
Malam harinya.
"Selamat atas pernikahan kalian, aku tidak tahu bahwa kalian berencana menikah" ucap Danial sambil terkekeh pelan.
"Diamlah" ucap Dani sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi pada kalian berdua sampai-sampai menikah secara mendadak seperti ini?" tanya Danial kepo.
"Tidak ada yang terjadi, kami menikah karena saling mencintai. Benarkan sayang?" tanya Dara di akhir kalimatnya sambil menatap wajah Dani dengan senyum manisnya. Dia menggandeng lengan Dani dengan sangat posesif.
"Benar" jawab Dani sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Danial terkekeh pelan "Lalu kenapa wajah pengantin prianya sedikit lebam?" tanya Danial dengan pelan sambil menunjuk lebam di wajah Dani.
Walaupun sudah di tutupi make up wajah lebam Dani sedikit terlihat, tapi hanya orang-orang yang jeli saja yang bisa melihatnya.
Dara melepaskan tangannya dari lengan Danial dengan wajah cemberutnya.
"Kalau sudah tahu tidak perlu banyak tanya! sana pergi, kamu menghambat antrian" ucap Dara ketus.
Danial benar-benar menghambat antrian para tamu yang berbondong-bondong memberi selamat pada kedua pengantin itu.
"Oke oke, sekali lagi selamat. Semoga cepat jadi embrio" bisik Danial di akhir kalimatnya.
Mendengar ucapan Danial kedua pengantin baru itu langsung melotot ke arah Danial.
Danial turun dari atas panggung setelah puas menggoda kedua temannya itu.
Flashback End
Beberapa hari kemudian.
"Halo"
"..."
"Iya kak, aku sudah selesai. Kakak mau bicara apa?" tanya seorang perempuan bercadar.
"..."
"Bisa bisa, sebentar lagi aku sampai. Tempatnya tak jauh dari tempat ku"
"..."
"Oke"
Tut Tut
Panggilan berakhir.
Dina atau yang di kenal saat ini oleh orang-orang sebagai Reeha, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
Tapi tiba-tiba seseorang membekap mulut Dina dan menyeret Dina ke dalam sebuah mobil.
Dina memberontak, dan tak lama dia pun pingsan karena obat bius yang di bekapkan ke dirinya.
Beberapa jam kemudian.
__ADS_1
Perlahan kelopak mata Dina mulai terbuka.
Kepalanya sakit, kesadarannya mulai kembali. Dan di saat dia sadar sepenuhnya dia nampak terkejut.
Tak lama seseorang muncul dari balik pintu, seorang pria tampan dan gagah.
"Oh ternyata kamu sudah sadar" ucapnya sambil tersenyum.
Mata Dina membulat saat melihat siapa orang yang menculiknya.
"Lepaskan saya!" teriak Dina
Orang itu terkekeh pelan.
"Melepaskan mu?" tanyanya.
"Jangan harap!" Lanjutnya penuh penekanan.
"Saya tidak mengenal anda! lepaskan saya" teriak Dina, dia mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
Pria itu mendekat dan duduk di dekat Dina, Dina memundurkan tubuhnya di saat tangan orang itu hendak menyentuh wajahnya.
Tangan orang itu menggantung di udara saat Dina menghindarinya.
Pria itu terkekeh pelan melihat penolakan Dina.
"Lepaskan saya! siapa anda berani-beraninya menculik saya!" Bentak Dina
"Ayolah Dina, apa kamu sudah melupakan ku? padahal beberapa hari yang lalu kita baru saja bertemu. Atau kamu juga sudah melupakan sentuhan ku?" tanya orang itu sambil tersenyum.
"Siapa Dina, saya bukan Dina!"
"Saya Fareeha" jawabnya.
"Kamu pikir aku bodoh?!" bentak pria itu.
"Kamu pikir aku buta saat membuka dengan tangan ku sendiri cadar yang kamu pakai beberapa hari yang lalu?"
"Dina kamu pikir aku akan membiarkan mu lolos begitu saja seperti saat itu? tidak Dina... tidak" ucapnya sambil menyeringai.
"Kamu harus membayar penderitaan ku dan kedua anak ku, kamu harus membayarnya"
"Berhentilah berpura-pura menjadi orang lain, itu membuat mu tampak bodoh"
Tubuh Dina bergetar menahan amarah, mata indahnya sudah berkaca-kaca menahan amarah.
"Sudah cukup tuan Danial! lepaskan aku sekarang juga! kita sudah tidak punya urusan, aku sudah menyelesaikan kontrak kita jadi kontrak itu sudah tidak berlaku lagi!" teriak Dina.
Danial tersenyum.
"Akhirnya kamu mengakuinya juga" ucap Danial.
"Dan ya anggap saja kontrak itu sudah tidak berlaku karena kamu sudah memberiku keturunan. TAPI KAMU HARUS INGAT INI, KAMU MASIH ISTRI KU" ucap Danial menekan perkataannya.
Pria yang menculik Dina adalah Danial, ya Danial suami kontrak Dina yang bertahun-tahun dia tinggalkan.
Dan beberapa hari yang lalu mereka bertemu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Tidak! saya bukan istri anda! kita sudah bercerai!" teriak Dina.
"Ha ha ha bercerai? kamu pikir kamu sudah bercerai? tidak Dina... aku belum menceraikan mu kamu masih istri ku" ucap Danial sambil mencondongkan tubuhnya ke hadapan Dina.
"Kamu pikir karena kamu meminta cerai dari ku maka aku akan mengabulkannya begitu saja? tidak, tidak semudah itu karena kamu harus membayar apa yang kamu lakukan pada kami" ucap Danial.
"Apa yang saya lakukan pada anda?! apa! katakan!? saya sudah memberi anda keturunan yang anda inginkan" ucap Dina.
"LALU APA LAGI YANG ANDA INGINKAN DARI SAYA!? KESEPAKATAN KITA SUDAH BERAKHIR! SEKARANG CEPAT CERAIKAN SAYA SEKARANG JUGA!" teriak Dina.
Danial mencengkeram kuat dagu Dina.
"Sampai aku mati pun aku tidak akan pernah menceraikan mu" ucap Danial penuh penekanan.
"Kenapa? kenapa? kenapa anda tidak melepaskan saya!?" teriak Dina di akhir kalimatnya.
"KARENA AKU...!" Danial menjada kalimatnya dia terdiam cukup lama.
"Karena aku apa? karena apa?!" teriak Dina meminta jawaban.
"Karena aku membenci mu, aku membenci mu karena kamu meninggalkan bayi-bayi malang itu di saat keadaan ku seperti itu, aku sangat membenci mu Dina!. Setiap hari aku selalu membenci mu!. Apa kau tahu bayi-bayi malang ku itu bahkan kehilangan nyawanya karena mu karena ulah ibunya yang tidak becus dan malah kabur!" Ucap Danial penuh penekanan, kemudian menghempaskan cengkeramannya.
(Danial berbohong tentang si kembar)
Dina nampak syok saat mendengar bahwa si kembar kehilangan nyawanya.
"Apa maksud anda...?" tanya Dina dengan keadaan linglung.
"Apa maksud anda kehilangan nyawa?!" teriak Dina, air matanya sudah mengalir di kedua pipinya.
Danial menyeringai.
"Aku tidak akan pernah mengatakannya pada mu" tekan Danial.
Dina mendongak menatap Danial.
"Katakan apa maksud anda! bukankah saya sudah mengatakan pada anda untuk menjaga mereka dengan baik!" teriak Dina.
"Kamu pikir aku tidak menjaganya dengan baik hah! itu salah mu karena sebagai ibu tidak becus! kau tidak becus menjadi ibu!" bentak Danial.
"Tidak tidak itu pasti bohong" ucap Dina dengan tatapan kosong.
"Anda pasti bohong" ucap Dina lagi sambil menggeleng tak percaya.
Danial menatap Dina dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Tidak" Dina nampak syok.
Tidak, tidak, dan tidak hanya kata itu yang bisa Dina ucapkan.
"Anda pasti berbohong! jangan main-main dengan ucapan anda!" teriak Dina sambil menatap wajah Danial. Dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Danial.
Danial mencengkeram kedua bahu Dina.
"Kamu harus membayar kembali semuanya Dina" tekan Danial.
.
__ADS_1
.
.