
Kemudian dia meraih telapak tangan pria itu dan memberikan uangnya.
.
.
.
"Maafkan saya, uang ini untuk memeriksa kepala anda takutnya terjadi sesuatu karena koper saya. Koper saya agak berat" ucap Danial dengan wajah ramahnya.
Pria itu awalnya nampak kesal tapi setelah melihat tumpukan uang yang di berikan Danial dia langsung berubah 180 derajat.
"Ya ya tidak apa-apa, ini bukan di sengaja. Mau sekalian aku bawakan koper mu ini beratkan"
"Tidak, tidak usah terima kasih. Kalau begitu sampai jumpa" ucap Danial lalu dia pergi membawa kopernya.
Danial menatap kesal ke arah kedua orang yang bersembunyi dan hanya mengintip apa yang sedang terjadi.
"Bukannya membantu ku kalian malah bersembunyi" ucap Danial kesal lalu dia langsung melangkah pergi.
Dani tertawa sedangkan Dina hanya terkekeh pelan. Ini pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Danial, Dina tertawa.
Biasanya dia hanya akan menunjukkan raut wajah tak bersahabat saja.
"Bos tunggu, ayo nona Dina" ucap Dani pada Danial, lalu mengajak Dina.
"Iya" jawab Dina lalu mengikuti langkah kaki Dani.
Sekitar 14 jam mereka mengudara, akhirnya mereka bertiga sudah tiba di Sion Airport, Swiss.
Mereka keluar dari bandara, Danial masuk ke dalam mobilnya yang sudah siap di tempat parkir.
"Kita akan naik ini?" tanya Dina.
"Iya, bos sudah menyiapkan mobil ini untuk kita. Kita akan pergi ke penginapan dengan mobil ini" ucap Dani.
Dina menganggukkan kepalanya bersemangat karena ini pertama kalinya dia naik mobil Jeep sebagus itu.
Dan juga dia sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Danial menghidupkan mobil jeepnya lalu Dani melangkah hendak membuka pintu mobilnya. tapi belum sampai Dani menyentuh pintu mobilnya, Danial melajukan mobilnya meninggalkan mereka berdua.
Tangan Dani menggantung di udara dia tak menyangka Danial akan meninggalkan mereka berdua.
"Wah.. Lihat itu, bos anda sangat arogan" ucap Dina yang tak menyangka Danial meninggalkannya.
Hanya karena masih kesal kepada mereka berdua saat kejadian di bandara beberapa jam yang lalu.
"Nona Dina dia suami anda" ucap Dani.
"Tck, dasar arogan. Lalu kita akan naik apa?" tanya Dina yang sudah lelah.
"Saya akan pesan taxi" ucap Dani.
Beberapa jam kemudian.
Sesampainya di penginapan, Dina lagi-lagi di buat kagum. Sejak tadi di perjalanan saja dia sudah di buat kagum oleh pemandangannya dan sekarang setelah sampai di penginapan dia kembali kagum karena pemandangan di penginapan itu sangat indah tak jauh dari sana ada hamparan salju dan pohon-pohon yang tertutup salju.
Sesampainya di depan kamar Dina.
"Ini kunci kamar anda nona" ucap Dani menyerahkan kunci kamarnya.
"Terima kasih"
"Sama-sama, selamat beristirahat. Besok kita akan berkeliling" ucap Dani
"Baik"
Dina membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam setelah Dani pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu" ucap Danial setelah Dina masuk beberapa langkah.
"Ada apa?" ketus Dina.
Danial menerobos masuk ke kamar Dina
"Hei apa yang anda lakukan?!" teriak Dina menyusul ke dalam.
"Wah pemandangan di sini lebih Bagus ya" ucap Danial.
Dina mengerutkan keningnya, dia paham Danial punya maksud tertentu saat mengatakan itu.
Danial berbalik ke belakang dan menatap Dina.
"Bagaimana kalau kita berbagi kamar? aku mau tidur di sini" ucap Danial sambil tersenyum dengan penuh harap.
"Kalau begitu silahkan tidur di sini, saya akan ke kamar lain" ucap Dina dan langsung berbalik keluar dan menyeret kopernya.
"Eh eh tidak usah, kamu tinggal di sini saja" ucap Danial mengejar Dina.
Dina berhenti di depan pintu sambil menatap dingin ke arah Danial.
"Kalau begitu keluar, saya mau istirahat" ucap Dina.
"Baiklah" jawab Danial lalu keluar dari kamar.
Dina menyeret kopernya ke dalam kamar.
"Selamat malam" ucap Dina dengan wajah datarnya.
Brakkk
Dina menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah Danial. Hal itu membuat Danial sedikit terkejut.
Dina masih kesal pada Danial karena meninggalkannya di bandara, padahal dia mau naik jeep.
"Astaga dia semakin kasar" gerutu Danial.
Keesokan harinya.
Danial, Dina dan Dani berjalan di sekitar penginapan guna melihat lokasi untuk pemotretan.
Cuaca pagi itu cukup dingin, sekitar 19°.
Dina yang tak biasa berada di tempat sedingin itu pun terus menggosok-gosok telapak tangannya guna menghangatkan tubuhnya.
Walaupun tubuhnya sudah berbalut dengan jaket padding tebal tubuhnya masih saja kedinginan.
Danial yang sedang bicara dengan pemandu wisata yang mengarahkan mereka pun seketika mengalihkan tugasnya pada Dani saat melihat Dina kedinginan.
Danial melangkah ke belakang menghampiri Dina yang kedinginan. Danial mengeluarkan hotpack dari dalam kantong jaket paddingnya.
Danial meraih telapak tangan Dina lalu memberikan hotpack itu pada Dina, Dina yang terkejut karena tiba-tiba Danial meraih tangannya pun mendongak menatap Danial.
"Ini akan membuat mu hangat" ucap Danial dengan lembut.
"Terima kasih" ucap Dina dengan suara lembutnya. Ini pertama kalinya Dina bicara dengan lembut pada Danial setelah beberapa bulan bertemu kembali, biasanya Dina akan bicara dengan suara datarnya atau dengan suara kesalnya.
"Sama-sama" jawab Danial sambil tersenyum, dia sangat bahagia Dina mau menerima bantuannya.
"Setelah ini kita kembali ke penginapan, atau kalau kamu mau kita bisa kembali duluan biar Dani yang mengurus sisanya" ucap Danial.
"Tidak, nanti saja" ucap Dina.
"Baiklah"
"Bos" panggil Dani.
"Ya?"
"Kemarilah sebentar"
__ADS_1
"Ya" jawab Danial, lalu dia melangkah menghampiri Dani di ikuti Dina di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Danial.
"Sepertinya lokasi ini tidak bisa di pakai"
"Kenapa?" tanya Danial.
"Terlalu bahaya karena sedang musim salju, sering terjadi longsor salju"
"Kalau begitu tidak usah di pakai, kita cari tempat baru saja yang bisa di pakai lusa" ucap Danial.
"Baik" jawab Dani.
"Kapan yang lain datang?" tanya Dina.
"Perkiraan nanti malam atau besok pagi" jawab Dani.
Dina menganggukkan kepalanya.
Beberapa jam kemudian.
Di penginapan.
Tok tok
Danial mengetuk pintu kamar Dina.
Tok tok
"Kemana dia?" tanya Danial.
Tok tok
"Dina, kamu di dalam? ayo keluar waktunya makan malam" panggil Danial.
Tok tok
Karena tak mendengar sahutan dari dalam sana, Danial membuka pintu kamar Dina.
"Tidak di kunci" gumam Danial.
Ceklek
"Dina" panggil Danial.
Danial masuk ke dalam kamar yang di tempati Dina
"Dina kamu kenapa?" tanya Danial khawatir saat melihat Dina meringkuk kesakitan di atas ranjangnya.
Danial langsung berlari ke arah Dina.
"Jangan sentuh saya" ucap Dina.
"Kamu kenapa?" tanya Danial sangat khawatir.
"Perut saya sakit sekali" ucap Dina sambil meringis kesakitan.
Danial duduk di samping Dina yang tengah meringkuk di atas ranjangnya.
"Kamu sakit apa?" tanya Danial tampak khawatir.
"Mules"
Danial mengerutkan keningnya tak paham.
.
.
.
__ADS_1