Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Hari Terakhir


__ADS_3

"Mungkin saja" jawab perempuan yang bertanya.


.


.


.


Danial yang mendengar ucapan karyawannya pun langsung khawatir dengan keadaan Dina.


Di dalam kamar mandi wanita dia mendengar suara seseorang yang tengah muntah-muntah.


"Hueekkk huekkk"


Danial langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia langsung mencari keberadaan Dina.


"Dina" panggil Danial.


"Hueekkk"


Danial langsung melangkah ke salah satu pintu kamar mandi.


"Dina" panggil Danial sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Dina kamu baik-baik saja?" tanya Danial khawatir.


Tak lama kemudian Dina keluar dari salah satu pintu toilet.


"Dina"


"Kenapa anda di sini? ini kamar mandi wanita"


"Aku tidak peduli, bagaimana keadaan mu?" tanya Danial sambil menyentuh bahu Dina.


"Saya baik-baik saja, tunggulah di luar" ucap Dina lalu dia berkumur di wastafel.


"Baiklah" jawab Danial lalu dia keluar dari sana, beruntung tidak ada orang di sana.


Beberapa saat kemudian Dina keluar dari kamar mandi. Dia melihat Danial masih menunggu di depan kamar mandi.


Dina melangkah pergi dari sana dan Danial mengikuti dari belakang.


"Kamu kenapa?" tanya Danial sambil mensejajarkan langkah kakinya dengan Dina.


"Tidak apa-apa, cuma belum makan siang" jawab Dina.


"Kenapa tidak makan siang dulu?"


"Lupa"


"Ya Allah, Dina. Makan saja sampai lupa, bagaimana kalau kamu sakit" ucap Danial khawatir.


Dina berhenti kemudian menatap Danial.


"Apa urusannya dengan anda, sudah sana pergilah jangan mengikuti saya terus" ucap Dina lalu dia melanjutkan langkahnya.


"Dina!" panggil Danial, tapi Dina tak menggubrisnya.


"Tck" Danial mencebik kesal kemudian menyusul Dina yang sudah melangkah jauh.


"Ikut aku" ucap Danial sambil menarik lengan Dina menuju ruangannya.


"Hei apa-apaan ini Mr. Danial" keluh Dina.


"Diam jangan membantah"


Sesampainya di ruangannya Danial membuka pintu ruangannya.


"Bos" ucap Dani yang menunggu Danial sejak tadi.


"Dani pesankan makan siang"


"Tidak perlu" tolak Dina, sambil berusaha melepaskan tangannya dari Danial.


"Duduk" ucap Danial sambil menyuruh Dina duduk di sofa.

__ADS_1


Dengan enggan Dina duduk di sofa. Danial melepaskan tangannya dari lengan Dina.


"Pesankan kami makan siang, Dani" ucap Danial mengulang perkataannya.


"Baik" ucap Dani lalu dia keluar dari ruangan Danial.


Tapi tak lama kemudian dia kembali lagi ke ruangan Danial.


"Bos" panggil Dani.


"Apa?"


"Kalian mau makan apa?" tanya Dani.


"Dina, kamu mau makan apa?" tanya Danial.


"Mau memakan anda hidup-hidup" ketus Dina sambil menatap tajam Danial yang berdiri di depannya.


"Boleh ayo" ucap Danial hendak meraih lengan Dina.


"Tck" Dina mencebik sambil membuang muka.


"Tadi mau memakan ku, bagaimana kamu ini" ucap Danial sambil terkekeh.


Dina tak mendengarkan ucapan Danial.


"Pesankan saja ayam bakar" ucap Danial pada Dani.


"Baik" jawab Dani lalu keluar dari sana dan menutup kembali pintu ruangan Danial.


30 menit kemudian Dani kembali dengan dua buah kotak berisi nasi dan ayam bakar.


Setelah memberikan pesanan Danial, Dani kembali ke ruangannya. Dia akan membahas pekerjaan setelah Danial dan Dina selesai makan.


"Ayo makanlah" ucap Danial sambil membuka kotak berisi nasi dan ayam bakar kesukaan Dina.


Dina membuang muka.


"Yakin gak mau? ini kesukaan mu loh" ucap Danial menggoda Dina dengan ayam bakar favorit Dina.


Dina yang tak tahan dengan aroma ayam bakar favoritnya pun akhirnya terbujuk dan mulai memakan ayam bakarnya dengan lahap.


"Anda tidak makan?" tanya Dina setelah menelan makanannya di mulutnya.


Danial tersenyum, inilah salah satu yang dia suka dari Dina. Dalam kondisi apapun entah itu tengah sakit, marah atau pun bahagia, Dina akan selalu bertanya saat dia melihat Danial tidak makan sedangkan dirinya tengah makan.


"Makan kok, ini milik ku" ucap Danial, lalu dia membuka kotak miliknya.


Kebetulan dia juga belum makan siang karena sibuk, padahal tadi dia memarahi Dina karena lupa makan.


Beberapa hari kemudian.


Pagi ini Dina nampak lemas, dia duduk di tepi ranjangnya.


"Aku kenapa ya?" tanya Dina pada dirinya sendiri.


15 menit kemudian Dina mengambil tasnya dan berangkat ke kantor Danial.


Hari ini adalah hari terakhir kontrak kerja Danial dan Dina.


Sesampainya di kantor.


"Selamat pagi" sapa Dina.


"Pagi" sahut semua staff yang bekerja sama dengannya selama beberapa bulan ini.


"Miss Reeha hari ini hari terakhir anda bukan?" tanya salah satu staff yang menghampirinya.


"Iya" jawab Dina sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sayang sekali anda sudah tidak akan bekerja di sini lagi"


"Benar" sahut salah satu staff.


"Kenapa kalian jadi sedih begitu?" tanya Dina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kami pasti akan merindukan anda"


Dina terkekeh pelan. "Saya juga pasti akan merindukan kalian semua" ucap Dina sambil tersenyum.


"Bolehkah kami memeluk anda?" tanya salah satu dari mereka.


"Tentu saja" ucap Dina sambil merentangkan kedua tangannya.


Para staff perempuan memeluk Dina secara bersamaan.


"Hei kalian tidak mengajak ku" ucap Miss Dylan yang baru muncul di sana.


"Stop Miss Dylan anda tidak boleh" ucap salah satu staff yang menghentikan Miss Dylan.


"Kenapa?" tanya Miss Dylan dengan logatnya seperti biasanya.


"Anda adalah bagian dari mereka" ucap salah satu staff sambil menunjuk beberapa staff pria yang berdiri sambil melihat para perempuan berpelukan.


Dina terkekeh pelan saat melihat Miss Dylan cemberut.


Mereka melepaskan pelukannya.


"Miss Reeha bisakah anda memberikan tanda tangan anda?" tanya salah satu staff pria sambil menyodorkan sebuah buku sketsa yang biasanya di gunakan untuk menggambar sebuah desain pakaian dan sebuah spidol.


"Untuk apa?" tanya Dina.


"Yang lain kan dapat pelukan, biarkan kami dapat tanda tangan anda. Kapan lagi kami bisa bekerjasama dengan anda"


"Ohhh jadi ceritanya fans meeting gitu" ucap Dina sambil terkekeh.


"Ya benar" jawabnya sambil mengangguk semangat.


"Kami juga"


"Ya kami juga mau"


"Saya juga mau Miss Reeha" ucap salah satu staff perempuan.


"Hei kamu sudah dapat pelukan" protes staff pria.


"Biarin"


"Mana bisa begitu"


"Bisa"


"Miss Reeha anda juga akan memberikannya pada kami bukan?"


"Iya iya, tidak perlu berebut begitu. Padahal saya bukan artis" ucap Dina sambil terkekeh pelan. Tangannya menerima buku dan spidol itu.


Dina mulai memberikan tanda tangannya pada mereka.


"Anda juga artis loh Miss Reeha"


"Benarkah?" tanya Dina sambil menatap staff yang bicara dengannya.


"Ya, anda ada di mana-mana, di majalah, TV, internet dan masih banyak lagi"


"Ya ampun jangan memuji saya terus, saya jadi malu" ucap Dina.


Para staff tertawa.


"Ada lagi?" tanya Dina.


Seseorang nampak menyodorkan sebuah buku ke hadapan Dina. Dina menoleh ke arah orang itu begitu juga dengan staff lain.


"Anda juga mau?" tanya Dina.


"Tentu saja" jawabnya.


"Apa anda termasuk salah satu penggemar saya juga?" tanya Dina.


"Ya tentu saja, saya penggemar nomer satu anda. Kapan lagi saya bisa dapat tanda tangan anda"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2