Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Mandi Malam-Malam


__ADS_3

"Jangan bicara formal pada ku sayang" ucap Danial memotong ucapan istrinya


"Maaf"


.


.


.


"Tidak apa-apa, sekarang coba ubah cara bicara mu, hmmm"


"Aa.. Saya tidak bisa" ucap Dina dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Danial.


Danial terkekeh.


"Sepertinya kita harus saling mendekatkan diri lagi mulai dari sekarang" ucap Danial, lalu dia berdiri dari duduknya dengan Dina di gendongannya.


Dina mengeratkan pelukannya di leher Danial.


Danial melangkah ke ranjang dan menurunkan Dina di ranjangnya.


"Mau kemana?" tanya Dina saat melihat Danial hendak pergi.


"Mengunci pintu" ucap Danial sambil menatap wajah istrinya.


Wajah Dina tiba-tiba bersemu.


"Apa yang kamu pikirkan sayang, suami mu ini hanya mau mengunci pintu" ejek Danial sambil menunduk menatap wajah Dina.


Dina membuang muka.


"Tidak ada" jawab Dina, dia merasa sangat malu.


"Tapi wajah mu merah loh" ledek Danial.


Dina tak menjawab, wajahnya nampak cemberut. Dia merebahkan tubuhnya memunggungi Danial dan menarik selimutnya.


"Ha ha ha" Danial tertawa lalu dia melangkah menuju pintu dan menutup pintu kamar Dina kemudian menguncinya.


Danial melangkah kembali ke ranjang dan masuk ke dalam selimut yang di pakai Dina.


Danial memeluk Dina dari belakang.


"Sayang" panggil Danial.


Dina diam tak menjawab, dia memejamkan matanya.


"Sayang ku" panggil Danial dengan sangat lembut.


Karena tak mendapat jawaban dari Dina, Danial bangun dan melihat wajah Dina


"Kamu sudah tidur?" tanya Danial.


"Hmmm" jawab Dina masih memejamkan mata.


"Kenapa sudah mau tidur, mas masih merindukan mu sayang" ucap Danial sambil berbisik di telinganya.


Deg


Jantung Dina berdetak kencang saat mendengar suara lembut Danial di telinganya.


"Ada apa? Sa... Ah aku mengantuk"


Danial tersenyum.


"Ya sudah tidurlah, kerudungnya di buka dulu" ucap Danial.


Dina membuka kerudungnya di bantu Danial, Danial meletakkan kerudung Dina di atas nakas.


"Tidurlah" ucap Danial kembali merebahkan tubuhnya dan membawa Dina ke dalam dekapannya.


Dina memejamkan matanya, tapi sesuatu di bawah sana terus mengganggunya saat menyentuh pahanya.


Dina menjauhkan kakinya dari tubuh Danial, tapi Danial menarik kembali kaki Dina dan menguncinya di antara kakinya


"Mr. Danial" protes Dina.


"Panggil mas sayang, jangan Mr. Danial" ucap Danial sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Itu loh kakinya" keluh Dina.


"Kenapa dengan kaki mas?" tanya Danial pura-pura tidak tahu.


"Jangan mengunci kaki ku"


"Kenapa?"


"Ihh... malah pura-pura gak tahu" ucap Dina mulai kesal.


Danial terkekeh pelan, dia membuka kelopak matanya.


"Maaf sayang" ucap Danial sambil menatap lekat wajah Dina.


Dina cemberut.


"Apa tidak bisa di tunda kapan-kapan saja?"


"Maaf" ucap Danial masih menatap Dina dengan senyum di wajahnya.


"Tidak apa-apa jangan pikirkan mas, kamu tidurlah"


"Gimana mau tidur, itu menusuk-nusuk terus"


Danial terkekeh, lalu beranjak.


"Mau kemana?" tanya Dina sambil menahan lengan Danial.


"Mas pinjam kamar mandinya ya"


"Untuk apa?" tanya Dina.


"Mau mandi"


"Malam-malam begini?"


"Ya dari pada mas menyerang mu sekarang, mas tidak akan memaksa mu jika belum siap"


Dina melepaskan tangannya dari lengan Danial, Danial segera turun dari ranjang.


Dia menyambar handuk milik Dina yang di gantung dekat pintu kamar mandi kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Hahhh..." Dina menghela nafas.


Danial mengambil handuk lain milik Dina kemudian mengeringkan rambutnya yang basah.


Danial menoleh ke ranjang, dia tersenyum melihat istrinya yang sudah tidur nyenyak sambil memeluk guling miliknya.


Danial melangkah ke ranjang, kemudian mengecup pipi Dina.


"Hhmmm dingin" ucap Dina sambil menyingkirkan kepala Danial, karena air di rambutnya menetes di wajahnya.


"Ya ampun imut banget sih" ucap Danial gemas, lalu menyeka air yang menetes di wajah Dina dengan pelan.


Danial mengambil hairdryer milik Dina yang ada di meja riasnya kemudian dia mengeringkan rambutnya setelah mencolokkan dan menghidupkan hairdryer milik istrinya itu.


Beberapa menit kemudian.


"Aku pakai apa" gumam Danial.


Danial melangkah ke lemari pakaian milik Dina. Dia mencari pakaian yang sekiranya bisa dia pakai untuk malam ini.


Tak lama Danial mengambil sebuah piyama yang masih terbungkus rapi.


"Milik siapa ini?" tanya Danial.


Piyama itu adalah piyama pasangan atau istilah kerennya couple.


"Apa Dina yang membuatnya ya?" tanya Danial saat melihat logo butik milik istrinya itu.


"DD?"


Danial tersenyum setelah melihat inisial di lengan piyama itu.


"Apa ini maksudnya Danial Dina?"


Danial tak berhenti tersenyum, dia memakai piyama itu. Setelah itu dia naik ke ranjang setelah menjemur kembali handuk milik Dina.


Perlahan Danial menarik guling yang di peluk istrinya, kemudian melemparnya ke bawah. Lalu dia memeluk Dina.

__ADS_1


"Selamat malam sayang, cup"


Danial memejamkan matanya dan menyusul Dina yang sudah lebih dulu berada di alam mimpi.


Keesokan harinya


"Morning Darling" sapa Danial sambil melangkah turun dari lantai atas.


"Morning" ucap Dina yang berada di dapur.


"Mas gak shalat?"


"Sudah, mas shalat sebelum kamu bangun tadi"


"Ohhhh"


"Masak apa sayang?" tanya Danial sambil memeluk Dina dari belakang.


"Mau masak ayam goreng, Mas lepasin ih"


"Kenapa?"


"Nanti ada bik Dila, malu mas"


"Kenapa harus malu, kita suami istri"


"Ihh mas" keluh Danial.


"Oke oke" ucap Danial kemudian dia mengecup pipi Dina.


"Mas!" Pekik Dina


Danial tertawa.


"Iseng banget sih" keluh Dina.


"Bik Dila mana? kok kamu masak sendiri?" tanya Danial.


"Ke pasar"


"Kalau gitu kenapa kamu gak mau mas peluk, padahal bik Dila ke pasar"


"Takut dateng"


"Mas peluk lagi deh kalau gitu"


"Diam mas" ucap Dina sambil menodongkan pisau yang dia pegang pada Danial.


"Sayang..." Keluh Danial


"Diam mas, aku tuh lagi masak jangan di ganggu"


Danial nampak cemberut. Dina terkekeh melihat Danial yang merajuk.


"Loh mas dapat baju itu dari mana?" tanya Dina saat melihat piyama yang di pakai Danial.


"Maaf tadi malam mas ambil di lemari mu tanpa izin dulu pada mu"


"Oh ya sudah tidak apa-apa" ucap Dina.


"Kenapa? apa ini milik klien mu?" tanya Danial sambil menyentuh piyama yang dia kenakan.


"Bukan, kalau milik klien ku gak bakalan aku taruh di lemari ku" ucap Dina sambil lanjut memasak.


"Lalu?" tanya Danial.


"Punya ku, itu piyama edisi pertama dari butik ku" ucap Dina.


"Ohh inisial DD itu apa? apa nama kita?" tanya Danial.


"Entah, aku hanya asal saja" jawab Dina acuh.


"Dasar gengsian" ejek Danial.


Dina hanya diam tak menyahuti perkataan Danial.


Setelah selesai sarapan, Dina duduk di ranjangnya sambil lalu menunggu Danial selesai mandi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2