Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Istri Pria Tua


__ADS_3

"Baiklah, katakan pada tim pemasaran aku juga akan hadir ke meeting itu, dan kosongkan jadwal ku untuk besok"


"Baik bos"


"Kamu bisa kembali" ucap Danial


"Baik"


Dani melangkah hendak keluar dari ruangan Danial namun baru beberapa langkah Dani berbalik kembali.


"Bos"


"Apa?" tanya Danial.


"Haruskah kita bawa si kembar? mungkin dengan begitu nona Dina akan luluh"


"Jangan, jangan beritahu siapapun terutama nenek dan si kembar kalau kita sudah menemukan Dina. Sebelum dia sendiri yang memohon pada ku agar bisa bertemu si kembar aku tidak akan pernah biarkan si kembar bertemu dia" ucap Danial dengan ekspresi datarnya.


"Baiklah bos, kalau begitu saya permisi"


"Emm"


Jika sedang bekerja maka Dani akan memanggil Danial dengan sebutan bos, dia juga akan bicara formal dengan Danial di saat bekerja.


Setelah Dani keluar dari ruangan Danial, Danial nampak termenung.


"Bagaimana pun caranya kau harus kembali pada ku Dina, sampai aku mati pun kau masih istri ku" gumam Danial


Ceklek


Pintu ruangan Danial Di buka.


"Papa...."


Danial menoleh ke arah pintu, nampak dua orang bocah berlari masuk ke dalam ruangannya.


Danial tersenyum, dia langsung beranjak dari tempatnya lalu melangkah kemudian berlutut sambil merentangkan kedua lengannya lebar.


Kedua bocah itu langsung masuk ke dalam pelukan Danial, Danial memeluk mereka dengan erat.


"Sayang-sayangnya papa apa kabar?" tanya Danial.


"Baik pa" jawab keduanya.


"Bagaimana perjalanan kalian dengan nenek?" tanya Danial.


"Luar biasa" ucap putra Danial.


"Syukurlah"


Lalu Danial melepas pelukannya dari kedua bocah itu dan menghampiri neneknya.


"Apa kabar nek?" tanya Danial sambil mengecup punggung tangan neneknya.


"Baik sayang"


Sudah dua hari mereka tidak bertemu, nenek Dharma mengajak kedua cicitnya jalan-jalan ke Disneyland Tokyo.


Tentu saja nenek Dharma tidak pergi bertiga, nenek Dharma mengajak bik Dahayu dan bik Dahlia juga beberapa bodyguard yang di kirim Danial ikut bersama mereka karena nenek Dharma tidak mungkin bisa membawa cicit-cicitnya seorang diri.


Nenek Dharma duduk di sofa bersama Danial, sedangkan si kembar sibuk mengeluarkan barang-barang yang mereka beli di luar negeri.


Mereka langsung ke kantor setelah tiba di Indonesia, karena si kembar sudah rindu pada papanya.


"Apa anak-anak merepotkan nenek dan yang lain?" tanya Danial.


"Tentu saja tidak, cicit-cicit nenek kan anak baik, benar tidak?" tanya nenek di akhir kalimatnya pada kedua cicitnya.


"Benal sekali nek" jawab putri Danial.


"Benar bukan benal" sahut kakaknya


"Bialin"


"Biarin bukan bialin" jawab kakaknya lagi.


"Ihhhh papa kakak nyebelin" adu putrinya pada sang papa.


Danial dan nenek Dharma tersenyum.


"Adek kan memang cadel biarkan saja kak" ucap Danial menasehati putranya.

__ADS_1


"Kakak kan cuma ngajarin adek pa"


"Pelcuma, adek itu tidak bisa bilang huluf L" sahut adiknya.


"R dek bukan L" ralat kakaknya.


"Ihhh kakak mah di bilangin" ucap adiknya gemas.


Danial hanya tertawa melihat kegeraman putrinya, wajah putrinya sangat imut dan sangat mirip dengan wajah Dina ketika dia kesal pada Danial.


Mengingat Dina membuat Danial menghela nafas panjang.


"Ada apa Danial?" tanya neneknya.


"Tidak apa-apa nek" jawab Danial sambil tersenyum.


"Jangan terlalu di pikirkan. Jika dia memang jodoh mu, kalian akan bertemu kembali" ucap nenek Dharma.


Danial tersenyum.


"Berarti dia memang jodoh ku nek, karena aku sudah bertemu dengannya" ucap Danial dalam hati.


"Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya nenek Dharma.


"Ah tidak ada nek"


"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari nenek kan?" tanya nenek Dharma yang curiga.


"Tidak kok nek, tidak ada apa-apa"


"Papa" panggil putrinya.


"Iya sayang?" tanya Danial


"Adek lapal" ucap putri Danial.


"Lapar dek" jawab kakaknya.


"Ihhh kakak nyebelin banget sih" ucap adiknya sambil memukul lengan kakaknya.


"Eh eh" ucap Danial langsung menghampiri putrinya yang mulai marah.


Danial menggendong putrinya.


"Kakak ngeselin pa" rengek putrinya.


"Jangan di ambil hati, kakak kan cuma mengajari adek"


Mata putrinya mulai berkaca-kaca.


"Kakak lain kali jangan usil, nanti kalau sudah besar adek bakalan bisa ngomong huruf R kok" ucap Danial pada putranya.


"Iya pa" jawab Putranya.


"Ayo minta maaf sama adek" ucap Danial dengan suara yang lembut pada putranya.


Danial menurunkan putrinya di hadapan sang kakak.


"Maaf dek, lain kali kakak gak bakalan nakal kok" ucap putra Danial.


Putri Danial pun mengangguk pelan, lalu mereka berpelukan.


Danial tersenyum melihat kedua anaknya akur.


"Oke sekarang kita makan yuk" ucap Danial.


"Ayuk" sahut putrinya.


"Adek mau gendong"


"Kakak juga" ucap putranya.


Danial tersenyum lalu dia menggendong putra dan putrinya.


"Ayo nek" ajak Danial.


"Iya" jawab nenek Dharma.


Lalu mereka keluar dari ruangan Danial menuju restoran.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir rapi di parkiran sebuah perusahaan.


Dina keluar dari mobilnya lalu menutup pintu mobilnya, setelah itu dia melangkah ke gedung perusahaan.


Kedatangan Dina menarik banyak perhatian, sebagian dari mereka mengenali siapa perempuan bercadar itu.


Dina melangkah masuk ke gedung tinggi itu lalu langsung menuju meja resepsionis.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis.


"Saya ada meeting dengan bu Diah dari tim pemasaran" ucap Dina.


"Anda nona Fareeha?" tanya resepsionis.


"Iya" jawab Dina.


"Bu Diah sudah menunggu di ruang meeting, nona. Anda bisa naik ke lantai 3 menggunakan lift di sebelah sana"


"Baik terima kasih"


"Sama-sama nona"


Dina melangkah ke arah lift dan masuk ke dalam.


"Dia Fareeha desainer muda itu kan?" tanya teman resepsionis yang tadi bicara dengan Dina.


"Benar"


"Seperti rumornya dia sangat cantik, walaupun wajahnya di tutup cadar. Auranya itu loh"


"Benar"


"Tapi kenapa dia kesini ya? ini kan perusahaan skincare"


"Kamu tidak tahu?"


"Apa?"


"Perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaannya, peluncuran skincare kali ini akan di promosikan lewat perusahaannya"


"Benarkah?" tanyanya terkejut.


"Benar"


"Wahh... iri sekali, masih muda sudah sesukses itu"


"Tapi... apa kamu pernah dengar rumor ini?"


"Apa?"


"Ada yang bilang dia istri seorang pengusaha tua"


"Benarkah?" tanyanya terkejut, dia sangat terkejut sampai-sampai menutup mulutnya tak percaya.


"Tapi itu hanya rumor, aku tidak tahu itu benar atau tidak"


"Ya mungkin hanya rumor"


"Ekhhmmm"


"Ah selamat pagi bos" ucap kedua resepsionis itu sambil menundukkan tubuhnya.


"Apa kalian sangat senggang? kalau kalian tidak punya pekerjaan dan hanya bisa bergosip keluarlah dari perusahaan ini" ucap Danial dengan sangat dingin.


"Maafkan kami bos" ucap mereka berdua ketakutan.


Danial melangkah pergi setelah menegur karyawannya.


"Jaga ucapan kalian" ucap Dani memberi peringatan pada kedua resepsionis itu.


"Maafkan kami"


Dani pergi menyusul langkah Danial yang masuk ke dalam lift.


Di dalam lift.


"Berani-beraninya mereka menyebut ku pria tua" gerutu Danial dengan wajah kesalnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2