Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Kedatangan Nenek Dharma.


__ADS_3

2 minggu kemudian


"Argghh... sudah dong mas" lirih Dina


"Bentar lagi darling errgghh..." erang Danial


Kedua orang yang sedang bergelut di sofa itu tak sadar bahwa di luar apartemennya tengah terjadi keributan.


Nenek Danial tiba-tiba datang ke apartemen mereka.


"Cepat buka Dani" perintah nenek Dharma pada asisten cucunya yang tak lain adalah Dani


Dengan terpaksa Dani memasukkan kata sandi apartemen Danial.


Nenek Danial baru saja pulang dari Mekkah, beliau pulang lebih awal dari jadwalnya. Tadi Nenek pergi ke kantor Danial tapi Danial tidak ada Di sana.


Flashback


Brakkk


Pemilik ruangan terkejut saat pintu ruangannya di buka dengan kasar.


"Dimana Danial, Dani?" tanya nenek Dharma


Glek


Dani segera berdiri dan menghampiri Nenek bosnya.


"Bos keluar untuk makan siang nyonya"


"Dengan siapa?" tanya nenek


Dani menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong, tidak mungkin kamu tidak tahu"


"Dia di apartemennya kan?" tebak nenek


Dani diam tak menjawab.


"Kamu tidak menjawab berarti benar, cepat antar aku ke apartemennya"


"Tapi nyonya"


"Cepat! jangan sampai aku mengobrak-abrik kantor ini" ancam nenek Dharma.


"Saya akan telpon bos, nyonya"


"Tidak, antarkan aku langsung ke apartemennya"


"Baik"


Dengan terpaksa Dani mengantarkan nenek Dharma ke apartemen Danial. Nenek Dharma melangkah lebih dulu keluar dari ruangan Dani dan di ikuti Dani di belakangnya.


Diam-diam Dani mengirimkan pesan pada Danial.


[Bos gawat, nyonya besar akan ke apartemen] tulis Dani


"Duh ponselnya gak aktif lagi" ucap Dani panik, saat melihat pesannya yang hanya centang satu.


"Cepat Dani" panggil nenek Dharma yang sudah ada di dalam lift


"Baik" ucap Dani dan langsung berlari menghampiri nenek Dharma.


"Semoga saja bos membaca pesan ku" ucap Dani dalam hati.


Flashback End


Nenek Dharma melangkah masuk di ikuti Dani di belakangnya.


"Aduh mampus, mampus kamu bos" ucap Dani dalam hati saat mendengar suara desa han.


"Danial!" teriak nenek Dharma saat melihat cucunya sedang melakukan perbuatan tak senonoh di ruang keluarga.


"Nenek!" Ucap Danial terkejut


Tubuh mereka tertutupi bagian belakang sofa, nenek Danial dan Dani berdiri di belakang sofa. Mereka berdiri agak jauh dari tempat Danial.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Danial! bukankah nenek sudah mengatakan untuk berhenti melakukan perbuatan menjijikkan itu!" Teriak nenek Dharma.


"Nek biar Danial jelaskan nek" ucap Danial panik.


Nenek Dharma melangkah untuk melihat siapa yang kali ini cucunya bawa.


"Nek jangan kesini, tunggu di situ nek" ucap Danial yang berusaha menyembunyikan Dina yang berada di bawah kukungannya.


Namun nenek tetap melangkah maju.


"Nek jangan, kita gak pakai baju" ucap Danial menghentikan neneknya.


Mau tak mau nenek Dharma berhenti melangkah.


"Cepat pakai pakaian kalian, nenek tunggu di ruang tamu" ucap nenek Dharma tegas


"Baik" jawab Danial


Setelah nenek pergi, Danial segera bangun dari atas tubuh Dina. Dia terpaksa menghentikan kegiatannya dengan Dina.


"Bagaimana ini mas, saya takut" ucap Dina ketakutan


"Tidak apa-apa, biar aku yang jelaskan pada nenek, sebaiknya kamu tunggu di kamar jangan keluar sebelum nenek pulang" ucap Danial menenangkan Dina.


Dina menganggukkan kepalanya, lalu turun dari atas tubuh Dita dan segera memungut pakaiannya.


Setelah itu Dina berlari naik menuju kamarnya. Sedangkan Danial segera mengenakan kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu melangkah ke ruang tamu untuk menghampiri neneknya.


Danial melirik ke arah Dani yang berdiri tak jauh dari nenek Dharma. Dani memelas minta ampun pada Danial, Dani mengatupkan kedua tangannya dengan wajah melasnya tanpa bersuara sedikitpun.


"Nek" panggil Danial


"Dimana wanita itu!" tanya nenek Dharma ketus


"Siapa nek?" tanya Danial pura-pura bodoh.


"Wanita yang kamu pakai barusan, cepat bawa kemar!"


"Tapi nek"


"Tunggu nek tunggu, biar Danial saja" ucap Danial menahan Neneknya


"Cepat!"


"Baik"


Danial melangkah naik ke lantai atas.


Tok tok


Ceklek


"Kenapa mas? Nenek sudah pulang?" tanya Dina


Danial menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Nenek menyuruh mu ke sana"


Seketika tubuh Dina bergetar, dia ketakutan.


"Saya takut"


"Tidak apa-apa ada aku, kamu bersembunyilah di belakang ku"


"Saya takut mas" ucap Dina sudah hampir menangis.


"Jangan menangis, ada aku kamu tenang saja" ucap Danial menenangkan Dina.


"Mau ya" bujuk Danial


Dengan terpaksa Dina menganggukkan kepalanya.


"Ayo" Danial menarik lengan Dina pelan,


Dina benar-benar terpaksa mengekor di belakang Danial.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu.


"Berlutut!" perintah nenek


Danial menggandeng tangan Dina yang berada di balik tubuhnya. Danial dan Dina berlutut di hadapan nenek, Dina berlutut di belakang Danial sehingga nenek tak melihatnya.


Dani menatap kasihan pada keduanya, kali ini keduanya sudah ketahuan. Dan Dani tidak bisa membatu apapun.


"Maaf nek" ucap Danial


"Kemari dan tunjukkan wajah mu" ucap nenek pada Dina.


Karena sejak tadi Dina bersembunyi di balik punggung Danial sambil menundukkan wajahnya. Alhasil nenek tidak melihat wajahnya karena tertutup oleh rambutnya.


"Ayo cepat!" teriak nenek


"Nek jangan galak-galak" ucap Danial mencoba menenangkan neneknya.


"Diam kamu Danial!" sentak nenek Dharma pada cucunya.


Saat ini Nenek Dharma benar-benar sangat murka. Kesabarannya sudah habis.


"Ayo cepat tunjukkan wajah mu!" sentak Nenek Dharma.


Mau tak mau Dina keluar dari balik punggung Danial dan mulai mengangkat kepalanya sambil memejamkan matanya.


Sedangkan Danial menggenggam telapak tangan Dina dengan sangat erat, jantung mereka berdetak sangat kencang. Bahkan jantung Dani yang hanya menonton pun ikut berdetak kencang.


"Dina!" Ucap nenek terkejut saat melihat siapa perempuan di depannya.


"Maaf nek" ucap Dina terisak


Nenek sungguh syok.


"Bagaimana bisa kamu..."


"Maafkan Dina nek"


"Dina nenek kira kamu bukan gadis seperti itu, nenek kecewa pada mu Dina" ucap nenek Dharma menatap kecewa ke arah Dina.


Dina meminta maaf di hadapan nenek "Maafkan Dina nek, maafkan Dina. Dina salah nek" ucap Dina sambil menangis.


"Nenek sungguh kecewa pada mu Dina!" bentak Nenek Dharma


"Nek jangan begitu" ucap Danial pada neneknya.


"Kamu diamlah Danial!" bentak nenek Dharma sambil menunjuk wajah cucunya.


"Bagaimana bisa kamu merusak anak gadis orang hanya untuk kesenangan mu!" amuk nenek pada Danial.


"Nek aku bisa jelaskan" ucap Danial memohon.


"Kalian berdua membohongi nenek, bukankah kamu bilang pada nenek Dina berhenti karena ayahnya sedang sakit"


"Ayah Dina memang sedang sakit nek, tapi ayah Dina..."


"Lalu kenapa dia bisa ada di sini bersama mu?!" nenek Dharma memotong ucapan Danial.


"Nenek sungguh kecewa pada kalian berdua! dan Nenek harap kamu tidak muncul di hadapan nenek lagi Dina! sekarang kamu pergi!" ucap nenek mengusir Dina


"Hiks hiks"


"Nek tolong jangan begitu" ucap Danial memohon.


"Kenapa?! terserah nenek mau mengusirnya atau tidak dan kamu tidak boleh berhubungan dengan dia lagi!" ucap nenek Dharma


"Tidak bisa begitu nek!" Teriak Danial


"Kamu berani berteriak pada nenek Danial! hanya demi perempuan ini" teriak nenek Dharma sambil menunjuk Dina.


"Nek dia istri Danial!" teriak Danial yang akhirnya mengakui hubungan mereka pada neneknya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2