
"Apa kamu tidak bisa menyetir!" teriak Dhana pada supirnya.
.
.
.
"Maaf, tapi di depan tiba-tiba ada mobil yang menghalangi"
Dhana melihat ke depan, dan beberapa pria dengan pakaian hitam keluar dari sebuah mobil minibus berwarna hitam.
"Dhana kenapa mereka berjalan ke sini?" tanya managernya.
"Pak cepat pergi dari sini!" teriak manager Dhana, dia bisa berkelahi tapi tidak jika harus melawan pria-pria bertubuh besar itu. Karena dia tidak akan sanggup walaupun tubuhnya sendiri terbilang cukup atletis.
"Tidak bisa, mobil kita sudah di hadang dari berbagai sisi" ucap sopirnya.
"Sial!" umpat Dhana
Beberapa pria itu mulai menggedor-gedor mobil Dhana, dan karena tak kunjung di buka.
Pria-pria bertubuh besar itu mulai memecahkan kaca mobil Dhana.
Teriakan mulai terdengar.
Seorang pria bertubuh tinggi besar terlihat sangat menakutkan berhasil membuka pintu mobil Dhana. Dan segera menyeret Dhana keluar dari dalam mobil.
Manager dan sopir Dhana tak bisa menghentikan mereka membawa Dhana, karena mereka sudah babak belur di hajar pria-pria menyeramkan itu.
"Tolong!" teriak Dhana, namun naas karena tempat itu sepi tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
Dhana di seret paksa ke dalam minibus. Lalu membawanya ke suatu tempat.
Beberapa saat kemudian sesampainya di suatu tempat, Dhana di seret paksa masuk ke dalam sebuah gudang.
"Bos dia sudah ada di tempat itu"
"Hhmm ayo ke sana"
"Baik"
"Keluarkan aku dari sini! Tolong!" teriak Dhana yang terkurung di balik jeruji besi yang ada di gudang itu.
Suara langkah kaki menggema di tempat itu, Dhana yang mendengar langkah kaki itu pun seketika terdiam.
Tak lama kemudian muncullah dua orang pria dan salah satu di antara pria itu memakai kacamata hitam.
Dhana tersenyum melihat orang itu.
"Danial kamu di sini, tolong keluarkan aku dari sini. Mereka menculik ku, cepat katakan pada mereka untuk mengeluarkan ku"
Danial menyeringai mendengar ucapan Dhana. Lalu dia duduk di sebuah kursi yang sudah di siapkan anak buahnya.
__ADS_1
"Siapa kau beraninya memerintah ku" ucap Danial terdengar sangat menyeramkan.
"Danial bukankah aku kekasih mu"
"Kekasih?" tanya Danial sambil tersenyum .
"Benar, Danial aku Dhana kekasih mu"
"Tapi seingat ku aku tidak pernah punya kekasih satupun"
"Danial kau tidak bisa begitu pada ku"
"Kenapa? bukankah sudah aku katakan jangan muncul lagi di hadapan ku"
"Aku sudah menuruti perkataan mu Danial, aku tidak pernah muncul di hadapan mu. Merekalah yang membawa ku ke sini"
"Apa kamu tahu kenapa mereka membawa mu kesini?" tanya Danial
"Tidak aku tidak tahu, karena itulah tolong keluarkan aku. Aku akan memuaskan mu setelah kamu menyelamatkan ku"
"Ha ha ha" Danial tertawa lantang.
"Dhana apa kamu masih belum paham apa yang terjadi? dan kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Apa maksud mu Danial"
"Kamu memang tidak pernah muncul lagi di hadapan ku, tapi..."
"Benar kamu sudah mematuhi ucapan ku dengan tidak muncul di hadapan ku, tapi kau mengirim orang lain untuk muncul di hadapan ku" ucap Danial dengan nada suara sangat menyeramkan.
Deg
Jantung Dhana berdetak kencang dugaannya benar, jika Danial sudah tahu apa yang dia perbuat.
"A...apa ma...maksud mu Danial, aku tidak paham" ucap Dhana sambil tersenyum ketakutan.
"Bawa dia kesini" ucap Dani setelah melihat kode yang di berikan Danial.
Seorang pria membawa Dhana keluar dari sel lalu membuatnya berlutut di hadapan Danial.
Dani memberi kode pada anak buah Danial untuk melepaskan cekalannya. Anak buah Danial melepaskan cekalannya dari Dhana lalu mundur beberapa langkah.
Dhana yang bebas pun segera mendekati Danial dan merayunya.
"Danial tolong aku, aku tidak kenal mereka" ucapnya sambil menyentuh lengan Danial.
Danial menyeringai dan dengan cepat dia mencengkram kuat leher Dhana.
"Da...Danial apa yang kamu lakukan?" ucap Dhana sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Danial di lehernya.
"Apa yang aku lakukan? seharusnya aku yang bertanya hal itu. Apa yang kamu lakukan pada bayi ku!" teriak Danial di akhir kalimatnya.
"Ba...yi bayi apa Danial" tanyanya pura-pura tak tahu.
__ADS_1
Danial semakin mencengkram kuat leher Dhana.
"Jangan pura-pura bodoh Dhana, kau yang mengirim seorang pelayan ke mansion untuk menghabisi bayi ku, bukan?" geram Danial
Dhana terdiam.
"Ha ha ha" tiba-tiba Dhana tertawa membuat Danial semakin geram.
Semuanya sudah terbongkar jadi Dhana tak harus berpura-pura lagi, itulah yang dia pikirkan.
"Katakan kenapa kamu melakukan itu!" teriak Danial
"Bukankah sudah jelas" jawab Dhana sambil menatap wajah Danial.
"Kamu menolak ku mentah-mentah dan malah menghamili pembantu mu itu. Kalau kamu ingin bayi seharusnya katakan pada ku, aku akan memberikannya" ucap Dhana sambil tersenyum.
Dhana sungguh sudah gila, berani-beraninya dia membangunkan sisi menyeramkan Danial yang sudah lama tertidur. Itulah yang di pikirkan Dani.
Danial benar-benar geram.
"Untuk apa aku menitipkan bayi ku di dalam rahim kotor mu itu" geram Danial
"Bukankah sama saja? pembantu mu itu sama saja dengan ku jika tidak dia tidak akan hamil anak mu" ucap Dhana menghina Dina.
"Jaga ucapan mu, dia sama sekali tidak sama dengan mu" geram Danial semakin mengeratkan cengkramannya.
"Ha ha ha. Tidak ada wanita baik-baik di dunia ini Danial, termasuk pembantu sialan mu itu"
Danial mengeraskan rahangnya saat Dhana terus-menerus menghina Dina. Bukan hanya Danial tapi Dani yang sejak tadi berdiri di samping bosnya itu pun tak kalah geram, dia ingin sekali menghajar Dhana yang menghina istri bosnya itu.
Danial mencengkram dagu Dhana dengan sangat kuat.
"Sayang sekali, yang kamu katakan itu tidak benar sedikit pun. Karena akulah orang pertama yang mengambil kesuciannya, akulah pria pertama baginya. Dan orang yang kau sebut pembantu itu sudah menjadi istri ku sejak lama. Sayang sekali seujung jari pun kamu bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan istri ku" ucap Danial geram
Dhana terkekeh pelan.
"Ternyata kalian cocok sekali, pria buta dan seorang pembantu sungguh pasangan yang sangat serasi" ledek Dhana.
Dani yang mendengar itu langsung bergerak untuk menghajar mulut sialan Dhana, tapi Danial menghentikannya.
"Kenapa? apa ucapan ku tepat sasaran?" tanya Dhana dengan wajah meledeknya.
Danial terkekeh pelan, dia menghempaskan wajah Dhana yang dia cengkraman.
"Yang kamu katakan memang benar, aku memang buta. Kamu bisa menghina ku sepuas mu tapi tidak dengan istri ku, kamu tidak bisa menghinanya sedikit pun. Jadi lihatlah apa yang akan pria buta ini lakukan pada mu karena sudah menghina istrinya" ucap Danial sangat menyeramkan.
"Ha ha ha, pria buta seperti mu tidak akan bisa melakukan apapun pada ku" ucap Dhana menantang.
.
.
.
__ADS_1