
Dia tahu bahwa bosnya itu sepertinya tertarik pada perempuan muda bercadar itu, dan dia mendukung hubungan mereka walaupun tak mengatakannya. Dia pikir mereka berdua sangat cocok.
.
.
.
"Baiklah terserah anda saja nona cantik, kalau begitu apa rapatnya sampai di sini saja?" tanya Miss Dylan.
Semua orang menoleh ke arah Danial.
"Ehmm ya sampai di sini saja, kalian bisa bubar" ucap Danial dengan wibawanya.
Miss Dylan tersenyum, walaupun tadi dia sibuk tapi dia tahu bahwa netra bosnya itu terus menatap Dina.
Semua orang mulai bubar, di ruangan itu hanya tersisa Dina yang sedang membereskan barang-barangnya dan Danial yang sibuk menatap Dina.
Dina berusaha cuek dan tak peduli pada Danial.
Beberapa saat kemudian Dina sudah selesai, lalu dia menghadap ke arah Danial dan pamit undur diri.
"Saya permisi dulu" pamit Dina lalu melangkah pergi.
"Tunggu dulu" ucap Danial.
Dina berbalik.
"Ya ada apa?" tanya Dina.
"Malam ini kamu ada waktu?" tanya Danial yang masih duduk di kursinya.
"Tidak ada, permisi" jawab Dina dan langsung pergi.
"Hahh..." Danial menghela nafas panjang.
Di ruangan lain.
"Mr. Dylan" panggil Dina.
"Ya ada apa?" tanya Miss Dylan.
"Apakah ada sisa kain? saya mau membuat beberapa sample" ucap Dina.
"Butuh berapa meter?" tanya Miss Dylan.
"Sedikit saja, saya mau membuat ornamen di bagian ini dulu" ucap Dina sambil menunjuk desain di tangannya.
"Ohhh, di gudang kain ada banyak kain. Anda bisa memilihnya sesuka anda"
"Di sebelah mana gudangnya?" tanya Dina.
"Mari saya antar"
"Baik, terima kasih"
"Sama-sama, ayo" ucap Miss Dylan.
Mereka pun melangkah ke gudang kain, 2 menit kemudian mereka pun tiba.
Miss Dylan menempelkan id card yang tergantung di lehernya di kunci sensor pintu gudang lalu membuka pintu gudang itu kemudian menghidupkan lampunya.
"Ini tempatnya"
Dina nampak terpukau, di sana berbagai macam kain ada.
"Apa ini handmade semua?" tanya Dina sambil melihat beberapa kain.
"Ya begitulah" jawab Miss Dylan bangga.
__ADS_1
"Wahhh menakjubkan, ini pertama kalinya saya melihat kain-kain sebanyak ini. Ini pasti sangat mahal" ucap Dina.
"Tentu saja, Mr. Danial mengeluarkan banyak tenaga dan uang untuk mendapatkan itu semua"
Dina mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Anda bisa pilih yang anda mau, saya tinggal dulu ya masih banyak pekerjaan"
"Iya Mr, silahkan"
Miss Dylan pun tersenyum lalu pergi dari sana, di perjalanan dia berpapasan dengan Danial.
"Mr. Danial anda cari siapa?" tanya Dylan.
"Tidak, saya tidak cari siapa-siapa" jawab Danial dengan dinginnya.
Miss Dylan pun menutup mulutnya dan terkekeh dengan sangat anggunnya.
"Nona Reeha ada di gudang kain, anda bisa ke sana. Dia sendirian" bisik Miss Dylan di akhir kalimatnya.
"Siapa bilang saya cari dia" tanya Danial.
"Sudahlah tidak perlu malu begitu" ucap Miss Dylan.
"Wah anda semakin berani ya" ucap Danial dengan nada penuh ancaman.
"Saya permisi dulu, selamat bersenang-senang" ucap Miss Dylan lalu langsung pergi.
Danial menganga, dia nampak terkejut dengan keberanian Dylan. Padahal setahu dirinya Miss jadi-jadian itu sangat takut padanya.
"Jatuh sudah wibawa ku di hadapannya" gerutu Danial sambil menatap Miss Dylan yang berjalan melenggak-lenggok.
"Hehh bodo amat, sebaiknya aku menemui Dina saja" ucap Danial lalu melanjutkan langkahnya menuju gudang kain.
Sesampainya di gudang, Danial berdiri di ambang pintu sambil menyandarkan tubuhnya di sana.
Danial menatap Dina yang sibuk dan tak menyadari keberadaannya.
Danial melangkah menghampiri Dina.
"Sedang apa?" tanya Danial.
"Tidur" jawab Dina sambil menggunting kain di atas meja.
Danial tertawa pelan.
"Kamu semakin pintar bercanda ya" ucap Danial.
Dina tak menjawab dan mengabaikan Danial.
Dina menggulung kembali sisa kain yang baru saja dia gelar di atas meja. Kemudian Dina mengembalikan ke tempat semula.
Lalu Dina kembali menggelar kain lain di atas meja kemudian mengguntingnya.
"Dina bisa tidak buatkan aku baju, aku ingin pakai baju buatan mu" ucap Danial.
"Tidak bisa"
"Kenapa?" tanya Danial.
"Saya sibuk" jawab Dina.
"Kalau sudah tidak sibuk bisa tidak?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Saya terlalu malas" jawab Dina lalu melangkah dan mengembalikan sisa kainnya.
__ADS_1
"Hahh... pelit sekali" ucap Danial.
Dina masih saja mengabaikan Danial, dia melangkah dan mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di depan sebuah rak.
Dina naik ke atas kursi dan berusaha meraih gulungan kain yang tersimpan di rak paling atas.
Danial menghampiri Dina dan membantu Dina mengambil gulungan kain itu.
Tapi Dina yang terkejut saat Danial tiba-tiba ada di sampingnya dan mengambil gulungan kain itu pun berdiri tak seimbang di atas kursi.
"Arghhh" teriak Dina saat merasa dirinya akan jatuh ke lantai.
Dengan cepat Danial menangkap tubuh Dina sebelum mendarat di lantai.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Danial khawatir.
Dina membuka kelopak matanya saat tidak merasakan sakit. Mereka berdua saling bertatapan selama beberapa menit.
Perlahan wajah Danial mendekat ke arah Dina, dia berniat mencium Dina. Dina yang sadar akan hal itu pun langsung mendorong wajah Danial dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Pelit sekali" cibir Danial.
Dina menatap tajam Danial.
"Satu kecupan saja sebagai imbalan" ucap Danial memelas.
"Jangan harap!" jawab Dina dan langsung mengambil gulungan kain yang sudah di ambilkan Danial.
Dina melangkah ke meja potong dan segera memotong kain itu. Setelah itu Dina meletakkan kembali gulungan kain itu.
Tapi karena tak sampai, Danial pun mengambil alih gulungan itu kemudian meletakkannya.
"Mr. Danial yang terhormat, bantuan yang tidak di minta itu beban" omel Dina.
"Astaga anak ini, aku sudah membantu mu tapi ini yang aku dapatkan?" tanya Danial.
"Kenapa kamu marah? aku hanya mau membantu mu" ucap Danial.
"Tck bukankah sudah saya katakan bantuan yang. .."
"Yang tidak di minta itu beban, ya aku sudah dengar yang kamu katakan" potong Danial.
"Lalu kenapa anda masih di sini? pergilah" usir Dina.
"Wah lihat ini, 5 tahun berlalu dan kau semakin berani ya..." Ucap Danial sambil menarik sudut bibirnya.
Lalu dia melangkah mendekati Dina kemudian berbisik.
"Istri ku Dina" lanjutnya.
Dina yang mendengar bisikan Danial membulatkan matanya. Danial menjauh lalu terkekeh saat melihat reaksi Dina.
"Kau terkejut?" tanyanya sambil terkekeh.
"Bukankah aku sudah bilang kamu masih istri ku" ucap Danial berbisik di depan wajah Dina.
Dina menatap tajam Danial.
Danial mengusap lembut kepala Dina lalu dia pergi dari sana meninggalkan Dina yang bengong.
"Ya 5 tahun berlalu dan anda masih saja menganggap saya istri anda, kenapa? kenapa anda tidak lupakan saja saya" gumam Dina dengan mata berkaca-kaca.
Dina mengusap air matanya yang menetes lalu dia melangkah ke meja dan membawa kain-kain yang sudah dia potong.
Sebelum keluar dari sana, Dina mematikan lampu di sana terlebih dahulu. Lalu pergi dari sana setelah menutup pintu.
.
.
__ADS_1
.