
"Bekal?" tanya Danial
.
.
.
"Itu, apa itu milik mu?" tanya nenek sambil menunjuk kotak bekal.
"Aaaa... itu... Dani yang membawanya nek" ucap Danial
"Dani?" tanya Nenek
"Iya" jawab Danial sambil tersenyum.
Dani yang mendapat lemparan batu pun tercengang dia menunjuk dirinya sendiri, terkejut.
Nenek Dharma menoleh ke arah Dani, Dani pun langsung merubah raut wajahnya. Dia tersenyum ke arah nenek Dharma dengan kedua tangannya di depan, sopan.
"Kamu yang bawa itu?" tanya Nenek Dharma pada Dani.
"Ya? Ah iya nyonya" jawab Dani
"Kalian berdua kan sama-sama tidak bisa masak" ucap nenek Dharma
"Aaa... itu nyonya, bukan saya yang masak" ucap Dani
"Apa?" tanya nenek Dharma
Danial melotot ke arah Dani.
"Be...begini nyonya. Memang saya yang bawa tapi bukan saya yang masak" ucap Dani
"Lalu siapa? apa diam-diam kamu sudah punya istri?" tuduh nenek Dharma.
Glek
Danial menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar tuduhan neneknya pada Dani.
"Bukan saya yang diam-diam punya istri nyonya tapi cucu anda" teriak Dani dalam hati.
"Emmm itu..."
"Jawab Dani" desak Nenek
"Belum nyonya, itu asisten rumah tangga yang saya pekerjakan yang memasaknya" ucap Dani yang tidak punya alasan lagi.
"Ohh begitu. Kalau begitu kamu tidak perlu takut seperti itu, untuk apa takut? tinggal langsung katakan saja"
Dani hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Nenek Dharma kembali menatap cucu kesayangannya lalu nenek melangkah mendekati meja Danial.
Danial yang melihat neneknya melangkah pun seketika gugup, dia semakin memajukan kursinya ke depan membuat ruang bersembunyi Dina semakin sempit.
Dina yang melihat Danial semakin maju pun terkejut, bagaimana tidak ternyata Danial belum memasukkan kembali ular kobranya.
Danial lupa memasukkan ular kobranya ke dalam sangkarnya karena saking paniknya tadi.
Brakkk
Nenek menggebrak meja kerja Danial.
Glekk
Dina yang bersembunyi di bawah pun terkejut, kepalanya sampai terbentur ke meja. Beruntung suara benturan kepala Dina tidak terdengar oleh siapapun terutama nenek Dharma.
"Akhh sakit" ucap Dina dalam hati, tangannya mengusap kepalanya yang sakit.
"Danial" panggil nenek Dharma dengan suara yang menyeramkan di telinga Danial.
"I...iya nek?" jawab Danial terbata
"Kenapa kamu tidak menghampiri nenek, saat nenek datang dan malah tetap duduk di tempat mu" ucap nenek
Danial hendak berdiri setelah mendengar perkataan neneknya. Tapi Dina yang ada di bawah meja menarik ular kobranya. Hal itu pun membuat Danial terkejut dan terpaksa kembali duduk.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya nenek Dharma sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa nek, kaki Danial cuma kesemutan" ucap Danial sambil tersenyum pada neneknya.
"Kesemutan? sini biar nenek lihat" ucap nenek sambil melangkah mendekati Danial.
Dengan buru-buru Danial memasukkan ular kobranya kembali ke dalam sangkarnya.
"Eh tidak nek, tidak perlu sudah baikan kok" Ucap Danial berdiri dari kursinya dan menghentikan nenek yang akan melangkah mendekatinya.
Danial membawa nenek menjauh dari meja kerjanya, Danial membawa nenek duduk di sofa.
Sedangkan Dina bisa bernafas lega saat Danial sudah pergi dari sana. Dina benar-benar harus menahan nafasnya saat ular kobra Danial terpampang di depan matanya.
"Nenek ada perlu apa ke sini?" tanya Danial yang sudah duduk bersama dengan neneknya di sofa.
"Nenek mau menagih janji mu" ucap nenek Dharma
"Janji apa nek?" Tanya Danial seolah-olah lupa
"Jangan pura-pura lupa kamu Danial!" sentak nenek Dharma
"Apa nek?" tanya Danial cengengesan
"Mana cicit nenek?" tagih nenek Dharma
"Ohh itu, nantilah nek"
"Kamu ini nanti nanti terus" ucap nenek Dharma sambil memukuli cucunya.
"Aduh aduh sakit nek ampun"
"Waktu yang nenek kasih sudah habis Danial"
"Tambahin dong nek waktunya, 1 tahun lagi deh" tawar Danial
"Enak saja!" ucap nenek Dharma sambil memukul lengan cucunya.
"Sakit nek, jangan pukul Danial terus napa nek" ucap Danial sambil mengusap lengannya yang nyeri akibat pukulan neneknya.
"Nek dalam waktu 1 bulan mana bisa bayi lahir" keluh Danial
"Bukan lahir Danial, tapi berita kamu akan menjadi ayah. Awas saja dalam waktu itu kamu tidak memberi kabar apapun, nenek akan berikan semua warisan mu pada panti dan kamu akan nenek coret dari KK" ancam nenek Dharma sambil menunjuk wajah Danial.
Glek
"Nek..." Danial mencoba merayu neneknya.
"Terserah, nenek tidak akan terbujuk lagi oleh mu" ucap nenek sambil menyingkirkan tangan cucunya yang menyentuh lengannya, yang berusaha membujuk dirinya.
"Dani" panggil nenek Nenek Dharma
"Iya nyonya"
"Tolong siapkan keberangkatan ku"
"Nenek mau kemana?" tanya Danial
"Ke Mekkah" jawab Nenek
"Hah? tumben? biasanya nenek selalu berlibur di eropa"
"Terserah nenek lah, suka-suka nenek"
"Ya sudah terserah nenek saja" ucap Danial sambil tersenyum.
"Kamu tahu tidak kenapa nenek ke sana?" tanya Nenek
"Kenapa?" tanya Danial sambil tersenyum.
"Nenek mau berdoa supaya kamu segera memberi nenek cicit dan juga membawa serta ibu anak mu dan kamu segera bertobat" ucap nenek Dharma
Danial menahan tawanya mendengar ucapan nenek Dharma.
"Hehe" Danial tertawa sumbang
"Jangan bercanda nek" ucap Danial mengubah raut wajahnya menjadi datar.
__ADS_1
"Siapa bilang nenek bercanda, nenek serius. Andai saja kamu sudah punya istri nenek pasti akan membawanya ikut bersama nenek"
"Lalu bagaimana dengan ku nek? aku gak di ajak?" tanya Danial
"Tidak, nenek tidak akan mengajak mu"
"Kenapa begitu?"
"Nenek malas membawa mu, pria mata keranjang seperti mu tidak perlu ikut kami"
"Tck gini-gini aku juga cucu nenek" cibir Danial
"Ya Cucu paling menyusahkan andai saja ka... Hah..." Nenek tak melanjutkan ucapannya, nenek Dharma menghela nafas panjang.
Danial meraih telapak tangan neneknya kemudian menggenggamnya.
"Maaf nek, Danial pasti sangat menyusahkan nenek" ucap Danial lembut
"Ya tentu saja kamu sangat menyusahkan nenek karena itulah segera berikan nenek cicit untuk membayarnya"
Danial menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah nenek mau pulang dulu" ucap nenek Dharma sambil beranjak dari tempatnya di ikuti Danial.
"Dani tolong segera siapkan semuanya ya, nenek mengandalkan mu"
"Baik nyonya"
"Kamu ini sudah beberapa kali nenek bilang, panggil nenek saja"
Dani tak menjawab dia hanya tersenyum pada nenek Dharma.
"Sudahlah senyaman mu saja. Oh iya Danial" Panggil nenek Dharma
"Iya nek?"
"Kamu tinggal dimana selama ini? Bik Dahlia bilang kamu tidak pernah pulang ke rumah akhir-akhir ini"
"Itu nek..."
"Itu apa?" tanya Nenek
"Danial bosan tinggal di rumah terus, jadi Danial pindah ke Apartemen, ingin cari suasana baru saja nek" ucap Danial beralasan
"Oh, lalu bagaimana kabar Dina?"
"Baik nek" jawab Danial tapi sedetik kemudian dia merasa menyesal telah mengatakan hal itu.
"Kamu kontakan sama Dina?" tanya Nenek
Danial menggelengkan kepalanya.
"Lalu? kata bik Dahlia, Dina berhenti bekerja karena ayahnya sakit"
"Iya nek, ayah Dina sakit tapi sudah membaik kok"
"Kok kamu bisa tahu?"
"Ya karena Danial yang membantu Dina memindahkan ayahnya ke rumah sakitnya teman Danial"
"Oh, jadi Dina tidak berencana bekerja kembali?"
"Tidak tahu" jawab Danial sambil menggeleng.
"Ya sudah nenek pulang dulu sampaikan salam nenek kalau kamu bertemu Dina. Katakan padanya nenek minta maaf karena tidak bisa bertemu dengannya sebelum dia berhenti bekerja"
"Iya nek, ayo Danial antar nek"
"Tidak perlu kamu kembalilah bekerja"
"Tidak apa-apa nek, cuma sebentar kok"
.
.
.
__ADS_1