Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Berbaikan


__ADS_3

Sore harinya


"Mas" panggil Dina


"Hmm?" jawab Danial menoleh sekilas ke arah Dina lalu kembali menatap layar TV.


"Jalan-jalan yuk saya bosan" ajak Dina


"Kemana?" tanya Danial yang masih fokus ke layar TV.


"Tidak tahu" jawab Dina


"Dina" Panggil nenek Dharma yang melangkah ke arah mereka.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV.


Mereka sudah baikan setelah pertempuran panas mereka beberapa saat lalu.


"Iya nek?" jawab Dina sambil menoleh ke arah nenek Dharma.


"Cara bicara mu ke Danial memang begitu?" tanya nenek Dharma, nenek Dharma duduk di sofa single.


"Maksudnya nek?" tanya Dina tak paham.


"Bukankah cara bicara mu pada suami mu terlalu formal" ucap nenek Dharma


"Aaa... Itu...." jawab Dina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Danial menahan tawanya saat melihat Dina di tegur neneknya. Sebenarnya Danial tidak mempermasalahkan cara bicara Dina pada dirinya, dia ingin Dina nyaman di dekatnya saat bicara.


Tapi untuk panggilan dia tidak bisa mengabaikannya karena suara merdu Dina semakin merdu di pendengarannya ketika dia memanggil dirinya Mas ketimbang tuan.


"Ubah cara bicara mu ya, kamu terlalu formal. Kayak bicara sama majikan saja" ucap nenek Dharma


"Kan mas Danial memang majikan Dina nek" jawab Dina dengan polosnya.


"Itu dulu sekarang kamu istrinya" ucap nenek Dharma sambil tersenyum ke arah Dina.


"Hehe... baik nek" ucap Dina sambil tertawa sumbang.


"Bagus" ucap nenek Dharma sambil tersenyum senang.


"Nek setelah ini kami mau keluar, Dina bosen di rumah terus. Boleh tidak?" tanya Danial


"Iya boleh, tapi hati-hati ya" ucap nenek Dharma.


"Baik Nek" jawab Danial


"Ya sudah nenek mau ke kamar dulu, kalian kan sudah baikan jadi jangan bertengkar lagi" ucap nenek memberi nasehat


"Siap nek" ucap Danial sambil memberi tanda hormat.


Nenek Dharma tersenyum lalu pergi dari sana. Setelah nenek Dharma pergi, Danial melirik ke arah Dina.


"Kamu kenapa?" tanya Danial saat melihat wajah Dina nampak cemberut.


"Mas sih gak bantuin sa..."


"Eitt eitt ingat kata nenek" peringat Danial


"Tahu ah males" ucap Dina ngambek


"Loh kok ngambek, kenapa darling" ucap Danial lembut


Dina membuang muka ke arah lain.


"Ngambek karena gak bantuin kamu pas di omelin nenek ya?" tebak Danial


"Sudahlah yang di katakan nenek benar, ayo sekarang kita bersiap katanya mau jalan-jalan" bujuk Danial, Danial bangun dari tempatnya duduk.


Dina berdiri dari tempatnya dengan enggan saat Danial menarik lengannya dengan lembut.


"Matikan TV nya dulu" ucap Dina saat Danial hendak membawanya pergi.


Dina mengambil remot TV lalu mematikan TV nya.

__ADS_1


"Ayo" ucap Danial


Mereka berdua melangkah naik ke lantai atas dan masuk ke kamar untuk bersiap.


Beberapa saat kemudian.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya.


"Kita mau ke mana?" tanya Danial sambil menoleh sekilas ke arah Dina.


"Tidak tahu" jawab Dina


"Bagaimana kalau ke taman? di sana juga ada danau" tawar Danial


"Sudah pukul setengah empat sore memangnya masih banyak orang?" tanya Dina sambil menatap wajah Danial.


"Masih kok, malah tambah malem tambah banyak orang" jawab Danial


"Hantu maksudnya?" tanya Dina bergidik ngeri.


"Bukan, orang beneran. Orang pacaran atau sedang piknik bersama keluarganya" jawab Danial


"Oh.."


"Mau kesana? sekalian kita piknik juga" ucap Danial


"Boleh, tapi kita tidak bawa apa-apa" ucap Dina


"Tenang saja semuanya sudah di atur" jawab Danial sambil tersenyum.


"Baiklah"


15 menit kemudian mereka berdua tiba di tempat tujuan mereka. Danial dan Dina keluar dari dalam mobil lengkap dengan masker mereka seperti biasanya.


Dina menatap tempat indah di depannya dengan rasa kagum sedangkan Danial tengah sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari dalam mobil.


"Mas cepetan" panggil Dina yang sudah tidak sabar.


"Tunggu sebentar" jawab Danial dari belakang mobil.


"Mas kok lama sih?" keluh Dina


"Iya sabar darling, ini masih keluarin barang-barang" ucap Danial


Dina membantu Danial membawa perlengkapan piknik.


"Kapan mas menyiapkan semua ini?" tanya Dina


"Tadi pas kamu lagi ganti baju" ucap Danial sambil menekan tombol untuk menutup pintu belakang mobilnya.


"Ohh" ucap Dina


"Ayo" ucap Danial sambil menggandeng tangan Dina. Mereka melangkah menuju taman.


"Mas"


"Hmm?"


"Mas mau bangun tenda juga?" tanya Dina saat melihat tas tenda yang di bawa Danial.


"Iya, kita pulang agak larut saja ya" jawab Danial


Dina menganggukkan kepalanya tanpa rasa curiga sedikitpun.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di lokasi yang di inginkan Danial. Danial memilih tempat yang dekat dengan Danau.


Danial memperhatikan Dina yang nampak sangat senang, Dina berlari pelan mendekat ke arah Danau dengan senyum di wajahnya.


"Jangan jauh-jauh" ucap Danial


"Iya" jawab Dina riang.


Danial mulai membangun tendanya, beberapa menit kemudian Dina menghampiri Danial saat dia melihat Danial agak kesusahan membangun tenda sendirian.


"Butuh bantuan?" tanya Dina

__ADS_1


Danial mendongak menatap wajah Dina "Boleh" ucap Danial sambil tersenyum


"Tolong pegang di sini ya" ucap Danial


"Oke"


10 menit kemudian tenda mereka sudah berdiri kokoh.


Danial membuka meja lipat dan kursi lipat yang dia bawa kemudian meletakkannya agak jauh dari tenda.


Sedangkan Dina tengah memasang kayu bakar di dalam tungku khusus yang di bawa Danial.


"Mas apinya boleh di nyalain sekarang?" tanya Dina


"Masih terang, nanti saja ya" ucap Danial


"Oh oke"


Danial mengeluarkan makanan dari keranjang piknik kemudian meletakkannya di meja.


"Wah banyak sekali" ucap Dina sambil menatap ke arah makanan yang di bawa Danial.


Danial tersenyum melihat antusias Dina.


"Tadi aku minta bik Dahayu menyiapkan semuanya, kamu suka?" tanya Danial di akhir kalimatnya.


"Suka, suka sekali. Terima kasih" ucap Dina tanpa sadar memeluk Danial.


"Ah maaf" ucap Dina setelah sadar dengan apa yang dia perbuat, Dina segera melepas pelukannya.


Danial tersenyum saat melihat wajah kaget Dina.


"Baby senang tidak?" tanya Danial sambil menunduk ke arah perut Dina.


"Senang papa" ucap Dina menirukan suara anak kecil.


"Ha ha ha baguslah papa senang kalau baby dan mama senang" ucap Danial sambil tersenyum kemudian dia mendongak menatap wajah Dina sambil tersenyum Dina pun membalas senyuman Danial.


"Duduklah kamu pasti sudah lapar" ucap Danial yang sudah menegakkan kembali tubuhnya.


Dina menganggukkan kepalanya kemudian duduk di kursi lipat yang sudah Danial siapkan. Danial menggeser kursinya ke samping Dina.


Danial sangat tahu di jam-jam tertentu Dina akan lapar. Sejak hamil naf su makan Dina meningkat jadi di saat mereka masih tinggal di apartemen Danial menyiapkan banyak sekali makanan dan camilan untuk Dina.


Danial juga menyiapkan buah-buahan dan juga roti untuk Dina. Danial menyiapkan semuanya demi kebutuhan Dina dan bayinya.


Danial juga mempekerjakan bik Bik Darmi sampai sore setiap harinya. Bik Darmi akan pulang jika Danial sudah pulang ke apartemen.


"Enak?" tanya Danial


"Emmm enak" jawab Dina sambil mengangguk.


"Syukurlah" ucap Danial sambil tersenyum.


Danial menyeka bibir Dina yang belepotan saos saat memakan sandwichnya.


"Sampai belepotan gini" ucap Danial sambil tersenyum karena gemas pada Dina.


Dina hanya tersenyum.


"Pipi mu semakin berisi, Dina" ucap Danial


"Benarkah?" tanya Dina yang masih mengunyah makanannya.


"Emm" jawab Danial sambil menarik pipi chubby Dina.


"Aaaa... sakit" keluh Dina


"Ha ha ha" Danial tertawa


1 jam kemudian


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2