
"Setelah di ingat-ingat, kenapa anda tidak pakai tongkat?" tanya Dina menatap curiga ke arah Danial.
.
.
.
Danial seketika membeku di tempatnya.
Dina menatap ke arah gips di kaki Danial.
"Jangan bilang anda..."
"Aku lupa karena saking paniknya saat melihat mu muntah-muntah jadi aku lupa kalau kaki ku sakit" ucap Danial beralasan.
"Benarkah?" tanya Dina dengan tatapan curiga.
"Benar Dina, bahkan kaki ku sekarang terasa lebih sakit dari kemarin" ucap Danial sambil berakting bahwa kakinya sangat kesakitan.
"Mencurigakan" ucap Dina lalu kembali memakan buburnya.
"Ayolah sayang, itu karena aku sangat mengkhawatirkan mu jadi aku sampai lupa pada rasa sakit ku" ucap Danial.
Dina diam tak menanggapi ucapan Danial. Dia sibuk menghabiskan makanannya.
3 hari kemudian.
"Mau kemana?" tanya Dina saat melihat Danial duduk di ruang tamu dengan pakaian rapi.
"Aku sedang menunggu Dani, hari ini aku harus ke rumah sakit" jawab Danial.
"Ohhh"
"Oh saya kira anda mau berkencan" jawab Dina acuh.
"Kenapa kamu cemburu?" tanya Danial sambil terkekeh.
"Untuk apa cemburu, pria seperti anda itu tidak pantas mendapat rasa cemburu saya" cibir Dina.
"Benarkah?" tanya Danial.
"Ya, anda itu... mmpppttt"
Dina tak bisa melanjutkan perkataannya, dia langsung melangkah ke arah wastafel di dapur.
"Hueekkk huekkk"
"Hahhhh..." Danial menghela nafas saat melihat Dina kembali muntah-muntah, dia sangat khawatir dengan keadaan Dina.
Danial meraih tongkatnya dan menghampiri Dina.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Danial sambil mengusap lembut punggung Dina.
Dina membasuh bibirnya dengan air kran. Lalu dia menatap tajam Danial.
"Sayang aku rasa kamu harus berhenti mencibir ku atau marah-marah pada ku" ucap Danial sambil menatap Dina.
"Kenapa?!" ketus Dina.
"Karena aku perhatikan setiap kali kamu mencibir atau marah-marah pada ku kamu pasti mual, benar tidak?"
"Tidak anda salah" ucap Dina sambil membuang muka.
"Baiklah terserah kamu saja, toh bukan aku yang muntah" ucap Danial sambil mengangkat pundaknya.
Tok tok
Seseorang mengetuk pintu rumah Dina yang terbuka lebar.
"Dani kamu sudah di sini" ucap Danial saat melihat Dani berdiri di ambang pintu masuk.
Danial melangkah menghampiri Dani dengan tongkatnya.
"Apa dia tidak lelah berakting terus" ucap Dani dalam hati.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Dani saat melihat Danial sudah ada di hadapannya.
"Ya"
__ADS_1
"Asisten Dani, sebaiknya anda bawa tuan anda pergi dan jangan kembali lagi" ucap Dina yang menyusul di belakang Danial setelah memasang cadarnya.
"Saya sudah mu..."
"Eit eit eit, jangan marah-marah jika tidak kamu akan mual terus seharian. Ada yang harus aku lakukan hari ini jadi aku tidak akan bisa menjaga mu" ucap Danial menghentikan Dina yang akan kembali mengomel.
Dina mencebikkan bibirnya di balik cadarnya.
Dani menatap kebingungan ke arah mereka berdua.
"Dia akan mual jika terus memarahi ku, bayi ku ada di pihak ku" bisik Danial di akhir kalimatnya.
Dani terkekeh pelan begitu juga dengan Danial. Tapi tidak dengan Dina, dia nampak kesal.
"Bik, titip istri ku ya" ucap Danial saat melihat Bik Dila yang melangkah ke dapur.
"Anda mau pergi?" tanya Bik Dila yang melangkah menghampiri mereka.
"Iya ada kepentingan, titip Dina ya bik"
"Siap den, tidak perlu khawatir" ucap Bik Dila.
Dina memutar bola matanya malas lalu langsung pergi dari sana dan naik je lantai atas menuju kamarnya.
"Hahhh..." lagi-lagi Danial menghela nafas.
"Aku pergi dulu bik" ucap Danial.
"Iya den, hati-hati di jalan" ucap Bik Dila.
Danial melangkah bersama Dani menuju mobil yang sudah terparkir di depan pagar rumah Dina.
"Berangkat Dan" ucap Danial yang sudah duduk di dalam mobil.
"Iya" jawab Dani dari balik kemudi.
Mobil pun melaju pergi dari sana.
"Kita kemana dulu?" tanya Dani.
"KUA" jawab Danial sambil melepas semua gips di tangan dan kakinya, dan hanya menyisakan perban di sikunya yang terluka.
"Sudah" jawab Dani.
"Apa nenek curiga?" tanya Danial.
"Entahlah, aku tidak bisa menebak apa yang di pikirkan nenek mu. Nenek hanya bertanya kenapa aku ada di sini sedangkan kamu masih berada di luar kota"
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Danial.
"Aku cuma jawab ada berkas penting yang di butuhkan jadi aku pulang, hanya itu saja"
"Ohh"
Tak lama kemudian mereka pun tiba di KUA. Danial turun dari mobil dan melangkah masuk bersama Dani dengan berkas-berkas di tangannya.
Satu jam kemudian.
Kedua pria tampan itu keluar dari kantor KUA.
"Jadi bagaimana? mau akad nikah ulang atau langsung di sahkan ke pengadilan Agama?" tanya Dani sambil melangkah ke tempat parkir.
"Entahlah" jawab Danial.
"Begini saja, kamu cari informasi di pengadilan agama dan aku akan ke rumah orang tua Dina" ucap Danial.
"Untuk apa ke sana?" tanya Dani.
"Bukankah petugas di dalam bilang harus ada surat izin menikah dari orang tua"
"Oh iya benar"
"Aku akan tanya mereka dulu, nanti akan aku kabari" ucap Danial.
"Baiklah"
"Aku pergi dulu" ucap Danial.
"Kamu mau naik apa?" tanya Dani.
__ADS_1
"Taxi"
"Bawa mobil ku saja" ucap Dani sambil melemparkan kunci mobilnya pada Danial.
"Kamu bagaimana?" tanya Danial.
"Aku tinggal panggil taxi, rumah orang tua istri mu jauh. Lebih baik kamu bawa mobil sendiri biar lebih nyaman"
"Baiklah, thanks"
"Emmm"
Keesokan harinya.
Pukul 7 pagi.
Saat ini Dina sedang bersiap untuk pergi bekerja, sudah beberapa hari dia tidak pergi bekerja karena lemas.
Di kamar lain.
Danial yang baru saja selesai mandi di bantu Dina, saat ini tengah mengecek pekerjaannya di laptopnya yang dia bawa ke rumah Dina.
Drrttt drrttt
"Halo?"
"Danial!"
"Ada apa?" tanya Danial sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya saat orang di balik sana berteriak.
"Ada kabar buruk!"
"Kabar buruk apa?" tanya Danial.
"Petugas di pengadilan Agama menelpon ku" ucap Dani.
"Lalu?" tanya Danial.
"Istri mu diam-diam mengajukan perceraian di pengadilan" ucap Dani.
"Apa?!" teriak Danial, dan kali ini Dani lah yang menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Danial terdiam beberapa saat untuk meminimalisir rasa terkejutnya.
"Batalkan pengajuan Dina" ucap Danial.
"Baik"
Tutt tutt
Panggilan berakhir, Danial mengambil tongkatnya kemudian melangkah dengan marah ke arah kamar Dina.
Danial menggedor-gedor pintu kamar yang di tempati istrinya.
Tok tok tok
"Dina buka pintunya!" teriak Danial.
Tok tok tok
"Dina!"
"Dina buka pintunya!"
Ceklek
Pintu terbuka.
"Ada apa sih...?" tanya Dina sambil menatap Danial.
Danial menerobos masuk ke dalam kamar Dina dengan tongkat di tangan kirinya.
"Ada apa ini?" tanya Dina saat melihat Danial menerobos masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah marah.
.
.
.
__ADS_1