tanya Dina


"Nanti Dani akan menelpon butik, jadi pekerja butik yang akan menyiapkan semuanya"


Dina terdiam


Danial berjongkok di depan Dina, lalu dia meraih kaki Dina.


"Anda ngapain?" Tanya Dina terkejut, dia segera menjauhkan kakinya dari Danial


"Sebelah mana yang sakit?" Tanya Danial


Dina menggelengkan kepalanya "Tidak sudah sembuh kok"


Danial meraih kembali kaki Dina.

__ADS_1


"Hiss.." ringis Dina saat kaki kanannya yang kesemutan di sentuh Danial.


Danial memijat pelan telapak kaki Dina agar aliran darahnya kembali lancar.


"Maaf membuat mu lama berada di sana" ucap Danial masih memijat kaki Dina.


"Tidak apa-apa, sudah saya akan pijat kaki saya sendiri" ucap Dina menghentikan Danial, dia merasa sungkan jika Danial harus memijat kakinya.


"Tidak apa-apa" tolak Danial


Beberapa saat kemudian.


"Masih kesemutan?" Tanya Danial sambil menatap wajah Dina.


Dina menggelengkan kepalanya "Sudah membaik" ucap Dina sambil tersenyum,


Danial menghentikan pijatannya.


"Kaki kirinya juga?" Tanya Danial


"Tidak" ucap Dina menjauhkan kaki kirinya dari jangkauan Danial.


Danial tetap saja meraih kaki kiri Dina


"Biar aku pijat juga, nanti kaki kiri mu iri melihat kaki kanan mu di pijat" ucap Danial sambil terkekeh.


"Mana ada seperti itu" ucap Dina sambil tertawa.


Danial pun ikut tertawa bersama Dina, beberapa saat kemudian Danial selesai memijat kaki Dina.


"Sudah" ucap Danial sambil menatap wajah Dina, Dina menatap Danial dengan wajah tersenyum.


Kemudian Dina mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup pipi kiri Danial.


Cup


"Terima kasih" ucap Dina


Danial nampak terkejut, lalu dia tersenyum. Kemudian Danial menunjuk pipi kanannya.


Dina tertawa lalu dia mengecup pipi kanan Danial.


"Sudah" ucap Dina


Mereka saling bertatapan dengan senyuman masing-masing di wajah mereka.


"Ehkkkmm permisi" ucap seseorang dari luar kamar.


Danial dan Dina seketika menoleh ke arah pintu.


"Bos ini pesanan anda" ucap Dani menyodorkan sebuah paper bag sambil menatap ke arah lain.


Dia tidak ingin melihat kemesraan Danial dan Dina karena jiwa jomblonya akan mengiri.


Danial berdiri lalu melangkah ke arah Dani.


"Kamu menatap kemana" ucap Danial sambil mengambil paper bagnya.


"Saya tidak mau melihat kemesraan anda dengan nona Dina, bos. Karena jika tidak jiwa jomblo saya akan iri" ucap Dani


Danial tertawa sedangkan Dina terkekeh pelan.


"Makanya cepat cari istri" ucap Danial tanpa sadar.


"Cieeee" ledek Dani sambil menatap wajah Danial.


"Kamu mau ku pukul" ancam Danial sambil berpura-pura akan memukul Dani.


"Wo wo wo jangan dong bos" ucap Dani menghindar, kedua tangannya berusaha melindungi wajahnya.


"Sudah sana pergi, terima kasih" ucap Danial sambil mengangkat sedikit paper bag yang di berikan Dani.


"Sama-sama bos, kalau begitu saya permisi"

__ADS_1


"Emmm"


Danial menutup pintu lalu melangkah mendekati Dina.


"Ini pakaian mu" ucap Danial sambil memberikan paper bagnya pada Dina


"Terima kasih" ucap Dina


Dina menerima paper bag dari Danial, lalu melihat isinya.


"Kamu suka?" tanya Danial


Dina mengambil salah satu isi dari paper bag itu.


"Ini apa?" tanya Dina sambil memperlihatkan sebuah pakaian tipis dengan hiasan renda.


Danial membulatkan matanya, lalu segera mengambil pakaian itu dari tangan Dina.


"Astaga Dani!" Ucap Danial kesal


Di ruangannya Dani tertawa terbahak-bahak saat membayangkan betapa terkejutnya kedua orang yang ada di ruangan sebelahnya saat melihat pakaian yang dia pesan khusus.


"Itu hadiah dari saya bos" ucap Danial lalu dia kembali tertawa.


Kembali lagi ke ruangan Danial.


"Hubby pakaian apa itu?" tanya Dina


"Bukan apa-apa, yang ini di simpan saja" ucap Danial sambil menyembunyikan lingerie yang di beli Dani ke belakang tubuhnya.


Dina mengambil pakaian yang masih tersisa di dalam paper bag.


"Wah cantik sekali" ucap Dina saat melihat dress berwarna putih.


Sedangkan Danial tersenyum puas.


"Kamu suka?" tanya Danial


"Suka sekali, tapi..."


"Tapi apa?" tanya Danial


"Ini pasti mahal, baju ini dari brand terkenal" ucap Dina saat melihat brand bajunya.


"Tidak mahal kok, harganya tak jauh dari pakaian yang ada di lemari mu"


"Apa? jadi yang di lemari semua dari brand terkenal ini?" tanya Dina terkejut


Danial menganggukkan kepalanya ragu-ragu.


"Pantas saja pakaiannya cantik semua, saya jadi tidak tega memakainya. Dan yang tadi saya pakai malah anda robek"


Danial duduk di samping Dina.


"Kalau tidak kamu pakai mau di kemanain pakaian-pakaian itu? mau di pajang? di jadikan koleksi?"


Dina menganggukkan kepalanya.


"Pakai saja semuanya Dina, kalau tidak di pakai sayangkan aku sudah membelinya" ucap Danial sambil melepas kancing kemeja yang di pakai Dina.


"Anda mau apa?" tanya Dina terkejut, dia menahan tangan Danial.


"Membantu mu pakai baju" bisik Danial


"Tidak usah, saya bisa sendiri" ucap Dina masih menahan tangan Danial.


"Tidak perlu malu Darling, aku sudah lihat semuanya kok" ucap Danial sambil tersenyum


Dina menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, nanti anda tergoda. Ini hanya akal-akalan anda saja"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2