
"Baiklah, ayo" ucap Danial sambil menyuruh Dina naik ke punggungnya
.
.
.
"Saya bisa berjalan sendiri"
"Naiklah, aku ingin menggendong mu di punggung ku" ucap Danial
"Tapi saya berat"
"Tidak berat sama sekali, buktinya waktu kamu di atas ku saat kita main di kantor aku tidak merasa kamu berat kok" ucap Danial sambil terkekeh
Dina memukul pundak Danial, dia merasa sangat malu saat Danial mengungkit kejadian di kantor sebulan yang lalu dan mungkin saja saat itulah benih Danial mulai tumbuh di rahimnya.
"Ha ha ha ayo cepat naik, baby pasti sudah lapar"
"Baiklah" dengan segan Dina naik ke punggung Danial
Danial berdiri dengan Dina di punggungnya.
"Lihat kamu tidak berat kok, pegangan yang erat"
Dina melingkarkan kedua tangannya di leher Danial, Danial melangkah keluar dan turun ke lantai bawah.
Sesampainya di dapur Danial menurunkan Dina di meja kitchen set.
"Kamu tidak mualkan kalau mencium bau bumbu?" Tanya Danial
"Tidak tahu, tapi kalau mencium bau kulkas saya mual" jawab Dina
"Lalu bagaimana? ayamnya kan ada di kulkas"
"Tidak apa-apa jaraknya jauh" Ucap Dina
"Yakin?" Tanya Danial
"Iya"
1 jam kemudian
Ayam goreng buatan Danial sudah matang. Danial yang mengerjakan semuanya, Dina hanya mengawasi dan memberitahu cara memasaknya.
"Ini dia ayam goreng mu tuan putri" ucap Danial menyajikan ayam goreng buatannya pada Dina yang sudah bersiap menyantap sarapannya di meja makan.
Dina benar-benar menelan ludah saat melihat sepiring penuh ayam goreng di hadapannya.
"Boleh saya makan sekarang?" tanya Dina tidak sabar
"Tentu saja" jawab Danial sambil tersenyum
Dina mengambil sepotong paha ayam lalu memakannya.
"Bagaimana?" tanya Danial harap-harap cemas
"Emmm enak"
"Benarkah?"
"Emm" jawab Dina sambil mengangguk
Danial duduk di sebelah Dina, lalu dia mencicipi masakannya.
"Emmm ternyata enak" ucap Danial terkejut
Dina tersenyum pada Danial.
Danial menggeser piring berisi ayam gorengnya semakin dekat pada Dina.
"Makanlah yang banyak" ucap Danial sambil tersenyum
Dina menganggukkan kepalanya, lalu Dina hendak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Danial menahan Dina
"Mau ambil nasi" ucap Dina
"Duduklah biar aku yang ambil"
"Eh tidak perlu saya akan ambil sendiri"
"Duduklah, biarkan hari ini aku yang melayani mu"
"Tapi..."
Danial melangkah ke dapur dan mengambilkan Dina nasi, tak lama Danial kembali dengan sepiring nasi hangat.
"Ini" ucap Danial sambil meletakkan sepiring nasi di hadapan Dina
__ADS_1
"Terima kasih"
"Sama-sama"
"Nanti aku minta bayaran ku ya" bisik Danial di telinga Dina
"Bayaran? jadi tidak gratis nih?!" tanya Dina ngegas
"Tentu saja, siapa bilang gratis" ucap Danial usil
Dina melempar ayam goreng yang dia pegang kembali ke piring.
"Loh kok berhenti?" tanya Danial
"Sudah tidak mood" ucap Dina hendak pergi dari sana.
"Darling kok marah sih, aku cuma bercanda" ucap Danial menahan lengan Dina
"Lepasin" ucap Dina merajuk
"Maaf sayang aku cuma bercanda, lanjutkan makannya ya" bujuk Danial
"Tidak saya sudah kenyang"
"Jangan begitu dong, nanti aku ajak jalan-jalan mau tidak?" Bujuk Danial
"Jalan-jalan?" tanya Dina
"Iya, kamu mau kan?"
"Kemana?" tanya Dina
"Terserah kamu, kamu maunya kemana?" tanya Danial sambil tersenyum
"Saya mau beli es krim"
"Oke, tapi makan dulu ya... ayo duduk lagi"
Dina kembali duduk di tempatnya dan lanjut makan.
"Mudah sekali di bujuk" ucap Danial dalam hati
"Anda tidak makan?" tanya Dina saat dia tidak melihat Danial makan, tapi hanya melihat dirinya makan.
"Aku sudah kenyang kalau melihat mu kenyang" ucap Danial sambil tersenyum
"Gombal"
Kruukkk
"Ha ha ha sebaiknya anda makan saja, jangan gombal terus"
Danial menggaruk kepalanya sambil cengengesan. Dina menyodorkan sesendok nasi dan ayam goreng
"Anda tidak keberatan kan saya suapi?" tanya Dina
"Tentu saja tidak" jawab Danial sambil tersenyum lalu dia memakannya
Danial mengunyah makanannya sambil tersenyum manis ke arah Dina.
Malam harinya
Dina dan Danial sudah siap pergi jalan-jalan, awalnya mereka akan pergi sore hari. Tapi Dani menghubungi Danial dan mengatakan ada meeting mendadak.
Danial yang tidak bisa meninggalkan Dina sendirian di apartemen pun melakukan meeting secara online.
"Sudah siap?" tanya Danial
"Iya" jawab Dina sambil mengangguk
"Ayo kita berangkat"
30 menit kemudian mereka sudah sampai di kedai Gelato. Danial memarkirkan mobilnya di depan kedai Gelato.
"Ayo turun" ucap Danial pada Dina
Dina menganggukkan kepalanya, lalu dia membuka sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil.
Seperti biasa di saat mereka keluar bersama, mereka akan menggunakan masker agar tidak ada yang mengenali mereka berdua.
Danial dan Dina masuk ke dalam kedai Gelato, tempat itu lumayan besar. Sesampainya di depan deretan gelato mata Dina langsung berbinar.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pekerja di kedai gelato itu.
"Sebentar mas" ucap Danial
Mas-mas itu mengangguk ramah.
"Kamu mau pesan rasa apa?" tanya Danial pada Dina
"Rasa coklat" ucap Dina sambil menatap wajah Danial
__ADS_1
"Gelato rasa coklat 1 dan rasa mint 1" ucap Danial
"Baik, mau pakai cone atau tidak kak?"
"Pakai cone" ucap Dina
"Baik"
Pelayan kedai itu pun langsung membuatkan pesanan Dina.
"Kamu mau rasa apa lagi?" tanya Danial
"Boleh?" tanya Dina
"Tentu saja" jawab Danial sambil tersenyum
"Kak, gelato yang best seller di sini apa saja?" tanya Dina
"Banyak kak, ada sepuluh rasa" jawab teman pekerja yang tadi.
"Tolong bungkus semuanya yang best seller, cup ukuran Big" ucap Danial
"Baik"
Dina menatap terkejut pada Danial.
"Kenapa?" tanya Danial
"Terlalu banyak" ucap Dina
"Tidak apa-apa kan bisa di simpan di freezer, takutnya nanti kamu tiba-tiba pengen es krim. Kalau aku ada di apartemen tidak apa-apa kita langsung berangkat beli, tapi kalau nanti aku sedang di kantor atau sedang ke luar kota kan enak kamu tinggal ambil di kulkas" ucap Danial
"Benar juga" ucap Dina sambil mengangguk
Tak lama kemudian
"Ini pesanannya kak" ucap pria yang melayani pesanan mereka sambil memberikan gelato milik Dina, lalu milik Danial.
15 menit kemudian pesanan mereka sudah lengkap.
"Tunggu di sini dulu ya, aku bayar dulu" ucap Danial
"Iya" jawab Dina sambil mengangguk
Danial bangun dari duduknya lalu melangkah ke kasir. Sedangkan Dina sedang sibuk memakan gelatonya yang sudah dia pesan untuk kedua kalinya.
Gelato pertama sudah Dina habiskan dan Danial memesankan satu lagi untuk Dina dengan rasa berbeda.
Beberapa menit kemudian
"Ayo" ajak Danial
"Emmmm" jawab Dina sambil mengangguk
Dina mengambil paper bag besar berisi Gelato yang di bungkus. Danial mengambil alih paper bag yang di bawa Dina.
"Biar aku yang bawa"
"Iya"
Mereka keluar dari kedai gelato setelah memborong banyak. Dina melangkah sambil memakan gelato rasa Vanila miliknya, lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah Danial bukakan.
Tak lama Danial sudah duduk di balik kemudi, dia memasang sabuk pengaman Dina karena Dina tak memakainya saking sibuknya dengan gelatonya.
"Kamu ini, pakai dulu sabuknya" omel Danial sambil memasang sabuk pengaman Dina
"Lupa" ucap Dina sambil terkekeh
"Dasar" ucap Danial sambil menggelengkan kepalanya
"Anda mau?" tawar Dina
Danial membuka maskernya lalu membuka mulutnya, Dina mendekatkan gelato miliknya ke mulut Danial.
"Aaaa...." Dina mendekatkan gelato miliknya ke mulut Danial.
"Aaaaauuummm...." bukannya menyuapi Danial, Dina justru membalik arah gelatonya pada mulutnya lalu memakannya.
Danial yang merasa di kerjai seketika memasang wajah datarnya sambil menatap Dina dengan tatapan tajam.
Dina tertawa lalu dia kembali mengarahkan kembali gelatonya pada Danial, tak mau tertipu dua kali Danial justru menyerang bibir Dina.
Cup
Dina yang mendapat serangan dari Danial tercengang dengan mata yang melotot pada Danial.
Sedangkan Danial tersenyum menang lalu dengan cepat Danial menggigit gelato milik Dina yang ada di tangan Dina.
Danial tersenyum mengejek ke arah Dina, Dina pun menyipitkan matanya seolah-olah mengatakan bahwa Danial curang. Danial tertawa terbahak-bahak.
.
__ADS_1
.
.