
"Rem mobil papa blong dan mobil masuk ke jurang kemudian meledak. Kakak yang saat itu masih berduka karena kepergian orang tua kami pun sangat terpukul karena melihat dengan mata Kepala sendiri istrinya sedang menikmati permainan bersama pria lain di kamar mereka"
.
.
.
"Saat itu di rumah sedang tidak ada orang, kakak yang merasa tidak enak badan pulang dari kantor dan memergoki mereka. Semua rencana pasangan bejat itu terbongkar saat itu juga"
"Kakak merasa sangat terpukul, dia menceraikan istrinya detik itu juga. Tapi setelah itu kakak benar-benar menderita. Belum habis kesedihannya karena kehilangan orang tua kami dan di tambah istrinya yang mengkhianatinya"
"Berbulan-bulan kakak tidak ke kantor karena depresi berat, keadaan kantor juga semakin kacau karena tidak ada pemimpin"
"Dan aku yang saat itu tidak pernah terjun langsung ke perusahaan pun terpaksa menggantikan kakak sebagai pemimpin"
"Perusahaan kami di ambang kebangkrutan, susah payah aku menyelamatkan perusahaan kami"
"Dan dalam beberapa bulan perusahaan kembali normal. Tapi saat itu juga kakak pun meninggal"
Flashback
Danial yang pulang dengan hati senang pun mencari kakaknya, dia ingin memberitahu berita baik pada kakaknya.
"Kakak" panggil Danial mencari kakaknya.
"Kemana kakak? Nenek dimana kak Daniel?" tanya Danial pada neneknya yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Barusan Daniel naik ke kamarnya setelah selesai makan"
"Aku akan menemui kakak dulu nek" ucap Danial
"Iya"
Danial pun melangkah naik ke lantai atas menuju kamar kakaknya.
Tok tok
"Kakak" panggil Danial
Tok tok tok
"Kak"
Danial meraih gagang pintu kamar kakaknya.
"Di kunci? biasanya kakak tidak pernah mengunci pintunya"
Tok tok tok
"Kakak buka pintunya" teriak Danial
Tok tok tok
"Ada apa Danial?" tanya nenek Dharma yang mendengar keributan di lantai atas
"Kakak mengunci kamarnya nek, dia tidak membuka pintunya" ucap Danial panik
Nenek pun ikut panik.
Tok tok
"Daniel buka pintunya nak!"
"Kakak buka pintunya!"
"Kunci, dimana kunci cadangannya nek?" tanya Danial
"Di lemari nenek"
Danial segera mengambil kunci cadangannya di kamar neneknya. Tak lama kemudian Danial kembali dengan terburu-buru dia membuka pintu kamar kakaknya.
Brakk
Pintu kamar terbuka.
"Kakak!"
"Daniel!!"
Mereka berlari menghampiri Daniel yang tergeletak lemas di ranjangnya dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.
Danial segera menelpon ambulans.
"Daniel" panggil nenek sambil menangis, dia memangku kepala cucunya.
__ADS_1
Daniel yang masih memiliki kesadaran pun tersenyum ke arah neneknya.
"Ne...nek maafkan Daniel nek"
"Kenapa kamu melakukan ini nak, hiks"
"Kakak" Danial menghampiri kakaknya setelah menelpon ambulans.
Danial mencoba menghentikan darah yang mengalir dari tangan kakaknya dengan membalutnya dengan kain.
Tangan Daniel terulur ke arah adiknya, Danial menggenggam tangan kakaknya yang berlumuran darah.
"Ma...maafkan kakak ka..rena sudah menyusahkan mu" ucap Daniel sambil tersenyum.
"Tidak kak tidak, aku tidak akan memaafkan kakak. Jangan tinggalkan kami" ucap Danial sambil menangis.
Daniel tersenyum.
"Maaf Danial... tapi kakak benar-benar sudah tidak sanggup lagi..."
"Tidak kak jangan bicara seperti itu, perusahaan sudah kembali normal kita bisa mengelolanya bersama dan untuk urusan perempuan itu sudah aku bereskan seperti yang kakak minta"
Daniel tersenyum "Terima kasih, Kakak lega mendengarnya"
"Jika kakak berterima kasih maka bertahanlah kak" ucap Danial dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Daniel menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kakak jangan tinggalkan Danial kak" ucap Danial sambil menangis.
"Hiduplah bahagia Danial, dan kakak titip nenek....pada...mu"
"Tidak kak tidak, hiks hiks"
"Nenek...maafkan Daniel, nenek jangan sedih. Pukul saja Danial ji...ka dia....nakal" ucap Daniel sambil tersenyum.
Nenek menangis sambil mengangguk.
"Adik ku carilah perempuan yang baik, dan pilihlah dengan perlahan jangan gegabah seperti kakak"
"Hiks hiks" Danial menggenggam tangan kakaknya.
Perlahan kesadaran Daniel mulai berkurang
"Kakak kakak!!"
"Tolong kakak saya, dia masih bernafas" ucap Danial
Tim medis segera melakukan pertolongan pertama. Lalu mereka membawa Daniel menuju rumah sakit.
Di dalam ambulans Danial tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat keadaan kakaknya.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Tim medis bergerak cepat.
1 jam kemudian
Dokter yang menangani Daniel keluar dari ICU.
"Bagaimana keadaan kakak ku dok? dia baik-baik saja kan?" tanya Danial
Dokter menunduk kemudian menggelengkan kepalanya.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan tuan muda Daniel, saya turut berduka cita" ucap dokter itu
"Apa maksud mu dokter!!!" Teriak Danial dia manarik Krah baju dokter yang ada di depannya.
"Danial tenanglah nak" ucap nenek Dharma
"Kakak ku tidak mungkin pergi! cepat selamatkan dia!!" teriak Danial
"Kami sudah berusaha sekuat kami, maafkan kami"
Danial melepas Krah baju dokter dengan kasar.
Danial menggila.
"Tidak!! Tidak mungkin!!!" Teriak Danial
Nenek Dharma menangis dia memeluk Danial.
"Tidak mungkin nek, kakak tidak mungkin meninggalkan ku hiks hiks"
Flashback End
Dina yang mendengar cerita Danial pun tak bisa menahan tangisnya, air matanya sudah mengalir deras.
__ADS_1
Danial menatap wajah istrinya dengan mata yang tak kalah basah. Ini pertama kalinya dia menceritakan masa lalunya pada orang lain.
Danial mengusap dengan lembut air mata yang mengalir di wajah Dina.
"Kenapa menangis begitu?" tanya Danial mencoba untuk tersenyum
Dina menatap wajah Danial.
"Anda pasti sangat menderita hiks hiks"
"Semuanya sudah berlalu" ucap Danial sambil tersenyum.
Dina memeluk Danial.
"Ternyata penderitaan anda jauh lebih sulit dari pada saya, huaaaaa" Dina menangis di pelukan Danial.
Danial terkekeh dia mengusap lembut punggung Dina yang menangis di pelukannya.
"Cerita hidup anda jauh lebih menyakitkan, tapi hampir sama dengan cerita hidup saya. Sama-sama menyesakkan di dada" ucap Dina dalam hati.
"Hiks hiks"
"Sudah jangan menangis nanti baby ikut sedih" bujuk Danial
Dina menghentikan tangisnya dan melepas pelukannya. Danial mengusap kedua pipi Dina.
Beberapa menit kemudian.
"Di mana kotak obatnya" tanya Dina dengan suara seraknya
"Untuk apa?" tanya Danial
"Mengobati wajah anda, saya tidak mau wajah anda berubah menjadi jelek" ucap Dina sambil mengusap bekas air matanya.
Danial terkekeh.
"Kamu mengejek ku" ucap Danial sambil mencubit kedua pipi Dina.
"Sakit..." rengek Dina
Danial tertawa pelan, Danial melepaskan cubitannya lalu dia membuka laci nakas yang ada di dekat tempat tidur dan mengambil kotak obat.
"Ini" Danial menyerahkan kotak obatnya
"Kamu tahu cara mengobati?" tanya Danial
"Tentu saja" jawab Dina sambil membuka kotak obatnya dan mulai mengobati wajah Danial.
"Hisss pelan-pelan perih" ringis Danial
"Ini sudah pelan kok" ucap Dina
"Hisss..."
Dina meniup pelan luka di wajah Danial untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Hurrfff"
"Sudah, yang di wajah sudah di obati. Bagian mana lagi yang perlu saya obati?" tanya Dina
Danial membuka kemejanya dan memperlihatkan lebam di tubuhnya.
"Di sini"
Dina menatap ngeri lengan lebam Danial.
"Hiss sakit sayang..." Ucap Danial saat Dina menyentuh lebam di lengannya.
"Maaf" ucap Dina lalu dia mengobati lengan Danial.
"Apa nenek memang sekuat itu?" tanya Dina yang masih mengobati Danial.
"Emm dulu nenek atlet gulat" ucap Danial
"Apa!!" teriak Dina terkejut, Dina tak sengaja menekan luka lebam Danial.
"Argghh sakit Dina!!" teriak Danial
"Ah maaf saya tidak sengaja"
Danial menatap kesal ke arah Dina.
.
.
__ADS_1
.