Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Dina" panggil nenek Dharma saat Dina nampak melamun.


"Iya nek?" tanya Dina.


.


.


.


"Kamu tidak dengar apa kata Dara?" tanya nenek Dharma.


"Maaf, memangnya bilang apa?" tanya Dina.


"Aku akan memeriksa mu, apa kamu mau?" tanya Dara mengulang pertanyaannya.


"Tapi kalau ternyata tidak hamil bagaimana?" tanya Dina.


"Tidak masalah kalian bisa membuatnya lagi" jawab Dara tanpa filter.


"Awww sakit tahu" keluh Dara saat tangannya di tepuk Dani.


"Mulutnya di filter dikit napa" ucap Dani.


"Kenapa? toh mereka kan sudah menikah" jawab Dara.


"Astaga, pantas saja kamu masih jomblo" ucap Dani.


"Apa hubungannya itu dengan ku?" tanya Dara.


"Terserahlah" jawab Dani malas


***


Hampir satu jam Dina dan nenek Dharma pergi ke ruangan dokter Dara. Sedangkan Dani berangkat ke kantor karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


Selama beberapa bulan ini, Dani yang sangat kerepotan menggantikan Danial.


Tak lama kemudian.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka.


"Nenek?" panggil Danial memastikan siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


"Hmm" jawab nenek nampak terdengar bersemangat.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Danial setelah Dina kembali dengan nenek.


"Positif! Kembar!" jawab nenek Dharma nampak bahagia.


"Benarkah? Kembar?" tanya Danial tak percaya, dia nampak terkejut.


"Iya, selamat kalian akan menjadi orang tua" ucap nenek Dharma sambil memeluk Dina untuk ke sekian kalinya.


"Terima kasih nek" ucap Dina sambil tersenyum.


"Nenek yang harusnya berterima kasih sayang" ucap nenek Dharma masih memeluk Dina, kemudian nenek Dharma melepaskan pelukannya.


"Oh iya, untuk sementara kita rahasiakan kehamilan Dina, nenek sudah bilang pada Dara" ucap nenek


"Iya nek, itu lebih baik" jawab Danial sambil tersenyum.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya nenek Dharma pada Dina.

__ADS_1


"Iya nek, tidak apa-apa. Dina lebih nyaman begitu" jawab Dina.


"Baiklah. Oh iya nenek harus pulang dulu karena ada yang harus nenek lakukan, nanti malam nenek akan kembali. Kamu tidak apa-apa kan jaga Danial sendirian di sini? atau mau ikut nenek pulang? biar nenek panggilkan seseorang untuk menjaga Danial"


"Nenek tega sekali meninggalkan ku sendirian" protes Danial.


"Sudah besar juga" jawab nenek Dharma.


"Hah..." Danial menghela nafas.


"Dina di sini saja, nek" ucap Dina


"Kamu yakin? tidak butuh istirahat?" tanya nenek Dharma.


"Iya tidak apa-apa nek, Dina tidak capek sama sekali. Tidak seperti kehamilan pertama Dina" jawab Dina sambil tersenyum


"Ya sudah nenek pulang dulu sampai jumpa nanti malam. Kalau perlu apa-apa bilang saja pada bodyguard di depan. Mereka anak buahnya Dani"


"Iya nek"


"Nenek pulang dulu ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah pintu kamar inap tertutup, Danial langsung memanggil Dina.


"Sayang kemarilah" ucap Danial sambil menggerakkan telapak tangannya meminta Dina mendekat.


Dina melangkah mendekat dan duduk di brankar Danial, tepat di samping kanannya.


"Kemari beri mas pelukan" ucap Danial sambil merentangkan kedua tangannya.


Dina bergerak dan memeluk Danial.


"Terima kasih sayang" ucap Danial sambil memeluk Dina.


"Mas sangat bahagia, kita punya anak lagi. Bahkan dua"


"Iya mas"


"Pokonya mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati. Setelah di rumah nanti jangan melangkah sedikit pun"


"Lalu kalau aku mau ke kamar mandi gimana?"


"Mas akan minta bik Dahayu memapah mu ke kamar mandi"


"Astaga mas, tidak perlu seperti itu. Kali ini aku tidak selemas yang pertama"


"Tidak tidak pokoknya kamu harus dengarkan perkataan, mas. Mas juga akan meminta dokter mencari pendonor secepatnya agar mas bisa menjaga mu dengan baik"


"Baiklah, tapi walaupun mas belum bisa mendapatkan pendonor tidak apa-apa jangan terlalu di pikirkan mas. Nanti mas malah sakit"


Danial tersenyum.


"Iya" jawab Danial.


Tangannya berada di kedua pipi Dina, perlahan tapi pasti wajah keduanya semakin dekat. Dan...


Cup


Kecupan manis mendarat di bibir Dina, dan lama kelamaan berubah menjadi *******.


Beberapa menit berlalu, Dina mendorong pelan tubuh Danial.


"Sudah mas, nanti cobra mas bangun" ucap Dina sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Terlambat sayang dia sudah bangun" bisik Danial.


"Astaga mas sih" ucap Dina sambil memukul lengan Danial.


"Sakit, pukulan mu sakit sayang" rengek Danial.


"Lebay, pelan juga" ucap Dina.


"Kamu harus bertanggung jawab" ucap Danial.


"Bertanggung jawab apaan, itu hanya akal-akalan mas saja" ucap Dina sambil bangun dari tempatnya duduk.


"Sayang" rengek Danial sambil berusaha mencari keberadaan Dina.


Dina tak tega melihat Danial yang mencari keberadaannya, dia pun kembali duduk di samping Danial dan meraih tangan Danial.


"Aku harap setelah anak ini lahir kamu sudah bisa melihat mas, agar aku bisa pergi dengan tenang" ucap Dina dalam hati.


Dina masih bertekat untuk pergi sejauh mungkin setelah melahirkan nanti. Karena saat ini dia ada di sini karena perjanjiannya dengan Danial.


Entah Danial akan membiarkan dia pergi atau tidak, tapi demi menepati janjinya dia akan pergi dari kehidupan Danial sejauh mungkin.


Apakah dia tega meninggalkan bayi-bayinya nanti? entahlah tapi saat ini perasaannya benar-benar kacau.


Dia ingin semua ini segera berakhir, tapi di satu sisi perasaannya pada Danial perlahan mulai tumbuh.


Dina takut perasaannya nanti akan membuat dia tidak rela berpisah dengan Danial, tapi janji tetaplah janji. Dia tidak akan pernah mengingkari janjinya.


Kecuali Danial yang memintanya untuk tetap tinggal dan hidup bersamanya. Tapi Dina pikir itu tidak mungkin karena sampai saat ini dia belum pernah mendengar kata cinta keluar dari mulut Danial.


Karena itulah dia tidak berani mengatakan perasaannya pada Danial, dia terlalu takut. Terlalu takut jika dia mengutarakan perasaannya pada Danial dan ternyata Danial menolaknya.


Dan jika itu terjadi maka semuanya akan kacau, jadi Dina membiarkan semuanya berjalan apa adanya.


"Dina, Dina" panggil Danial


"Eh iya mas?"


"Kamu kenapa? kenapa diam saja?" tanya Danial.


"Tidak apa-apa mas" jawab Dina sambil tersenyum.


"Jangan terlalu memikirkan banyak hal" ucap Danial dengan lembut.


"Iya mas, aku tidak memikirkan apapun kok" ucap Dina sambil tersenyum, Dina selalu tersenyum pada Danial walaupun pria itu tidak akan bisa melihat senyumannya.


"Mas" panggil Dina.


"Iya? kamu mau sesuatu?" tanya Danial.


"Setelah mas keluar dari rumah sakit bisakah kita tinggal di vila nenek yang saat itu?"


"Kamu mau tinggal di sana?" tanya Danial.


"Iya mas, aku sedikit trauma tinggal di mansion" ucap Dina sambil menatap genggaman tangannya pada telapak tangan Danial.


"Baiklah, nanti mas akan bilang ke nenek" ucap Danial sambil mengusap lembut telapak tangan Dina.


"Terima kasih mas" ucap Dina


"Tidak perlu berterima kasih, semua keinginan mu akan mas penuhi asalkan masih bisa" ucap Danial.


"Iya mas"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2