
"Nek dia istri Danial!" teriak Danial yang akhirnya mengakui hubungan mereka pada neneknya.
.
.
.
"Apa?" ucap nenek terkejut
"Perempuan yang nenek tunjuk ini adalah istri Danial nek, bahkan sekarang dia tengah mengandung bayi ku, cicit nenek" ucap Danial
"Apa?" lagi-lagi nenek terkejut.
"Kalau nenek tidak percaya nenek bisa mengeceknya, kandungannya sudah 1 bulan lebih" ucap Danial
"Kapan kalian menikah?" tanya nenek tak percaya.
"Kami menikah beberapa bulan yang lalu nek"
"Danial, kamu menikah tanpa memberitahu nenek?"
"Bukankah nenek hanya mau cicit jadi Danial kabulkan"
"Tapi kamu menikahinya Danial!"
"Benar Danial menikahinya nek, awalnya kami hanya akan memberikan cicit untuk nenek. Tapi Danial harus menikahinya karena Danial tidak mau anak Danial menjadi anak haram, dan Dina juga tidak bisa melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan"
Nenek Dharma yang sudah sangat kecewa karena telah di bohongi, bangun dari tempatnya duduk dan menghajar Danial. Sudah lama nenek Dharma ingin memberi pelajaran pada cucunya itu.
Bugghhh!
Dina terkejut saat nenek memukuli Danial.
"Nenek tolong hentikan nek" ucap Dina memohon.
Bugghhh!!
"Nenek jangan pukul mas Danial lagi, nenek Dina mohon" ucap Dina mencoba menghentikan Nenek.
"Ini salah Dina nek, tolong hentikan hiks"
"Nenek... Hiks hiks"
"Tolong hentikan, ini salah Dina...Dina yang memaksa mas Danial menikahi Dina secara diam-diam. Tolong hentikan hiks"
"Tolong jangan pukuli mas Danial lagi nek"
Dina menangis, dia menyentuh kaki nenek Dharma agar berhenti memukuli Danial.
"Diam! jangan ikut campur! dan jangan panggil aku nenek lagi!" Bentak nenek Dharma pada Dina sambil menghempaskan tangan Dina yang menyentuh kakinya.
"Nenek..." Dina tertunduk lemas sambil menangis.
"N...nek ja...ngan bentak Di...na nek" ucap Danial terbata-bata sambil mencoba bangun dengan keadaan tubuhnya yang babak belur.
"Uhukk uhukk pukuli sa...ja aku nek, tapi jangan ben...tak Dina, nek. D...dia sedang hamil nek" ucap Danial terbata-bata sambil menahan sakit.
Nenek Dharma berhenti memukuli Danial lalu nenek Dharma keluar dari apartemen Danial dengan keadaan marah.
"Bawa mereka ke mansion" perintah nenek Dharma pada anak buahnya yang berjaga di luar.
"Baik" sahut kedua anak buah nenek.
Dina dan Dani membantu Danial untuk bangun.
"Mari ikut kami tuan muda" ucap anak buah nenek Dharma yang menghampiri mereka.
Dani memapah Danial keluar dari apartemen itu di ikuti Dina yang berjalan di samping Danial sambil menangis.
__ADS_1
"Jangan menangis darling, aku baik-baik saja" ucap Danial sambil tersenyum mencoba menenangkan Dina.
Dina menganggukkan kepalanya dengan air mata yang berlinang deras.
Mereka keluar dari gedung apartemen, nenek Dharma sudah pergi lebih dulu dengan mobilnya.
Sedangkan Danial dan Dina naik mobil lain yang di kemudikan Dani dan di kawal satu mobil yang di kendarai anak buah nenek Dharma dari belakang.
Di dalam mobil Dina menangis sambil menyembunyikan wajahnya di lengan Danial, Danial mengusap kepala Dina dengan lembut.
"Tenanglah, nenek tidak akan membunuh ku" ucap Danial sambil terkekeh pelan.
Mendengar ucapan Danial air mata Dina justru bertambah deras.
"Loh kok tambah nangis" ucap Danial sambil terkekeh pelan karena menahan sakit di tubuh dan wajahnya yang babak belur.
Dina mencubit pinggang Danial.
"Sakit sayang" ringis Danial
"Maaf" ucap Dina menyesal karena sudah mencubit pinggang Danial.
Danial tersenyum, lalu dia menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil memejamkan kelopak matanya.
Beberapa jam kemudian.
Kedua mobil itu sudah masuk ke halaman rumah yang di tempati nenek Dharma, tidak lebih tepatnya tempat itu adalah mansion utama.
Tempat pertama kali Dina menginjakan kakinya sebelum bekerja di rumah Danial.
Danial turun dari mobil bersama Dina di bantu Dani yang sigap memapah tubuh Danial.
Dina berhenti melangkah dia terlalu takut untuk masuk ke dalam.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja" ucap Danial yang di papah Dani. Dia mencoba menyakinkan Dina bahwa dia akan aman.
Danial, Dani dan Dina melangkah masuk, Danial tak melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Dina.
"Bik" panggil Danial
"Iya den" jawab Bik Dahayu yang menghampiri mereka
"Bik. Dia istri ku, dia sedang hamil. Tolong bawa Dina ke kamar ku untuk istirahat" ucap Danial pada bik Dahayu.
"Baik den" ucap Bik Dahayu tanpa banyak bertanya.
Sebenarnya bik Dahayu cukup terkejut saat tuan mudanya mengatakan jika Dina adalah istrinya, karena setahunya dulu Dina bekerja di rumah Danial.
Tapi bik Dahayu tak banyak bertanya karena itu bukan urusannya, tentu saja tuan mudanya bebas memilih siapa yang akan menjadi pasangannya.
Dina mengeratkan genggamannya pada Danial sambil menggelengkan kepalanya menatap wajah Danial.
"Tunggulah di kamar ku, aku akan bicara dengan nenek sebentar" ucap Danial lembut
"Tidak, saya akan tetap di sini" tolak Dina
"Kali ini patuhlah Dina, tunggu aku di kamar. Kamu butuh istirahat di sini ada Dani yang menemani ku"
Dina memasang wajah tak mau.
"Sana ikutlah dengan bik Dahayu, kamu tidak perlu khawatir" ucap Danial lembut.
Perlahan Dina melepaskan genggaman tangannya.
"Mari non" ajak bik Dahayu
Dina melangkah dengan enggan, dia menoleh ke belakang seakan tak rela berpisah dengan Danial.
Danial mengibaskan tangan kanannya sambil tersenyum, meminta Dina cepat pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dina dan bik Dahayu sudah sampai di kamar Dania.
"Ini kamar den Danial non"
Dina menganggukkan kepalany.
"Anda butuh sesuatu?" tanya bik Dahayu
"Tidak bik terima kasih" ucap Dina lemas
"Baik non, kalau begitu saya permisi" pamit bik Dahayu
"Terima kasih bik"
"Sama-sama non"
3 jam kemudian
3 jam sudah Dina menunggu Danial di kamarnya namun Danial tak kunjung juga datang.
Dina yang tidak bisa menunggu lagi pun melangkah turun untuk mencari Danial. Tak lama kemudian Dina melihat Danial.
Danial tengah berlutut di depan sebuah kamar, Dina segera menghampiri Danial.
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Dina
"Saya akan bicara pada nenek" ucap Dina yang nekat hendak pergi menemui nenek.
"Jangan, nenek sedang dalam suasana hati yang buruk, kamu pergilah dan kembali ke kamar" ucap Danial dengan lembut.
"Tapi sampai kapan anda akan berlutut di sini?" tanya Dina sedih
"Jangan khawatir, jika aku melakukan ini nenek tidak akan marah lagi pada kita.
Kamu kembalilah dan istirahat di kamar, jangan khawatir" ucap Danial
"Saya juga akan berlutut bersama anda" ucap Dina dan berlutut di samping Danial.
"Jangan, kasihan baby jika kamu ikut berlutut. Cepat kembali ke kamar"
"Tapi..."
"Dina aku mohon turutilah perkataan ku"
Dengan berat hati Dina Menganggukkan kepalanya, lalu dia berdiri.
"Sana cepat pergi"
"Tunggu sebentar" ucap Dina
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"Anda belum makan seharian, makanlah ini sedikit saja" ucap Dina sambil menyodorkan sebungkus mini pie yang baru saja dia buka.
"Kamu dapat dari mana?" tanya Danial sambil tersenyum.
"Bik Dahayu yang memberikannya pada saya tadi"
"Ayo cobalah" ucap Dina sambil mendekatkan pie itu ke mulut Danial.
Danial menggigit pie itu lalu mengunyahnya.
"Enak?" tanya Dina
"Emm enak, terima kasih"
Dina tersenyum
.
__ADS_1
.
.