
"Dimana dia?" tanya Danial
.
.
.
Danial melangkah ke kamarnya, saat dia masuk ke kamar Danial tidak menemukan Dina.
Danial melihat sekeliling ruangan tapi Dina tidak ada, hanya terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Danial memutuskan duduk di sofa menunggu Dina selesai mandi, lalu mengambil ponselnya di saku jasnya.
Tak lama kemudian Dina keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya. Dina tidak sadar bahwa ada seseorang yang tengah duduk di sofa di kamar itu dan terus mengamati gerak-geriknya.
Perlahan Dina melangkah ke lemari untuk mengambil pakaian dalamnya. Dan dengan santainya Dina membuka handuk yang melilit pada tubuhnya.
Danial membulatkan matanya dan segera mengabadikan pemandangan indah itu dengan ponselnya.
Dia juga tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena Danial tidak mau merusak keseruan yang ada di depan matanya.
Dina mengambil pakaian dalamnya dengan keadaan polos lalu dia memakainya, Danial benar-benar mendapatkan suguhan yang sangat nikmat.
Setelah memakai pakaian dalamnya Dina melangkah dan duduk di meja riasnya lalu menyisir rambutnya dia juga memoles tipis wajahnya.
Dan di saat Dina memakai lipstik barulah dia sadar bahwa ada sosok sempurna dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
"Tuan Danial!!" teriak Dina terkejut
"Sejak kapan anda disitu?!" tanya Dina sambil berteriak dan berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya.
Danial dengan santainya melangkah menghampiri Dina.
"Sejak kamu mandi" jawab Danial dengan santai sambil senyum-senyum dan memutar kembali video yang dia rekam tadi.
"Apa!! terus??" Tanya Dina sambil menutup dadanya dengan kedua tangan
"Aku sangat menyukainya, tubuh mu benar-benar indah" ucap Danial sambil tersenyum licik
"Tuan saya serius!" teriak Dina
"Aku duarius" jawab Danial dengan santainya
"Anda melihat semuanya??" tanya Dina
"Kamu tidak percaya? lihat ini" Danial menunjukan video yang dia rekam
"Lagi pula aku sudah pernah melihatnya bahkan merasakannya, jadi untuk apa malu" ucap Danial sambil tertawa
"Tuan Danial! hapus gak!" teriak Dina sambil berusaha merebut ponsel Danial
"Hapus gak!" Teriak Dina masih berusaha mengambil ponsel Danial
"Enak aja aku akan kaya jika menjual video ini" ucap Danial menggoda Dina
"Iiihhhh apa sih kalau gak di hapus nanti ponselnya saya banting ya, lagi pula anda sudah kaya untuk apa menjual video seperti itu!"
"Oh iya kamu benar, kalau begitu akan aku simpan sebagai koleksi" ucap Danial menyeringai
"TUAN DANIAL!!" teriak Dina kesal
"Hapus tidak, jika tidak ponsel anda akan saya banting" ancam Dina
"Banting saja kalau bisa" tantang Danial
Dina terus berusaha mengambil ponsel Danial tapi tubuh mereka malah terjatuh di atas ranjang, Dina menimpa tubuh Danial.
__ADS_1
Tidak ingin membuang kesempatan emas Danial memeluk erat tubuh Dina
"Video ini akan aku lihat kalau aku rindu pada mu" ucap Danial sambil menyeringai
"Rindu apaan, itu hanya akal-akalan anda saja" ucap Dina
"Hapus gak!"
"Akan aku hapus tapi..." Danial menjeda kalimatnya
"Tapi apa?" tanya Dina
"Jika kamu memperbolehkan aku melihatnya setiap hari secara langsung baru akan aku hapus, bagaimana?" tawar Danial
"Anda mau saya hajar?" ancam Dina menunjukkan kepalan tangannya
Danial menahan pinggang Dina erat.
"Tuan lepasin saya tidak bisa napas pelukan anda terlalu kencang" Dina berusaha melepaskan tubuhnya
"Sayang ini hanya pelukan, bukankah kamu harus terbiasa karena tubuh ku akan sering berada di atas mu" ucap Danial sambil menaik-turunkan kedua alisnya
"Dasar tuan muda mesum, cepat lepaskan!" ucap Dina terus berusaha lepas dari Danial
"Jangan banyak bergerak Dina jika tidak hari ini akan jadi malam pertama kita untuk yang ke sekian kalinya" ancam Danial
"TUAN DANIAL!!!" teriak Dina kencang
Danial melepaskan pelukannya karena teriakan Dina membuat telinganya sakit.
"Dina telinga ku sakit tahu" ucap Danial sambil memegang telinganya.
Dan dengan cepat Dina mengambil ponsel Danial yang jatuh di atas ranjang lalu dia hendak membuka ponselnya tapi tidak bisa karena harus memakai sidik jari pemiliknya.
"Kenapa pake sidik jari sih, sini pinjam jarinya" ucap Dina
"Hapus gak videonya jika tidak saya tidak mau bicara dengan anda lagi" ancam Dina lalu mengembalikan ponsel Danial dengan kasar pada pemiliknya.
"Oke akan aku hapus tapi tidak gratis"
"Anda sudah kaya, masih saja memeras uang dari saya" ucap Dina dengan wajah kesalnya
"Siapa bilang aku mau uang"
"Lalu?" tanya Dina
Danial memeluk Dina dari belakang lalu membuka kunci ponselnya dan memberikan ponselnya pada Dina agar Dina menghapus sendiri videonya.
"Ini"
Dina mengambil ponsel Danial lalu menghapus video dirinya dan setelah memastikan videonya sudah di hapus permanen barulah Dina mengembalikan ponsel Danial.
"Sudah kan?" tanya Danial
"Emm" jawab Dina sambil mengangguk
"Kalau begitu sekarang aku mau vitamin ku" ucap Danial sambil menciumi daerah favoritnya
"Tuan..." lirih Dina
"No tuan baby, sudah berapa kali aku mengatakannya pada mu"
"Maaf saya sudah terbiasa memanggil anda begitu, hisss jangan di gigit" ringis Dina sambil memukul lengan Danial.
Dina menggenggam erat tangan Danial yang melingkar di perutnya Danial membalik tubuh Dina dan tanpa aba-aba Danial sudah mendaratkan bibirnya di bibir Dina.
Danial mengigit bibir Dina pelan.
__ADS_1
"Aaarrgghh sakit" rintih Dina pelan
Danial melakukan itu agar Dina membuka mulutnya tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Dina sudah kehabisan pasokan oksigen.
"Kenapa kamu menahannya darling? lain kali buka mulut mu dan bernafaslah kamu bisa mati nanti" ucap Danial sambil terkekeh
Danial mengusap lembut bibir Dina, Dina hanya menunduk malu dengan wajah yang memerah dan dengan detak jantung yang berdetak kencang.
"Wajah kamu kenapa merah?" Goda Danial
"Berhentilah mengejek saya" ucap Dina cemberut
"Ha ha ha" Danial tertawa
"Kita harus sering melakukannya agar kamu terbiasa" bisik Danial di telinga Dina
Dina mendorong pelan tubuh Danial agar menjauh darinya, lalu dia menuju lemarinya dan mengambil pakaiannya.
"Mau kemana?" tanya Danial sambil menatap Dina
Dina mengabaikan Danial dan dia pergi ke kamar mandi.
"Pakai di sini saja" panggil Danial
"Tidak!" teriak Dina dari dalam kamar mandi
Danial terkekeh
Beberapa menit kemudian Dina keluar dari kamar mandi, dia melangkah ke arah Danial yang duduk di ranjang dengan ponsel di tangannya.
"Kenapa anda pulang?" tanya Dina
"Aku mau makan siang" ucap Danial sambil menyimpan kembali ponselnya di sakunya.
"Kenapa tidak tunggu saja di kantor?"
Danial berdiri lalu dia menggandeng tangan Dina dan melangkah keluar.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu mengantar makan siang ke kantor" Ucap Danial sambil melangkah turun bersama Dina
"Kenapa?" tanya Dina sambil menatap Danial
"Aku takut kamu lelah, apalagi kamu masak sendiri lalu mengantarnya ke kantor. Itu pasti melelahkan jadi biar aku saja yang pulang dan kita makan siang bersama"
"Saya tidak keberatan kok mengantar makan siang ke kantor, saya juga bosan kalau di apartemen terus"
"Begitu ya..."
Danial duduk di meja makan sedangkan Dina melangkah ke dapur dan mengambil makan siang Danial.
"Dina begini saja"
"Apa?"
"Aku akan pulang untuk makan siang tapi kalau aku sedang banyak pekerjaan kamu bisa mengantar makan siang untuk ku, bagaimana?"
"Baiklah" jawab Dina
Tak lama kemudian Dina meletakkan sepiring nasi beserta lauknya di hadapan Danial, dia juga membawa makanan miliknya.
Lalu mereka makan bersama dengan tenang.
.
.
.
__ADS_1