Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Ngidam


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Dina sudah masuk di bulan ke 4. Dan sejak itu mereka tinggal di mansion utama, rumah nenek Dharma.


Karena nenek Dharma ingin mereka tinggal di sana agar ada yang menemani Dina saat Danial pergi ke kantor, Danial dan Dina pun bersedia tinggal di sana.


Malam harinya pukul 7 malam.


Drtt drtt


Danial melirik ponselnya yang bergetar.


"Angkat saja tuan Danial takutnya penting" ucap seorang pria paruh baya, Dia adalah rekan Bisnis Danial.


"Saya permisi sebentar" ucap Danial pada rekan bisnisnya


"Silahkan" jawab pria itu sambil tersenyum


Danial melangkah agak jauh dari mejanya.


"Halo?"


"Mas"


"Iya kenapa?" tanya Danial lembut


"Kapan mas Danial pulang?" tanya Dina


Danial melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Kemungkinan 1-2 jam lagi, mas lagi meeting di luar" ucap Danial


Sekarang Danial menyebut dirinya 'Mas' saat bicara dengan Dina. Karena beberapa hari yang lalu nenek Dharma juga mengomelinya, nenek Dharma bilang jika menyebut 'Aku' saat bicara pada Dina itu sangat tidak enak di dengar.


"Sama siapa?" tanya Dina


"Sama Dani"


"Ohh"


"Kamu mau sesuatu?" tanya Danial


"Boleh?" tanya Dina, takutnya merepotkan Danial.


"Iya nanti mas belikan, mau beli apa?"


"Martabak manis, yang dulu mas beliin" ucap Dina bersemangat


"Oke setelah ini mas langsung pulang, dan beliin kamu martabak manis" ucap Danial sambil tersenyum


"Makasih mas"


"Sama-sama, sudah dulu ya biar cepat selesai meetingnya" ucap Danial


"Iya, mas hati-hati ya"


"Iya"


Tutt tutt


Danial kembali ke mejanya.


"Maaf lama" ucap Danial pada rekan bisnisnya


"Tidak apa-apa tuan Danial"


Mereka melanjutkan meetingnya.


30 menit kemudian


Ternyata perkiraan Danial meleset jauh, meeting yang seharusnya selesai 1-2 jam selesai dalam 30 menit.


Karena kliennya tidak rewel dan langsung mengiyakan dan mereka tanda tangan kontrak.


"Bos"

__ADS_1


"Hmm?" jawab Danial sambil menatap hujan yang turun cukup deras.


Saat ini Danial dan Dani berdiri di depan cafe tempat mereka meeting tadi.


"Anda yakin akan pergi sendiri?" tanya Dani


"Iya, Dina mau martabak yang ada di dekat apartemen"


"Biar saya antar saja" ucap Dani


"Tidak usah, kamu kan sudah di tunggu sama tante Dira" ucap Danial


"Itu mah gampang bos, saya tinggal bilang ke mama akan pulang telat"


"Jangan kasihan tante Dira, akhir-akhir ini kamu sering lembur" ucap Danial


Pekerjaan Danial dan Dani cukup banyak akhir-akhir ini, jadi Danial dan Dani sering kali lembur hingga pukul 12 malam.


"Tidak masalah bos asalkan bonus tetap lancar jaya" ucap Dani sambil tertawa


Danial pun ikut tertawa.


"Tenang saja kalau itu, bonus minggu ini sudah aku transfer" ucap Danial


"Kapan?" tanya Dani


"Barusan"


"Benarkah?" tanya Dani


"Cek saja sendiri kalau tidak percaya"


Dani merogoh ponselnya dan mengeceknya. Sejak tadi Dani tidak sempat melihat ponselnya.


"Wah bos gak salah kirim nih?" tanya Dani


"Tidak, sekalian bonus karena sudah merepotkan mu mencari makanan yang Dina mau"


"Aduh bos kalau untuk ngidamnya nona Dina mah saya ikhlas bos, tapi kalau bisa sih tambahin lebih banyak" ucap Dani sambil tertawa


"Bercanda bos" jawab Dani sambil cengengesan.


"Sudahlah bicara dengan mu tak akan ada habisnya" ucap Danial


"Bos masih deras loh" ucap Dani


"Tidak masalah, baby ku sudah menunggu di rumah. Aku duluan" ucap Danial lalu dia melangkah menembus hujan menuju tempat mobilnya terparkir.


Dani menatap sambil tersenyum ke arah Danial. Sejak bersama Dina, Danial banyak berubah.


Kalau saja Dani tidak melihatnya secara langsung perubahan itu maka Dani tidak akan percaya perubahan Danial.


Seperti sekarang Danial rela menembus hujan demi pergi membelikan martabak yang di inginkan Dina. Walaupun jaraknya cukup jauh di tambah dia baru saja selesai lembur.


"Semoga nona Dina memang jodoh anda bos. Saya harap kalian selalu bahagia" Ucap Dani dalam hati, mendoakan kebahagiaan Danial dan Dina.


1 jam 30 menit kemudian


Danial sudah sampai di tempat penjual martabak yang di inginkan Dina.


"Pak martabak manisnya 5 bungkus" ucap Danial


Danial menembus hujan untuk sampai ke kedai penjual martabak itu. Dia lupa tidak membawa payung alhasil tubuhnya basah kuyup karena hujan deras.


"Loh den, sini sini berteduh den" ucap pak penjual martabak yang ingat pada wajah pembelinya saat itu.


Bapak penjual martabak menyuruh Danial masuk dan berteduh di bawah atap terpalnya.


"Terima kasih pak" ucap Danial


"Rasa coklat semua ya den?" tanya penjual martabak


"Iya pak"

__ADS_1


Bapak penjual martabak pun segera membuatkan pesanan Danial.


"Hujannya deras sekali" ucap Danial


"Iya den, tadinya pas udah gerimis bapak mau tutup kedai tapi gak jadi" Ucap pak penjual martabak sambil membuat pesanan Danial.


"Kenapa pak?" tanya Danial


"Karena hujannya tiba-tiba tambah deras jadi gak sempat tutup" ucap bapak penjual martabak.


"Begitu, tapi untung juga sih pak kalau tidak saya gak tahu mau cari kemana martabaknya" ucap Danial sambil terkekeh


"Istrinya pengen martabak lagi ya?"


"Iya pak, mintanya udah dari tadi sih tapi saya baru bisa belikan sekarang karena tadi masih ada meeting dengan klien"


"Memangnya istrinya gak ngambek den? biasanya ibu hamil kalau gak segera di belikan biasanya suka ngambek atau ngidamnya berubah jadi pengen yang lain"


"Gitu ya pak, tapi biasanya enggak sih pak asal gak sampai besok pagi" ucap Danial sambil terkekeh.


"Gak terlalu rewel berarti dedek bayinya"


"Iya pak"


30 menit kemudian


"Ini den pesanannya" ucap pak penjual martabak sambil memberikan sekantong plastik besar berisi 5 kotak martabak manis pesanan Danial


"Berapa pak?" tanya Danial sambil mengeluarkan dompetnya


"116rb den"


"Ini pak, kembaliannya tidak usah pak" ucap Danial sambil menyodorkan uang 120rb lalu mengambil martabaknya.


"Makasih den"


"Sama-sama pak, saya permisi"


"Tunggu den"


Danial berhenti


Bapak penjual martabak itu mengambil sebuah payung.


"Biar saya antar sampai mobil, den" ucap pak penjual martabak.


"Tidak usah pak" ucap Danial tidak enak


"Ayo bapak anter, hujannya deras nanti aden bisa demam. Kasihan istri sama anaknya kalau aden sakit nanti tidak ada yang jaga"


"Makasih pak" ucap Danial sambil tersenyum


Bapak penjual martabak itu mengangguk. Mereka melangkah menuju mobil Danial


Danial membuka pintu mobilnya kemudian masuk ke dalam.


"Terima kasih banyak pak"


"Sama-sama den"


"Kalau begitu saya permisi pak"


"Iya hati-hati den"


"Iya bapak juga"


Pak penjual martabak itu menepi agar mobil Danial dapat bergerak, setelah mobil Danial pergi pak penjual martabak itu kembali ke kedainya.


30 menit kemudian


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2