
Dia pikir Dara sudah terpengaruh pengaruh budaya luar.
.
.
.
Dani hendak melepaskan diri, namun Dara yang mengetahui apa yang akan di lakukan Dani pun segera melingkarkan kedua kakinya di pinggang Dani.
Dia meringis saat melakukan itu, karena miliknya terasa perih.
"Dara!" protes Dani.
"Lanjutkan saja Dani, semuanya sudah terjadi" ucap Dara pasrah.
"Tapi..."
"Kamu melepaskannya pun akan percuma, kamu sudah mengambilnya. Aku ikhlas Dani asalkan itu kamu, lakukanlah" ucap Dara pasrah.
Dani langsung memeluk Dara.
"Maafkan aku" lirih Dani.
Dara menganggukkan kepalanya sambil memeluk leher Dani.
"Bergeraklah, jika tidak aku yang akan memimpin" ucap Dara sambil terkekeh pelan.
Dani tersenyum, kemudian dia mengecup kening Dara lagi dan mulai bergerak perlahan.
Dani menahan tubuhnya dengan kedua lengannya agar tak menimpa tubuh Dara. Dia menatap wajah Dara yang meringis kesakitan sekaligus sangat menikmati setiap gerakan yang dilakukan dirinya.
Beberapa menit kemudian.
"Dani a...aku..."
"Lepaskan saja" bisik Dani.
"Arghhh" teriak Dara.
"Sekarang giliran ku" bisik Dani dan langsung bergerak.
"Daniiiii...." teriak Dara.
"Ughh kamu benar-benar... baby" racau Dani.
***
Keesokan harinya.
Pukul 9 pagi.
Dani yang tengah tidur nyenyak menggeliat karena terganggu dengan sesuatu yang menggelitik bagian tubuhnya.
"Hissss" ringis Dani
"Dara! apa yang kamu lakukan?" ucap Dani terkejut.
"Tadi aku tidak sengaja menyentuhnya dan dia bangun" ucap Dara sambil menggenggam tongkat baseball Dani.
Dani mengusap kasar wajahnya.
Lalu dia bangun dan menopang tubuhnya menggunakan kedua lengannya.
"Lalu kenapa kamu menggigitnya?" tanya Dani sambil menatap Dara.
"Aku gemas karena dia tidak mau tidur" ucap Dara sambil menatap Dani.
"Kalau masih mau katakan saja" ejek Dani sambil tersenyum miring.
Dara beranjak dari bawah sana lalu mengecup pipi Dani.
Cup
Dani membulatkan matanya.
"Daddy mau lagi" ucap Dara.
"Memangnya tidak sakit?" tanya Dani sambil menatap wajah Dara.
"Sedikit" jawab Dara sambil menatap wajah Dani.
"Kalau begitu tidak usah, lain kali saja" ucap Dani lalu hendak beranjak.
"Emmm" rengek Dara sambil menahan Dani.
__ADS_1
"Kenapa hmmm?" tanya Dani sambil menatap lembut Dara.
"Dara mau lagi Daddy" ucap Dara dengan manja.
"Sejak kapan kamu menjadi seperti ini Dara?" tanya Dani sambil mengecup lembut pipi Dara.
"Sejak semalam" bisik Dara di telinga Dani.
Dani terkekeh pelan.
Semalam mereka benar-benar gila.
"Kamu pasti masih sakit, kita lakukan lain kali saja ya" ucap Dani.
"Tidak mau! aku maunya sekarang!" desak Dara, lalu dia meraih wajah Dani dan langsung menciumnya.
2 jam kemudian.
"Arhhh..!! keluarkan di dalam saja" ucap Dara.
"Bagaimana kalau kamu ha...?" tanya Dani sambil mencoba menahan agar tidak keluar.
"Kamu harus menikahi ku ah...." ucap Dara
"Baiklah" jawab Dani.
Dan...
"Arghhhhh!" teriak keduanya.
Dani menyirami rahim Dara. Mereka pun tumbang, Dani menimpa tubuh Dara.
"Dani berat" keluh Dara.
"Maaf" ucap Dani lalu mengecupi punggung Dara, lalu dia melempar tubuhnya ke samping Dara.
Dani menarik tubuh Dara ke dalam pelukannya.
"Dani, kenapa kamu setuju keluar di dalam?" tanya Dara.
"Karena dari awal aku sudah berniat menikahi mu" jawab Dani.
"Kenapa?" tanya Dara sambil mendongak menatap Dani.
"Karena aku sudah merusak mu" ucap Dani sambil menatap wajah Dara.
"Kamu bisa menganggapnya begitu, tapi aku lebih suka ini dari pada diri mu. Sangat lezat" ucap Dani sambil menunjuk ke bawah dan menjilat bibir bawahnya.
Dara memukul dada bidang Dani.
Dani tertawa.
"Jangan tertawa" ucap Dara.
Dani memeluk tubuh Dara dengan erat.
"Aku serius kamu benar-benar menggigit" bisik Dani.
"Ya ya terserah diri mu" ucap Dara tak peduli, dia tahu Dani hanya menjahilinya.
Dani tertawa pelan, lalu dia mengecup kepala Dara kemudian mengecup keningnya.
Cup.
"Tidurlah kamu pasti lelah, nanti kita lanjut" ucap Dani.
"Apa!" teriak Dara terkejut sambil mendongak menatap Dani.
"Aku bercanda" ucap Dani sambil terkekeh. Lalu dia mendekap Dara.
"Tidurlah" ucap Dani.
"Kamu tidak kerja?" tanya Dara, karena sekarang hari selasa.
"Tidak" jawab Dani.
"Danial pasti akan memarahi mu" ucap Dara.
"Biarkan saja, aku ingin menikmati malam pertama ku dengan mu" jawab Dani sambil tersenyum.
Dara memukul dada Dani.
"Awww"
"Apanya malam pertama, sekarang sudah siang. Sana berangkat" usir Dara.
__ADS_1
"Tidak mau" tolak Dani.
Drttt drrttt
Dara menoleh ke nakas.
"Ponsel mu, itu pasti Danial" ucap Dara.
"Biarkan saja" jawab Dani.
"Ihh.." Dara melepaskan pelukan Dani lalu dia mengambil ponsel Dani.
"Eh bukan milik mu" ucap Dara.
Drrttt drrttt.
Dara menoleh ke ponselnya, dan mengambil ponselnya. Dara membulatkan matanya saat melihat sebuah pesan masuk.
"Gawat!" ucap Dara
"Kenapa?" tanya Dani yang melihat Dara.
"Papa, papa dan mama ada di depan!" teriak Dara
"APA!" teriak Dani, dia langsung bangun.
Mereka pun langsung turun dari ranjang.
"Aku pakai apa? pakaian ku masih di kamar mandi" ucap Dani panik.
"Pakai apa saja Dani" ucap Dara panik.
Ding dong
Suara bel pun terdengar, kedua anak manusia itu semakin panik.
Dani berlari ke arah kamar mandi, dia memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai kamar mandi.
Pakaiannya ternyata sudah kering dengan sendirinya, Dani langsung memakai pakaiannya.
Sedangkan Dara mengambil pakaian baru di lemarinya. Dan langsung memakainya. Dara sedikit meringis saat memakai celananya karena masih sedikit nyeri.
Dani keluar dari kamar mandi setelah memakai kembali pakaiannya, pakaiannya nampak sangat mengenaskan.
Sebelumnya Dani tidak pernah memakai pakaian sekusut itu.
Tiba-tiba
Ceklek.
Pintu kamar terbuka.
"Mama!" teriak Dara.
Mama Dara sangat terkejut saat melihat putrinya bersama seorang pria di dalam kamar.
Mereka berdua terlihat sangat berantakan.
Mama Dara melihat ke sekeliling kamar putrinya, kamar itu sangat berantakan. Di setiap sudut kamar itu terdapat bekas pertempuran mereka tadi malam dan barusan.
"Cepat pakai pakaian kalian, kami tunggu di bawah" ucap mama Dara dengan suara dinginnya.
Brakkk
Mama Dara menutup pintu dengan keras.
"Mampus" ucap Dara.
"Kita di gerebek" lanjut Dara, dia sangat terkejut saat mamanya tiba-tiba membuka pintu dan memergoki mereka berdua.
Dani benar-benar terkejut, dia bakan masih mematung. Beruntung sebelum mama Dara membuka pintu dia sudah memakai pakaiannya.
Glek
Dani menelan salivanya dengan susah payah lalu menoleh ke arah Dara.
"Tidak apa-apa aku akan bertanggung jawab" ucap Dani menenangkan Dara, padahal dirinya sendiri juga harus di tenangkan.
Tak lama kemudian mereka pun keluar dari kamar.
Papa Dara yang emosi saat mengetahui apa yang terjadi pun langsung menghajar Dani.
Setelah pembicaraan panjang mereka berdua pun di nikahkan hari itu juga, mereka bahkan mengadakan resepsi pernikahan di malam harinya.
.
__ADS_1
.
.