Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Kucing Pemalu


__ADS_3

"Mimpi?" tanya Danial


.


.


.


Tangan Dina membuka kemeja Danial dengan cepat.


"Darling aku capek, jangan lagi" ucap Danial sambil menghentikan tangan Dina.


"Anda mikir apa sih, saya cuma mau lihat" ucap Dina menyingkirkan tangan Danial


Dina benar-benar terkejut saat melihat tubuh Danial penuh dengan tanda merah.


"Itu sungguh saya yang buat?" tanya Dina sambil menunjuk bekas merah di tubuh Danial dengan tangan gemetar.


"Kalau bukan kamu siapa lagi?" tanya Danial


"Tidak mungkin, saya kira itu cuma mimpi"


"Astaga Dina kalau cuma mimpi kenapa tubuh ku merah-merah begini, dan juga lihatlah keadaan mu sekarang" ucap Danial sambil menunjuk tubuh Dina


Dina menunduk melihat tubuhnya.


"Arrgghhh!" teriak Dina dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut


Danial tertawa


"Sekarang sudah percaya?" tanya Danial


"Berapa?" tanya Dina tak jelas


"Apa?" tanya Danial yang tak paham


"Berapa lama? berapa lama kita melakukannya?" tanya Dina


"6 jam" jawab Danial enteng


"6 jam?!" tanya Dina terkejut, dia bahkan sampai harus membuka kepalanya yang tertutup selimut.


"Emm 6 jam, kalau tidak percaya tanya saja pada Dani. Dia bahkan belum pulang sampai saat ini karena menunggu kita selesai"


"AAARRRRGGGHHHHHH!" teriak Dina sambil menutupi kembali seluruh tubuhnya dengan selimut.


Danial hanya tertawa melihat tingkah Dina.


"Sudahlah, sekarang kamu cepat mandi. Sudah malam, kita harus segera pulang" ucap Danial


Dina menurunkan selimutnya dari kepalanya, dia menatap wajah Danial dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa? tidak bisa jalan?" tebak Danial sambil terkekeh


"Perih" rengek Dina


"Ha ha ha" Danial tertawa


"Jangan meledek" ucap Dina kesal, Dia memukul lengan Danial


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Dani sudah menunggu di parkiran bawah tanah, tak lama Danial muncul.


"Loh dimana nona Dina, bos?" tanya Dani saat tak melihat keberadaan Dina.


"Tuh di belakang ku" ucap Danial sambil menunjuk ke arah Dina yang ada di belakang tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Dani saat melihat Dina bersembunyi di belakang Danial.


"Malu katanya" ledek Danial


Dani terkekeh pelan.


"Aw aw sakit, kok di cubit sih" ucap Danial saat Dina mencubit pinggangnya.


Dina tak menjawab sedikitpun, dia sibuk bersembunyi di balik punggung Danial.


"Tidak perlu malu nona Dina, bukankah hal seperti ini sudah biasa" ledek Dani sambil terkekeh


Danial tertawa mendengar ucapan Dani.


Bughh


"Aw kok aku lagi yang kena?" tanya Danial saat lagi-lagi dirinya di jadikan pelampiasan Dina.


"Yang meledek mu bukan aku, tuh Dani yang meledek mu seharusnya Dani yang di pukul" ucap Danial pada Dina


"Anda juga tertawa bersamanya, jadi sama saja" ucap Dina yang masih bersembunyi di balik punggung Danial. Kedua tangannya mencengkram kedua sisi jas Danial.


"Astaga, sudahlah kita pulang saja" ucap Danial sambil melangkah ke mobilnya di ikuti Dina yang masih menempel pada Danial.


Dani menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku Dina. Dani membuka pintu mobil untuk Danial dan Dina.


"Dina berhentilah bersembunyi, jika kamu bersembunyi terus bagaimana caranya kita pulang" ucap Danial sambil menoleh ke belakangnya


"Tidak bisa, kaki ku benar-benar lemas" ucap Danial


Danial menggendong paksa Dina lalu mereka masuk ke dalam mobil.


"Cepat berangkat Dan" ucap Danial pada Dani


"Baik" jawab Dani lalu dia menutup pintu mobil


Dani masuk dan duduk di balik kemudi dan mobil melaju pergi dari sana.


"Kamu tidak mau turun?" tanya Danial pada Dina yang masih duduk di pangkuannya sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Danial


Bukannya turun Dina malah semakin mengeratkan pelukannya pada leher Danial, dia semakin menyembunyikan wajahnya.


Danial tertawa


"Astaga dasar kucing pemalu" ucap Danial


Dina benar-benar tak sanggup menatap ke arah Dani, dia sangat malu karena dia ingat kelakuannya pada Dani tadi.


Bagaimana dengan Danial? tentu saja Dina malu mengingat kelakuan bi nalnya pada Danial.


Tapi dia tidak terlalu malu jika pada Danial karena Danial sudah sering menjamahnya. Tapi tidak dengan Dani, dia lebih malu pada Dani dari pada ke Danial.


Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah sampai di parkiran bawah tanah apartemen. Dani keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Danial.


"Dina" panggil Danial

__ADS_1


Danial menengok wajah Dina yang ada di pelukannya.


"Ternyata tidur" ucap Danial


Danial turun dari mobil dengan Dina di gendongannya, Dani menutup kembali pintunya mobilnya.


Mereka bertiga melangkah menuju lift, beberapa menit kemudian mereka tiba di lantai tempat apartemen mereka berada.


"Dani tolong masukkan kata sandinya" ucap Danial


Dani menekan kata sandi apartemen Danial, Dani tahu kata sandi Apartemennya. Pintu apartemen terbuka, lalu Danial melangkah masuk.


"Kamu istirahatlah Dan" ucap Danial pada Dani


"Baik bos, selamat malam"


"Emm terima kasih" ucap Danial


"Sama-sama bos, kalau begitu saya permisi"


"Emm"


Dani menutup pintu apartemen Danial lalu dia melangkah ke pintu apartemennya tepat di sebelah apartemen milik Danial.


1 minggu yang lalu Dani pindah ke apartemen itu, untuk mempermudah jikalau Danial atau pun Dina butuh sesuatu.


Danial membawa Dina ke kamar, dan perlahan menurunkan tubuh Dina ke ranjang.


"Kamu pasti kelelahan" ucap Danial sambil mengusap pipi Dina.


Perlahan Danial melepas tas jinjing yang melingkar di tubuh Dina, dia juga melepaskan sepatu kets yang Dina pakai.


Setelah itu Danial menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Dina. Lalu Danial mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman.


Selesai berganti pakaian Danial naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Dina.


Danial menoleh ke kanannya tepat ke arah Dina, Danial mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Dina.


Danial menatap wajah Dina yang tertidur pulas, bibir mungilnya sedikit terbuka. Danial tersenyum melihat cara tidur Dina yang imut.


Tak lama kemudian senyum di wajahnya berganti dengan wajah serius.


"Apa yang akan terjadi dengan hubungan ini nanti? bagaimana dengan masa depannya setelah perjanjian ini berakhir? apa dia tidak akan menikah lagi seperti yang dia katakan saat itu? apakah dia akan bisa kembali hidup normal setelah ini? dan apakah aku juga akan bisa kembali hidup normal seperti dulu?"


Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak Danial, dia benar-benar bimbang.


Ada rasa menyesal karena sudah menempatkan Dina di posisi seperti ini, andai saja saat itu dia pinjamkan saja uang pada Dina tanpa memintanya mengandung bayinya.


Tapi ada juga rasa lega dan bahagia saat Dina lah yang berada di sisinya dan yang akan mengandung bayinya.


Sungguh, Danial tak tahu perasaan campur aduk apa yang sedang dia rasakan.


Di saat Danial tengah bergelut dengan pikirannya, Dina mengubah posisinya menghadap ke Danial lalu dia bergeser mendekat ke arah Danial dan masuk ke dalam pelukan Danial.


Gadis ah bukan perempuan yang sudah bukan gadis lagi itu memang suka sekali bergerak ke sana kemari saat tidur, terlebih dia sangat suka masuk ke dalam pelukan hangat Danial saat tidur.


Danial tersenyum saat Dina masuk ke dalam dekapannya, Danial memeluk Dina dan menyusul Dina yang sudah lebih dulu berlayar di pulau kapuk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2