
"Benar, tapi aku tidak ingin melakukannya dengan cara memaksa mu Dina, asal kau tahu aku tidak pernah memaksa wanita manapun melakukannya dengan ku, apalagi yang masih perawan" ucap Danial sambil terkekeh di akhir kalimatnya
.
.
.
"Tapi anda tidak memaksa saya tuan"
"Aku tahu, tapi kamu belum siap melakukannya karena itulah aku tidak akan memintanya sekarang"
"Aku tahu ini adalah yang pertama kalinya untuk mu, karena itulah malam ini aku akan melepaskan mu tadi hanya perkenalan saja"
"Tuan.."
"Sudah tidurlah aku mengantuk dan jangan memanggil ku tuan" ucap Danial sambil mengeratkan pelukannya pada Dina
"Tidurlah Dina, kita bisa melakukannya lain kali di saat kamu benar-benar sudah siap, kita masih punya banyak waktu Dina, kamu mengerti?"
Dina menganggukkan kepalanya di pelukan Danial
"Terima kasih tuan, ternyata anda tidak begitu buruk" ucap Dina dalam hati
Sesaat kemudian Dina sudah terlelap di dekapan Danial, Danial menoleh ke bawah untuk melihat gadis yang berada di dekapannya
"Cepat sekali dia tidur" ucap Danial pelan
"Maaf aku sudah merenggut kebahagiaan mu hanya untuk kepentingan pribadi ku, aku mungkin memang bukan pria yang baik tapi selama kamu masih terikat dengan ku aku akan pastikan kamu selalu bahagia, aku janji" ucap Danial pelan lalu mengecup kening Dina
Setelah itu Danial memejamkan matanya dan menyusul Dina yang sudah terlelap
Keesokan harinya
Dina mulai menggeliat
"Emm"
Dina menggeliat lalu membuka matanya perlahan
"Good Morning" sapa Danial dengan senyumannya yang mempesona
Dina yang baru bangun tidur menatap terkejut ke arah Danial
"Kenapa tuan di sini?!" tanya Dina terkejut
"Sepertinya kamu lupa ya" ucap Danial sambil tersenyum mengejek ke arah Dina
"Hhmmm?" tanya Dina bingung
Danial melirik ke bawah lebih tepatnya ke tubuh bagian atas Dina, Dina mengikuti arah pandang Danial dan...
"Arghhh" Dina berteriak dan segera menarik selimut yang dia pakai ke atas menutupi seluruh tubuhnya
Danial terkekeh
"Sial kenapa aku tidak pakai baju ku dulu sebelum tidur" gerutu Dina dalam hati saat sudah mengingat semua yang terjadi tadi malam
"Hei Dina" panggil Danial sambil menusuk nusuk punggung Dina dengan jari telunjuknya
"Bisakah anda diam dulu tuan" ucap Dina dari dalam selimut
Danial menarik selimut yang menutupi kepala Dina, lalu dia langsung mengecup bibir mungil Dina dengan cepat
Dina melotot mendapat serangan di pagi hari
"Tuan...."
Cup
Danial kembali mengecup bibir Dina, tapi kali ini dia melu*tnya.
"Satu ciuman setiap kau memanggil ku tuan" ucap Danial menang
__ADS_1
Dina terdiam dengan mata melototnya
"Kamu lucu sekali Dina" ucap Danial terkekeh
"Saya mau pergi mandi" ucap Dina bangun lalu turun dari ranjang membawa selimut yang menutupi tubuhnya
Sedangkan Danial, dia segera mengambil bantal untuk menutupi asetnya yang terpampang jelas saat Dina membawa kabur selimutnya.
"Dasar aku kan juga belum pakai baju "Ucap Danial lalu dia terkekeh
1 jam kemudian
"Sial aku lupa bawa pakaian" gerutu Dina dalam kamar mandi
Tok tok
"Dina" panggil Danial dari luar kamar mandi
"Dina, kok lama banget sih?" panggil Danial
"Duh gimana ini" ucap Dina sambil bolak balik di dalam kamar mandi
"Dina kamu dengar aku?"
Tok tok tok
"Dina, kamu kenapa?" tanya Danial mulai khawatir
Bugghh bugghh bughhh
Danial menggedor-gedor pintu kamar mandi
"Dina! Dina! Di...!"
Ceklek pintu terbuka
Dina keluar, dia muncul di balik pintu kamar mandi sambil menunduk
"Dina... kenapa kamu tidak menjawab?" tanya Danial
"Saya baik-baik saja tu... ah.. hubby"
"Lalu kenapa kamu tidak menjawab saat aku panggil?" tanya Danial lagi
"Maaf saya tidak dengar karena suara air showernya"
"Sungguh?" tanya Danial memastikan
"Iya" jawab Dina sambil mengangguk
Danial masih menelisik mata Dina
"Saya baik-baik, sekarang anda mandilah airnya sudah saya siapkan" ucap Dina yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Danial
"Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Danial sekali lagi
"Dasar cerewet, sana cepat mandi" ucap Dina sambil mendorong pelan tubuh Danial agar segera masuk ke dalam kamar mandi
"Aku cerewet gini karena khawatir pada mu, jika kamu sakit bagaimana dengan acara membuat anaknya" jawab Danial sambil menoleh ke belakang
Dina mengabaikan ucapan Danial, setelah Danial masuk ke kamar mandi Dina segera menutup pintu kamar mandi
Di dalam kamar mandi Danial melangkah ke arah bathtub, lalu dia masuk ke dalam bathtub dan berendam.
"Kenapa dia seksi sekali" ucap Danial
Danial memejamkan matanya dan mengingat tubuh Dina yang berbalut Bathrobe, air yang menetes di leher indah Dina dengan hiasan bekas kecupannya sungguh sanggup membangkitkan sesuatu di tubuhnya.
"Arghh sial!" umpat Danial
"Kenapa kau harus bangun sekarang" ucap Danial sambil menatap sesuatu di bawah sana
Di kamar, sejak Danial masuk ke kamar mandi. Dina duduk di balik pintu kamar mandi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kenapa dia sama sekali tidak punya malu" gerutu Dina
"Arggghhh aku harus bagaimana jika setiap hari dia selalu begitu"
"Hah Sudahlah, mungkin dia tidak sadar benda keramatnya bergelantungan bebas, iiihhhh" Dina sungguh merinding
Dina bangun dan menuju ke lemari untuk mengambil pakaian Danial dan pakaian miliknya.
Semua pakaian dan barang-barang Dina sudah di pindahkan ke kamar Danial sejak kemarin atas perintah Danial.
Beberapa saat kemudian Dina duduk di meja riasnya hendak mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Dan saat dia melihat ke arah cermin di depannya alangkah terkejutnya Dina
"Apa ini?" tanya Dina sambil menyentuh lehernya
"Kenapa merah-merah begini?"
Dina menurunkan krah depan bajunya
"Hahhh?! kenapa sebanyak ini? apa ini?"
Dan ingatan semalam pun muncul di kepala Dina
"Jangan bilang ini karena ciuman tuan Danial?" Dina kembali memeriksa lehernya di cermin
"Sepertinya benar, merah-merah ini tepat di tempat tuan Danial mencium ku, awas saja anda tuan Danial, anda menjadikan ku macan tutul" ucap Dina menggebu-gebu di akhir kalimatnya
"Hais... apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan ini?" tanya Dina kebingungan
"Kamu tidak bisa menghilangkannya sekarang" ucap Danial yang tiba-tiba muncul
"Tu... aah maksud ku Hubby, jangan tiba-tiba muncul begitu saya kan terkejut"
"Maaf, aku kira kamu sadar dengan keberadaan ku"
"Kapan merah-merah ini akan hilang?" tanya Dina
"Beberapa hari lagi itu akan hilang dengan sendirinya" jawab Danial dengan santainya
"Kenapa lama sekali?" keluh Dina
Danial mendekati istrinya, lalu dia menyentuh kedua bahu Dina.
"Kamu tidak tahu ini apa?" tanya Danial
"Bekas ciuman anda" ucap Dina cemberut
"Benar, atau orang-orang menyebutnya Kis*m*rk jadi sudah pasti akan lama hilangnya"
"Lain kali tolong jangan meninggalkan tanda seperti ini terutama di leher saya"
"Kenapa? kamu tidak suka?"
"Iya, saya seperti macan tutul" ucap Dina kesal
"Ha ha ha, tapi kamu memang mirip sekali dengan macan"
Dina kesal mendengar ledekan Danial
"Mau saya cakar?" ancam Dina
"Lihat macannya mau mencakar, ha ha ha"
"Hubby!!" teriak Dina kesal
"Ha ha ha"
.
.
.
__ADS_1