Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Sejak Kamu Meninggalkan Ku


__ADS_3

"Berani-beraninya mereka menyebut ku pria tua" gerutu Danial dengan wajah kesalnya.


.


.


.


Ya walaupun yang di katakan pegawainya itu benar, umurnya sekarang sudah hampir memasuki kepala empat. Tepatnya 38 tahun.


Sedangkan Dina hampir berusia 27 tahun dan ulang tahunnya sekitar 6 bulan lagi. Tapi wajah Danial tidak mencerminkan usinya sekarang.


Jika orang yang tidak tahu umur sebenarnya Danial maka mereka akan mengira Danial umur 30-an.


Dani hanya bisa terkekeh pelan melihat kekesalan Danial, Danial akan selalu kesal jika ada yang mengungkit tentang usianya.


Di dalam ruang meeting.


Dina sedang berbincang dengan bu Diah, meeting masih belum di mulai karena masih menunggu pemilik perusahaan itu datang.


Dina tidak tahu kalau meeting itu akan di hadiri oleh pemilik perusahaan, karena sebelumnya dia di beritahu hanya meeting dengan tim pemasaran saja.


"Tidak perlu gugup begitu nona Reeha, bos kami tidak gigit kok" ucap bu Diah mencoba membuat Dina tenang.


"Sebelumnya saya belum pernah rapat dengan para pemilik perusahaan, saya benar-benar gugup" ucap Reeha yang tak lain adalah Dina.


"Santai saja nona Reeha"


Dina menganggukkan kepalanya pelan.


"Hurrffff santai Dina" ucap Dina dalam hati.


Beberapa menit kemudian pintu ruang meeting di buka.


"Selamat pagi semuanya, maaf saya agak terlambat" ucap seorang pria yang masuk ke dalam ruang rapat.


"Selamat pagi Mr" sapa semua orang.


Semua orang yang ada di sana langsung berdiri dan menyambut pemilik perusahaan itu. Dan hanya Dina seorang yang masih duduk di tempatnya.


Dina yang mendengar suara orang itu pun membeku di tempat, jantungnya berdetak kencang, tubuhnya gemetar.


Apalagi saat mengingat pria itu pernah menculiknya beberapa hari yang lalu dan juga memaksa dirinya.


"Tidak mungkin" ucap Dina dalam hati.


Dina berusaha untuk tetap tenang.


Pria yang di panggil Mr itu melirik ke arah Dina yang masih duduk di tempatnya dengan pandangan yang seolah-olah di buat bingung, padahal dia tahu apa yang sedang di rasakan Dina. Yaitu terkejut sekaligus takut.


Bu Diah mencerna apa yang sedang terjadi. Lalu dia membuka suara.


"Ah nona Reeha ini pemilik perusahaan kami, Mr. Danial" ucap bu Diah pada Dina.


"Mr. Danial, Ini Nona Fareeha pemilik DD LIVE" ucap bu Diah memperkenalkan Dina pada Danial.

__ADS_1


Sungguh lucu sekali. Sepasang suami istri di perkenalkan satu sama lain, oleh orang lain.


Entah bagaimana reaksi orang-orang jika tahu mereka adalah suami istri yang sudah lima tahun tak bertemu.


Bahkan mereka sudah memiliki dua anak. Orang-orang akan sangat terkejut jika tahu yang sebenarnya.


Dina bangun dari tempatnya. Perlahan dia mendongak menatap ke arah Danial.


"Sial, sungguh dia" ucap Dina dalam hati setelah melihat wajah Danial.


"Selamat pagi senang bertemu dengan anda" ucap Danial sambil mengulurkan tangannya ke depan dan tersenyum ke arah Dina.


Senyuman Danial membuat para karyawan merasa heran, karena baru kali ini mereka melihat ekspresi wajah bos mereka yang begitu ramah, selain wajah dinginnya.


Dina hanya mengatupkan kedua tangannya membalas sapaan Danial.


"Ah.." ucap Danial yang sadar akan situasi saat ini. Dia langsung menarik kembali uluran tangannya.


Hal itu membuat para karyawannya menahan senyuman mereka karena untuk pertama kalinya melihat bos mereka di cueki seorang perempuan.


"Silahkan duduk nona Fareeha" ucap Danial mempersilahkan Dina duduk.


Danial akan mengikuti permainan Dina yang pura-pura tidak mengenalnya. Padahal dia duluan yang melakukan itu.


Bukannya duduk Dina malah masih berdiri.


"Nona Reeha" panggil bu Diah.


Dina menoleh ke arah bu Diah.


Bu Diah terkejut mendengar ucapan Dina.


"Kenapa?" tanya bu Diah langsung berdiri.


"Maaf saya tidak bisa, permisi" ucap Dina lalu melangkah keluar.


Danial menarik sudut bibirnya, terlihat sangat menyeramkan di mata para karyawannya. Hal itu membuat para karyawannya seketika menjadi ketakutan.


Bu Diah yang melihat ekspresi wajah Danial pun langsung menyusul Dina.


"Nona Reeha tunggu sebentar" panggil bu Diah.


Danial bangun dari tempatnya kemudian keluar dari ruang meeting di ikuti Dani.


"Biar saya yang mengejarnya" ucap Danial menghentikan bu Diah yang mengejar Dina.


Bu Diah nampak terkejut "Baik" jawab bu Diah.


Dina masuk ke dalam lift, dengan cepat dia menekan tombol lift saat melihat Danial menyusulnya.


"Duhhh ayo cepat tutup" ucap Dina panik.


Pintu lift tertutup tapi sebelum pintu lift tertutup dengan sempurna tangan Danial sudah lebih dulu menghalangi pintu lift agar tidak tertutup.


Dina membulatkan matanya. Danial langsung masuk ke dalam lift kemudian menekan angka 20. Lift pun mulai naik.

__ADS_1


Dina hendak protes saat Danial menekan tombol lain.


"Kita bicara dulu" ucap Danial sebelum Dina mengeluarkan protesannya.


"Tidak!" ketus Dina dan hendak menekan tombol lantai dasar.


Tapi dengan cepat tangan Danial menahan tangan Dina. Dina menoleh ke arah Danial dengan mata melotot.


"Bicaralah dengan ku setelah itu kamu bisa pulang" ucap Danial.


"Bicara saja di sini" ucap Dina dengan nada suara ketus sambil melepaskan tangannya dari Danial.


"Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Danial.


"Saya sudah pamit" jawab Dina dengan cuek, dia berusaha untuk tetap tenang.


"Itu tidak profesional" ucap Danial.


"Terserah saya" jawab Dina.


"Hah..." Danial menghela nafas sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Lanjutkan kerja sama ini" ucap Danial.


"Tidak!" jawab Dina.


"Kamu tidak bisa sembarangan begitu, produk perusahaan ku akan launching dua minggu lagi. Kembalilah dan tanda tangani kontraknya" ucap Danial.


"Tidak! anda cari saja yang baru" jawab Dina cuek.


"Dina!" sentak Danial sambil menoleh ke arah Dina.


"Apa?!" jawab Dina tak kalah garang sambil menatap wajah Danial dengan nyalang.


"Lanjutkan kerja sama ini, tingkah laku mu ini sangat tidak profesional dan akan membuat tim pemasaran sangat kerepotan. Kesampingkan urusan pribadi" omel Danial.


"Tck" decak Dina sambil membuang muka ke arah lain, rasa takutnya tadi pada Danial seolah-olah lenyap begitu saja dan berganti rasa kesal.


"Ini salah mu sendiri, seharusnya kamu selidiki dulu orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan yang akan bekerja sama dengan mu" ucap Danial menyalahkan Dina.


Dina yang di salahkan pun tak terima.


"Ini salah anda, sejak kapan perusahaan anda bergerak di bidang kecantikan?" tanya Dina ketus.


Danial terkekeh.


"Sejak kamu meninggalkan ku" jawab Danial dengan santainya.


Danial sudah tidak marah lagi pada Dina sejak dia sudah melampiaskan kemarahannya pada Dina di tempat Fashion show saat itu dan beberapa hari yang lalu.


Tujuannya sekarang adalah mendekati Dina secara perlahan dan membawanya kembali.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2