
Beberapa menit kemudian.
"Bagiamana keadaan istri saya dok?" tanya Danial pada seorang dokter perempuan yang menangani Dina.
"Selamat pak, istri anda hamil" ucap Dokter itu sambil tersenyum.
"Hamil?" tanya Danial terkejut, begitu juga dengan Dani yang mendengar itu dari balik tirai pembatas.
Wajah Danial nampak berbinar, dia menggenggam telapak tangan Dina dengan erat.
"Sekali lagi selamat pak, dan untuk pengecekan lebih lanjut anda bisa menemui dokter obgyn"
"Setelah siuman istri anda sudah bisa pulang"
"Baik Dok, terima kasih banyak" ucap Danial.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi"
Beberapa menit kemudian Dina mulai siuman.
"Sayang..." panggil Danial.
"Dimana ini?" tanya Dina sambil melihat ke sekelilingnya.
"Rumah sakit" jawab Danial.
"Saya sakit apa?" tanya Dina sambil berusaha bangun.
Danial membantu Dina duduk menyandar.
"Perut mu akan membesar" ucap Danial sambil terkekeh.
"Apa?!" teriak Dina terkejut.
"Suttt ini di UGD sayang" ucap Danial sambil meletakkan jari telunjuk tangan kirinya di bibir.
"Penyakit apa yang membuat perut membesar?" tanya Dina ketakutan.
Danial terkekeh pelan.
Plak
Dina memukul lengan kiri Danial. Dia menatap Danial dengan tajam.
"Maaf maaf" ucap Danial.
"Cepat katakan" desak Dina.
"Begini, setiap bulan perut mu akan bertambah besar dan setelah 9 bulan akan ada sesuatu yang keluar dari tubuh mu dan perut mu akan kembali mengecil" ucap Danial sambil terkekeh.
Dina mencoba mencerna teka-teki yang di katakan Danial.
"Apaan sih saya gak paham" ucap Dina menatap Danial dengan wajah kesalnya.
"Kamu hamil sayang" ucap Danial sambil menatap wajah Dina.
"Oh hamil..." ucap Dina dengan santai dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Danial yang melihat reaksi Dina pun nampak heran.
"Apa?!" teriak Dina tiba-tiba saat otaknya sudah mencerna kata itu.
Danial seketika tertawa.
"Permisi, maaf tolong pelankan suara kalian di sini UGD" tegur seorang dokter yang bertugas di sana.
"Maaf dok" ucap Danial sambil mengangguk sekali.
Dokter itu pergi setelah menegur mereka, beruntung di UGD tidak terlalu banyak pasien. hanya ada sekitar tiga orang termasuk Dina dan rata-rata bukan karena penyakit serius.
__ADS_1
"Sayang" panggil Danial sambil menyentuh pundak Dina.
"Tidak mungkin" ucap Dina pelan.
"Apanya tidak mungkin?" tanya Danial.
"Saya sudah minum pil KB, kenapa saya hamil?" tanya Dina sambil menatap Danial.
"Mungkin kamu terlambat meminumnya" jawab Danial dengan santainya.
"Apa kamu minum pil KB setelah aku ingatkan saat itu?" tanya Danial.
Dina menganggukkan kepalanya.
"Sudah pasti terlambat, setau ku pil KB harus di minum 3-5 hari sesudah berhubungan" ucap Danial.
"Bagaimana anda tahu?" tanya Dina.
Danial mengangkat kedua pundaknya.
"Ayo kita ke dokter obgyn dan memeriksa kandungan mu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada bayi kita" ucap Danial sambil mengambil tongkatnya yang dia taruh di dekatnya.
Dina turun dari brankar dan melangkah bersama Danial menuju ruangan dokter Obgyn, tadi Dani sudah mendaftarkan Dina atas perintah Danial.
Di ruangan dokter.
"Baik ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter wanita yang duduk di hadapan Danial dan Dina.
"Begini dok. Barusan di UGD, istri saya di periksa dan katanya hamil. Tapi sekitar satu minggu lebih setelah berhubungan istri saya mengkonsumsi pil KB, apakah akan berbahaya pada kandungannya?" tanya Danial.
Dokter itu mengamati baik-baik penjelasan Danial.
"Apa setelah mengkonsumsi pil KB kalian melakukan hubungan lagi?" tanya dokter.
"Tidak" jawab Danial.
Dokter mengangguk.
"Saya kurang tahu dok, karena sebelumnya saya belum pernah minum pil KB" jawab Dina, dia merasa khawatir pada kandungannya.
Bagaimana pun itu juga anaknya, dia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya nanti.
"Begitu, apa anda rutin meminumnya dalam seminggu?" tanya Dokter.
Dina menggelengkan kepalanya "Saya hanya minun sekali"
"Aaa begitu" ucap Dokter sambil tersenyum.
Dokter menunjukkan beberapa merek dari pil KB.
"Apa ibu mengkonsumsi salah satu dari pil-pil ini?" tanya dokter untuk memastikan.
"Yang ini Dok" ucap Dina sambil menunjuk gambar merek yang dia pakai.
"Yang ini pil KB biasa, dan akan bekerja jika di konsumsi selama seminggu berturut-turut jadi jika hanya mengkonsumsinya sekali tidak akan bereaksi. Dan tidak akan mengganggu pada kehamilan"
"Hah syukurlah" ucap Danial bernafas lega.
Dina langsung menatap ke arah Danial yang nampak lega.
Dokter itu tersenyum.
"Jika bapak dan ibu khawatir saya bisa memeriksa kandungan ibu untuk memastikan kondisi janin anda"
"Boleh dok, silahkan" jawab Danial cepat.
"Mari"
30 menit kemudian mereka berdua keluar dari ruangan Dokter.
__ADS_1
Di dalam mobil yang di kendarai Dani, Danial terus menatap hasil USG Dina. Bayinya berusia sekitar sebulan lebih, itu yang di katakan Dokter saat USG.
Beberapa jam kemudian mobil yang di kendarai Dani sudah terparkir di depan rumah Dina.
"Sayang kamu yakin tidak perlu aku temani?" tanya Danial.
"Tidak perlu, ada Bik Dila di rumah" ucap Dina.
Bik Dila adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT) di rumah Dina.
"Ya sudah, kalau butuh sesuatu hubungi saja aku" ucap Danial.
"Ya" jawab Dina.
Dina keluar dari dalam mobil Danial.
"Terima kasih tumpangannya" ucap Dina sebelum menutup pintu mobil.
Dina melangkah ke pagar rumahnya setelah menutup kembali pintu mobil Danial.
"Dani kenapa dia bersikap dingin lagi pada ku?" tanya Danial.
"Tidak tahu" jawab Dani.
"Ayo pergi Dan" ucap Danial setelah melihat Dina masuk ke dalam rumahnya.
"Iya"
Mobil Danial pun meninggalkan halaman rumah Dina.
"Mbak Reeha anda sudah kembali?"
"Iya bik" jawab Dina sambil melangkah dengan lesu.
"Kenapa lesu begitu mbak? pekerjaannya banyak ya?" tanya Bik Dila.
Dina menganggukkan kepalanya.
"Anda sudah makan malam? mau saya siapkan makan malamnya?" tanya Bik Dila.
"Boleh bik, tolong buatkan sambal buatan bibik ya tapi jangan pedas-pedas. Dan juga goreng tempe aja bik"
"Baik"
"Saya ke atas dulu bik" ucap Dina.
"Iya mbak Reeha"
Dina melangkah naik ke lantai atas.
Sesampainya di kamarnya Dina langsung melempar tubuhnya ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya.
Tangan Dina mengusap lembut perutnya.
"Sayang kenapa kamu datang di saat-saat sulit seperti ini?"
"Ini berkah atau kemalangan" ucap Dina lalu dia terdiam beberapa menit.
"Astagfirullah, maafkan mama sayang. Mama tidak membenci mu kok, terima kasih sudah datang di kehidupan mama" ucap Dina sambil mengusap lembut perutnya.
"Mama menyayangi mu nak" ucap Dina.
Dina terdiam beberapa saat.
"Boleh tidak ya jika bercerai dalam keadaan hamil?" tanya Dina.
.
.
__ADS_1
.